BBS #143: Kemerdekaan Musik Puisi

Posted: 24 August 2017 by Studio Pertunjukan Sastra

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta kembali menggelar Bincang-bincang Sastra (BBS) yang pada bulan Agustus 2017 ini memasuki edisi ke 143.  Bincang-bincang Sastra kali ini mengusung tajuk “Kemerdekaan Musik Puisi”. Dalam acara ini akan tampil empat grup musik puisi, yakni Teater JAB, Teater Mishbah, Jejak Imaji, dan Ibu Jari. Heri Machan selaku pentolan grup band Anterock akan  hadir sebagai pembicara untuk topik perbincangan kali ini. Sedianya acara akan berlangsung pada hari Sabtu, 26 Agustus 2017, pukul 20.00 di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta.

“Dalam sebuah pertemuan di Kampayo XT Square, Heri Machan menyampaikan bahwa memang menunggu-nunggu kesempatan ini. Ia yang bersama Anterock pernah menggarap beberapa puisi karya Hari Leo AER merasa masih memiliki hutang kepada pendiri Studio Pertunjukan Sastra itu hingga akhir hayatnya. Heri pun mengakui bahwa Hari Leo berperan penting dalam memperkenalkan sastra, khususnya puisi di kalangan musisi rock. Hingga kini sesungguhnya heri masih memiliki hutang untuk menggarap sejumlah puisi karya Hari Leo dan menjadikannya album musik puisi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini Studio Pertunjukan Sastra sengaja mengundang salah satu gitaris musik rock andalan Yogyakarta itu,” tutur Riska Setia Ningsih, koordinator acara.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sosok Hari Leo AER memang memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap musik puisi sebagai sebuah pertunjukan sastra. Hari Leo kerap keluar masuk kampus-kampus di Yogyakarta untuk membina sejumlah grup musik puisi atau hanya sekadar menemani latihan. Pengalaman menjadi konduktor dalam “Konser Puisi Indonesia” tahun 1996 di Purna Budaya Yogyakarta agaknya mendasari keyakinannya bahwa puisi dapat hadir dan dekat dengan masyarakat luas dengan dipertunjukkan.

“Kali ini Studio Pertunjukan Sastra tengah kembali ke khitahnya dengan menghadirkan musik puisi ke atas panggung. Empat grup yakni Teater JAB, Teater Misbah, Jajak Imaji, dan Ibu Jari yang semuanya adalah generasi muda hadir sebagai penerus grup-grup yang sudah ada sebelumnya. Mekipun tidak sedikit grup musik puisi yang fakum karena berbagai kendala,” imbuh Riska.

Musik puisi yang sampai saat ini masih menjadi bahan renungan, kajian, perdebatan para sastrawan dan musisi, tiada henti dipertunjukkan bahkan dilombakan. Di ranah sastra, musik puisi merupakan sebuah wujud pascakarya. Sedangkan di ranah musik, istilah musik puisi agaknya juga tidak ada. Situasi demikian itu sama membingungkannya dengan persoalan istilah musik puisi itu sendiri. Di dalam acara-acara yang secara khusus menampilkan dan membahas musik puisi pun persoalan tersebut tidak pernah mendapat titik temu.

“Setelah “Festival Musik Puisi Indonesia” (FMPI) yang digelar di Yogyakarta pada tahun 2001, 2003, dan 2005 yang diikuti oleh grup musik puisi dari berbagai daerah di Indonesia, dilanjutkan dengan “Konser Harmoni Musik Puisi Jogja” oleh As Sarkem yang diikuti oleh sejumlah grup musik puisi di Yogyakarta tahun 2011, “Konser Musik Puisi Indonesia” dengan penampilan tunggal Teater JAB juga pada tahun 2011, serta adanya perlombaan “Musikalisasi Puisi” yang digelar Balai Bahasa DIY, rasa-rasanya gaung musik puisi sebagai salah satu kesenian yang pada awal perkembangannya di Yogyakarta tahun 1970-an itu tak lagi semarak. Bahkan hadirnya “Pergelaran Musikalisasi Sastra” sejak tahun 2013 hingga 2016 di Taman Budaya Yogyakarta yang tidak hanya menghadirkan puisi namun juga prosa dalam parade pertunjukan sastra pun seakan hanya melintas begitu saja. Di tengah bermunculannya kelompok musik puisi saat ini, rasanya diperlukan wadah untuk menampung kesenian yang satu ini. Semoga dengan hadirnya acara “Kemerdekaan Musik Puisi” kali ini, keberadaan musik puisi kembali mendapat perhatian dan tempat yang mapan,” pungkas Riska.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *