Sebuah Perahu yang Menuju ke Cina [Haruki Murakami]

Posted: 10 April 2018 by Dian Annisa

3.

Karena SMA-ku terletak di kota pelabuhan, di sekelilingku banyak orang Cina. Walaupun mereka orang Cina, sebenarnya mereka tidak tampak terlalu berbeda dengan kami. Mereka juga tidak memiliki ciri khas tertentu yang sama. Mereka berbeda satu sama lain dan dalam hal itu kami pun begitu. Menurutku hal yang menarik dari setiap individu adalah individualitas mereka melewati segala kategori dan teori.

Di kelasku juga ada beberapa murid Cina. Ada yang nilainya bagus, ada juga yang nilainya kurang bagus. Ada yang ceria, ada juga yang pendiam. Ada yang tinggal di perumahan mewah, ada juga yang tinggal di apartemen sempit dengan dapur dan satu kamar yang tidak mendapatkan sinar matahari yang bagus. Pokoknya macam-macam. Akan tetapi, aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Aku bukan tipe orang yang bisa akrab dengan orang lain. Orang Jepang, orang Cina, atau orang manapun, semua sama saja.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian aku tidak sengaja bertemu kembali dengan salah satu dari mereka, tetapi hal ini akan kubicarakan nanti.

Latar cerita ini berpindah ke Tokyo.

Secara berurutan—berarti tidak termasuk murid-murid Cina di kelasku yang tidak terlalu akrab dan jarang berbicara denganku—orang Cina kedua yang kutemui adalah mahasiswi pendiam yang kukenal di tempat kerja paruh waktu ketika musim semi di tingkat dua universitas. Dia seumuran denganku; sembilan belas tahun, bertubuh kecil, dan tidak bisa disebut tidak cantik. Kami bekerja bersama-sama selama tiga minggu.

Dia bekerja dengan sangat antusias. Aku juga bekerja dengan antusias, tetapi melihat caranya bekerja di sampingku, aku menyadari bahwa antusiasme kami berbeda pada satu titik yang mendasar. Maksudku, dibandingkan dengan antusiasmeku yang berarti “Jika kamu melakukan sesuatu, kamu harus melakukannya dengan benar”, antusiasmenya berada pada jenis eksistensi dasar manusia. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi antusiasmenya bisa mengganggu orang-orang di sekitarnya yang menjalani kehidupan biasa-biasa saja. Maka kebanyakan orang tidak bisa mengikuti ritme kerjanya, lalu marah-marah di tengah pekerjaan. Yang bisa bekerja sama dengannya sampai akhir tanpa mengeluh hanya aku.

Walaupun begitu, awalnya aku jarang berbicara dengannya. Beberapa kali aku mencoba mengajaknya berbicara, tetapi dia terlihat tidak tertarik untuk mengobrol, jadi aku tidak lagi berusaha untuk mengajaknya berbicara. Pertama kali kami berbicara dengan nyaman adalah dua minggu setelah kami mulai bekerja bersama. Pada siang itu, dia berada dalam kondisi panik selama tiga puluh menit. Aku baru pertama kali melihatnya dalam kondisi seperti itu. Penyebabnya adalah kesalahan kecil dalam urutan pekerjaannya. Kalau dikatakan hal itu adalah tanggung jawabnya, memang  hal itu adalah tanggung jawabnya, tetapi aku melihat hal itu sebagai kesalahan yang biasa terjadi. Hanya sedikit kecerobohan yang bisa terjadi pada siapa saja. Akan tetapi, sepertinya dia tidak bisa berpikir seperti itu. Kesalahan kecil itu sedikit demi sedikit membesar di dalam pikirannya, kemudian berubah wujud menjadi lubang yang sangat besar. Dia tidak bisa berjalan maju selangkah pun. Dia tidak bisa mengatakan apa pun dan hanya bisa terdiam di tempat. Sosoknya mengingatkanku kepada kapal yang perlahan-lahan tenggelam di laut malam.

Aku menghentikan pekerjaanku, mengajaknya duduk di kursi, meluruskan tangannya yang terkepal, dan membuatkannya kopi panas. Kemudian aku mengatakan, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Masih belum terlambat, kalaupun ada kesalahan dan kamu mengerjakannya lagi dari awal, pekerjaanmu tidak akan terlambat. Kalaupun ternyata terlambat, tidak berarti dunia akan berakhir, kataku. Pandangannya tetap kosong, tetapi dia mengangguk sambil terdiam. Sepertinya setelah minum kopi, dia menjadi sedikit lebih tenang.

“Maaf,” katanya dengan suara lirih.

Pada jam makan siang, kami mengobrol ringan. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah orang Cina.

Tempat kerja kami adalah sebuah gudang yang gelap dan sempit milik penerbitan kecil yang terletak di daerah Bunkyo. Di samping gudang itu mengalir sungai yang kotor. Pekerjaan kami sangat mudah, membosankan, dan sibuk. Aku menerima slip pesanan dan mengangkut buku sesuai jumlah pesanan sampai ke pintu masuk gudang. Dia mengikat buku-buku itu dengan tali dan mengecek pembukuan. Sebenarnya hanya itu. Karena gudang itu tidak dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan, kami harus tetap bekerja agar tidak membeku. Saking dinginnya, sampai-sampai aku berpikir bahwa mungkin pekerjaan ini tidak ada bedanya dengan pekerjaan paruh waktu membersihkan salju di bandara Anchorage1)Kota di Alaska..

Ketika jam makan siang, kami keluar dan makan makanan yang hangat. Selama satu jam sampai waktu istirahat berakhir, kami berdua menghangatkan badan sambil melamun. Tujuan utama dari istirahat siang adalah untuk menghangatkan badan. Akan tetapi, sejak dia berada dalam kondisi panik waktu itu, sedikit demi sedikit kami mulai saling berbicara. Dia hanya berbicara sepotong-sepotong, tetapi setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai memahami keadaannya. Ayahnya memiliki bisnis impor kecil di Yokohama dan sebagian barang yang diurusnya adalah pakaian diskon yang murah dari Hongkong. Walaupun dia orang Cina, dia lahir di Jepang, tidak pernah pergi ke Cina, Hongkong, maupun Taiwan, dan waktu sekolah dasar, dia bersekolah di SD Jepang, bukan SD Cina. Dia tidak bisa berbahasa Cina, tetapi lancar berbahasa Inggris. Dia kuliah di salah satu universitas swasta khusus perempuan di kota dan cita-citanya adalah menjadi penerjemah. Dia tinggal bersama kakak laki-lakinya di apartemen di daerah Komagome, atau kalau meminjam kata-katanya, terjatuh. Hubungannya dengan ayahnya tidak begitu baik. Hanya itu yang kuketahui tentangnya.

Dua minggu di bulan Maret berlalu bersama hujan yang dingin. Di sore hari terakhir bekerja dan setelah menerima gaji di bagian keuangan, dengan sedikit ragu-ragu aku mengajaknya ke sebuah diskotek di Shinjuku yang pernah kukunjungi beberapa kali sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk mendekatinya. Aku punya pacar dan kami sudah berhubungan sejak SMA. Akan tetapi, sebenarnya di antara kami sudah tidak ada kecocokan lagi seperti dulu. Dia tinggal di Kobe dan aku tinggal di Tokyo. Kami hanya bisa bertemu selama dua atau tiga bulan dalam setahun. Kami masih muda dan tidak cukup saling memahami untuk bisa melewati kekosongan jarak dan waktu yang seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hubungan dengannya. Aku tinggal sendirian di Tokyo. Aku tidak punya teman yang bisa disebut sebagai teman dan perkuliahan di kampus pun membosankan. Sejujurnya aku ingin sedikit beristirahat. Aku ingin mengajak perempuan dan menari bersama, mengobrol sambil minum sake, dan ingin bersenang-senang. Hanya itu. Aku masih sembilan belas tahun, usia saat aku ingin menikmati hidup.

Dia berpikir sambil memiringkan lehernya selama lima detik. “Tapi aku tidak pernah menari,” katanya.

“Itu gampang,” kataku. “Hal itu juga tidak bisa dibilang menari. Pokoknya cuma menggerakkan badan mengikuti musik. Siapa pun bisa melakukan itu.”

Pertama-tama kami pergi ke restoran untuk minum bir dan makan pizza. Dengan ini pekerjaan kami sudah berakhir. Kami tidak perlu lagi pergi ke gudang yang dingin itu dan mengangkut buku-buku. Kami merasa telah bebas. Aku bercanda lebih banyak dari biasanya dan dia pun tertawa lebih sering dari biasanya. Setelah selesai makan, kami pergi ke diskotek dan menari selama dua jam. Aula tempat menari sangat hangat dan bercampur dengan bau keringat. Ada sebuah band Filipina yang sedang menampilkan cover lagu Santana. Kalau capek dan berkeringat, kami duduk sambil minum bir. Kalau keringat sudah mengering, kami menari lagi. Lampu diskotek berkedip-kedip. Di bawah cahaya lampu, dia tampak sangat berbeda dengan dirinya ketika ada di gudang. Ketika dia sudah mulai terbiasa dengan menari, dia terlihat menikmatinya.

Setelah menari sampai capek, kami keluar dari diskotek. Angin di malam bulan Maret masih dingin, tetapi sudah mulai terasa tanda-tanda musim semi. Karena badan masih terasa hangat, kami membawa coat di tangan dan berjalan tanpa arah di kota. Kami masuk ke game center, minum kopi, lalu kembali berjalan. Libur musim semi masih ada separuh dan kami baru berusia sembilan belas tahun. Apabila ada seseorang yang memerintah, mungkin kami sanggup berjalan sampai ke Sungai Tama. Sampai sekarang pun aku masih bisa mengingat udara ketika itu.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 22:20, dia mengatakan bahwa harus segera pulang. “Aku harus pulang sebelum pukul 23:00,” katanya sambil merasa bersalah kepadaku.

“Ketat sekali ya peraturannya,” kataku.

“Ya, kakakku agak bawel. Karena dia adalah waliku. Karena dia yang mengurusku, aku tidak bisa protes,” katanya. Akan tetapi, dari caranya berbicara, terlihat kalau dia menyayangi kakaknya.

“Jangan lupa sepatunya, ya,” kataku.

“Sepatu?” Setelah lima atau enam detik berlalu, dia tertawa. “Oh, maksudnya Cinderella. Tenang, aku tidak akan lupa.”

Kami menaiki tangga stasiun Shinjuku, lalu duduk bersebelahan di bangku peron.

“Boleh aku tahu nomor telponmu?” Aku bertanya kepadanya. “Kapan-kapan ayo kita pergi bersama lagi.”

Dia mengangguk beberapa kali sambil menggigit bibirnya. Kemudian dia memberitahuku nomor telponnya. Aku menulisnya di balik bungkus korek yang kudapatkan di diskotek. Karena kereta telah tiba, aku mengantarnya naik dan mengucapkan selamat tidur kepadanya. Hari ini sangat menyenangkan, terima kasih dan sampai jumpa. Setelah pintu tertutup dan kereta bergerak, aku berpindah peron dan menunggu kereta yang menuju ke arah Ikebukuro. Aku bersandar di pilar, lalu mengingat-ingat urutan kejadian di malam ini sambil merokok. Dari restoran ke diskotek, lalu berjalan kaki. Tidak buruk, pikirku. Sudah lama aku tidak berkencan dengan perempuan. Aku dan dia sama-sama menikmatinya. Paling tidak kami bisa menjadi teman. Memang dia agak sedikit pendiam dan gugup, tetapi aku menyukainya.

Aku menginjak puntung rokok dengan sol sepatuku, lalu menyulut sebatang rokok yang baru. Bermacam-macam suara di kota bercampur menjadi satu, lalu melebur di dalam kegelapan yang tipis. Aku menutup mata, lalu bernapas dalam-dalam. Tidak ada hal yang buruk, pikirku. Akan tetapi, setelah berpisah dengannya, aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dadaku. Aku mencoba untuk menelan perasaan itu, tetapi ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku sehingga aku tidak bisa menelannya. Ada sesuatu yang salah. Aku merasa telah melakukan suatu kesalahan.

Aku baru menyadarinya ketika turun dari kereta jalur Yamanote di stasiun Mejiro. Aku telah mengantarnya naik kereta jalur Yamanote ke arah yang berlawanan.

Karena kosku terletak di daerah Mejiro, empat stasiun sebelum rumahnya, seharusnya dia pulang naik kereta bersamaku. Sangat mudah. Mengapa aku mengantarnya naik kereta ke arah yang berlawanan? Apa karena aku terlalu banyak minum sake? Atau aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri. Jam di stasiun menunjukkan pukul 22:45. Mungkin dia akan kelewatan jam malamnya. Kecuali kalau dia segera menyadari kesalahanku dan pindah kereta ke jalur yang benar. Akan tetapi, aku tidak yakin dia akan melakukannya. Dia bukan tipe orang seperti itu. Dia adalah tipe orang yang tetap tidak akan turun walaupun diantar naik kereta yang salah. Selain itu, seharusnya dia sudah tahu tentang kesalahan ini sejak awal. Seharusnya dia sudah tahu bahwa dia diantar naik kereta yang salah. Walah walah, pikirku.

Ketika dia sampai di stasiun Komagome, waktu menunjukkan pukul 23:10. Ketika dia melihatku berdiri di ujung tangga, dia menghentikan langkahnya dan wajahnya menunjukkan ekspresi tidak tahu antara harus tertawa atau marah. Lalu aku meraih lengannya dan mengajaknya duduk bersebelahan di bangku peron. Dia meletakkan tasnya di atas lutut, menggenggam tali tas dengan kedua tangannya, meluruskan kaki, dan terus memandangi ujung sepatunya yang berwarna putih.

Aku meminta maaf kepadanya. Aku mengatakan bahwa aku tidak tahu mengapa, tetapi aku tidak sengaja melakukan kesalahan ini. Mungkin aku melamun.

“Apa kamu benar-benar tidak sengaja?” tanyanya.

“Tentu saja. Kalau tidak, hal seperti ini tidak akan terjadi,” kataku.

“Aku kira kamu sengaja melakukannya,” katanya.

“Sengaja?”

“Karena kupikir kamu marah kepadaku.”

“Marah?” Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ingin dikatakannya.

“Ya.”

“Mengapa kamu pikir aku marah kepadamu?”

“Tidak tahu,” katanya dengan suara yang lemah. “Mungkin karena bersama denganku itu membosankan.”

“Tidak membosankan. Aku senang bersamamu. Aku tidak bohong.”

“Bohong. Bersamaku itu tidak menyenangkan. Tidak mungkin. Aku sendiri juga tahu itu. Walaupun misalnya kamu benar-benar tidak sengaja melakukannya, sebenarnya di dalam hati kamu mengharapkan hal itu terjadi.”

Aku menghela napas.

“Tidak usah dipikirkan,” katanya. Kemudian dia menggelengkan kepala. “Hal seperti ini bukan untuk yang pertama kali dan pasti bukan untuk yang terakhir kali.”

Dua butir air mata menetes dari matanya dan jatuh dengan berbunyi ke coat di lututnya.

Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kami tetap duduk terdiam. Kereta beberapa kali datang dan menurunkan penumpang. Setelah menuruni tangga, sosok mereka menghilang dan suasana kembali sunyi.

“Tolong tinggalkan aku sendiri,” dia tersenyum sambil mengusap poninya yang terkena air mata. “Awalnya aku pun mengira mungkin ada kesalahan. Jadi kupikir, ya sudahlah, sambil terus naik kereta ke arah yang berlawanan itu. Akan tetapi, setelah kereta melewati stasiun Tokyo, aku tidak kuat lagi. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi.”

Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kataku tidak keluar. Angin menerbangkan koran edisi malam hingga ke ujung peron.

Dia mengusap poninya yang terkena air mata dengan lemah. “Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak seharusnya berada di sini. Ini bukan tempatku.”

Aku tidak tahu apakah yang dimaksudnya sebagai tempat adalah sebuah negara bernama Jepang atau malam yang gelap ini. Aku diam sambil meraih tangannya dan meletakkannya di atas lututku, lalu aku meletakkan tanganku di atasnya. Tangannya terasa hangat dan telapak tangannya basah. Kemudian aku berbicara sekuat tenaga.

“Aku tidak bisa menjelaskan tentang diriku dengan baik kepadamu. Kadang-kadang aku juga tidak paham dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan dan apa yang kuinginkan. Aku juga tidak tahu kekuatan apa yang kumiliki dan bagaimana sebaiknya aku menggunakan kekuatan itu. Kalau aku memikirkan hal itu satu per satu dengan detail, kadang-kadang aku jadi benar-benar takut. Kalau aku takut, aku jadi memikirkan diriku sendiri. Kalau sudah begitu, aku akan menjadi orang yang sangat egois. Lalu aku menyakiti orang lain meskipun aku tidak bermaksud begitu. Karena itu, aku tidak bisa menganggap diriku ini orang yang baik.”

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Karena itu aku menghentikan perkataanku sampai di situ.

Dia diam seperti menunggu kelanjutan kata-kataku. Lalu dia kembali memandangi ujung sepatunya. Dari kejauhan terdengar bunyi sirene ambulans. Petugas stasiun sedang menyapu peron. Dia bahkan tidak melihat ke arah kami. Karena malam sudah larut, jumlah kereta pun semakin sedikit.

“Aku senang bersamamu,” kataku. “Ini tidak bohong, tapi bukan cuma itu. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi aku merasa kamu orang yang sangat jujur. Aku tidak tahu mengapa. Aku merasakan hal itu setelah bersamamu dan mengobrol banyak hal. Lalu aku terus memikirkannya.”

Dia mengangkat wajahnya dan memandang wajahku sejenak.

“Aku tidak sengaja mengantarmu naik kereta ke arah yang berlawanan,” kataku. “Mungkin aku sedang memikirkan hal lain.”

Dia mengangguk.

“Besok aku telepon,” kataku. “Kapan-kapan kita pergi bersama dan mengobrol lagi.”

Dia mengusap air mata dengan ujung jarinya, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat. “… Terima kasih. Maafkan aku.”

“Tidak perlu minta maaf. Aku yang salah.”

Kemudian malam itu kami berpisah. Aku tetap duduk sendiri di bangku peron dan menyulut rokok yang terakhir, lalu melempar bungkus rokok yang sudah kosong ke tong sampah. Jam sudah menunjukkan pukul 00:00.

Aku baru menyadari kesalahan kedua yang kulakukan malam itu sembilan jam berikutnya. Itu adalah kesalahan yang bodoh dan fatal. Aku membuang bungkus korek yang bertuliskan nomor teleponnya itu bersama dengan bungkus rokok. Aku mencari nomor teleponnya di daftar nama pekerja paruh waktu, di buku telepon, tetapi tidak tercantum di sana. Aku bertanya ke bagian kemahasiswaan di universitasnya, tetapi mereka juga tidak tahu nomor teleponnya. Sejak itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dia adalah orang Cina kedua yang kutemui.

bersambung ke halaman berikutnya

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Kota di Alaska.

Pages: 1 2 3