Sebuah Lubang [Hassan Blasim]

Posted: 29 May 2018 by Wawan Kurniawan

1

Aku menyimpan potongan cokelat terakhir di dalam tas. Aku telah menyimpannya di kantongku. Aku mengambil beberapa botol air dari gudang. Aku punya cukup kaleng ikan salmon, jadi kusembunyikan kaleng yang tersisa di bawah tumpukan kertas toilet. Lalu, saat aku melangkah menuju pintu, tiga orang bertopeng yang membawa senjata masuk. Aku menembak dan satu dari mereka terjatuh ke lantai. Aku berlari keluar menuju pintu, tapi dua orang lainnya mengejarku. Aku melompati pagar lapangan sepak bola dan berlari menuju taman. Saat aku tiba di ujung taman, di tepi Natural History Museum, aku terjatuh ke dalam sebuah lubang.

“Dengar, jangan takut.”

Suaranya yang serak membuatku takut.

“Kamu siapa?” tanyaku, yang lumpuh lantaran takut.

“Apa kau kesakitan?”

“Tidak”

“Itu normal. Sudah bagian dari rangkaian ini.”

Kegelapan perlahan lenyap saat dia menyalakan sebuah lilin.

“Tarik napas dalam-dalam! Jangan khawatir!”

Dia tertawa dengan aneh, penuh kesombongan dan penghinaan.

Wajahnya gelap dan kasar, seperti dasar lumuran selai roti tawar. Seorang lelaki tua yang jompo. Dia tak mengenakan pakaian. Dia duduk di bangku kecil, dengan selembar kertas yang kotor di pahanya. Di sampingnya ada beberapa karung dan sejumlah sampah yang tampak lama ada di tempat ini. Jika dia tak menggerakkan kepalanya dia akan tampak seperti tokoh kartun, dia terlihat seperti pengemis pada umumnya. Dia miringkan kepalanya ke kiri dan kanan seperti kura-kura dalam beberapa cerita legenda.

“Siapa kamu? Apakah aku jatuh dari lubang?”

“Ya, kau terjatuh. Aku tinggal di tempat ini.”

“Kau punya segelas air?”

“Airnya tak mengalir. Mungkin beberapa saat lagi. Aku punya beberapa ganja.”

“Ganja? Apa kau pendukung pemerintah atau oposisi?”

“Persetan dengan semua itu.”

“Tolong! Apa tempat ini aman?”

Dia membakar gulungan ganja dan menawariku. Aku mengambil dan memeriksanya. Dia tampak curiga. Dia mengisap sebagian gulungan dan menyetel radio yang ada di sampingnya demi mencari siaran yang tengah memainkan lagu dalam bahasa yang aneh. Kedengarannya seperti lagu beat religi Afrika.

“Kau orang asing?”

“Kau tak menebak dari aksenku? Aku berbicara dengan  bahasamu, Nak! Tapi kau tak bisa bicara dengan bahasaku, sebab aku lebih dulu ada di lubang ini. Tapi kau akan bicara menggunakan bahasa ini dengan orang yang selanjutnya akan jatuh.”

“Ah, Bung. Aku benci cara bicaramu.”

Dia membuang muka, menyandarkan leher kura-kuranya ke depan, dan kembali menyalakan lilin. Sekarang aku bisa melihat tempat ini lebih jelas. Ada seonggok mayat. Aku memeriksanya dengan cahaya lilin, ada yang pahit terasa di mulutku. Mayat itu adalah tubuh seorang tentara, dan ada senapan di dekatnya. Kakinya terkoyak, mungkin karena beberapa pecahan peluru tajam. Dia seperti tentara dari masa lampau.

“Benar, ini seorang tentara Rusia.”

Dia telah membaca pikiranku, dan di wajahnya tampak senyum yang dibuat-buat.

“Dan apa yang dia lakukan di negara kita? Apakah dia bekerja di kedutaan?”

“Dia jatuh di hutan selama perang musim dingin antara Rusia dan Finlandia.”

“Kau benar-benar gila!”

“Dengar, aku tak punya waktu untuk orang sepertimu. Aku ingin bersikap sopan padamu, tapi sekarang kau mulai membuatku gugup. Hari ini mood-ku sedang buruk.”

Aku mulai memeriksa lubangnya. Seperti sumur. Dindingnya dipenuhi lumpur yang lembap, tapi pori-pori dari lumpur itu mengeluarkan bau yang tajam, menyengat. Mungkin beraroma bunga-bunga! Aku mengangkat lilin untuk mencoba melihat seberapa dalam lubangnya. Dari dasar lubang sumur, cahaya taman tampak terlihat.

“Kau percaya dengan Tuhan?” dia bertanya dengan suaranya yang aneh.

“Kita semua ada dalam lindungan-Nya. Berdoalah pada-Nya, Bung, agar menyelamatkan kita dari bencana dalam hidup ini.”

Dia membulatkan tangannya untuk membentuk sebuah megafon dan mulai berteriak histeris, “Wahai Tuhan yang Mahakuasa, Maha Esa, Maha Kudus, Tuhan yang Maha Besar, kirimkan jerapah atau seekor monyet yang setinggi seratus delapan puluh senti! Biarkan sesuatu selain manusia yang jatuh ke dalam lubang! Biarkan pohon yang kering jatuh ke dalam lubang! Lemparkan kami empat ular supaya kami bisa membuat tali dengan itu!”

Seakan kegilaan lelaki tua yang seperti kura-kura inilah yang kubutuhkan! Aku menghiburnya dengan doa sarkastik miliknya dan kukatakan jika seseorang jatuh ke dalam lubang, itu akan terasa lebih mudah untuk keluar, karena lubangnya tak begitu dalam.

“Kau benar, dan inilah orang ketiga!” katanya, sambil menunjuk tentara Rusia.

“Tapi dia sudah meninggal.”

“Meninggal di tempat ini, tapi tidak di lubang lain.”

Seketika dia mengeluarkan sebuah pisau. Aku mengamatinya dengan waspada, barangkali saja dia akan menyerangku. Dia merangkak berlutut ke tubuh tentara dan mulai memotong-motong daging dan memakannya. Dia tak mempedulikanku, seakan aku tak ada di tempat itu.

 

2

Malam itu aku mengambil revolverku sebelum keluar menuju toko. Aku telah menutup tempat itu beberapa bulan yang lalu, saat pembunuhan dan penjarahan mulai menyebar di seluruh ibukota. Sekarang aku mampir ke toko dan saat ini sulit mendapat makan atau minum dari toko dekat rumah kami. Perekonomian dengan cepat ambruk, dan keadaan semakin memburuk akibat mogok kerja. Ada tanda-tanda pemberontakan, serta kekacauan menyebar setelah pemerintah memundurkan diri. Protes pertama dimulai di ibukota, dan dalam beberapa hari kepanikan dan kekerasan melanda negara. Gerombolan orang mulai menduduki semua gedung pemerintah. Mereka membentuk komite sementara dan berusaha memerintah. Tapi, keadaan tiba-tiba kembali suram. Orang-orang mengatakan itu karena pengusaha yang mendukung kelompok-kelompok terorganisir yang berhasil menguasai bagian utara negara. Orang kaya dan para pendukung buronan pemerintah meyakini bahwa kelompok berbasis agama baru akan berkuasa dan menerapkan ideologi obskurantisnya. Itulah yang disampaikan juru bicara wilayah utara, dan dia juga mengancam jika wilayah tersebut ingin memisahkan diri. Kaum ekstremis dalam kelompok berbasis agama tak tertarik pada pidato politisi atau revolusioner. Mereka diam-diam bekerja di belakang layar, dan dalam satu serangan yang mengguncang, mereka mengambil alih kendali basis rudal nuklir negara. “Umat manusia membawa kita dalam kehancuran, maka kembalilah ke lindungan Sang Pencipta.” Itulah motto mereka.

Sedang bagi tentara, mereka bertugas dalam beberapa hal. Di titik pelabuhan utama, para tentara dengan mesin tembak membunuh lebih dari lima puluh orang yang mencoba mencuri bank pusat. Orang-orang mulai melawan tentara, yang mereka lihat sebagai lawan dari perubahan. Ada banyak perlengkapan senjata. Sekutu pihak selatan telah memberi perlengkapan senjata bagi penduduk. Di pusat kota beberapa orang yang masih berakal sehat meminta ketenangan dan jalan keluar dari kecamuk yang melanda negara. Tentara mengepung basis rudal dan mulai bernogosiasi bersama pimpinan pihak ekstremis, yang tinggal di antara kelompok bersenjata di negara lain. Dulunya dia seorang kolonel yang diusir dari kelompok tentara lantaran idenya yang terlalu extrem. Dia juga mengatakan jika dirinya memiliki slogan di jidatnya bertuliskan: SUCIKAN BUMI DARI IBLIS.

Lelaki tua itu mengunyah daging dan kembali ke tempatnya seolah baru saja selesai makan sandwich. Dia membersihkan mulutnya dengan handuk kotor, mengeluarkan sebuah buku, dan mulai membaca. Aku mengeluarkan sebatang cokelat dan melahapnya dengan gugup. Orang tua itu sangat menjijikkan dan menyebalkan.

Dia mendongak dari bukunya kemudian berkata, “Dengar, aku akan langsung pada intinya saja. Aku seorang jin.” Dia mengulurkan tangan untuk menjabatku.

Aku menatapnya dengan penuh tanya.

Apa yang kakekku pernah sampaikan beberapa minggu terakhir ini? Dia terus mengoceh di depan pohon delima (yang bisa dia lakukan di dunia ini hanyalah makan buah delima dan menatap pohon itu).

Betapa aku ingin bangkit dan menendang lelaki tua ini. Aku menyadari bila dia melihatku dengan kedengkian dan senyum yang menghina. Kemudian dia mengatakan, “Kau tampak lebih berani dan tak menyebalkan dibanding orang Rusia ini. Dengar, aku tak tertarik denganmu dan orang-orang yang mengunjungi lubang. Semua yang kucari dalam cerita-ceritamu hanyalah hiburan. Ketika kau menghabiskan waktumu untuk rantai cerita yang tak berujung ini, kenikmatan bermainlah satu-satunya yang membuatmu dapat terus melakukannya. Pecundang seperti orang Rusia ini mengingatkanku pada absurditas permainan. Roman dari rasa takut mengubah rantai menjadi sebuah tiang gantung. Sesaat setelah teman Rusia kita terjatuh ke dalam lubang, itu membuatnya takut sebab aku ada di dalamnya. Dia mengarahkan senapan di kepalaku. Dan saat aku mengatakan jika aku adalah seorang jin, dia nyaris menggila. Dia menyimpan sebutir peluru. Jika itu tak mampu membunuhku, dia akan mati ketakutan, dan jika dia tak menembakkannya dia akan tetap disandera dengan paranoia yang dia miliki.”

“Baiklah, lalu apa yang terjadi?”

“Ha! Kuceritakan padanya jika aku mengetahui semua rahasia hidupnya, dan untuk membuatnya lebih ketakutan kusampaikan jika aku mengenal Nikolai, putra paling muda bibinya. Tentara itu risih saat mendengar nama itu. Kuceritakan bagaimana dia dan Nikolai memperkosa seorang gadis di desanya. Dia mundur lalu menembakkan sebutir peluru di kepalaku. Inilah rangkaian yang konyol, penuh dengan cerita manusia sepertimu. Apa kau percaya dengan yang kukatakan ini?”

Dia membaca dari bukunya: “ ‘Kita hanyalah bayang-bayang eksotis di dunia ini.’ pembicaraan yang hambar, bukan? Hidup itu indah, Kawan. Nikmatilah dan kau tak perlu khawatir. Aku pernah mengajar untuk menulis puisi di Baghdad. Aku pikir sebentar lagi akan hujan. Suatu hari kita mungkin pahami salah satu rahasia atau bagaimana mengetahuinya. Tak ada bedanya. Yang penting adalah irama dalam rangkaian ini.”

Aku teriak, “Kau memakan mayat seorang tentara, kau lelaki tua menjijikkan!”

“Ha! Kau juga akan memakanku, dan mereka akan memakanmu atau menggunakanmu sebagai bahan bakar atau untuk minum.”

Aku meninju wajahnya dan kembali berteriak: “Kalau kau bukan orang tua, kuhancurkan tengkorakmu, bajingan!”

Dia tak peduli dengan yang kukatakan. Semua yang dia katakan tak perlu membuatku marah, sebab dia akan segera meninggalkan lubang dan aku akan jatuh di lubang yang lain dari waktu yang berbeda. Dia bilang bukunya akan diberikan padaku. Buku yang penuh dengan halusinasi. Buku yang penuh dengan penjelasan lengkap tentang energi rahasia yang diambil dari serangga untuk menciptakan organ tambahan untuk menguatkan hati, pankreas, jantung, dan semua organ tubuh lainnya.

 

3

Sebelum meninggalkan lubang, lelaki tua itu mengatakan padaku jika dia berasal dari Baghdad pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Dia pernah jadi guru, penulis, dan seorang penemu. Dialah yang menyarankan kepada khalifah untuk menerangi jalan-jalan dengan lampion. Dia telah mengawasi pencahayaan masjid dan sekarang sibuk dengan rencana memperluas sistem pencahayaan rumah dengan metode yang lebih kontemporer. Para pencuri di Bagdhad marah karena lampionnya, dan suatu hari mereka mengejarnya setelah salat subuh. Dekat dari rumahnya, lelaki itu tersandung jubahnya sendiri dan terjatuh ke dalam lubangnya.

Satu hal yang disampaikan orang Baghdad ini kepadaku bahwa tiap orang yang mengunjungi lubang itu segera menemukan bagaimana kejadian di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, dan para penemu permainan ini telah mendasarkannya pada serangkaian eksperimen yang mereka lakukan untuk memahaminya dengan cara kebetulan. Ada desas-desus jika mereka tak bisa mengendalikan permainan, yang terus menerus bergulir dan melewati garis-garis waktu.

Dia juga mengatakan, “Siapa pun yang mencari jalan keluar dari sini wajib untuk mengembangkan seni permainan; jika tidak mereka akan tetap menjadi hantu sepertiku, bahagia dengan permainan … Ha, ha, ha. Aku muak untuk mencoba memecahkan simbol. Ada dua lawan di setiap permainan.  Setiap lawan punya kode privasi tersendiri. Itu akan jadi pertarungan yang berdarah, berulang dan menjijikkan. Sisanya hanyalah ingatan, yang dengan mudah mereka hapus. Saat harimu tiba, eksperimen tentang ingatan masih dalam masa percobaan mereka. Para ilmuwan terus bekerja selama lebih dari satu setengah abad setelah usaha pertama tersebut, yang tujuannya adalah untuk menemukan pusat ingatan di otak tikus. Ternyata tikus mampu mengingat apa saja yang telah mereka pelajari bahkan jika otak mereka hancur total di laboratorium. Itu akan jadi eksperimen menakjubkan jika diterapkan pada manusia. Apakah ingatan sebuah kartu kemenangan dalam permainan ini yang kita mainkan dengan serius sampai akhirnya berakhir, atau kita cukup bersenang-senang saja? Semua orang yang jatuh di sini menjadi makanan atau sumber untuk memuaskan naluri, atau energi atas sistem lain. Kita siapa . . sial, siapa kita sebenarnya? Tidak ada yang tahu!”

Lelaki tua itu meninggal dan membuatku kehilangan harapan. Hari menjadi hancur dan kepingan salju jatuh dari mulut lubang. Tubuh orang Rusia tampak seperti hantu. Aku ingin kembali ke masa-masa lain yang mungkin pernah kujalani, jejak-jejaknya tersebar ke tempat-tempat yang sebelumnya kupikir secara imajiner. Kesadaranku bergerak seperti roller coaster di sebuah taman hiburan. Aku melihat kepingan salju berputar-putar. Visi tentara itu telah hilang. Mataku terbuka namun pikiranku terlelap. Aku mungkin telah tidur selama ratusan tahun. Aku membayangkan sel mati. Apakah aku benar-benar berada dalam pikiran atau di setiap sel tubuhku? Aroma bunga yang kuat memenuhi lubang itu. Aku memejamkan mata, tapi kemudian seorang gadis muda jatuh ke dalam lubang. Di punggungnya dia membawa sebuah tas elektronik yang diikatkan di dadanya dengan banyak tali pengikat, dan pahanya terikat sejumlah logam fosfor. Di tangannya dia memegang sesuatu yang tampak seperti alat ukur elektronik.

“Kamu siapa?” Dia bertanya padaku, terengah-engah. Ada luka yang tampak di wajah cantiknya.

“Aku seorang jin. Apa yang terjadi denganmu?”

Aku merasa suaraku kembali ke zaman purba.

“Sebuah robot analisis darah mengejarku,” katanya.

Dia mengisap jarinya, yang bengkak seperti jamur.

“Itu normal,” kataku dengan acuh, lalu merayap menuju mayat lelaki tua itu.

 

 

Cerpen ini berasal dari Buku The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq karya Hassan Blasim.
HASSAN BLASIM lahir di Baghdad pada tahun 1973 dan belajar di Baghdad Academy of Cinematic Arts. Seorang kritikus terhadap rezim Saddam Hussein, ia dianiaya dan pada tahun 1998 melarikan diri dari Bagdad ke Irak Kurdistan, di mana ia membuat film dan mengajarkan proses pembuatan film dengan nama samaran Ouazad Osman. Pada tahun 2004, setahun di dalam perang, ia melarikan diri ke Finlandia, di mana ia sekarang menetap. Seorang filmmaker, penyair, dan penulis fiksi, karyanya telah diterbitkan dalam berbagai majalah dan antologi dan merupakan salah seorang editor situs sastra Arab iraqstory.com. Karya fiksinya telah dua kali memenangkan English PEN Writers di Penghargaan Terjemahan dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Finlandia, Polandia, Spanyol, dan Italia.

Pendapat Anda: