Berpikir Dekonstruktif: Proses Kreatif Menulis Eka Kurniawan

Posted: 12 April 2018 by Cucum Cantini

Sepuluh April 2018 di Hall PKKH Universitas Gadjah Mada, telah terjaring kepala-kepala yang membutuhkan suplemen kreatifitas kepenulisan fiksi. Kuliah umum yang digelar di Forum Umar Kayam yang berjudul “Proses Kreatif Eka Kurniawan” yang dimoderatori oleh juga seorang penulis kenamaan, Mahfud Ikhwan, dimulai pada pukul 10.15 WIB. Kursi telah penuh, begitupun kopi, teh, serta panganan telah hampir tandas. Di awal acara, Mahfud telah memberikan peringatan bahwa nantinya diharapkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada Eka bukanlah rasa penasaran mengenai awal gagasan, inspirasi, atau pertanyaan-pertanyaan umum yang sudah dilontarkan bertubi di banyak acara Eka, mengingat bukan pertama kali tema acara tersebut diadakan. Hal ini memberikan motivasi bahwa proses kreatif Eka haruslah menimbulkan pertanyaan yang kreatif pula.

Meskipun, bukan lagi rahasia umum—dugaan mengenai kekhasan penulisan Eka yang bercita rasa realisme magis: sebuah menu tidak terhidang begitu saja tanpa ada bahan dan cara pengolahan yang tepat. Sebuah masakan harus memenuhi kreatifitas cita rasa perpaduan bahan yang mengenyangkan sekaligus sedap dibaca, yang akhirnya menimbulkan kecanduan untuk selalu menikmatinya lagi dan lagi.

Eka memulai slide pertamanya dengan sebuah gambar deretan foto berjudul Pahlawan Nasional Indonesia—suara tawa peserta akan berubah kekaguman di akhir slide-yang nanti akan disampaikan dalam tulisan ini. Eka menekankan perlunya meredefinisi kembali sejarah; memulai dengan sebuah pertanyaan atau mempertanyakan dunia. Kenapa di setiap pergantian rezim pahlawan nasional ikut berubah? Kenapa hanya ada tiga wanita di puluhan foto tersebut?

Gagasan mengenai perspektif seringkali berbeda, sekalipun sejarah menggambarkan dengan lugas, seperti lukisan Pangeran Diponegoro, satu lukisan dengan banyaknya mata di setiap kepala, pastilah mentransmisikan imajinasi yang berbeda pada masing-masing memori. Hal inilah yang dijadikan Eka sebagai patokannya menulis: dia menulis dengan perspektif dan imajinasinya. Itulah kenapa tulisannya akan berbeda dan unik. Kau takkan menemukan kisah sejarah rekaan Eka dalam buku sejarah manapun.

Pertanyaan yang seringkali muncul ketika menyantap teks-teks olahan Eka adalah: kenapa tokoh-tokoh laki-laki selalu bodoh dan berfisik biasa saja, sementera tokoh-tokoh wanita selalu kuat, menarik, dan (beberapa) memikat birahi? Di sini Eka meredefinisi tokoh-tokoh maskulin dan feminin. Bertukar posisi. Karena di setiap laki-laki, tidak ada kesempurnaan maskulin yang ideal. Begitupun tokoh-tokoh wanitanya.

Eka menunjukkan sebuah gambar Baratayuda, kisah perang legendaris. Kemudian dia munculkan gambar prajurit dengan seragam hijau tengah sungkem pada ibunya, pamit berperang. Sejarah mencatat kisah-kisah perjuangan yang nasionalis, mencekam, penuh semangat dan pengorbanan. Akan tetapi, pernahkah sejarah lain mencatat bagaimana seorang ibu yang ditinggal anaknya berperang? Bagaimana perasaannya? Inilah yang menjadi ciri khas Eka dalam memilih tokoh-tokohnya. Dia menyeret tokoh-tokoh minoritas, lemah, tak layak dijadikan tokoh hero dalam perang, atau tokoh-tokoh konyol seperti Petruk-Gareng. Jika tak ada yang sudi menceritakannya, Eka memberikan alternatif cerita berbeda dari dunia menceritakannya.

Pernahkah membaca sebuah teks sejarah namun merasa ada yang tak lengkap? Seperti saat sekolah dasar dulu sejarah mencatat Seorang Supriadi, menceritakan kisah heroiknya namun sejarah menamatkan kisahnya dengan segera. Lalu teks dengan tragis menyatakan Supriadi hilang rimbanya. Kemudian sejarah melanjutkan kisah kemerdekaan dan melanjutkannya dengan kisah paska-kemerdekaan, dan Supriadi masih hilang di rimbanya, moksa. Eka melengkapi retakkan sejarah yang kosong, menambalnya dengan imajinasinya. Dan di sinilah peran teks untuk melengkapi sejarah.

Jika sastra adalah sebuah bingkai, sastra haruslah mem-frame sebuah kisah dengan berbeda. Bukan persoalan bagaimana sebuah teks wajib estetik. Tetapi bagaimana narasi membangun wacana berbeda dari sejarah menawarkan gagasan kebenaran. Penganut Marxisme, Pierre Macherey, menyatakan teks-teks sastra memiliki kebungkaman, ketiadaan, tak terkatakan, silent. Inilah produksi kepenulisan Eka: menguak yang terbungkam. Menampilkan sejarah baru, merajut jarak antara yang benar dan yang diragukan kebenarannya. Sastra menjadi respon estetik terhadap karya lainnya yang dianggap pakem.

Eka tidak menampik kehadiran sastra populer yang dianggap massal, massif, dan money oriented. Akan tetapi, keunikan dalam proses kreatifitas adalah menawarkan minoritas sebagai pusat. Itulah kenapa, prinsip kepenulisan kreatif ialah tidak hanya mengangkat oposisi biner pada umumnya, tetapi juga menyeret hal-hal yang mungkin tidak beroposisi. Sehingga dapat melengkapi dan mewarnai cerita.

Racikan berbeda dalam teks khas Eka Kurniawan adalah Realisme Magis. Dua hal yang berseberangan diolahsatukan. Sebelumnya bisa saja meluncur pertanyaan: realis dan magis,mungkinkah? Buktinya Eka berhasil memasaknya bersama. Dan pembaca dapat menemukan seekor monyet yang tergila-gila pada raja dangdut. Ada manusia harimau dalam novel. Atau yang lebih membuat seorang anak terkencing di celana adalah ketika Dewi Ayu bangkit dari kuburnya setelah dua puluh satu kematiannya. Sebelumnya mungkin takkan ada yang mau menuliskan kisah tentang perempuan ideal cantik. Seorang pelacur. Perempuan keturunan dengan anak-anak jelita dan diakhiri dengan anak buruk rupa. Hidup dalam satu rezim kolonial saja, seorang perempuan rupawan akan hidup menderita. Maka Eka menambah luka dengan menghidupkannya di dua rezim selanjutnya.

Eka bisa saja menjadikan tokoh perempuan sebagai heroin. Wanita cantik yang sangat mistis. Ini mengingatkan tokoh perempuan legendaris Indonesia: Suzzanna. Eka kemudian menampilkan kembali gambar tokoh-tokoh pahlawan nasional di akhir slide-nya. Tanpa disadari foto-fotonya berubah. Dan Suzzanna satu diantara tokoh-tokoh yang beberapa juga dia ganti dan beberapa dia pertahankan. Setiap individu memiliki sejarah dan pahlawannya sendiri. Itu pasti.

Sejarah bisa jadi milik siapa saja, bukan hanya milik masyarakat, bangsa, negara, atau dunia. Ada hak untuk memercayai atau bahkan meragukan sejarah itu sendiri. Dan setiap orang dalam setiap golongan tertentu memiliki pandangan akan hal itu. Pertanyaannya beranikah seseorang menulis sejarah dalam imajinasinya? Melontarkan pertanyaan akan dunia, pada dunia. Karena sastra takkan lengkap jika hanya berupa proyek ideologis semata, harus ada realisasi untuk melengkapinya – Pierre Macherey.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: