Diskusi Sastra Bulan Bahasa UGM 2018: Mempertanyakan Kebebasan Bersama Ayu Utami

Posted: 18 October 2018 by Andreas Nova

Ketika pertama kali mendengar Ayu Utami akan mengisi acara di Bulan Bahasa 2018, saya sungguh excited sekali. Pasalnya, selain saya pernah membaca kedua buku pertamanya (Saman, 1998, dan Larung, 2001), nama Ayu Utami sering disebut dalam kelas Kajian Gender ketika saya kuliah. Waktu itu dosen saya (saat tulisan ini ditulis, beliau menjabat sebagai Dekan FIB UGM) Dr. Wening Udasmoro, S.S, M.Hum., DEA, sering menyebutkan (dan juga pada seminar atau diskusi bertema feminisme yang menghadirkan beliau sebagai pembicara) bahwa Ayu Utami adalah avant-garde bagi penulis perempuan generasi baru di Indonesia.

Acara yang dihelat di Auditorium Gedung Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Sabtu 13 Oktober 2018 dimulai setengah jam lebih lambat dari jadwal. Cukup banyak peserta diskusi yang hadir, meskipun acara ini berbayar. Di depan ruangan Auditorium, dekat pintu masuk juga digelar beberapa buku karya Ayu Utami yang dijual, termasuk Bilangan Fu yang dicetak ulang dalam rangka 10 tahun terbitnya Bilangan Fu. Rangkaian acara dimulai dengan sambutan-sambutan layaknya acara diskusi formal. Kemudian sebelum memasuki acara utama, peserta disajikan pembacaan tiga fragmen dari karya-karya Ayu Utami yang sesuai dengan tema acara: Perempuan, Kebebasan, dan Spiritualisme Kritis.

Acara utama dibuka oleh moderator Yosef Astono. Kemudian dilanjutkan Ayu Utami yang membuka penjelasannya dengan menjelaskan ulang historiografi kesusastraan Indonesia. Cara Ayu menjelaskan historiografi ini menarik sekali. Ia membagi babak-babak kesusastraan Indonesia ini seperti babak-babak perkembangan pencarian identitas seorang remaja. Mulai dari Emansipasi, Konflik, Pencarian Identitas, Penemuan Identitas Baru, Realistis, dan Reformasi Identitas. Ayu memulai dari Emansipasi yang tentu saja berhubungan dengan RA. Kartini. Menurutnya Kartini adalah salah satu bagian dari kesusastraan Indonesia. Ada gagasan-gagasan pemikiran Indonesia dalam tulisan Kartini, meski tidak dituliskan dalam Bahasa Indonesia. Begitu juga Multatuli juga ia masukkan dalam babak Emansipasi.

Perkembangan Sastra Indonesia menemukan konflik dalam dirinya sendiri ketika memasuki era Balai Pustaka, menemukan identitas dalam era Pujangga Baru. Lalu kesusastraan Indonesia memasuki bentuk yang lebih modern dalam diri Chairil Anwar. Menemukan Humanisme dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Konflik antara Lekra dan Manifesto Kebudayaan juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kesusastraan Indonesia.

Memasuki era Orde Baru, dengan banyaknya tekanan politis dan militer maka muncul karya-karya realisme seperti karya-karya Ahmad Tohari, kemudian dirombak dengan non Realisme dalam karya-karya Putu Wijaya. Dari karya puisi juga muncul puisi-puisi liris dari Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan diteruskan oleh Adimas Immanuel. Di sisi lain juga muncul puisi non liris dari Remi Sylado, dan Sutardji Calzoum Bachri. Kemudian memasuki era Reformasi, Ayu memberikan contoh dirinya sendiri dan Wiji Thukul.

Ayu memberikan pertanyaan besar untuk ditanggapi peserta diskusi. Apa artinya kebebasan? Apakah konsep kebebasan baru muncul ketika masa kolonialisme? Apakah perempuan di masa kerajaan nusantara memahami konsep kebebasan? Ataukah budak-budak jaman Majapahit tahu kata bebas itu sendiri? Sayangnya pertanyaan-pertanyaan ini hanya kembali ke diri peserta diskusi masing-masing. Ketika memasuki sesi tanya-jawab, kebanyakan peserta diskusi lebih menanyakan seputar karya-karya Ayu Utami. Beberapa penanya, yang kebanyakan perempuan mengaku mereka terwakili dengan karakter dalam karya-karya Ayu Utami. Walaupun ada juga penanya yang merasa terwakili dalam Si Parasit Lajang, namun justru kecewa dengan Pengakuan Eks Parasit Lajang.

Ketika sesi tanya jawab ini pula Ayu lebih banyak bercerita tentang konsep spiritualisme kritis. Ketika ia merasakan saat ini banyak kekerasan dilakukan atas nama agama. Jika dulu kekerasan dilakukan atas nama negara (militer) yang nampak, kini banyak dilakukan atas nama agama yang tak nampak. Kata spiritualisme kritis ia yakini sebagai jalan tengah bagaimana kita tetap beriman tanpa meninggalkan akal sehat. Karena menurutnya masyarakat Indonesia masih memerlukan sandaran dalam dunia yang serba tak pasti. Sandaran itu berupa keyakinan. Hanya saja keyakinan itu tidak bisa ditelan mentah-mentah. Kesadaran dan nalar kritis juga harus dikedepankan dalam meyakini sesuatu.

Antusiasme peserta diskusi cukup baik. Ada beberapa peserta yang masih ingin bertanya, tapi sayangnya waktu sudah tidak memungkinkan. Acara kemudian diakhiri oleh sesi tanda tangan dan foto. Sesi tersebut mengakibatkan antrian yang panjang. Sembari menunggu saya iseng-iseng bertanya pada panitia yang menjual buku karya Ayu Utami di depan. Menurut mereka antusiasme peserta juga bagus, bahkan Bilangan Fu yang dibawa Ayu Utami (sebanyak 15 atau 20 eksemplar) habis dalam acara itu.

Meskipun menurut saya, ada beberapa kekurangan dalam diskusi. Semisal Yosef Astono selaku moderator nampak kaku dan kurang luwes dalam memandu diskusi. Namun secara umum, acara ini berlangsung dengan baik. Bagaimanapun diskusi-diskusi semacam ini, apapun temanya selalu menarik untuk diikuti dan didokumentasikan dengan baik. Apalagi jika dilakukan di lingkungan akademis. Selamat untuk Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia dan juga panitia Bulan Bahasa UGM 2018, semoga semua rangkaian acaranya berjalan sukses dan semarak.

#NgalorNGIBUL eps.4 – Ayu Utami
Pendapat Anda: