Kenapa Kalian Tak Berdansa? [Raymond Carver]

Posted: 26 June 2018 by Ageng Indra

Di dapur, ia menuang minuman lagi dan memandang isi kamar tidurnya di halaman depan rumahnya. Kasurnya polos. Seprai bergaris-garis terlipat di samping dua bantal di atas meja rias. Benda-benda lain tampak sebagaimana ketika masih di kamar — nakas dan lampu baca di samping ranjang di sisi ia biasa tidur, nakas dan lampu baca di sisi istrinya biasa tidur. Sisinya, sisi istrinya. Ia merenungkan ini sambil menyesap wiski. Meja rias berdiri beberapa meter dari kaki ranjang. Ia sudah mengosongkan laci-lacinya ke sejumlah kardus pagi itu, dan kardus-kardus itu kini teronggok di ruang tamu. Pemanas portabel tergeletak di samping lemari. Sebuah kursi rotan dengan bantal hias berdiri di kaki ranjang. Seperangkat alat prasmanan berdesakan di jalur masuk garasi. Sehelai kain muslin kuning, kebesaran, pemberian seseorang, melapisi meja dan ujung-ujungnya terjuntai di sisi meja. Sebuah pot berisi tanaman pakis berada di atas meja bersama sekotak sendok-garpu, juga pemberian. Televisi model konsol berukuran besar bercokol di atas meja kopi, dan beberapa langkah dari situ, ada sofa dan kursi dan lampu tegak. Ia telah mengulur kabel gulung dari dalam rumah, dan semuanya tersambung, alat-alat bisa dihidupkan. Meja kerja didesakkan ke pintu garasi. Beberapa perkakas tergeletak di atas meja, bersama jam dinding dan dua gambar berbingkai. Ada pula, di jalur masuk garasi, kardus penuh cangkir, gelas, piring, dan masing-masing terbungkus koran. Pagi itu ia membongkar lemari dan, kecuali tiga kardus di ruang tamu, semuanya berada di luar rumah. Sesekali mobil yang lewat melambat dan orang-orang di dalamnya menengok, tetapi tak satu pun berhenti. Bila jadi mereka, ia pun takkan berhenti.

“Sepertinya itu cuci gudang,” kata seorang gadis pada lelaki muda yang bersamanya.

Mereka sedang menggenapi perabotan di apartemen kecil yang mereka tinggali.

“Mari tanya berapa harga ranjang itu,” kata si cewek.

“Dan teve itu.” kata si cowok.

Si cowok memarkir mobilnya di jalur masuk garasi, tepat di depan meja dapur.

Mereka turun dan mulai memeriksa barang-barang. Si cewek menyentuh kain muslin. Si cowok menghidupkan blender dan memutar tombol kecepatannya. Si cewek mengambil nampan prasmanan. Si cowok menyalakan televisi dan mengutak-atik pengaturan dengan hati-hati. Ia duduk si sofa dan menonton. Ia menyalakan rokok, melihat sekitar, dan menjentikkan korek ke rumput. Si cewek duduk di ranjang. Ia melepas sepatunya dan berbaring. Ia bisa melihat bintang sore.

“Sini, Jack. Cobalah kasur ini. Bawa salah satu bantal itu.” kata si cewek.

“Empuk?” tanya si cowok.

“Coba sendiri,”

Si cowok melihat ke sekitar. Rumah itu gelap.

“Aku sungkan.” kata si cowok, “biar kupastikan apa ada orang di dalam.”

Si cewek mengempas-empaskan badannya di kasur.

“Cobalah dulu,” bujuk si cewek.

Si cowok berbaring di ranjang dan mengganjal kepalanya dengan bantal.

“Bagaimana?” tanya si cewek.

“Rasanya mantap,” jawabnya.

Si cewek memiringkan badannya dan melingkarkan lengannya di leher si cowok.

“Cium aku,” katanya.

“Ayo bangun,” kata si cowok.

“Cium aku. Cium aku, sayang,” rajuk si cewek.

Si cewek memejamkan matanya. Ia memeluk si cowok.

Si cowok melepaskan diri. Ia bangkit. “Kulihat dulu kalau ada orang di rumah,” tetapi ia hanya duduk dan diam di situ.

Televisi masih menyala. Lampu-lampu pun mulai menyala di rumah-rumah lain di sepanjang jalan itu. Si cowok duduk di tepi ranjang.

“Sepertinya lucu juga kalau — ” kata si cewek, cengar-cengir dan tak menyelesaikan kalimatnya.

Si cowok tertawa. Ia menyalakan lampu baca.

Si cewek mengibas-ngibas nyamuk.

Si cowok berdiri dan memasukkan bajunya.

“Biar kuperiksa apa ada orang.” kata si cowok, “Aku ragu ada orang di dalam. Tapi kalau ada, aku akan menanyakan apa yang terjadi.”

“Berapa pun harga yang mereka sebut, tawar sepuluh dolar lebih murah,” kata si cewek. “Mereka pasti sedang putus asa atau semacamnya.”

Si cewek duduk di ranjang dan menonton televisi.

“Kau boleh menawar lebih kalau mau,” kata si cewek terkikik.

“Tevenya bagus,” kata si cowok.

“Tanya berapa harganya.”

Max menuruni trotoar dengan membawa kantong belanjaan. Ia membawa roti tangkup, bir, dan wiski. Ia minum sepanjang sore dan mencapai titik di mana minuman itu mulai membuatnya mabuk. Tetapi belum mabuk. Ia berhenti di bar dekat toko, mendengarkan lagu di jukebox, dan entah bagaimana sudah gelap sebelum ia ingat barang-barang di halaman rumahnya.

Pria itu melihat mobil pasangan itu di depan garasi dan si cewek di atas ranjang. Lalu ia melihat si cowok di teras. Ia berjalan memasuki halaman.

“Halo,” sapanya kepada si cewek. “Kau menemukan ranjangnya. Itu bagus.”

“Halo,” kata si cewek, dan berdiri, “Aku cuma mencobanya.” Ia menepuk-nepuk kasur. “Bagus”

“Memang bagus,” kata Max. “Aku harus bilang apa lagi?”

Pria itu tahu ia harus mengatakan sesuatu lagi. Ia menaruh kantong belanjaannya dan mengeluarkan bir dan wiski.

“Kami pikir tak ada orang di sini,” kata si cowok. “Kami berminat pada ranjang dan, mungkin, teve. Mungkin meja kerja juga. Berapa yang kau mau untuk ranjang?

“Kupikir lima puluh dolar pantas,” kata Max.

“Bagaimana kalau empat puluh?” tawar si cewek.

“Boleh. Empat puluh.”

Pria itu mengeluarkan gelas dari kardus, melepaskan koran yang membungkusnya, dan membuka segel wiski.

“Teve berapa?” tanya si cowok.

“Dua lima.”

“Bagaimana kalau dua puluh?”

“Dua puluh boleh.”

Si cewek melirik si cowok.

“Mau minum, Kawan?” kata Max. “Gelasnya ada di kardus. Aku akan duduk. Aku akan duduk di sofa.”

Ia duduk di sofa, menyandarkan punggung, dan menatap mereka.

Si cowok mengambil dua gelas dan menuangkan wiski.

“Kau mau seberapa?” tanya si cowok kepada si cewek. Usia mereka sekitar dua puluhan, si cowok dan si cewek, hanya berbeda sebulan atau lebih.

“Segitu cukup,” ujar si cewek. “Aku mau punyaku dicampur air.”

Ia menarik kursi dan duduk di meja dapur.

“Ada air di keran sebelah sana,” kata Max. “Putar saja.”

Si cowok menambahkan air ke wiski, miliknya dan milik si cewek. Ia berdeham sebelum duduk juga di meja dapur. Ia menyeringai. Burung-burung yang mencari serangga melesat di atas kepala.

Max menatap televisi. Ia menghabiskan minumannya. Ia menjulurkan tangan buat menyalakan lampu tegak dan menjatuhkan rokoknya di antara bantal. Si cewek bangkit untuk membantunya mencari.

“Kau mau yang lain, sayang?” kata si cowok.

Ia mengeluarkan buku cek. Ia menuangkan wiski lagi untuk dirinya dan si cewek.

“Oh, aku mau meja kerja.” kata si cewek. “Berapa harganya?”

Max mengibaskan tangannya, menepis pertanyaan tak masuk akal itu.

“Sebut angka,” katanya.

Ia menatap mereka yang duduk di meja dapur. Di bawah sorotan lampu, ada suatu kesan pada ekspresi mereka berdua. Untuk sesaat ekspresi itu tampak berkomplot, dan kemudian menjadi lembut — tak ada kata lain untuk itu. Si cowok menyentuh tangan si cewek.

“Aku akan mematikan teve dan menyetel musik,” kata Max. “Pemutar vinil ini juga dijual. Murah. Tawar saja.”

Ia menuangkan wiski lagi dan membuka bir.

“Semua dijual.”

Si cewek menyodorkan gelas dan Max menuangkan wiski untuknya.

“Terima kasih,” kata si cewek.

“Minuman ini naik ke kepalamu,” kata si cowok. “

Ia menenggak habis minumannya, menunggunya naik, lalu menuangkan lagi. Ia menuliskan cek ketika Max menemukan koleksi piringan hitamnya.

“Pilih yang kau suka,” kata Max pada si cewek, dan menyodorkan piringan-piringan hitamnya.

Si cowok menulis ceknya.

“Ini,” kata si gadis, menunjuk. Ia tidak kenal nama pada piringan-piringan hitam itu, tapi bukan masalah. Ini petualangan. Ia bangkit dari meja dan duduk lagi. Ia hanya tidak ingin duduk diam.

“Sisanya kubayar tunai,” kata si cowok, tetap menulis.

“Tentu,” kata Max. Ia menenggak habis wiskinya dan melanjutkan dengan bir. Ia duduk lagi di sofa dan menyilangkan satu kaki di atas kaki lain.

“Kenapa kalian tidak berdansa?” kata Max. “Itu ide bagus. Kenapa kalian tidak berdansa?”

“Tidak, ah,” kata si cowok. “Kau mau berdansa, Carla?”

“Silakan saja,” kata Max. “Ini halamanku. Kau boleh berdansa.”

Lengan melingkari satu sama lain, tubuh saling menekan, si cowok dan si cewek, bergerak maju mundur sepanjang jalur masuk garasi. Mereka berdansa.

Ketika musik selesai, si cewek mengajak Max untuk berdansa juga. Si cewek masih telanjang kaki.

“Aku mabuk,” kata pria itu.

“Kau tidak mabuk,” kata si cewek.

“Yah, aku mabuk” ujar si cowok.

Max mengganti musik dan si cewek datang padanya. Mereka mulai berdansa.

Si cewek memandang orang-orang yang berkumpul di balik jendela seberang jalan.

“Orang-orang di sana melihat,” katanya, “Apa tak masalah?”

“Cuek saja,” kata Max. “Ini halamanku. Kita bisa berdansa. Mereka mengira mereka telah melihat segalanya, tetapi mereka belum melihat ini,” kata pria itu.

Sesaat, ia merasakan kehangatan nafas gadis itu di lehernya, dan ia bilang: “Kuharap kau suka ranjangmu.”

“Tentu,” kata si cewek.

“Kuharap kalian berdua suka,” kata Max.

“Jack!” kata si cewek. “Bangun!”

Jack menelengkan dagunya dan mengawasi mereka dengan terkantuk-kantuk.

“Jack,” kata si cewek.

Si cewek memejamkan dan membuka matanya. Ia membenamkan wajahnya di bahu Max. Ia merapatkan tubuh pria itu ke tubuhnya.

“Jack,” gumam gadis itu.

Ia melihat ke ranjang dan tidak bisa memahami kenapa benda itu ada di depan rumah. Ia menatap, menembus bahu Max, langit. Ia merapatkan diri pada Max. Ia dipenuhi kebahagiaan tak tertahankan.

***

Si cewek kemudian berkata: “Pria ini sekitar paruh baya. Semua miliknya ada di depan halaman rumahnya. Aku tidak bercanda. Kami mabuk dan berdansa. Di jalur masuk garasi. Oh, Tuhan. Jangan tertawa. Ia menyetel musik. Lihat fonograf ini. Ia memberikannya pada kami. Musik-musik tua ini. Jack dan aku tidur di ranjangnya. Jack teler dan harus menyewa trailer paginya. Untuk membawa semua barang pria itu. Saat aku bagun, pria itu telah menyelimuti kami. Selimut ini. Rasakanlah.”

Ia terus bicara. Ia memberi tahu orang-orang. Ada sesuatu yang lebih, ia tahu itu, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata. Tak lama kemudian, ia berhenti mencoba.

Pendapat Anda: