Jogja Stand Up Cartoon: Melestarikan Kartun melalui Pameran dalam Mall

Posted: 5 April 2018 by Fauzan Hanif

Memasuki Galeria Mall, ibu Susi Pudjiastuti akan langsung menyambut Anda. Tapi tenang, menteri kita muncul hanya dalam sebentuk karikatur saja. Lalu lihatlah ke sekitar, maka Anda akan menemukan stand lukis bergambar kartun lain, mulai dari di kolam dekat lift hingga terpajang pula di sisi depan pilar yang menghadap ke arah Anda.

Gambar 1. Ilustrasi Susi Pudjiastuti

Petikan di atas merupakan cerminan suasana eksibisi kartun bertajuk ‘Stand Up Cartoon’ yang berlangsung sejak 13 Maret hingga 2 April 2018. Bertempat di Galeria Mall, Stand Up Cartoon menyajikan karya seni visual berupa gambar kartun, karikatur, hingga karya pahatan yang bisa disaksikan setelah pengunjung melintasi pintu utama Galeria Mall. Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, pengunjung dapat menikmati karya seni visual tersebut di hampir semua tingkatan lantai Galeria. Bahkan, pengunjung juga disuguhi dengan penawaran pembuatan karikatur diri oleh seniman kartun dari komunitas kartun Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), si empunya hajatan.

Kartun-kartun yang terpajang umumnya menggambarkan realita kehidupan sosial di masa sekarang. Ada satu yang cukup menarik perhatian, yakni ilustrasi tiga ayam berbaris yang saling menundukkan kepalanya, fokus menatap benda persegi yang masing-masing mereka genggam: gawai. Gambar tersebut terpajang di stand lukis yang ditempatkan berdiri di atas permukaan kolam dekat lift, di mana terdapat beberapa orang yang melakukan tindakan serupa seperti ayam-ayam dalam gambar. Konten satir tersebut hanyalah satu contoh dari sekian gambar yang mengandung makna sindiran terkait fenomena sosial-budaya saat ini.

Gambar 2. Konten kartun bertema satir

Untuk menggali informasi lebih dalam, penulis menemui salah satu pengurus Pakyo untuk berdiskusi berkaitan dengan eksibisi kartun yang mengusung tagline ‘Stand Up Cartoon – Jogja Cartoon Exhibition 2018’. Pak Yoyok, satu dari 35 kartunis yang berpartisipasi pada eksibisi kali ini, menjelaskan bahwa pameran kartun di Galeria Mall ini merupakan yang pertama kalinya diadakan di dalam pusat perbelanjaan. Kebanyakan pameran serupa dilangsungkan di art space atau ruang pameran khusus di sekitar Yogyakarta. Alasan diadakannya eksibisi yang berlokasi di pusat perbelanjaan, menurut Pak Yoyok adalah karena saat ini, kartun sebagai seni visual sekaligus media penyampai pesan sudah sangat jarang muncul di media-media cetak. Padahal, sejak dulu media cetak merupakan salah satu ujung tombak tersampaikannya seni kartun kepada khalayak. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dari segi distribusi seni visual ini, salah satunya melalui pameran yang berlokasi di dalam pusat perbelanjaan yang di dalamnya berseliweran pengunjung dari berbagai kalangan, khususnya masyarakat kelas menengah ke atas.

“Kartun sebagai seni visual harus mampu berinovasi baik dari segi tema, konten, hingga penyampaiannya kepada penikmat kartun,” lanjut Pak Yoyok. Akses informasi dan komunikasi yang berputar semakin cepat membuat kartunis saat ini tidak hanya menyibukkan dirinya dalam mencari konten yang tepat sasaran, tetapi juga menuntut diri mereka untuk menyajikan karya-karya melalui cara yang kreatif dan inovatif. Salah satunya melalui pameran Stand Up Cartoon ini.

Sementara menurut Pak Bagong, salah satu pendiri Pakyo, motivasi komunitas ini dalam menyelenggarakan pameran kartun di dalam pusat perbelanjaan adalah untuk mengenalkan media kartun khususnya kepada anak-anak. Pak Bagong mengutarakan bahwa anak-anak generasi Z lebih memilih untuk memainkan gawai di manapun dan kapanpun. Mereka cenderung menundukkan kepala, menatap gawai-gawai mereka sehingga melupakan interaksi tatap muka. Maka, dengan diadakannya pameran kartun ini, anak-anak dapat mempelajari kekayaan seni visual dalam bentuk kartun, mulai dari cara memilih media yang tepat untuk menggambar hingga memilih kombinasi warna yang cocok demi mencitrakan karya ciptaan mereka. Serta, mereka dibimbing untuk berinteraksi dengan instruktur dan partisipan lain demi menyusun ide-ide yang cocok diaplikasikan pada karya mereka. Pak Bagong juga berpendapat bahwa jika kemampuan motorik anak-anak tidak dikembangkan, maka mereka akan menghadapi berbagai kesulitan yang berkaitan dengan intelektualitas mereka di masa mendatang. Menurutnya juga, kemampuan kognitif anak-anak perlu dilatih, dan kartun menjadi media alternatif bagi mereka untuk memulai proses kreatifitas mereka.

Oleh karena itu, bukan hanya pameran yang disajikan oleh komunitas Pakyo, melainkan juga workshop membuat kartun yang sebagian besar pesertanya adalah anak-anak SD. Walaupun sebenarnya tidak ada batasan umur, tetapi karena anak-anak umumnya menyukai visualisasi kartun yang ditampilkan, maka mereka memutuskan untuk turut melukis kartun pada permukaan karton yang telah disediakan.

Implementasi kartun dalam eksibisi kali ini, menurut Pak Yoyok dan Pak Bagong, memiliki kelebihan dan kekurangan dari beberapa aspek seperti aspek ekonomi dan pengapresiasian karya. Pak Yoyok berpendapat bahwa pada eksibisi yang pertama kalinya dilakukan di mall ini, aspek ekonomi lebih ditonjolkan karena sebagian besar pengunjung mall merupakan masyarakat kelas menengah ke atas. Mereka lebih fokus terhadap kuantitas karya yang tersedia, tetapi di sisi lain mereka juga kurang memperhatikan keestetisan suatu karya. Sehingga, kesan yang didapatkan adalah kurang dihargainya karya-karya di sana apabila dibandingkan dengan pameran serupa yang bertempat di art space atau ruang-ruang pameran lainnya. Tetapi dari sudut pandang Pak Bagong, pameran seperti Stand Up Cartoon ini kurang lebih merupakan cara kartunis untuk mendekatkan diri kepada pemerhati karya kartun. Mereka tentunya tidak ingin kehilangan peminat atas karya-karya mereka. Maka, istilah ‘menjemput bola’ atau dalam konteks ini, membawa kartun langsung ke hadapan konsumen merupakan salah satu cara melestarikan kartun di ranah publik Indonesia.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: