Apakah Pembangunan Infrastruktur Berdampak Signifikan untuk Asmat?

Posted: 22 February 2018 by Bagus Panuntun

Berita tentang kasus busung lapar di Asmat, Papua, belakangan ini kerap menjadi topik perbincangan terutama setelah peristiwa kartu kuning untuk Jokowi. Sayangnya, wacana yang kerap kita dengar justru keluar dari orang-orang yang belum pernah tinggal di Asmat dalam waktu lama. Pernyataan dari pihak pemerintah bahwa keadaan di lapangan kelewat rumit, nampaknya juga tak banyak membantu kita memahami bagaimana kondisi di sana sesungguhnya. Apalagi jika yang kita dengar hanya pendapat fans-haters Bapak Jokowi, yang biasanya hanya berhenti pada asumsi soal manfaat-mudarat pembangunan infrastruktur di sana.

Selasa lalu (13/02/18), secara tak sengaja saya bertemu dengan Fawaz Al Batawy di kantin Bonbin UGM. Ia adalah penulis buku Yang Menyublim di Sela Hujan, Cerita tentang Pengalaman Belajar Mengajar di Sokola Asmat. Lelaki kelahiran Jakarta, 13 Maret 1986, ini adalah seorang lulusan teknik nuklir UGM yang justru lebih dikenal sebagai sukarelawan di Sokola, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan untuk masyarakat adat di Indonesia.

Pada tahun 2014, ia pernah bertugas mengajar selama 11 bulan di Kampung Mamugu Batas Batu, Kabupaten Asmat, Papua. Pengalaman Fawaz tinggal dan hidup langsung bersama masyarakat Asmat, mengundang rasa ingin tahu saya untuk menanyakan perihal seluk beluk kegiatan Sokola Asmat, kondisi geografis dan sosial di sana, dan tentu saja pendapatnya terkait kasus busung lapar yang sedang terjadi. Berikut wawancara kami:

Mas Fawaz kan seorang lulusan teknik nuklir, bagaimana ceritanya sampai Mas justru lebih dikenal sebagai aktivis pendidikan dan lingkungan?

Awalnya karena KKN sih. Dulu waktu KKN di Jambi tahun 2008, kebetulan tim KKN-ku kerjasama dengan Sokola Rimba Jambi. 6 bulan habis KKN selesai, aku balik lagi sendirian ke Jambi buat jadi relawan mandiri selama kurang lebih 3 bulan. Habis itu ditawarin gabung Sokola Rimba tapi pakai syarat harus lulus kuliah dulu. Dan ketika lulus tahun 2011, aku langsung gabung Sokola.

Pertama-tama dapat tugas di Sokola Rimba Jambi selama kurang lebih satu tahun setengah. Terus aku dibiayai sama Sokola buat ambil S2 di Teknik Lingkungan UI. Selesai S2 baru dikirim ke Asmat, Papua dan tinggal 11 bulan di sana. Terus dari 2015 sampai sekarang, aku ngurus program Sokola yang di Jember.

Apa saja kegiatan yang Mas lakukan ketika jadi relawan di Asmat? Ada program yang berhubungan dengan latar belakang kuliah (teknik nuklir dan teknik lingkungan)?

Ya praktis kalau untuk teknik nuklir sih nggak ada yang diterapkan di sana. Pastor Hendrik, Pastor yang tugas di sana, pernah becandaan “jangan ngajarin anak-anak bikin bom ya” (tertawa). Kalau soal teknik lingkungan ya ada lah dikit-dikit, tapi bukan praktikin ilmu teknik lingkungannya, lebih belajar bagaimana mengelola lingkungan dengan kearifan lokalnya.

Kalau tugas utamanya di sana ya ngajar, sama anak-anak, sama remaja, bahkan orang tua.

Apa bedanya sistem pendidikan di Sokola Rimba dengan sistem pendidikan formal?

Kita sama sekali nggak nerapin kurikulum pendidikan formal ya. Pertama kali masuk, kami belajar baca tulis. Terus setelah mereka dianggap lancar baca tulisnya, ada yang namanya literasi terapan. Itu pelajaran dengan kurikulum yang kontekstual, sesuai dengan permasalahan dan peristiwa yang ada di kampung. Misalnya kami mengajarkan tentang surat menyurat, terutama surat perjanjian. Dari kelas literasi terapan, selanjutnya ada pendidikan advokasi supaya kesadaran warga Mumugu Batas Batu dapat mengadvokasi hak mereka sendiri.

Seingatku karena emang dulu aku yang bikin kurikulum bareng masyarakat, ada beberapa permasalahan pokok di sana. Yang pertama, orang asmat itu masih berburu dan meramu. Terus datang kehidupan modern. Trans Papua masuk, terus ada pembangunan pelabuhan persis di kampung itu. Jadi ada shock culture. Selanjutnya kami belajar bareng-bareng supaya setidaknya masyarakat nggak hancur-hancur banget dengan pembangunan itu. Kita sadar lah kita udah nggak bisa nolak pembangunan itu, jadi kita belajar bagaimana bisa menyesuaikan dengan perubahan yang cepat sekali.

Banyak sekali stereotip yang disematkan pada masyarakat Asmat. Misalnya orang Asmat itu primitif dan terbelakang. Bagaimana menurut Mas?

Kalau konteksnya mereka distreotipkan primitif karena sampai sekarang menolak atau belum mau menerapkan konsep hidup modern gitu, ya silahkan sebut mereka primitif. Tapi kalau dari segi stereotip yang menganggap mereka bodoh atau terbelakang, justru di konteks-konteks tertentu orang-orang yang menganggap mereka modern itu lebih primitif dibanding mereka. Contoh gampangnya ya masalah ketergantungan lah. Sekarang kita lihat ada berapa banyak orang yang mencak-mencak, marah-marah, misuh-misuh, ketika listrik mati 6 jam saja. Atau ketika sinyal provider terganggu beberapa saat, berapa orang yang main caci maki? Di sana nggak ada yang begitu.

Kedua, soal ikatan mereka dengan alam. Sampai sekarang mereka masih menerapkan kehidupan yang sesuai kebutuhan. Pangkur sagu secukupnya, jaring ikan secukupnya, ambil telur kura-kura secukupnya. Hidup yang seperti itu ideal banget. Sampai akhirnya ada kasus gizi buruk, itu karena pengaruh dari luar yang begitu masif masuk ke sana.

Misalnya apa pengaruh luar itu?

Misalnya dulu ada program namanya raskin (beras miskin), mereka dikasih bantuan terus menerus, lalu masyarakat terlena dan malas pangkur sagu lagi. Ketika masyarakat akhirnya sudah beralih ke beras, drop beras ke sana malah udah nggak dikirim lagi. Padahal mereka sebenarnya mampu beli. Giliran mereka udah mulai terbiasa makan beras, sekarang nyari beras malah susah.  Sementara sagu udah ditinggalin. Ini yang sebenernya terjadi di beberapa tempat yang kena kasus gizi buruk. Masalahnya sebenernya kompleks dan lama prosesnya.

Setelah kartu kuning untuk Jokowi kemarin, semua orang bicara soal Asmat. Apakah permasalahan yang disampaikan media ini sesuai dengan masalah yang sebenarnya ada di sana?

Aku ngikutin terus ya ketika Kompas selama satu minggu full selalu ngomongin tentang Asmat. Konteksnya gini, wabah busung lapar atau wabah gizi buruk di sana itu kompleks sekali.

Misalnya masyarakat dulu biasa hidup dari sagu, tapi sekarang hutan-hutan yang isinya sagu habis dibabati. Padahal itu satu hal yang prinsipil. Kayak proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) yang ambil 5 juta hektar lahan di Papua bagian selatan, itu yang ditebang sebagian besar kan sagu. Ditebang habis diganti sawit sama padi.

Terus kondisi geografis di Asmat ini unik. Misalnya sampai sekarang mungkin cuma ada 5 persen jalan raya di sana yang bisa dilalui kendaraan darat. Sisanya kita harus pakai perahu. Jadi mungkin itu penyebab kenapa di setiap kampung yang aku lalui—dari Hagats maupun Mamugu—puskesmas-puskesmas selalu kosong. Di sana tenaga kesehatan nggak ada. Beruntung di kampung-kampung yang memang di situ ada misi katolik. Jadi ada biarawati-biarawati yang turun tangan untuk penanganan kesehatan. Tapi sisanya ya begitu, kalau boleh aku bilang sih, petugas kesehatan pada makan gaji buta lah. Ya karena memang betul-betul ditinggal.

Kayak di Mamugu Batas Bawah, di sana sama sekali nggak ada tenaga kesehatan. Di Mamugu Batas Batu, tempatku tugas 11 bulan, petugas kesehatan akhirnya ada karena tekanan dari keuskupan dan adanya kegiatan kami yang membuat daerah situ diekspos. Itupun cuma perawat sama “Paman” atau Pak Mantri. Dokter juga pernah ada. Tapi cuma seminggu. Habis itu ya sudah, hilang. Aku sebelas bulan di sana, cuma seminggu doang ketemu dokternya.

Kalau bicara soal kesehatan, ya hak masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan itu sebenernya udah mendingan lah, misalnya semua obat-obatan gratis. Di sana memang betul gitu. Tapi ya percuma ada obatnya kalau nggak ada petugasnya.

Banyak perdebatan di masyarakat tentang efek pembangunan infrastruktur di Papua dan pengaruhnya untuk Asmat. Apa pendapat Mas soal ini?

Begini ya, kalau untuk pembangunan jalan terutama pembangunan Trans Papua yang katanya dibilang sudah masuk Asmat itu, sebenernya cuma sedikit sekali jalan yang masuk Asmat. Itu cuma ada di perbatasan antara Kabupaten Asmat dan Kabupaten Nduga. Ya oke lah kalau jalan itu dibilang bagus buat drop logistik. Tapi itu kan utamanya drop logistik buat masyarakat-masyarakat yang di pegunungan. Tapi kalau untuk Asmat ya masih belum bisa. Tetep belum ada jalan dan masih pakai perahu.

Jadi kalau dibilang pembangunan dan segala infrastruktur yang dibangun itu bermanfaat, ya oke silahkan. Tapi itu bermanfaat buat yang lain. Kalau konteksnya untuk Asmat, nggak ada manfaat yang signifikan. Karena nggak ada jalan yang masuk asmat sampai sekarang.

Artinya, perlu pembangunan infrastruktur untuk menuju Asmat?

Aku pikir nggak lah. Kalau konteks infrastruktur yang dimaksud itu jalan, nggak lah. Pertama, akan butuh biaya yang sangat besar karena ini wilayah berawa. Kedua, ya lebih baik manfaatin dan perbaiki aja apa yang udah ada. Sekarang puskesmas itu udah ada dimana-mana. Hampir di tiap kampung di Kabupaten Asmat itu ada puskesmas-puskesmas yang bagus. Tapi petugasnya nggak ada. Yang dibutuhkan sekarang itu petugas kesehatan yang tidak makan gaji buta.

Masalah sekolah juga. Di desa tempatku mengajar, ada sekolah yang bangunannya kosong karena nggak ada guru. Jadi kalau infrastruktur dibangun tapi sumber daya manusia nggak disediakan, ya percuma

Kembali ke soal pengalaman Mas di Sokola Rimba, Bagaimana caranya memahami perbedaan cara pandang dan cara hidup antara kita—yang terbiasa hidup dan berpikir dengan cara modern— dengan mereka yang punya caranya sendiri?

Untuk aku sendiri, aku bahkan butuh waktu untuk bisa memahami pola pikir mereka. Waktu aku di sana, awalnya aku memaksa mengikuti cara hidup dan konsep berpikir mereka, yang pada akhirnya aku menyimpulkan kalau cara hidup mereka ini sangat ideal. Udah yang paling ideal lah.

Selain stereotip kalau mereka primitif, bodoh, terbelakang, dan segala macem, masyarakat di sana juga dibilang malas. Tapi sebenernya nggak mungkin mereka bisa hidup kalau mereka malas, karena di sana segala sesuatunya harus diambil dari alam sesuai kemampuan dan kebutuhan mereka. Misalnya kalau mau makan harus pangkur sagu dulu. Tapi tiap satu kali pangkur, mereka cukup untuk satu minggu. Sisa waktunya kemudian mereka pakai untuk ambil ikan buat kebutuhan makan sehari-hari aja. Sehari paling lama dua jam. Sisanya ya malah ada quality time untuk keluarga, buat komunitas. Soal quality time ini mereka bagus sekali. Itulah kenapa hampir setiap hari ada ritual adat dan ini bikin komunitas mereka kuat. Terutama di kampung-kampung yang masih pedalaman. Yang begini sulit lah diterapkan di sini. Kalau di sini orang dibilang kerja ya kalau masuk jam 8, pulang jam 5, kalau nggak gitu ya dianggapnya nggak kerja. Kita juga harus punya gaji tetap. Kadang bahkan ada di beberapa tempat orang kerja harus berseragam. Ya di sana konsep-konsep begini nggak kepakai. Konsep kebahagiaan di sana dengan konsep kebahagiaan orang yang menganggap dirinya modern itu jauh lebih keren mereka lah.

Setelah program Sokola Rimba yang Mas Fawaz ikuti, tentu ada dua perubahan. Pertama, perubahan yang dialami masyarakat sana. Kedua, perubahan dalam diri Mas Fawaz sendiri. Seperti apa bentuk perubahan itu?

Dulu ketika mereka masih “murni” atau masih ada komunitas mereka aja, mereka hidup damai dan sejahtera. Soal makan dan kebutuhan pokok sehari-hari itu nggak perlu bingung dan sudah tersedia. Lalu ada masyarakat luar yang menamakan dirinya masyarakat modern masuk ke kehidupan mereka. Mereka akhirnya terganggu. Terutama ketika pembangunan di sana masif dilakukan: masyarakat ditipu, disuruh jual lahan, janji pembayaran kerja, penebangan hutan.

Nah kami (Sokola Rimba) nggak maksa masyarakat untuk menolak itu. Tapi kami kasih pilihan-pilihan, kalau kalian menerima ini konsekuensinya ini, kalau menolak ini resikonya ini. Jadi supaya mereka tetap bisa dapat keuntungan dan kehidupan tetap berjalan meskipun ada pembangunan. Nah yang bisa aku lihat setelah hampir 3 tahun kami buka program di sana adalah perubahan-perubahan itu bisa diterima. Masyarakat bisa melakukan penyesuaian dan istilah utamanya mereka bisa jadi tuan di tanah sendiri. Nggak ketipu, nggak jual lahan yang harganya semaunya pembeli.

Kalau aku sendiri, hal yang paling aku pelajari dari mereka adalah konsep “kerja secukupnya, bahagia sebanyak-banyaknya”. Orang modern menganggap mereka primitif, bodoh, atau apapun itu, tapi dua bulan aja aku hidup bareng mereka, wah ternyata mereka itu luar biasa banget. Mereka bisa bahagia, nyanyi-nyanyi sambil pangkur sagu, sebelum makan ada upacaranya, hubungan spiritual manusia dengan alam masih ada. Eh malah mau dicekoki dengan kehidupan modern biar nggak bisa gitu lagi.

Ya itu lah yang paling aku pelajari dari mereka, “kerja secukupnya, bahagia sebanyak-banyaknya”.

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

2 Comments

  • Faris Hanugraha 22 February 2018 at 18:01

    Banyak baanget ilmu yang bisa tak ambil dari satu artikel ini. Bagus, mas Bagus. Selalu tak tunggu artikel mengejutkan yang lainnya.

    Reply
    • Bagus Panuntun 23 February 2018 at 21:08

      makasih mas faris, nulis dong soal pengalaman jadi murid DOES, hehe…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *