Sebuah Perahu yang Menuju ke Cina [Haruki Murakami]

Posted: 10 April 2018 by Dian Annisa

1.

Kapan pertama kali aku bertemu dengan orang Cina?

Begitulah, cerita ini bermula dari pertanyaan yang bernuansa arkeologis. Seperti label yang ditempelkan pada artefak, diklasifikasikan menurut  jenisnya, lalu dianalisis.

Jadi, kapan pertama kali aku bertemu dengan orang Cina?

Perkiraanku adalah tahun 1959 atau 1960, tetapi sebenarnya yang manapun tidak ada bedanya. Lebih tepatnya, sama sekali tidak ada bedanya. Bagiku tahun 1959 dan 1960 adalah seperti anak kembar jelek yang memakai pakaian serupa yang aneh. Kalaupun misalnya aku naik mesin waktu dan bisa kembali ke zaman itu, tentu aku akan sangat kesulitan untuk membedakan tahun 1959 dan 1960.

Akan tetapi, walaupun begitu, aku sabar dengan pekerjaanku. Aku terus menggali lubang dan sedikit demi sedikit artefak baru akan menampakkan wujudnya. Sebuah fragmen memori.

Aku yakin ketika Johansson dan Patterson bertanding untuk memperebutkan gelar juara heavyweight. Aku ingat, ketika itu, aku menonton pertandingan di televisi. Maka, yang harus kulakukan adalah pergi ke perpustakaan dan membuka halaman ‘olahraga’ di koran-koran lama. Dengan begitu, seharusnya semua akan beres.

Keesokan paginya, aku naik sepeda dan pergi ke perpustakaan kota terdekat.

Di samping pintu gerbang perpustakaan, entah mengapa ada kandang ayam. Di dalamnya ada lima ekor ayam sedang menikmati entah makan pagi yang terlalu siang atau makan siang yang terlalu awal. Karena hari itu cuaca cerah, sebelum masuk ke perpustakaan aku duduk di batu paving sebelah kandang ayam, lalu mengisap sebatang rokok. Kemudian sambil merokok aku memandangi ayam-ayam itu menyantap makanan mereka. Ayam-ayam itu terlihat sibuk mematuki makanan di kotak makan. Mereka sangat sibuk sampai-sampai pemandangan itu terlihat seperti film newsreel 1)Film-film dokumenter pendek yang populer di tahun 1910-1960. lama dengan frame yang sedikit.

Setelah selesai merokok, di dalam diriku ada sesuatu yang berubah dengan pasti. Aku tidak tahu mengapa, tetapi dalam keadaan seperti itu, aku yang baru—yang terpisah jarak lima ekor ayam dan sebatang rokok dari aku yang lama—bertanya kepada diri sendiri.

Yang pertama, siapa yang akan tertarik dengan tanggal pasti aku pertama kali bertemu dengan orang Cina?

Yang kedua, di antara koran lama yang terletak di meja baca perpustakaan yang mendapatkan sinar matahari yang bagus dan aku, apakah ada rasa saling pengertian yang melebihi hal itu?

Pertanyaan yang bagus. Aku merokok lagi sebatang di depan kandang ayam, lalu naik sepeda dan mengucapkan perpisahanku kepada perpustakaan serta ayam. Maka, seperti burung tanpa nama yang terbang di langit, memoriku pun tak punya tanggal.

Sebenarnya kebanyakan memoriku tak punya tanggal. Daya ingatku benar-benar payah. Saking payahnya sampai kadang-kadang aku merasa sedang membuktikan hal itu kepada seseorang. Akan tetapi, apa yang sebenarnya kubuktikan, aku sendiri juga tidak tahu. Lagipula tidak mungkin untuk membuktikan ketidakpastian memori dengan pasti.

Pokoknya memoriku benar-benar samar. Kadang-kadang tertukar, kadang-kadang tidak jelas antara fakta dan imajinasi, kadang-kadang tercampur antara memoriku dan memori orang lain. Hal yang seperti itu mungkin sudah tidak bisa lagi disebut sebagai memori. Maka, hal yang bisa kuingat dengan pasti pada masa Sekolah Dasar (hari-hari matahari terbenam selama enam tahun yang menyedihkan di era demokrasi pascaperang) hanya dua. Yang pertama adalah cerita tentang orang Cina dan yang kedua adalah sebuah pertandingan baseball yang diadakan suatu sore di libur musim panas. Pada pertandingan baseball itu, aku bermain di posisi center field, kemudian aku kehilangan kesadaran dan pingsan di ronde ketiga. Tentu aku tidak pingsan begitu saja tanpa alasan. Alasan utama aku bisa pingsan adalah karena untuk pertandingan pada hari itu, tim kami hanya bisa menggunakan sudut lapangan SMA terdekat. Lalu ketika aku berlari sekuat tenaga untuk mengejar bola, aku menabrak tiang papan gol bola basket dari depan.

Aku kembali tersadar di bangku bawah pohon. Ketika itu hari sudah beranjak senja. Aroma pertama yang tercium oleh hidungku adalah bau lapangan basah yang hampir mengering dan bau kulit dari sarung tangan baseball baru yang kugunakan sebagai pengganti bantal. Pelipisku terasa sedikit sakit. Sepertinya aku mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak ingat dengan jelas. Setelah beberapa waktu berlalu, teman yang menungguiku ketika itu dengan malu-malu memberitahuku. Katanya aku mengatakan hal ini. Tidak apa-apa, asalkan debunya dibersihkan masih bisa dimakan.

Dari mana datangnya kata-kata itu, sampai sekarang pun aku tidak tahu. Mungkin aku bermimpi, aku sedang membawa roti untuk makan siang, tetapi tiba-tiba roti itu terjatuh. Selain itu, aku tidak tahu lagi situasi apa yang bisa dikaitkan dengan kata-kata itu.

Sampai sekarang, walaupun dua puluh tahun telah berlalu sejak kejadian itu, terkadang aku masih ingat kata-kata itu.

Tidak apa-apa, asalkan debunya dibersihkan masih bisa dimakan.

Dengan kata-kata itu, aku memikirkan eksistensiku dan jalan yang harus kutempuh sebagai seorang manusia. Lalu, tentu saja, pemikiran seperti itu membawaku pada satu titik pemikiran, yaitu kematian. Menurutku, memikirkan tentang kematian adalah sebuah pekerjaan yang tidak pasti. Bagiku entah mengapa kematian selalu mengingatkanku dengan orang Cina.

 

2.

Aku mengunjungi Sekolah Dasar untuk murid-murid Cina yang terletak di daerah dekat pelabuhan (karena aku lupa nama sekolahnya, maka dengan alasan kenyamanan aku akan menyebutnya sebagai SD Cina. Maafkan aku kalau namanya terdengar aneh) karena lokasi ujian simulasiku diadakan di sana. Lokasi ujian dibagi menjadi beberapa tempat, tetapi dari sekolahku hanya aku yang mendapatkan lokasi di SD Cina. Aku tidak tahu alasannya. Mungkin ada kesalahan administrasi. Semua teman sekelasku mendapatkan lokasi ujian di tempat yang dekat.

SD Cina?

Aku bertanya kepada semua orang yang kukenal apakah mereka mengetahui tentang SD Cina. Tidak ada seorangpun yang tahu mengenai hal itu. Satu-satunya yang diketahui adalah SD Cina berjarak tiga puluh menit naik kereta dari sekolah kami. Ketika itu, karena aku bukan tipe anak yang pergi ke mana-mana naik kereta sendirian, bagiku tempat itu benar-benar seperti ujung dunia.

SD Cina yang terletak di ujung dunia.

Dua minggu berikutnya, pada hari Minggu pagi, aku meraut selusin pensil dengan perasaan suram, lalu memasukkan kotak bekal dan sandal ke dalam tas plastik sesuai perintah. Hari itu cerah dan agak terlalu hangat untuk musim gugur, tetapi Ibu memakaikanku sweter yang tebal. Aku naik kereta sendiri dan berdiri di depan pintu gerbong sambil memperhatikan pemandangan di luar agar tidak kelewatan naik kereta.

Aku langsung mengetahui lokasi SD Cina tanpa perlu melihat peta yang tercantum di balik kertas nomor ujian. Dengan mengikuti segerombolan murid Sekolah Dasar yang membawa tas menggembung karena kotak bekal dan sandal, aku bisa langsung mengetahui lokasinya. Ada puluhan, bahkan ratusan murid berjalan menuju ke arah yang sama di tanjakan. Sebuah pemandangan yang agak aneh. Tidak ada murid yang berjalan sambil menendang-nendang bola, tidak ada murid kelas besar yang menarik topi murid kelas kecil, mereka hanya berjalan dengan tenang. Penampilan mereka mengingatkanku pada sebuah gerakan yang permanen. Keringat terus menerus muncul di bawah sweterku yang terlalu tebal ketika aku berjalan melewati tanjakan itu.

Kontras dengan perkiraanku yang samar-samar, tampilan luar SD Cina hampir tidak berbeda dengan sekolahku, malah mungkin lebih bersih. Koridor panjang yang gelap, udara lembab yang berbau jamur, bayangan-bayangan yang memenuhi kepalaku selama dua minggu ini tidak tampak di mana pun. Setelah melewati pintu gerbang besi yang modern dan jalan batu paving melengkung yang dikelilingi tanaman, di depan pintu masuk sekolah tampak kolam ikan dengan air yang jernih dan memantulkan cahaya matahari pukul sembilan pagi. Di sekolah itu banyak pepohonan dan di setiap pohon tergantung papan kecil yang penjelasannya tertulis dalam bahasa Cina. Ada huruf yang bisa kubaca, ada juga huruf yang tidak bisa kubaca. Setelah melewati pintu masuk sekolah, terdapat lapangan olahraga yang berbentuk segi empat dan dikelilingi oleh bangunan sekolah seperti patio2)Kebun sebelah dalam ala Spanyol.. Di setiap sudut lapangan itu terdapat patung, alat pengukur curah hujan yang terbuat dari kotak kecil berwarna putih, dan tiang besi untuk olahraga.

Aku melepas sepatu di depan pintu dan masuk ke kelas sesuai perintah. Kelas itu terang dan terdapat empat puluh meja kursi yang telah ditempeli kertas nomor ujian dengan selotip. Kursiku terletak di baris paling depan di sisi jendela, yang berarti nomor ujianku adalah nomor paling kecil di kelas ini.

Papan tulisnya baru dan berwarna hijau tua. Di atas mimbar tempat mengajar terdapat kotak kapur dan vas bunga yang berhiaskan sebatang bunga krisan. Segalanya tampak bersih dan tertata rapi. Di papan buletin yang terletak di tembok tidak tertempel gambar maupun karangan. Mungkin semuanya sengaja dilepas agar tidak mengganggu kami, para peserta ujian. Aku duduk di kursi, meletakkan kotak pensil dan alas ujian di atas meja, lalu bertopang dagu sambil menutup mata.

Lima belas menit kemudian, pengawas ujian datang sambil mengapit lembar jawaban di bawah lengannya. Dia sepertinya berusia tidak lebih dari empat puluh tahun, tetapi dia berjalan dengan bantuan tongkat di tangan kirinya dan menyeret kaki kirinya perlahan-lahan. Tongkat itu terbuat dari kayu pohon sakura yang halus dan banyak dijual di pusat oleh-oleh di tempat mendaki gunung. Caranya menyeret kaki terlihat sangat alami sehingga yang menarik perhatian hanyalah tongkat yang terlihat murah itu. Keempat puluh murid diam sambil melihatnya, sebenarnya melihat lembar jawaban itu.

Dia menaiki mimbar tempat mengajar, meletakkan setumpuk lembar jawaban di meja dan tongkat di sebelahnya. Kemudian dia memastikan tidak ada satu murid pun yang absen, berdeham sekali, lalu melirik jam tangannya. Dia menyandarkan kedua tangannya di sisi meja, mengangkat wajahnya, dan sejenak memandangi langit-langit kelas.

Sunyi.

Kesunyian itu terus berlanjut selama kira-kira lima belas detik. Murid-murid yang grogi memandangi lembar jawaban yang terletak di atas meja sambil menahan napas, sementara pengawas ujian yang kondisi kakinya tidak sehat memandangi langit-langit kelas. Dia memakai jas berwarna abu-abu muda, kemeja putih, dan dasi yang sangat tidak berkesan sampai-sampai orang bisa lupa warna dan motifnya. Dia melepas kacamata dan mengelap lensanya dengan saputangan, lalu memakainya kembali.

“Saya adalah pengawas ujian kali ini.” Watakushi3)Kata ganti orang pertama bahasa Jepang, paling sopan, dan biasanya digunakan dalam percakapan dengan orang yang lebih tua; saya. Dalam cerita ini, pengawas ujian menggunakan watakushi untuk menunjuk dirinya., katanya.  “Apabila lembar jawaban telah dibagikan, diamkan seperti itu dan jangan dibalik terlebih dahulu. Letakkan kedua tangan di atas lutut. Ketika saya mengatakan “Mulai”, silakan balik lembar jawaban dan mengerjakan soal. Sepuluh menit sebelum ujian berakhir, saya akan mengatakan “Tinggal sepuluh menit”. Periksa lagi agar jangan sampai ada kesalahan yang tidak perlu. Kemudian ketika saya mengatakan “Selesai”, berarti waktu ujian telah habis. Balik lembar jawaban dan letakkan kedua tangan di atas lutut. Mengerti?”

Sunyi.

“Jangan lupa untuk menulis nama dan nomor ujian sebelum mengerjakan soal.”

Sunyi.

Dia memandang jam tangannya sekali lagi.

“Baiklah, masih ada waktu sepuluh menit lagi. Sebelum ujian dimulai, saya ingin sedikit berbicara dengan kalian. Kalian boleh rileks.”

Terdengar suara helaan napas lega murid-murid.

“Saya adalah orang Cina dan saya mengajar di sekolah ini.”

Ya, dengan begini aku bertemu dengan orang Cina untuk pertama kali.

Dia tidak terlihat seperti orang Cina. Tentu saja, karena sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengan orang Cina.

“Di kelas ini,” lanjutnya, “murid-murid Cina yang seusia dengan kalian belajar dengan tekun seperti kalian …. Seperti yang kalian ketahui, Cina dan Jepang adalah negara tetangga. Agar kita semua bisa hidup dengan nyaman, kita harus berhubungan baik dengan tetangga. Begitu, kan?”

Sunyi.

“Tentu saja, di antara kedua negara ada hal yang mirip, ada juga hal yang tidak mirip. Ada hal yang bisa kita pahami, ada juga hal yang tidak bisa kita pahami. Sama seperti hubungan kalian dengan teman-teman, kan? Teman seakrab apa pun, tetap ada hal yang tidak bisa kita pahami. Begitu, kan? Di antara kedua negara pun begitu. Akan tetapi, kalau kita berusaha, saya percaya kita bisa menjadi teman yang akrab. Untuk itu, pertama-tama kita harus saling menghormati satu sama lain. Itu adalah … langkah pertama.”

Sunyi.

“Misalnya begini, murid-murid Cina datang ke sekolah kalian untuk mengikuti ujian. Hal yang sedang kalian lakukan saat ini, selanjutnya giliran murid-murid Cina yang duduk di bangku sekolah kalian. Coba pikirkan.”

Murid-murid berpikir.

“Pada hari Senin pagi, kalian datang ke sekolah. Kemudian duduk di bangku. Lalu kalian melihat banyak coretan dan goresan di meja, ada bekas permen karet di bangku, dan sandal kalian yang ada di kolong meja hilang satu. Bagaimana perasaan kalian?”

Sunyi.

“Misalnya kamu”, dia menunjukku, karena nomor ujianku adalah yang paling kecil. “Apa kamu senang?” Semua murid melihatku.

Aku terburu-buru menggeleng dengan muka memerah.

“Apa kamu bisa menghormati orang Cina?”

Aku menggeleng sekali lagi.

“Maka,” dia memandang ke depan. Mata semua murid pun kembali tertuju ke mimbar tempat mengajar. “Kalian pun tidak boleh mencoret-coret meja, menempel bekas permen karet di bangku, atau mengisengi barang yang ada di dalam kolong meja. Mengerti?”

Sunyi.

“Murid-murid Cina bisa menjawab dengan lebih lantang, lho.”

Ya, keempat puluh murid menjawab. Tidak, tiga puluh sembilan. Aku bahkan tidak bisa membuka mulutku.

“Baiklah, angkat kepala dan busungkan dada kalian.”

Kami mengangkat kepala dan membusungkan dada.

“Kemudian berbanggalah.”

Aku tidak ingat hasil ujian dua puluh tahun yang lalu itu. Yang bisa kuingat hanyalah murid-murid yang berjalan melewati tanjakan dan guru Cina itu. Kemudian tentang mengangkat kepala dan membusungkan dada, juga merasa bangga.

 

bersambung ke halaman berikutnya

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Film-film dokumenter pendek yang populer di tahun 1910-1960.
2. Kebun sebelah dalam ala Spanyol.
3. Kata ganti orang pertama bahasa Jepang, paling sopan, dan biasanya digunakan dalam percakapan dengan orang yang lebih tua; saya. Dalam cerita ini, pengawas ujian menggunakan watakushi untuk menunjuk dirinya.

Pages: 1 2 3