Solidaritas [Italo Calvino]

Posted: 22 August 2017 by Ifan Afiansa

Aku berhenti untuk mengawasi mereka.

Mereka sedang bekerja pada malam hari, di jalan kecil, mengotak-atik rolling door sebuah toko.

Rolling door itu tampak berat, mereka menggunakan linggis untuk mencungkil, namun tetap saja tidak bergeser.

Aku berjalan mengitari, tidak ke mana pun, semauku. Aku meraih linggis untuk memberi mereka bantuan. Mereka memberikan ruang padaku.

Kami tidak bisa menariknya bersama-sama. Kukatakan, “Hey, ayo angkat!” Salah satu yang berada di siku kananku berucap perlahan, “Diamlah! Apa kau gila? Kau ingin mereka mendengar kita?”

Aku menganggukkan kepala untuk berkata tadi hanya keceplosan.

Setelah cukup lama sampai kami berkeringat, akhirnya kami berhasil mencungkilnya hingga cukup tinggi untuk dilewati. Kami melihat satu sama lain, girang. Lalu kami masuk ke dalam. Aku diberi karung. Mereka membawa peralatan lainnya ke dalam.

“Selama polisi kurang ajar itu tidak muncul!” kata mereka.

“Benar,” kataku. “Mereka kurang ajar!”.

“Diamlah! Dapatkah kau dengar suara langkah kaki?” kata mereka setelah beberapa menit. Aku berusaha mendengarkan, sedikit gentar. “Tidak, tidak! Itu bukan mereka!” kataku.

“Orang-orang itu selalu datang saat kau tak mengharapkannya,” kata salah satu dari mereka.

Aku menganggukkan kepala. “Bunuh mereka semua, begitulah,” jawabku.

Lalu mereka menyuruhku untuk keluar sebentar, sejauh sudut jalan, untuk memastikan ada yang akan datang. Aku melakukannya.

Di luar, di sudut jalan, ada sekumpulan orang di balik dinding, bersembunyi di jalan masuk, berjalan ke arahku.

Aku bergabung.

“Suara berisik itu dari bawah sana, dekat toko situ,” kata seorang di sebelahku.

Aku menatap ke arah yang dimaksud.

“Turunkan kepalamu, bodoh! Mereka akan melihat kita dan kabur lagi,” bisiknya.

“Aku hanya melihat-lihat,” aku menjelaskan, dan membungkuk di dekat dinding.

“Jika kita bisa berkitar ke sekeliling tanpa mereka sadari,” lainnya berkata, “Kita akan menjebak mereka. Mereka tidak begitu banyak.”

Kami cepat berpindah, dengan berjinjit, menahan napas: dalam beberapa detik kami bertukar pandang dengan mata benderang.

“Mereka tak akan kabur,” kataku.

“Terakhir kali, kita menangkap basah mereka,” kata seseorang.

“Hanya soal waktu,” kataku.

“Bajingan kotor, merusak toko seperti itu,” kata seorang lainnya.

“Dasar bajingan! Bajingan!” ulangku, emosi.

Mereka memintaku sedikit lebih maju di depan, untuk melihat-lihat. Aku berada di bagian belakang toko.

“Mereka tak akan menangkap kita,” kata salah satu dari mereka yang mengayunkan karung di bahunya.

“Cepatlah,” kata seorang yang lain. “Ayo keluar lewat belakang! Dengan begitu kita akan kabur tepat sebelum mereka datang.”

Kami tersenyum penuh kemenangan.

“Mereka akan pulang dengan hati pedih,” kataku. Kami menyelinap ke belakang toko.

“Kita membodohi idiot itu lagi!” kata mereka. Namun ada suara berkata, “Stop, siapa di sana?” dan lampu menyala. Mereka meringkuk di balik sesuatu, pucat, saling menggenggam tangan satu lainnya. Mereka memasuki ruang belakang, tidak melihat kami, berbalik mundur. Kami bergegas keluar dan berlari pontang-panting, “Kita berhasil!” kami berteriak. Aku tersandung dua kali dan pergi ke belakang. Aku menemukan diriku dengan orang-orang yang lari setelah mereka.

“Ayolah,” kata mereka. “Kita dalam pengejaran.”

Tiap-tiap orang berlari di gang sempit, mengejar mereka. “Lari ke arah sini, cegat lewat sana!” Teriak kami lantang dan mereka sepertinya tidak jauh lagi, lalu kami berteriak, “Ayo ayo, mereka tak bisa kabur lagi!”

Aku berusaha menangkap satu dari mereka. Dia berkata “Kerja bagus, kau berhasil lolos! Ayo lewat sini, kita akan lolos dari mereka.” Aku mengikutinya. Setelah beberapa lama, aku menemukan diriku berjalan sendiri di sebuah gang. Seseorang berlari di sudut jalan, dan berkata, “Lewat sini! Aku melihat mereka! Mereka tak akan bisa lebih jauh lagi.” Aku berlari mengikutinya sementara.

Lalu aku berhenti, penuh peluh. Tak ada yang tersisa, aku tak mendengar teriakan apa pun lagi. Aku beranjak dengan tangan di saku dan mulai berjalan, semauku, tak ke mana pun.

 

 

Cerpen ini terdapat dalam buku kumpulan cerpen Number in the Dark and Other Stories, naskah asli berasal dari bahasa Italia sebelum diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Tim Parks, ditulis oleh Italo Calvino, terbit 1995 oleh Pinguin Classic.

 

*Lukisan Kathe Kollwitz berjudul Solidarity 1932

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *