Selamat Ulang Tahun [Etgar Keret]

Posted: 29 March 2018 by Ifan Afiansa

Sebuah bus berhenti, supirnya tersenyum padamu, jendela-jendelanya memancarkan pantulan mentari, dan kau cukup banyak terkena pantulannya. Pada baris kiri, tersisa satu kursi terakhir yang belum terisi, kursi favoritmu. Bus mulai bergerak, lampu APILL menyala hijau saat mendekat, seorang lelaki memunguti bekas kulit kuaci ke dalam kantung kertas.

Kondektur tua tidak memintamu untuk menunjukkan karcismu, hanya mengangkat topinya, menyapa dengan suara yang ramah, berharap harimu baik.

Hari ini akan baik, tentu, sebab hari ini kau berulang tahun. Wajahmu berbinar-binar, cantik, dunia seakan-akan milikmu seutuhnya. Empat pemberhentian lagi, kau akan mengetuk langit-langit bus, dengan senang hati supir akan berhenti, hanya untukmu.

Kau turun dari bus, tidak berdesakkan, pintu bus tak akan menutup hingga kau menapak aspal. Saat bus mulai meninggalkanmu, penumpang di atasnya turut berbahagia untukmu, lelaki yang menggenggam bungkus kuaci pun melambaikan tangan ke arahmu, tak ada alasan tertentu, hingga bus menghilang dari pandangan.

Di apartemenmu, teman-temanmu menunggumu dalam padam lampu, di balik mebel yang mereka pilih sendiri. Saat kau membuka pintu, mereka melompat dan bersorak, “Kejutan!”. Dan kau benar-benar terkejut.

Semuanya di sana, orang-orang yang kau sayangi. Yang dekat denganmu, dan dia yang berarti banyak bagimu. Mereka membawakanmu hadiah yang dibeli atau diimpikan mereka sendiri. Hadiah-hadiah yang membahagiakan dan juga bermanfaat.

Yang humoris akan menghibur, yang bijak akan menyemangati, bahkan yang melankolis akan tersenyum penuh arti. Makanan yang ada pun terlihat lezat, mereka pun menyajikan milk shake vanila dengan taburan stroberi dari kedai es krim terbaik di kota.

Mereka memutar piringan Keith Jarrett dan semuanya mendengarkan, mereka memutar lagu itu lagi, tiada satu pun yang bersedih hati. Ada yang tidak ingin mereka merasa sendiri, dan tak ada yang bertanya, “Susu atau krim?” sebab saat ini mereka saling mengenal.

Di penghujung mereka berpamitan, seseorang yang ingin kau cium menciummu, dan ada yang tidak hanya ingin menyalamimu. Dan ia akan menunggu di belakang, lelaki yang mendampingi hidupmu, baik dan ramah selalu.

Kalau saja kau ingin bercinta atau dia memijatmu dengan minyak, sesuatu yang ia bawa untukmu di toko badui lawas. Dia mematikan lampu—hal yang harus dilakukan—dan kau akan duduk untuk didekap dalam rangkulan, menunggu fajar merekah.

Dan di malam yang ajaib itu pula, aku berada di sana, meminum milkshake vanila dan tersenyum tulus. Sebelum aku pergi, jika kau ingin, aku ingin menciummu. Jika tidak, aku menyalamimu saja.

 

 

*Cerpen ini diambil dari kumpulan cerpen Girl on the Fridge and other stories. (Naskah asli berasal dari bahasa Ibrani sebelum dialihbahasakan ke bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston) oleh Etgar Keret, diterbitkan Farrar Starus Giroux pada 2008.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: