Skip links

Kebun Ilmu Iman Budhi Santosa

Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR) di Magetan (1960), tiga hari menjelang khitan, Budhi (nama panggilan Iman Budhi Santosa sewaktu kecil) didhawuhi berpuasa oleh sang kakek. Sehari menjelang khitan, dalam keadaan masih berpuasa, ia didhawuhi untuk menanam cikal kelapa puyuh yang sudah disiapkan juga oleh sang kakek. Anehnya, sebelum menanam cikal kelapa tersebut, Budhi diminta melepaskan baju dan celana yang dikenakan hingga ia telanjang bulat. Selanjutnya, Budhi diminta menanam cikal kelapa itu dengan telungkup menghadap ke selatan sambil menirukan doa yang dirapalkan kakeknya. Selesai membaca doa, lantas kakeknya berujar dalam bahasa Jawa, “jalaran dhisik nalika kowe lair, bapakmu ora nandur tuwuhan, saiki kowe nandura dhewe kanggo tandha kelairanmu lan saiki kowe wis arep sunat, tegese wis dadi bocah dewasa!” Seusai memberikan pupuk dan mengubur dengan remah serta menyiramkan air, Budhi pun bangkit hendak menginjak memadatkan tanah, namun sang kakek melarangnya. “Ora kena! Tuwuhan kui uga makhluke Gusti Allah. Ora ilok yen kowe ngidak-idak tuwuhan. Tuwuhan kuwi mbesok dadi dulurmu selawase.”

Kira-kira demikianlah salah satu kisah masa kecil Iman Budhi Santosa yang menjadi akar hubungan dekatnya dengan tumbuhan. Sekali lagi, itu hanyalah salah satu kisah, karena masih banyak kisah lain yang dialaminya di masa kecil dan berkait erat dengan tumbuh-tumbuhan. Seperti, pada suatu malam di kebun ia mendengar suara dengkuran dari semak-semak yang ternyata berasal dari tanah yang menggeronggang gara-gara umbi uwi beras yang besar dan lama tidak diambil tertiup angin musim kemarau. Ada pula kisah menyaksikan dan mengikuti proses mekarnya bunga wijaya kusuma sampai larut malam. Juga kisah keluarnya bunga pisang pada malam hari yang persis seperti seorang ibu tengah melahirkan. Atau bagaimana ia mengumpulkan getah pohon piri balsem untuk obat luka. Bahkan ketika bersembunyi dari pencarian kakeknya, ia tidak memilih kolong langgar, melainkan memanjat pohon manggis di halaman. Demikianlah kulit gejala yang secara empiris dialami Iman Budhi Santosa perlahan mengelupas.

Di tahun-tahun emas masa kecilnya benar-benar sudah belajar menyarikan setiap perlambang yang ditemui menjadi pikiran-pikiran dengan nilai-nilai filsafat hidup yang dalam mengakar. Sebagaimana sikap diam tumbuhan, ia pun tumbuh mengukuhkan jati dirinya dengan menempatkan tumbuhan sebagai sedulur sinarawedi. Kisah-kisah itu dicatatnya dalam buku dan pikiran, sebagai sebuah momentum puitis yang kelak akan lahir menjadi pokok-pokok puisi. Sebagaimana pesan sang kakek, “matna terus catheten!” Ia pun paham bahwa manusia adalah tempatnya luput dan lupa, maka apa saja yang pernah didengar, dilihat, dan dialami harus diperhatikan lantas dicatat.  

Memperhatikan dan Mencatat! Iman Budhi Santosa memahami tradisi pribadi yang diajarkan kakeknya itu seperti halnya sebuah proses menanam. Peristiwa menanam terus menerus yang dikerjakan, resikonya adalah memelihara. Ada nilai-nilai yang kemudian tumbuh dengan sendirinya, namun, juga tidak bisa tumbuh begitu saja. Yang terpenting adalah nilai-nilai apa yang akan disampaikan, mengenai bagaimana nilai-nilai itu tersampaikan, bisa dengan bermacam cara. Dan, Iman Budhi Santosa memilih menyampaikannya dengan puisi.

Menulis puisi baginya bukan sekadar menulis, tetapi mencipta. Jadi, tidak jelas jawabannya jika kemudian diajukan pertanyaan, “kapan pertama kali Iman Budhi Santosa menulis puisi?” Seperti halnya orang ditanya, “kapan pertama kali jatuh cinta?” Jawabannya tentu tidak akan pernah jelas. Oleh karenanya, tugas manusia sebagai pembelajar adalah menjelaskannya. Misalnya, ketika mendapati biji yang entah datang dari mana, untuk mencari jawabannya maka ia menanam biji itu, hingga tumbuh dan diketahui pohon apakah biji yang tumbuh itu. Demikianlah pikiran Iman Budhi Santosa bekerja, menguak peristiwa menjadi teks puisi di dalam kepala, lantas menuangkannya sebagai naskah puisi pada lembar-lembar kertas. Dengan kesadaran penuh dipahami bahwa akar tunggang “ketidakjelasan” itu adalah sastra.

Iman Budhi Santosa hidup sebagai “dunia semata wayang”, tidak memiliki sedulur tunggal usus dari rahim sang ibu. Ia dilahirkan pada hari Ahad Kliwon tanggal 28 Maret 1948. Ibunya bernama Hartiatien, ayahnya bernama Iman Sukandar. Ketika Budhi masih berusia 1,5 tahun, ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah. Kehidupan ugahari di Magetan kisaran tahun 1948-1961, dalam asuhan ibu, kakek, dan neneknya, Budhi menjadi timangan keluarga, tetapi tanpa figur ayah. Sejak balita ia dibentuk situasi kondisi menjadi lelaki introvert, pemalu, pendiam, dingin, defensif, sensitif, dan kurang ceria. “Barangkali sudah menjadi takdir weton Ahad Kliwon, kemalangan demi kemalangan tercatat jelas dalam primbon.”

Sang kakek yang pensiunan kepala SR di Selosari Magetan pada zaman Belanda dan ibu yang menginginkan anak semata wayangnya sukses, justru “menghukumnya” dengan “cambuk” harus menjadi pandai. Ketika anak seusianya riang gembira bermain bola di alun-alun Magetan, ia malah didhawuhi kakeknya kursus mengetik yang tidak lazim untuk anak seusia di masa itu. Kehidupan di Magetan, di rumah kakeknya yang dikelilingi rimbun bermacam pohon, Budhi banyak belajar kepada tumbuhan. Sekali lagi, atas dhawuh kakeknya.  

Meski hidup di tengah problem keluarga, namun, Budhi masih tergolong anak yang beruntung. Ia hidup di keluarga priyayi Jawa yang terpandang dengan intelektualitas dan kebudayaan yang tentu saja berbeda dari masyarakat biasa pada masa itu. Seperti diketahui, Orde Lama sangat otoriter terhadap media pers dan bahan bacaan. Bacaan-bacaan di masa itu langka. Sementara Budhi hidup dalam lingkungan keluarga dengan ketersediaan bahan bacaan yang cukup. Konon, ibunya adalah seorang pecandu bacaan yang getol. Bahkan pertemuan dan pergaulan Hartiatien dengan Iman Sukandar karena keduanya aktif lewat forum studiklub suatu majalah sebagai pencinta fiksi-sastra-bacaan semenjak usia muda. Budhi pun mewarisi sikap dan momentum demikian dari ibunya.

Sejak bayi sampai lulus SMP, Budhi tinggal bersama kakek-nenek dari pihak ibu di Magetan. Sang kakek meninggal tahun 1962 pada usia 74 tahun. Setelah kakek dan neneknya meninggal, mau tidak mau ia pun terpaksa pindah mengikuti ibunya yang telah menikah lagi dengan sastrawan Jawa terkenal, Any Asmara. Terpaksa! Karena sesungguhnya Budhi memiliki semangat kesendirian yang agak ekstrim. Sebab suasana di masa kecilnya, di rumah kakeknya itu, kesunyian sudah menjadi bagian dari kehidupannya sepanjang hari. Budhi yang tidak bisa berpisah dengan ibunya pun, dengan terpaksa akhirnya turut hijrah ke Yogyakarta.

Iman Budhi Santosa pada dasarnya adalah seorang perenung. Kegelisahan-kegelisahan membuat pikiran di kepalanya tidak pernah diam. Sehingga, ketika tahun 1963-1964 untuk sementara waktu Budhi menganggur —tidak sekolah juga tidak bekerja, ia hanya di rumah menulis dan membaca. Ia amat terbentuk oleh budaya gemar membaca dan gemar menulis yang dikerjakannya sudah sedari kecil. Walhasil, keadaan di rumah Any Asmara yang tentu saja banyak buku, majalah, dan surat kabar, tanpa disadari semakin mematangkan proses kreatifnya. Baru kemudian ia melanjutkan pendidikan formalnya di SPbMA, tamat tahun 1968.

Usaha mencipta puisi dengan serius sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Tidak sedikit puisi karyanya yang dikirimkan ke media massa di Jakarta kisaran tahun 1967-1968. Namun sayang, tidak pernah ada kabarnya dan tidak terpantau pemuatannya. Baru pada 1970-an ia menemukan majalah-majalah bekas di pasar loak depan Seni Sono, banyak puisi karyanya termuat di majalah Keluarga Jakarta, bertitimangsa 1967-1968-1969, dan ia terlambat mengetahuinya.  

Kehidupan di Yogyakarta beserta keluarga baru membuat masa remajanya kurang memuaskan, penuh problem, dan keluhan. Ia makin jadi perenung yang introvert dan kontemplatif. Hari-hari dilewatkannya dengan baca-tulis apa saja. Ia akhirnya menemukan jagad suaka yang dirasa pas, yakni sastra. Realitas yang membuatnya berduka, kecewa, gelisah, frustasi, diolah jadi puisi. Proses ini lagi-lagi berlangsung selama ia menganggur kisaran tahun 1968-1971. Pada mulanya ia diajak Teguh Ranusastra Asmara, kakaknya, ke Mingguan Pelopor Yogya. Di sana sudah ada Umbu Landu Paranggi dan segenap penyair muda kala itu. Bersama Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Soeparno S. Adhy, Mugiyono Gitowarsono, dan M. Ipan Sugiyanto Sugito, ia mendirikan Persada Studi Klub (PSK) di Mingguan Pelopor Yogya, Jalan Malioboro 175 Atas Yogyakarta pada tanggal 5 Maret 1969.

Pribadi yang dibentuk oleh situasi politik zaman Manipol-Usdek serta tumbuh di tengah kemelut debu ontran-ontran Gestapu/PKI itu, pada tahun 1969 menemukan pintu kemandirian tanpa cap dan bendera panji-panji ormas atau parpol yang terbuka lebar. Ia ada di sebuah dunia yang bebas merdeka dari tahun-tahun kelabu yang sebelumnya menyelubungi. Tidaklah penting baginya status atau predikat atau popularitas, tidak penting baginya jemaah atau massa. Yang baik dan penting sebagai nilai berharga adalah kreativitas, suatu proses pertumbuhan, perubahan, dan pertukaran sikap dalam kehidupan mandiri sebagai jati dirinya.

Ia renungkan peristiwa-peristiwa kecil yang membesar di sekitarnya membentuk hakikat dalam berpikir dan bersikap. Menjadi “Penyair”, ia “hidup berkisar-kisar dalam puisi” dan memuisi. Puisi sama dengan kehidupannya. Atau meminjam diksi Emha Ainun Nadjib yang dengan rendah hati menyatakan, “ia bukan sekadar seorang penyair yang setia. Ia benar-benar seorang penyair. Ia tetap senior saya dan saya tetap yunior dia. Iman Budhi Santosa adalah puisi. Darah daging, urat syaraf, dan getaran batinnya adalah puisi.”

Berbekal rokok, korek api, pulpen, dan lipatan kertas dalam saku, Iman Budhi Santosa ke Malioboro sepanjang waktu pada tahun 1969-1971. Dengan “penuh seluruh” ia bergulat gelisah dan berproses dalam pelibatan total akal-budi-rasa atau jasmani-rohani-batin-spiritual dan sangat berkeringat. Ia amat sangat sadar bahwa puisi bukanlah sekadar untaian kata-kata indah semata, namun, lebih dari itu “puisi adalah percikan cahaya di malam buta.”

Langkah kakinya benar-benar menapak pasti di jalan puisi. Ia penyair produk akhir dasawarsa 1960-an dan matang oleh dasawarsa 1970-an yang hadir bukan sebagai penyair yang populer, melainkan sosok penyair dengan kepribadian yang berbobot dan menjadi. Puisi-puisinya tidak berapi-api dan memukau di atas panggung. Puisi-puisi renungan yang lebih pas dibaca di dalam hati, dipikir-pikir, serta direnung-renungkan. Puisinya amat tenang, mantap, dan bersahaja memaknai alam benda, alam tumbuhan, alam manusia, nasibnya sendiri, dan nasib banyak orang yang keberadaannya tak pernah dipandang ada. Dari puisinya kita melihat percik perasaan dan letupan pikiran diracik dengan imajinasi dan pengalaman, dihayati dengan arif, diproses pada kulminasi renungan-renungan, penuh pesona sebagai pandangan kebijaksanaan. Membaca larik demi larik puisi Iman Budhi Santosa maka kita akan menemukan puisi demi puisi yang bertebaran di mana-mana. Corak renungan yang mendalam dengan penuh pertimbangan dalam pemilihan diksi pekat oleh filosofi.

Menurut Ragil Suwarna Pragolapati, ia adalah proses yang terus berkembang dan berubah, mencari jati dirinya, setia dan sadar memuisi. Selama 1970-1971, ia pernah turut menggembleng Emha Ainun Nadjib sebagai adik asuhnya di PSK. Saat Iman Budhi Santosa sudah ngetop, bahkan berhasil mengalahkan Abdul Hadi W.M. lewat sayembara puisi 1969 di Taman Budaya Yogyakarta, waktu itu Emha Ainun Nadjib barulah jadi pemula yang menapak dari awal keberangkatannya. Iman Budhi Santosa banyak mengirim puisi, namun tak terlacak pemuatannya. Ia juga sering memenangkan perlombaan cipta puisi, namun tak pernah menerima piala. Ketika pada tahun 1971 hijrah dari Yogyakarta, ia segera dilupakan orang. Dan, ketika kembali tahun 1986-1989 ia jumpai Emha Ainun Nadjib bersama Linus Suryadi Ag. sudah jadi super star-nya penyair.

Meskipun demikian, masih menurut Ragil Suwarna Pragolapati, sejarah puitika Yogya mencatat, bahwa sepanjang usia PSK 1969-1977 yang jumlah anggotanya mencapai 1.555 orang, diakui, hanya Iman Budhi Santosa yang paling total berpuisi dan memuisi, paling otentik sosok kepenyairannya, paling unik dan paling berbobot. Puisi telah dikunyah dan mamah secara tuntas menjadi darah dan nanah baginya, menjadi daging dan tulangnya, menjadi perilaku dan pola kepribadiannya, menjadi ucapan dan kehidupan kesehariannya. Iman Budhi Santosa adalah penyair yang secara suntuk mengikuti jejak gurunya: Umbu Landu Paranggi. Ia khas-unik-otentik sebagai citra PSK, nyaris tipikal cetakan Umbu Landu Paranggi. Tanpa membekaskan lagi sisa-sisa cetakan Rendra, Darmanto Jatman, dan Abdul Hadi W.M. yaitu tiga penyair Yogya yang pernah akrab dicantrikinya 1969-1971. Iman Budhi Santosa telah mantap dan kokoh memiliki sosok kepenyairan.

Iman Budhi Santosa adalah kesendirian, adalah kemandirian, adalah soliter, adalah individu, adalah sosok pribadi. Itulah sebab, ketika Persada Studi Klub (PSK) yang didirikannya bersama Umbu landu Paranggi Cs. dipenuhsesaki oleh puluhan mendekati ratusan penyair (dan calon penyair), ia menjadi orang pertama yang minggat dari Malioboro. Tampaknya lipatan kertas di saku bajunya telah menebal berisi nilai-nilai, renungan-renungan yang dicatatnya dari perjumpaan demi perjumpaan dengan situasi dan orang-orang di sekitarnya telah menjadi berkah (sekaligus malapetaka). Dari pemikiran dan perasaan paling subtil hasil renungan dan penggalian pribadi, dipahaminya bahwa proses belajar mencipta puisi (bersastra) yang waktu itu dikerjakan di Malioboro ialah untuk melahirkan karya dari rahim individu dan lahir menjadi individu. Akibatnya, puisi sebagai hasil renungan demi renungan diwujudkannya dengan pergi dan menyendiri: membersihkan ambisi-ambisi dalam diri. Ia tinggalkan Malioboro. Namun, percayalah bahwa kelak ia akan kembali lagi!

Tahun  1971, pada usia 23, Iman Budhi Santosa menikahi gadis pujaan hatinya, Sri Maryati yang berasal dari Desa Kalipakis, Sukorejo, Kendal. Sahabat-sahabat kinasih di PSK mengejeknya yang dinilai epigonis dengan menghadiahi sebuah buku kumpulan puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono dan sebuah pengilon besar. Hadiah yang seakan hanya akal pokal candaan, namun barangkali itu doa baik (sekaligus buruk) dari rekan-rekannya.

Selepas menikah, karena enggan menerima warisan sebagai lurah, Iman Budhi Santosa pun memilih bekerja dengan menggadaikan ijazah SPbMA miliknya ke PT. Rumpun di pinggang Gunung Ungaran. Tepat tumbuk weton, pada tanggal 28 Maret 1971, hari Ahad Kliwon, ia berangkat seorang diri dari rumah mertuanya menuju kebun teh Medini. Lima tahun menjadi sinder perkebunan teh Medini, tahun 1975 memilih mengundurkan diri. Untuk sekian waktu tinggal di Solo dan menganggur. Sembari menunggu jawaban surat lamaran bekerja, ia memiliki waktu luang yang cukup panjang untuk menulis dan menghasilkan novel silat, Barong Kertapati (1976).

Kabar gembira akhirnya datang juga. Ia diterima bekerja di pabrik gula Cepiring, Kendal. Baru satu bulan, ia tinggalkan pekerjaan barunya itu karena lamarannya ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah juga diterima. Meski nilai teh semasa sekolah di SPbMA hanya 6, tapi entah karena faktor x apa ia kembali mengurusi teh dan ditempatkan di Gunung Merbabu, Boyolali. Selama empat belas tahun mengabdi sebagai pegawai negeri, ia pun telah mendapat berbagai tugas dan tanggung jawab. Dari menangani supervisi pembibitan teh di Brebes, Pemalang, Tegal, dan Batang (1980-1981), hingga menjabat sebagai Pembantu Pimpinan Proyek Peremajaan, Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Ekspor Disbun Provinsi Jawa Tengah di Ungaran (1982). Tahun 1986 pindah ke Subdin Penyuluhan. Tahun 1987 ditugaskan menjadi staf khusus Kadisbun Provinsi Jawa Tengah di Bidang Kehumasan. Di situlah terjadi malapetaka yang lantas mengakhiri kariernya sebagai pegawai negeri.

Setelah sembilan belas tahun berlalu, tahun 1989, ia tinggalkan begitu saja NIP Departemen Pertanian: 080 040 347 yang dikantonginya, seperti ketika ia ‘tinggalkan’ keluarganya, istri dan ketiga anaknya: Pawang Surya Kencana, Risang Rahjati Prabowo, dan Ratnasari Devi Kundalini, lantas kembali menempuh jalan sunyi yang melintas di kedua telapak tangannya. Inilah salah satu fase titik balik kehidupan Iman Budhi Santosa yang menurut Ragil Suwarna Pragolapati, berdasar ilmu grafologi, ia akan mengalami tiga fase dalam hidupnya.

Iman Budhi Santosa pun pulang ke Yogyakarta. Jelas, semua itu karena ulah sahabat-sahabatnya, seperti Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi Ag. yang mengganggu dengan datang ke perkebunan, tempat sang penyair bekerja. ‘Kunjungan kebudayaan’ sahabat-sahabatnya itu tentu saja menghantui dengan kalimat-kalimat sakti yang membujuk, mengajak, memikatnya untuk kembali ke “tanah kelahiran kedua bernama Yogyakarta.”

Pada suatu hari Umbu Landu Paranggi datang ke perkebunan teh PT. Rumpun, Medini. Umbu datang tidak dengan tangan kosong, ia membawa satu kardus koran bekas dari Yogyakarta. “Di koran-koran yang saya bawa ini, tidak ada satupun yang memuat puisi-puisi Anda,” demikianlah Umbu berkata.

Pada suatu hari Linus Suryadi Ag. datang ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. “Saya tengah menyusun antologi puisi Tugu dan Tonggak. Puisi-puisimu akan saya masukkan. Dimanapun kamu berada, kamu tetap penyair, kamu tetap Yogya,” demikian Linus berkata.

Adalah acara peluncuran Antologi Puisi 32 Penyair Yogya, Tugu di Senisono yang mengundang Iman Budhi Santosa dari Boyolali ke Yogyakarta tahun 1986 tampaknya merupakan salah satu yang membuatnya kian gelisah untuk benar-benar kembali ke Yogyakarta. Dengan penampilan rapi dan formal laiknya seorang pegawai negeri ia memenuhi undangan spekulatif dari rekan-rekannya. Seperti orang yang telah lama dicari dan diketemukan, Iman Budhi Santosa ‘kembali jadi penyair’ pada momentum tersebut. Kisah kehebatannya telah lama jadi cerita bahkan mitos yang beredar di kalangan komunitas sastra Yogyakarta. Ia kembali. Kembali naik ke panggung, membacakan puisi-puisinya dengan tenang, mantap, dan bersahaja persisi sebagaimana puisi yang ia cipta. Ia seperti tengah menebus seluruh kerinduannya kepada Yogyakarta yang telah ditinggalkannya.

Beberapa waktu setelah acara tersebut, diam-diam tanpa sepengetahuan atasannya di Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, ia sempat melobi Dinas Perkebunan DIY, dan ke Gunungkidul beberapa waktu. Ia benar-benar ingin kembali ke Yogyakarta. Namun, sayang seribu sayang, itulah api kecil yang membakar hangus kariernya sebagai pegawai negeri.

Dan akhirnya ia datang kembali ke Yogyakarta, tidak lagi sebagai pegawai negeri, ia datang sebagai penyair yang bohemian dan memilih hidup menggelandang. Ia singgah dan tinggal dari masjid ke masjid dan memahami hal tersebut sebagai sebuah proses kembali menjadi orang kecil yang papa. Pada situasi itu ia bahkan sempat diangkut mobil patroli dan dibawa ke dinas sosial. Di situlah ia sungguh-sungguh menjadikan dirinya orang kecil yang benar atau salah tetap dipandang salah. Tak ada usaha untuk menunjukkan jati diri, karena hal tersebut memang tidak diperlukan. Untunglah Kepala Dinas Sosial waktu itu (kalau tidak keliru) adalah anak induk semang tempat istri Iman Budhi Santosa semasa sekolah di Yogyakarta indekos, dan ia pun malah diantarkan pulang meski tidak tahu kemana tujuannya pulang.

Di masa-masa itu, ia juga cukup lama ‘ditampung’ di sanggar Teater ESKA, IAIN Sunan Kalijaga. Konon sedari pagi hingga sore hari, dengan “mematut tubuh, kenakan baju celana warna cokelat” ia pergi entah ke mana—mungkin  mencari alamat rumah tinggal sanak kerabat,—dan baru kelihatan di sanggar malam harinya. Ia seperti tengah menebus hutang-hutang kebudayaannya, “kembali jadi pengembara merentang sesak semak kata-kata.”

Kebun Ilmu, barangkali demikianlah sebutan yang pas dan pantas baginya. Betapa kisah pengalamannya selama lima tahun di Medini, dan empat belas tahun menjadi pegawai negeri (tentu ini berlainan dengan kisah Rangga meninggalkan Cinta ke New York selama empat belas tahun, yang menurut Rangga hanya satu purnama) teramat sangat membekas di pikiran dan hati sehingga benar-benar memengaruhi kehidupan Iman Budhi Santosa hingga saat ini.  

Sebagai misal ada kisah momen puitis ketiga anaknya bertalian erat dengan tumbuhan. Pada suatu hari, ketika Iman Budhi Santosa pulang kerja, ia melihat gelagat aneh ketiga anaknya, pating tlusup di bawah ranjang besi kamar tamu. Apa yang terjadi? Ketiga anak pegawai Disbun Provinsi Jawa Tengah itu tengah menyaksikan proses pohon pisang tumbuh di lantai tanah rumah mereka. Pohon pisang itu tumbuh di dalam rumah, di dalam kamar, di bawah ranjang besi yang dingin dan sunyi.

“Bukankah peristiwa anak-anak belajar dengan menyaksikan tumbuhnya pohon pisang di dalam rumah itu amat sangat puitis? Namun, sayangnya hal tersebut ketahuan istri saya yang agak bertolak punggung dengan hal-hal demikian. Lantai tanah rumah kami pun sekian hari kemudian diplester dengan semen,” terang Iman Budhi Santosa menegaskan betapa peristiwa sekecil apa pun bisa jadi sangat puitis di pikirannya, menjadi catatan tersendiri, juga bagi ketiga anaknya.

Kelak, kisah-kisah yang bertumbuhan di perkebunan semacam itu akan menjadi buku tebal yang dibawanya ke mana saja.

Dalam catatan saya, ada beberapa identitas-spiritualitas yang tak terpisahkan dari Iman Budhi Santosa. Pertama, puisi dan peribahasa pitutur luhur nenek moyang. Kedua, kebudayaan dan masyarakat Jawa (pidak pedarakan) juga kampung halaman. Ketiga, tumbuhan. Namun demikian, puisi tetaplah menjadi pokok dan sosok Iman Budhi Santosa. Puisi adalah cara menampaikan ide. Inti yang disampaikan bisa berwujud apa saja. Tetapi pemikiran puisi itulah yang muncul dalam peribahasa, falsafah manusia Jawa, nama-nama desa, sebagai wujud pemuliaan. Baginya, ketika membuat puisi, sesungguhnya ia tengah memuliakan ide. Bahkan, peribahasa (Jawa) telah menjadi perilaku Iman Budhi Santosa.

Maka, tercatatlah kisah seorang lelaki tampan berpostur bambangan bernama Glumut yang pekerjaannya adalah tukang penggergaji kayu. Tercatatlah kisah seorang pemikat perkutut, dukun bayi, pemetik teh, juru kunci, pemanjat kelapa, dan kisah-kisah spiritualisme pekerja tradisional di Jawa, dalam buku Profesi Wong Cilik (1999). Tercatatlah kisah Mbah Triyo, seorang perokok berat berusia tujuh puluhan tahun yang dengan rokok tingwe jadi betah melek wira-wiri sampai subuh tatkala harus ngeleb petak sawah garapannya, dalam buku Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup (2012). Dan masih banyak kisah-kisah lainnya yang puitis dan dihadirkan benar-benar sebagai puisi juga catatan budaya lainnya.

Memahami bahwa kegiatan catat-mencatat yang dikerjakan Iman Budhi Santosa  bukan sekadar sebagai usaha merawat ingatan tetapi telah menyatu dengan kesadaran pribadi, tentu ada banyak sekali catatan yang telah ia kumpulkan dan simpan. Banyak yang telah jadi karya sastra-kebahasaan, ada pula yang sampai hari ini masih tetap berupa embrio meski sudah bertahun-tahun dalam kandungan, tetapi tak kunjung dilahirkan.

Yang paling mutakhir adalah buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017) sebagai perwujudan “ziarah tanah Jawa.” Bagi saya, buku Suta Naya Dhadhap Waru adalah buku sastra. Hal tersebut merupakan bukti kecerdasan intelektualitas nenek moyang manusia Jawa di masa lalu yang mewujud sebagai sebuah kebudayaan bernama bahasa. Bahasa ciptaan leluhur inilah yang hingga kini kekal menjadi nama-nama pohon, diabadikan dan dimuliakan sebagai nama dusun-dusun dan desa-desa, khususnya di Jawa. Bukankah hal tersebut adalah perwujudan dari apa yang dinamakan sastra?

Iman Budhi Santosa di usia 69 tahun berhasil mencatatnya dengan penuh keyakinan, bahwa sastra (puisi) bukan sekadar buah permainan kata yang diindah-indahkan belaka! Sebab, karya sastra merupakan ide yang sublim dan menjadi bahan permenungan bagi pembacanya.


Artikel ini pernah terbit di pocer.co tapi laman itu kini telah tiada dan tidak bisa diakses lagi.

Pendapat Anda: