Hari Bersastra Yogya 2018 Sambang Desa Srimulya, Piyungan, Bantul

Posted: 25 October 2018 by Studio Pertunjukan Sastra

Acara Hari Bersastra Yogya merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra. Tahun ini merupakan tahun ke 6 (enam) penyelenggaraan Hari Bersastra Yogya yang sekaligus merupakan acara perayaan hari jadi Studio Pertunjukan Sastra ke 18 (delapan belas) dan penanda 13 (tiga belas) tahun bergulirnya acara Bincang-Bincang Sastra. Bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Rumah Baca Ngudi Kawruh, Studio Pertunjukan Sastra menggelar serangkaian acara Hari Bersastra Yogya bertema Sambang Desa “Lawan Sastra Ngesthi Mulya” yang mengedepankan serba-serbi sastra Jawa dalam dua bagian; pertama adalah Sarasehan dan Pelatihan Sastra Jawa, kedua adalah Pementasan Sastra Jawa. Penyelenggaraan acara akan berlangsung di kompleks Rumah Baca Ngudi Kawruh, Onggopatran RT 03, Srimulyo, Piyungan, Bantul pada Sabtu 27 Oktober 2018 pukul 09.00 hingga pukul 23.00.

Gelaran Hari Bersastra Yogya tahun 2018 ini meliputi pelatihan mendongeng berbahasa Jawa bersama Bagong Soebardjo dan sarasehan sastra Jawa dengan narasumber Dhanu Priyo Prabowo dan Sugito Ha Es. Acara tersebut akan berlangsung pada pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Sementara malam harinya, mulai pukul 19.00 sampai pukul 23.00 akan digelar Pementasan Sastra Jawa menyajikan pementasan dolanan anak tradisionaloleh anak-anak binaan Taman Baca Ngudi Kawruh, Onggopatran, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Selanjutnya adalah konser tembang dolanan anak yang akan dipentaskan oleh  Komunitas Walang Pro menghadirkan tembang-tembang karya Ki Hadi Sukatno. Dihadirkan pula penggurit Yogyakarta dari lima generasi. Para Penggurit itu ialah Krishna Mihardja, Sulistyarini A.S., Eko Nuryono,Asti Pradnya Ratri, dan Jefri Btara Kawi. Tak kalah menarik, Yohanes Siyamta akan menyajikan pembacaan cerita jagading lelembut karyanya. Acara ini akan ditutup dengan sajian pementasan kolaborasi antara Komunitas Ngopinyastro dengan Komunitas Walang Pro mementaskan sebuah pertunjukan wayang cerkak yang diangkat dari cerkak berjudul “Dasamuka” karya Djajus Pete.

“Acara Hari Bersastra Yogya tahun 2018 hadir secara langsung di tengah masyarakat. Kesadaran bahwa masyarakat juga memiliki karya sastra secara kolektif dalam ingatan dan menyebar secara lisan membuat penyelenggaraan acara ini menjadi penting adanya. Keberadaan sastra di kampung-kampung merupakan potensi bahkan aset bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kekayaan intelektual ini perlu disadari dan dijaga dengan melibatkan masyarakat luas sebagai pelaku sastra,” ujar Mustofa W. Hasyim, ketua Studio Pertunjukan Sastra.

“Pada dasarnya acara ini mengupayakan gerakan literasi di masyarakat, utamanya mengenai jagat sastra Jawa di Yogyakarta. Spirit yang diteladani pada kegiatan ini ialah semangat yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara, yakni “lawan sastra ngesthi mulya”, lewat sastra kita terus berupaya menjadi manusia sejati,” imbuhnya.

Ditambahkan oleh Sukandar selaku koordinator acara, “Hal yang coba ditempuh tetaplah sama, jalan belajar, upaya tegur sapa. Hanya saja, kali ini yang coba dipertemukan, dirembug adalah sastra Jawa dan pertunjukan atau pementasannya. Sastra Jawa yang dihadirkan pun lebih mengedepankan sastra Jawa modern, meski juga menampilkan sastra Jawa klasik. Disadari bersama bahwa keberadaan sastra Jawa modern dan sastra Jawa klasik di masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta boleh dibilang tidak berjarak. Macapat masih hadir di komunitas-komunitas kecil di kampung-kampung meski dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang. Perlu perhatian khusus bagi para pandhemen macapat untuk terus dipupuk keberadaannya sehingga dapat lestari di tengah era globalisasi. Geguritan, cerkak, dan jagading lelembut sebagai karya sastra Jawa modern acapkali dijumpai di media massa berbahasa Jawa, baik koran maupun majalah. bahkan juga hadir di radio. Para sastrawan Jawa modern pun tetap setia menuliskannya meski media sastra Jawa seperti koran dan majalah kini terbatas keberadaannya.  Selain itu masyarakat Jawa juga akrab dengan karya sastra yang hadir dalam gending atau tembang, di antaranya tembang dolanan anak dan tembang lokal yang hanya dimiliki masyarakat setempat dan sekitarnya. Tembang dolanan anak pada masanya dihadirkan orang tua untuk menimang anak-anaknya sebagai tradisi turun-temurun secara kolektif di masyarakat. Demikian pula dengan tembang dolanan lokal. Tembang dolanan lokal biasanya berkisah mengenai tempat-tempat lokal di mana tembang itu berkembang dan hadir dengan kesadaran juga bawah sadar sebagai ingatan, kenangan, memori kolektif masyarakat.”

“Sastra Jawa modern konon lahir sebagai bentuk ekspresi masyarakat. Tidak semua orang bisa membaca tulisan dalam serat babad yang arkhais, gelap, penuh dengan sanepa. Di tengah perjalanan, sastra Jawa modern hadir dengan bentuk baru. Meskipun hingga hari ini masih diperlukan rekadaya yang tidak setengah-setengah. Buku lahir, perlombaan-perlombaan hadir, festival demi festival pesta warna, dan banyak hal lagi yang telah dilakukan oleh “daerah istimewa” ini. Melalui acara Hari Bersastra Yogya ini, Studio Pertunjukan Sastra mencoba memberikan tafsir bagaimana sastra Jawa dibaca, direspons, dan dipanggungkan. Tentu saja hal tersebut dapat terwujud dengan memadukan bentuk kesenian lainnya, musik, teater, tari, dan rupa. Inilah yang kami sebut sebagai tegur sapa kreatif, dengan sastra sebagai pintu masuknya. Dan di perjalanannya, semua terbuka kemungkinan dalam penyajian. Akan hadir pula para pelaku sastra Jawa dari berbagai generasi dan genre dalam satu panggung, satu ruang, dan satu waktu,” ungkap Sukandar.“Penyelenggaraan acara ini terwujud berkat jalinan kerja sama langsung dengan masyarakat, Taman Baca Masyarakat (TBM), komunitas sastra Jawa, pelaku seni tradisi, dan dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY. Adapun semangat yang digalakkan adalah usaha memungut kembali hal-hal yang terlewat dan tak selesai, berusaha menemukan kemungkinan baru dalam merespons dan menyosialisasikan sastra, khususnya sastra Jawa. Tujuannya tentu, menggeliat, njereng kembali apa yang pernah ada dengan tafsir anak-anak hari ini. Demikian kiranya,” pungkas Sukandar.

Pendapat Anda: