FloatspotReborn: Mengapung Bersama di Situgunung

Posted: 2 March 2017 by Dyah Nur Khoiriyah

Float merupakan band indie asal Jakarta yang sudah berdiri sejak tahun 2004. Meskipun sudah sering bongkar-pasang personil dan sempat vakum, Float tidak pernah kehilangan pendengar-pendengar setianya. Selain Floatspot (sebutan Float untuk gig atau event yang menghadirkan mereka sebagai bintang tamunya) yang diselenggarakan oleh pihak luar, Float sangat senang membangun kemesraan bersama penggemarnya dengan mengadakan acara khusus yang diadakan di alam terbuka dan jauh dari kebisingan. Konser mereka misalnya pernah digelar di Dataran Tinggi Dieng, Perkemahan Bungbuay di Sukabumi, Nirwana Laut di Karimunjawa, hingga Teluk Kiluan Lampung,.

 

Sabtu (25/2) lalu, Float kembali mengadakan acara serupa bertajuk Floatspot Reborn. Kembali berlokasi di Perkemahan Bungbuay, Situgunung Park, Sukabumi,  acara tersebut merupakan Floatspot pertama di tahun ini dan diadakan untuk mengiringi rilisnya single terbaru Float yang berjudul Reborn. Dikutip dari situs resminya, Floatspot Reborn diharapkan menjadi momentum untuk menyegarkan suasana hati seperti jika kita terlahir kembali. Dengan konsep acara yang santai dan tanpa rundown resmi,  acara ini seolah dibuat mengalir saja untuk diserahkan pada semesta.

 

Floatspot Reborn diselenggarakan secara eksklusif dengan hanya menyediakan slot untuk 300 peserta yang dibagi menjadi dua kategori; campers (bersedia bermalam di lokasi dengan mendirikan tenda) dan non campers (hanya datang ke lokasi saat acara utama berlangsung). Acara ini sudah menjaring antusiasme yang tinggi sejak pertama kali dipublikasikan. Benar saja, tiket Floatspot Reborn ludes hanya dalam hitungan hari. Alhasil, mereka yang tidak kebagian tiket terpaksa harus masuk ke daftar tunggu. Beruntunglah saya dan kedua teman saya yang sudah melakukan registrasi sejak 30 menit pertama.

 

Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Saya dan kedua teman saya tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB. Langit mendung yang mengiringi kedatangan kami bertolak belakang dengan sambutan crew yang sore itu begitu ramah. Ternyata masih dibutuhkan sekitar 15 menit berjalan kaki –secara perlahan dan hati-hati karena jalan yang licin— untuk mencapai lokasi perkemahan Bungbuay. Setelah sampai di atas, kami disambut (lagi) dan diarahkan untuk mencari spot pendirian tenda. Kami bertiga dengan pede membuka bungkus tenda instan pinjaman dan mengaku bisa mendirikannya. Namun pada akhirnya, 85% pendirian tenda berhasil selesai berkat bantuan salah satu crew Float yang sangat baik hati (sepertinya karena dia prihatin melihat kami bertiga). Entah beruntung atau malang, sedetik setelah tenda berdiri, hujan deras jatuh mengguyur Situgunung.

 

Sesorean kami habiskan dengan menduga kira-kira apa rencana B yang sudah Float siapkan jika hujan tak juga reda. Sekitar pukul 17.00, terdengar Meng dan crewnya sedang melakukan cek sound dengan suaranya yang khas dan syahdu. Sementara itu di dalam tenda, kami terus harap-harap cemas jika hujan tak jua berhenti.

 

Hujan deras dengan ajaib berhenti sesaat sebelum acara inti dimulai pada pukul delapan malam. Kami bertiga dan floatmates lain pun segera mendekat ke panggung sederhana yang dibuat begitu manis dengan lampu-lampu temaram. Semua terlihat antusias, tak peduli dengan tanah berlumpur yang memperberat langkah, yang jika berjalan di atasnya menghasilkan suara ceplak cepluk, yang membuat kaki bagai es goreng saus coklat Pak Gatot yang dijual di Sunmor UGM.

 

Malam itu Too Much This Way dilantunkan dengan apik sebagai pembuka penampilan Float, dilanjutkan dengan Waltz Musim Pelangi. Setelah semuanya berkumpul, Meng sang vokalis bertanya kepada kami, “Acara kaya gini, enaknya diadain berapa bulan sekali, sih?”, sebuah pertanyaan yang kemudian menghasilkan wacana untuk mengadakannya setiap tiga bulan sekali. Semua dibuat penasaran dengan lokasi syahdu mana lagi yang akan Float pilih. Apakah Nusa Tenggara? Sulawesi? Atau Yogyakarta?

 

Kalau saya tidak salah hitung, malam itu Float membawakan kurang lebih 19 lagu. Mulai dari yang terlawas hingga yang terbaru, yang dibawakannya secara acak. Beberapa di antaranya adalah Pulang, Tiap Senja, No Dream-Land, Songs of Seasons, Time, Keruh, Reborn, 3 Hari Untuk Selamanya, Ke Sana, dan favorit saya; Stupido Ritmo. Kami pun tak lelah untuk selalu ikut menyanyikan lirik-lirik puitisnya, terutama saat “Sementara” dilantunkan dan suasana seakan mencapai klimaks karena saking kompak dan lantangnya suara kami. Float membawakan lagu-lagunya dengan sangat santai dan apa adanya; tanpa alas kaki, sambil merokok dan bercanda, pokoknya sesuka hati. Suasana terasa sangat hangat, intim, dan membahagiakan. Float benar-benar berhasil membuat kami semua mengapung malam itu.
Pagi di Situgunung diawali dengan suara nyanyian burung yang sangat ramai. Setelah mengintip ke luar tenda, beberapa tenda tetangga ternyata sudah lenyap. Kami bertiga pun memutuskan untuk segera berkemas. Tanah berlumpur masih saja menenggelamkan kaki, untungnya kami berhasil membereskan tenda dengan cepat dan kali ini tanpa bantuan crew. Sementara para crew masih sibuk membereskan panggung, kami mulai melangkah meninggalkan Bungbuay. Belakangan baru saya tahu bahwa ternyata Meng dan timnya beramai-ramai menggunakan kereta api untuk transportasi Bogor-Cisaat, Sukabumi.

 

*Foto oleh L. E. Pusparini

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *