Perpustakaan Nglemprak: Membiakkan Kebiasaan Membaca Buku dari Tepi Stasiun

Posted: 20 July 2017 by Redaksi Kibul

SABTU, 1 Juli 2017, sore di Stasiun Lama Losari, sebuah kereta lewat ketika seseorang menyalakan api pada tumpukan sampah di utara jalan tepi stasiun. Tepat di seberangnya empat anak muda, tiga lelaki satu perempuan, menurunkan bawaannya berupa dua tas berisi buku dan beberapa terpal setelah memarkir sepeda motor. Mereka hendak memajang buku-buku itu di atas rerumputan yang membanjar ke barat dari arah stasiun yang ada di timurnya. Di tempat itu mereka rutin menggelar lapak baca buku gratis saban Sabtu, Minggu, dan Senin, dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.

Seseorang di antara mereka mengeluh ketika mendapati terpal yang mereka bawa ternyata basah dan kotor. Seseorang yang lain menggerutu dengan menyebut nama seorang pedagang yang kerap tanpa izin mengambil terpal itu untuk menggelar dagangannya di pasar. Jarak basecamp komunitas mereka, tempat segala barang itu disimpan, memang dekat dengan Pasar Losari. Dijalani dengan keluhan dan gerutu, terpal itu dibersihkan dan dikeringkan secukupnya untuk digelar sebagai lapak buku dan satu terpal besar untuk tempat duduk para pembaca.

Sebuah kereta kembali lewat, dan asap dari tumpukan sampah terbawa angin ke arah lapak. Buldog (19), demikian teman-temannya biasa memanggilnya, menatap tumpukan sampah yang terbakar itu dengan geram ketika menata buku di atas terpal. Ia berujar tak biasanya sampah itu dibakar. Itu tumpukan sampah dari Perumnas Panggangsari, yang ada di dekat stasiun, yang rutin akan diangkut mobil bak sampah untuk dibuang ke TPA. Kegeraman Buldog cukup dimengerti ketika seusai menata buku ia langsung beranjak dan dengan tekun memunguti sampah-sampah plastik yang ada di sekitar rel kereta. Ia memunguti sampah-sampah itu sebagai bahan untuk kerajinan tangan dia dan kawan-kawan komunitasnya. Menurut kawan-kawannya, ia yang paling piawai membuat tas dari plastik bungkus kopi–seperti yang saat itu mereka gunakan untuk membawa buku-buku–,dan membuat aneka boneka pajangan dari botol plastik dan sampah elektronik.

Selain Buldog, penggerak komunitas mereka yang lain adalah Nandar (19). Ia baru saja datang ketika buku telah tergelar dan kawan-kawannya tengah memilih satu di antara belasan karinding yang ada dalam sebuah kresek. Ya, mereka biasa memainkan karinding di atas rel kereta yang tak lagi berfungsi sembari menunggu sekaligus menarik pembaca. Selain suara kereta yang lewat, stasiun itu cukup sunyi karena berada di antara sawah dan jalan kecil yang hanya sesekali dilewati mobil sehingga suara karinding dapat didengarkan dengan jernih. Termasuk saat itu, ketika mereka memainkan “Bento” dari Iwan Fals.

Nandar menyalami mereka dan bercerita ia baru mengangkut pasir untuk sebuah rumah baru. Bukan rumahnya, tapi rumah seseorang yang menyewa tenaga Nandar untuk mengangkutnya. Pekerjaan itu belum selesai, kata Nandar, selepas isya akan diteruskan. Ternyata ia menyempatkan diri untuk menemani kawan-kawannya menggelar lapak.

Saya lalu mengajak Nandar dan Buldog yang tengah sibuk memunguti sampah di antara rel kereta untuk berbincang mengenai kegiatan komunitas mereka, terutama tentang lapak baca buku gratis yang mereka sebut sebagai Perpustakaan Nglemprak (nglemprak adalah bahasa Cirebon, padanan kata yang mendekatinya adalah lesehan). Berikut adalah narasi kecil hasil percakapan dengan mereka yang beberapa kali diselingi suara kereta lewat.

***

Perpustakaan Nglemprak adalah salah satu kegiatan yang diadakan Komunitas Anak Wayang yang beranggotakan 17 orang. Nama komunitas mengambil filosofi wayang yang memiliki beragam karakter tokoh, yang berbeda tapi menyatu. Selain itu, penamaan ini juga mengusung tujuan untuk turut menyebar kebaikan sebagaimana wayang dulu digunakan oleh para Walisanga.

Komunitas ini ada di bawah naungan OI, organisasi yang kesohor berisi para pengagum Iwan Fals, yang ada di Losari, Cirebon. Selain Perpustakaan Nglemprak, mereka juga mengadakan kegiatan sosial lainnya seperti: mendongeng untuk anak-anak, menggambar bersama, mengolah sampah organik menjadi pupuk, menanam pohon sebulan sekali pada satu hari di minggu pertama (seperti menanam mangrove, kelapa, pucuk merah, ketapang, dan lain-lain, sesuai lokasinya, bisa di pesisir laut atau tepi jalan), membuat beragam kerajinan dari sampah plastik dan barang elektronik, dan mengenalkan serta mengembangkan teknik menanam hidroponik.

Perpustakaan Nglemprak digagas ketika Nandar melihat kegiatan baca buku gratis di tempat lain. Ia berpikir: mengapa ia dan kawan-kawannya tidak bisa melakukan hal serupa? Pikiran yang sama ternyata juga terlintas di benak Buldog. Keduanya, yang sama-sama gemar membaca buku sejarah dan novel, lalu memberanikan diri menggelar lapak baca buku gratis meskipun saat itu hanya punya 8 buku! Ya, 8 buku yang sebagian besarnya adalah buku pelajaran sekolah!

Mereka memilih Stasiun Lama Losari sebab di sana biasa digunakan sebagai tempat berkumpul anak-anak dan muda-mudi di sore hari. Tak ada salahnya mereka menawarkan buku-buku untuk dibaca tanpa mengurangi aktivitas anak-anak yang menunggu kereta lewat atau mengganggu laku muda-mudi meniti rel sebagai media berkasih asmara, juga dapat mengisi kekosongan bagi muda-mudi yang ke stasiun sekadar untuk nongkrong.

Dengan ketekunan mereka menggelar lapak selama tiga bulan sejak menggelar 8 buku itu, beberapa orang yang ada di lingkungan mereka mulai tertarik untuk menyumbangkan bahan bacaan. Kini, sebagian besar koleksi mereka adalah buku dan majalah bekas. Mereka tak membatasi bahan bacaan apa saja yang bisa disumbangkan sehingga hasilnya dapat terlihat dari keragaman puluhan bacaan yang digelar di lapak, dari buku karangan Kuntowijoyo hingga kisah nabi-nabi untuk anak-anak, juga dapat dilihat bagiamana membaurnya majalah Sabili dan Intisari, serta bersisiannya terjemahan kitab karya Al-Ghazali dengan novel populer masa kini.

buku

Gambar 1: Sebagian koleksi Perpustakaan Nglemprak tampak dari atas.

 

Meski tak membatasi, mereka mengharapkan para dermawan mengerti bahwa misi mereka adalah untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku, dan untuk saat ini mereka menginginkan lebih banyak bacaan untuk anak-anak. Sebab, yang paling rutin mengunjungi lapak baca buku mereka adalah anak-anak sementara koleksi bacaan anak masih sedikit. Adapun remaja yang kerap baca buku di sana kebanyakan adalah perempuan, yang mengambil buku puisi atau novel.

Bila ada pembaca yang berminat menyumbangkan buku pada tanggal 17 di setiap bulan, dapat mengirimkannya ke alamat berikut: Perpustakaan Nglemprak Komunitas Anak Wayang OI, Jl. Taryam TPU Pejaratan Dusun 1 Rt 03/Rw 01 Desa Panggangsari Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon 45192.

Selain rutin menggelar lapak baca di stasiun, mereka juga kadang menggelarnya pada event-event tertentu, baik yang dihelat di Cirebon maupun di Brebes. Bagi mereka, menggelar lapak baca buku gratis adalah cara yang tepat untuk menggalakkan kebiasaan membaca pada masyarakat yang masih mengenal kegiatan membaca sebatas belajar, padahal membaca lebih luas dari belajar, dan belajar tidak melulu dengan membaca. Mereka mengerti bahwa di tiap sekolah, termasuk sekolah yang telah meluluskan mereka, memiliki perpustakaan, tetapi pengunjungnya minim dan koleksinya lebih banyak buku pelajaran sehingga lapak baca buku gratis yang mereka adakan adalah alternatif dari perpusatakaan sekolah. Bila perpustakaan sekolah diam di tempat, lapak baca mereka yang bergerak mendekati pembaca.

Buldog semenjak lulus sekolah menengah atas sudah memutuskan tidak merantau untuk bekerja di Jakarta, Bandung, atau ke luar negeri menjadi TKI, sebagaimana banyak pemuda di daerahnya. Sementara Nandar hanya tahan 2 bulan merantau di Tangerang untuk kemudian kembali pulang dan memilih bertahan di kampung halaman. Mereka mengerti bahwa tempat tinggalnya memiliki banyak potensi untuk diberdayakan dan terlalu sayang bila ditinggalkan para pemudanya, maka mereka lebih memilih berbakti pada kampung halaman daripada bekerja di perantauan. Keputusan mereka berdua membangun masa depan kampung halaman mengingatkan saya pada satu bait terakhir sajak “Apa Ada Angin di Jakarta” karya Umbu Landu Paranggi:

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati.

***

Seusai berbincang, saya menemui tiga anak kecil yang tengah membaca. Ikhwan, kelas 2 sekolah dasar masih membaca dengan nyaring dan agak terbata, bahkan sesekali dituntun kawannya, Rifqi yang sudah kelas 4. Mereka tengah membaca kisah seorang anak muslim salih yang tiap halamannya bergambar. Kata mereka gambar dan ceritanya bagus-bagus sehingga mereka menyukainya. Sementara itu, di dekat mereka ada Revi, gadis kecil berkacamata kelas 5 sekolah dasar, yang tengah membaca dengan tenang, tentu membaca dalam hati, sebuah legenda kisah Nusantara. Kisahnya asyik, kata Revi, banyak (hal) yang baru didapatkannya dari membaca (buku itu).

Gambar 2: Nandar berbaju hijau sedang membaca buku puisi dan merekam dengan ponselnya sementara teman-temannya mengiringinya dengan karinding.

 

Saya meninggalkan mereka agar kembali khusyuk membaca. Saya bergabung dengan Nandar, dkk. untuk belajar memainkan karinding. Setelah berkali-kali saya mencoba membunyikan karinding, tiba-tiba saya mendengar teriakan ketiga anak itu dari atas motor yang sedang melaju dikendarai orangtuanya: “Terima kasih, Kakak….!” yang lantas dijawab dengan antusiasme yang sama oleh Nandar, dkk. “Sama-sama, besok datang lagi ya….!”

Meskipun apa yang dilakukan Komunitas Anak Wayang semata untuk membiakkan kebiasaan membaca buku di lingkungannya, pemilihan stasiun sebagai tempat menggelar lapak justru membuat saya berpikir: jangan-jangan mereka tengah mengkritik. Mengkritik siapa? Mengkritik pemerintah yang belum banyak menyediakan bacaan di ruang-ruang publik, termasuk di stasiun.***

 

*Teks: Asef Saeful Anwar

*Foto: Adin dari Komunitas Halaman Kita, beralamat di IG: @losarihalamankita

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *