Crossroad (1994): Jalan Pintas Mengenal Bon Jovi

Sebagai orang yang ingin memulai menyimak dengan seksama karya-karya dari sebuah band, jalan pintas yang paling umum dilakukan adalah dengan mendengarkan album Greatest Hits atau yang sejenisnya. Memang album Greatest Hits biasanya hanya memuat lagu-lagu paling terkenal, namun bukan berarti album seperti itu tidak memuat album terbaik dari sebuah grup musik tersebut. Greatest Hits juga bisa dikatakan sebagai rangkuman karya-karya dari sebuah kelompok musik.

Kali ini, saya akan membahas salah satu album Greatest Hits yang paling terkenal dari grup yang baru saja dimasukkan menjadi salah satu anggota Rock and Roll Hall Of Fame 2018 class, album ini dirilis tahun 1994, berjudul Crossroad, telah terjual lebih dari 20 juta keping di seluruh dunia dan grup tersebut bernama Bon Jovi, album ini merangkum lagu-lagu terbaik  dan tersukses mereka mulai dari tahun 1984 hingga 1992. Bon Jovi di kenal di seluruh dunia, terutama, karena lagunya yang berisikan lirik-lirik bertemakan tentang cinta yang sering disebut dengan istilah power ballad, mudah di ingat (catchy) yang juga tetap mempertahankan ciri dan kualitas musik rok yang sudah menjadi dasar mereka dari awal. Dibuka oleh signature song mereka, “Livin’ On A Prayer”, dimana pada bagian  intro Sambora memainkan alat bernama talk-box  yang dipopulerkan Peter Frampton, bercerita tentang perjuangan hidup sehari-hari pasangan yang bernama Tommy dan Gina. Setelah itu kita disuguhi lagu-lagu Bon Jovi yang menduduki posisi nomor satu tangga lagu Amerika Serikat seperti, “You Give Love a Bad Name” dan “Bad Medecine” yang sama-sama catchy, balada nan romantik dalam “I’ll Be There For You“. Album ini juga memasukkan lagu yang tidak dirilis di album lain, yaitu “Always” dan “Someday I’ll Be Saturday Night“. “Always” adalah lagu balada rok berlirik nan sangat romantis. Dalam lagu ini Jon menyajikan sebuah pameran vokal berteknik tinggi, terutama pada bagian refrain. “Somedday I’ll Be Saturday Night” menyajikan Bon Jovi yang bernuansa musik country yang sangat kental. “Prayers ’94” adalah lagu “Livin’ On a Prayer” yang di daur ulang dengan musik akustik. Ada juga tambahan lagu solo Jon yang berjudul “Blaze of Glory” yang diambil dari album lagu tema film “Young Guns“. Lagu lainnya di sini adalah “In And Out Of Love” yang diambil dari album 7800 Fahrenheit, “Runaway” yang merupakan single pertama mereka dari album pertama mereka, “Lay Your Hands On Me” yang diingat karena intro drum menggelagar dari Tico Torres dan tak lupa Bon Jovi memasukkan lagu mereka yang paling cool  “Wanted Dead Of Alive“. Ada satu lagu lagu lagi yang belum saya sebut, yaitu “Bed Of Roses“, lagu ini adalah lagu Bon Jovi yang paling saya sukai, mungkin singkatnya lagu ini bercerita tentang “balada semalam aku dengannya”, namun departemen lirik dan musik digarap dengan matang dan megah sehingga menjadikan lagu ini terkesan mewah, tidak chessy . Lagu ini diawali dengan permainan gitar Sambora sendu dan iringan piano David Bryan yang merdu, lalu Jon mulai bernyanyi dengan penuh penjiwaan, yang membikin pendengarnya merasa bahwa  baladanya itu sangat menyayat, dan itu terbukti benar ketika saya mendengar, “ I want to lay you down in the Bed Of Roses, For tonight I sleep on the bed of nails, I want to be just as close as The Holy Ghost is, And lay you down on bed of roses“, sebuah lirik yang puitik, mendalam, berikut juga musik Bon Jovi yang sendu, penuh emosi dan indah, serta vokal Jon yang megah.

Begitulah, jika ingin mencari jalan pintas untuk mengetahui musik Bon Jovi secara singkat sebelum lebih mendalam, maka  Crossroad-lah jalan pintas itu. Album ini merangkum musik Bon Jovi dari era 80an yang khas anak muda zamannya, menghentak, memainkan rok yang mudah diingat banyak orang alias catchy, diputar di radio namun tidak lupa akan kualitas musik itu sendiri, serta Bon Jovi era 90an yang lebih dewasa dalam penulisan lirik, dan sangat memperhatikan tekstur musiknya. Tidak peduli mana yang terbaik, Bon Jovi 80an atau Bon Jovi 90an, namun dengan album ini bisa memberikan gambaran dan alasan bahwa mereka adalah salah satu grup musik rok terpenting di eranya.

Tabik.

Aryo Jakti Artakusuma

Aryo Jakti Artakusuma

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan. Bergiat di Komunitas Selepas Senja.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait