Catatan tentang Yogyakarta Ibunda Tercinta

Posted: 30 January 2019 by Cucum Cantini

Bincang-Bincang Sastra edisi 160 bertajuk “Yogyakarta Ibunda Tercinta” yang digelar pada 26 Januari 2018 di Taman Budaya Yogyakarta menjadi momen untuk merenungi kembali apa makna Yogyakarta, tidak hanya sebagai sebuah place akan tetapi juga sebagai space. Panitia acara rutin Studio Pertunjukan Sastra ini telah memilih saya yang seorang moderator amatir. Sungguh menggelikan mendapati diri di depan hanya terdiam dan berpikir, sama seperti peserta lainnya yang enggan bertanya, kami semua kemudian lebih banyak merenungi diri sebagai seorang pendatang yang datang ke Yogyakarta di tahun yang berbeda-beda.

Seperti halnya saya, ketiga narasumber yang hadir bukanlah orang Yogyakarta. Kami semua adalah pendatang. Maka cerita yang sesuai dengan tajuknya, “Yogyakarta Ibunda Tercinta”, adalah seputar pengalaman dan perasaan seorang pendatang yang datang ke sebuah tempat yang sangat mengayomi.

Indrian Koto merupakan seorang sastrawan, pemilik kedai buku, serta seorang ayah dari dua putri—yang keduanya lahir di Yogyakarta. Dirinya memutuskan datang dan kuliah pada tahun 2004 dengan ambisi mengubah diri menjadi lebih baik. Dan tentu, Yogyakarta menjadi tempatnya menempa diri. Dengan bekal menulis yang telah dimiliki sebelumnya di masa SMA, Koto terpukau oleh keramahan masyarakat di Jogja dan mengembangkan bakat kepenulisannya di Yogyakarta. Meski tidak lama, Koto pernah mencoba berteater di kampusnya, setelah itu dia lebih banyak aktif di Komunitas Rumah Lebah dan RRI Pro 2 Yogyakarta.

Sama halnya dengan Indrian Koto, Edi A.H Iyubenu datang ke Yogyakarta dengan angan-angan mengubah diri menjadi lebih baik. Pak Edi–demikian sapaannya, datang ke Yogyakarta pada tahun 1995 membawa impian untuk menetap tidak hanya sebagai mahasiswa akan tetapi juga karena memiliki ketertarikan untuk menulis. Selain aktif di teater kampusnya di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga), Edi juga mencoba peruntungan seperti penyair-penyair lainnya yang menulis demi honor yang saat itu cukup untuk menghidupi diri di Jogja. Edi mengakui, meski banyak koran yang sanggup memberikan honor kepada para penulis, tetapi tak jarang persaingan untuk pemuatan karya sastra sangatlah sulit. Kerapkali tulisan-tulisannya ditolak oleh media. Hal tersebut tidak melunturkan kegigihannya untuk menulis. Tahun 1996 karyanya kemudian dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat. Sebagai sebuah tempat yang melahirkan kembali dirinya, Edi kesulitan untuk mendefinisikan Jogja, dirinya hanya sanggup menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Yogyakarta sebagai tempat perisitirahatan terakhirnya kelak.

Prof. Faruk menjadi narasumber yang paling lama menetap di Jogja, bahkan kota tersebut menghabiskan waktunya lebih banyak ketimbang tempat lahirnya sendiri di Banjarmasin. Faruk datang dari Kalimantan Selatan ke Yogyakarta di usia 19 pada tahun 1976. Selama 43 tahun dirinya tinggal jauh dari keluarga besar dan Yogyakarta mengubah tak hanya dirinya akan tetapi seluruh hidup dan gagasannya. Meski memiliki pengalaman hidup yang lama di Yogyakarta, dirinya menolak untuk menjabarkan kembali Jogja tahun 70-an. Baginya semua orang memiliki pandangan berbeda mengenai kota tersebut. Faruk lebih antusias ketika menceritakan bagaimana proses dirinya hidup saat menjadi mahasiswa hanya dengan sekerat roti untuk bertahan dan belajar.

Mendefinisikan kembali Jogja, Mendefinisikan Kembali Ibu

Seperti kisah-kisah fiksi, seorang anak diangkat dan diasuh oleh seorang yang dinamainya ibu. Anak tersebut kemudian menyadari bahwa dirinya secara biologis tidak lahir dari ibu angkatnya. Sebaik apapun sang ibu angkat memelihara perasaannya terhadap sang anak, anak angkat tersebut akan memiliki batasan-batasan terhadap konsep kasih sayang yang mengalir kepada dirinya. Apalagi masih ada anak-anak kandung sang ibu yang memiliki hak pasti untuk disayangi dari lahir hingga mati.  Ketika memikirkan kembali untuk mencari sang ibu kandung, dirinya dilanda ketakutan terhadap sosok ibu tersebut, tentang alasan sang ibu tidak memelihara dan membesarkannya. Atau mungkin sang ibu kandung tidak bisa lagi memeluknya karena telah tiada. Sang anak kemudian dimendungi oleh segala hal mengenai konsep asali, siapa dirinya, siapa ibunya yang sebenarnya; yang melahirkan ataukah yang membesarkannya.

Prof. Faruk dalam acara Bincang-bincang Sastra edisi ke 160 ini, menghentak peserta dengan mempertanyakan kembali apa yang dimaksud Ibunda sebagai tajuk acara ini. Dirinya yang lebih lama mengenal Yogyakarta malah mengakui diri hanya sebagai ‘penumpang’ di Jogja. jika Yogyakarta adalah Ibu, bagi dirinya Jogja adalah ibu asuh yang mengasihi dirinya. Memberikan segalanya tetapi tidak seluruhnya. Masih ada ‘anak-anak’ yang dilahirkan Yogyakarta yang lebih akan dikasihinya.

Kesadaran yang dirasakan oleh Guru Besar FIB UGM ini kemudian dipertanyakan kembali oleh semua khalayak yang mendengarnya. Kesadaran sebagai siapakah kita yang datang ke Yogyakarta, menetap, bertahan, bersusah dan berpeluh, mencari dan mengenali diri. Apakah dari semua hal yang kita lakukan di dalam pangkuan sang ibunda tercinta itu, patutkah kita merasa memiliki—atau bahkan menuntut—sang ibu memberikan semua secara seluruh? Bertahan dengan segala kenyamanan karena telah merasa sang ibu telah mengasihi dan tak rela lepas untuk meninggalkannya?

Menjadi Anak yang Dibesarkan dan Membesarkan

Koto, Edi, dan Faruk hanyalah beberapa dari sekian banyak orang yang bertarung dan meninggalkan kota kelahiran. Ketiganya mengalir bersama arus periode Yogyakarta yang mulai berubah. Bisa dikatakan jalanan Jogja dulu tidak sepadat sekarang, tanah yang semakin mahal dan sulit dimiliki hanya dengan UMP—terendah jika dibandingkan dengan provinsi lain. Belum lagi makanan dengan varian topping yang merajai Yogyakarta yang harganya tentu tidak sama dengan sebungkus nasi kucing di angkringan. Plat kendaraan yang hilir-mudik di jalanan tidak hanya AB, tapi juga beragam plat kendaraan telah meramaikan Yogyakarta—kendati yang menggunakan plat AB belum tentu orang Yogyakarta.

Anak-anak asuh Yogyakarta mungkin merasakan menjadi anak asing yang menumpang. Datang dan bertahan. Merasakan rindu kampung halaman sekaligus tetap ‘keukeuh’ bahwa Jogja memeluk erat untuk tetap hidup dan menghidupi meski sadar bukan tanah kandungnya. Setidaknya kita harus membesarkan hati serta membesarkan pikiran mengenai anak-anak kandung yang mungkin juga harus berjuang mencari perhatian ibu kandungnya, Yogyakarta. Merasakan bagaimana pedihnya tanah yang dulu ditempati kakek dan neneknya berubah menjadi tanah orang lain, digarapi oleh orang asing, saudara asuh yang dinafkahi oleh ibu kandungnya tersebut.

Bisa jadi anak-anak kandung ini juga berjuang dan bertahan. Beberapa yang tidak beruntung memiliki pekerjaan dan tidak sempat kuliah mungkin saja pernah kita dapati berada di pos ronda atau di gang-gang kumuh seakan mengancam anak-anak asuh yang lewat atau parkir dengan kendaraan mentereng dan makan di kedai kopi ber-wifi. Atau yang lebih ekstrim, anak-anak kandung yang melakukan tindakan radikal hanya karena ibunya merasa direnggut.

Jogja, Sebuah Momen untuk Kembali

Seorang kawan yang tinggal selama tiga tahun di Jogja pernah menyesali tidak pernah menyempatkan diri berfoto di Tugu. Mitosnya seseorang yang berfoto di sana akan kembali ke Yogyakarta. Apakah yang ingin dikembalikan momennya ataukah Jogjanya?

Sama seperti kita tidak bisa menggambarkan alasan untuk kembali ke Yogyakarta, para anak-anak asuh juga mungkin tidak bisa memahami apa yang membuat mereka bertahan. Pekerjaan di Yogyakarta pasti akan berakhir di masa tua, seperti masa kuliah yang harus berakhir dengan wisuda atau surat drop out, Yogyakarta telah memberikan batas waktu untuk tinggal. Meskipun selalu ada alasan untuk juga tetap bertahan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Yogyakarta—seperti seorang ibu, tidak pernah menuntut banyak kepada anaknya (kecuali untuk menjadi lebih baik hati). Yogyakarta tidak banyak bertanya apakah kita harus memiliki nominal rupiah yang besar di rekening, kekasih yang cantik atau kaya, untuk tetap tinggal dengan selo dan baik hati—meski tidak selalu harus religius.

Yogyakarta mungkin berbeda dengan kota-kota lainnya, tidak ada kota yang sepenuhnya sama karena tidak ada kota yang benar-benar sama. Jika Yogyakarta memberikan kenyamanan maka kita bertahan, bukan alasan bertahan itu untuk tetap tinggal dan dipertanyakan. Akan tetapi kenyamanan itu yang layak dipertanyakan, karena kenyamananlah yang berbahaya dalam kehidupan. (*)

*Foto diambil dari dokumentasi Studio Pertunjukan Sastra

Pendapat Anda: