Kemarin [Haruki Murakami]

Posted: 16 January 2018 by Devi Santi Ariani

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah mengganti lirik lagu Yesterday milik The Beatles dengan bahasa Jepang (dan melakukannya dengan dialek Kansai yang sangat kental) adalah laki-laki bernama Kitaru. Ia selalu menyanyikan versinya itu saat sedang mandi.

Kemarin
Adalah dua hari sebelum besok,
Dan satu hari setelah dua hari yang lalu

Begitu awalnya, seingatku, tapi sudah lama aku tidak mendengarnya jadi aku tidak yakin betul. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru hampir tidak bermakna, tidak berhubungan sama sekali dengan lirik aslinya. Melodi yang indah dan melankolis itu dipasangkan dengan dialek Kansai yang semilir—yang mungkin bertolak belakang dengan kesedihan—menghasilkan kombinasi yang aneh, penolakan berani atas segala konstruksi. Setidaknya, menurutku. Saat itu, aku hanya mendengarkan sambil geleng-geleng kepala. Aku bisa menertawakannya, tapi aku juga membaca sebuah indikasi tersembunyi di dalamnya.

Aku bertemu Kitaru pertama kali di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, di mana kami bekerja paruh waktu, aku di bagian dapur dan Kitaru sebagai pramusaji. Kami sering ngobrol saat senggang di kedai. Kami berdua berumur dua puluh tahun, dan hari ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru itu nama yang nggak biasa,” ujarku suatu hari.

“Ya, jelas,” jawab Kitaru dengan dialek Kansai yang kental.

“Tim baseball Lotte punya pitcher bernama Kitaru juga.”

“Kami nggak bersaudara. Walaupun nama Kitaru nggak umum, tapi siapa yang tahu? Mungkin ada hubungan juga.”

Aku mahasiswa semester empat di Universitas Waseda, jurusan sastra. Kitaru gagal ujian masuk dan sedang kursus untuk ujian ulang. Sebenarnya, dia gagal ujian masuk dua kali, tapi melihat tingkahnya kau tidak akan menyangka. Kelihatannya dia tidak berusaha keras untuk belajar. Saat senggang, ia membaca buku-buku yang tidak berhubungan dengan ujian—biografi Jimi Hendrix, buku rumus shogi (catur jepang), “Where did the Universe Come From?”, dan lain sebagainya. Dia bilang padaku kalau dia berangkat ke tempat kursus dari rumah orang tuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” tanyaku, heran. “Tapi aku yakin betul kau dari Kansai.”

“Mana mungkin. Denenchofu, lahir dan besar.”

Aku benar-benar tidak menyangka.

“Lalu, kok bisa kau bicara dengan dialek Kansai?”

“Aku mendapatkanya. Cukup membulatkan tekad untuk mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Iya. Aku belajar giat, lihat? Verba, nomina, aksen—sembilan tahun. Sama seperti belajar bahasa Inggris atau bahasa Perancis. Bahkan aku ke Kansai untuk latihan.”

Jadi, ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti belajar bahasa asing? Ini jelas hal baru untukku. Itu membuatku menyadari betapa besarnya Tokyo, dan betapa banyaknya hal yang aku tidak tahu. Aku teringat novel “Sanshiro”, kisah pemuda kampung yang datang ke kota.

“Saat masih kecil, aku penggemar berat Hanshin Tiger,” jelas Kitaru. “Kapan pun mereka main di Tokyo, aku pasti nonton. Tapi, kalau aku duduk di tribun fan mereka dan bicara dengan dialek Tokyo, tidak ada yang mau bicara denganku. Aku tidak bisa membaur dengan komunitas mereka. Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku belajar sangat keras untuk itu.”

“Itu motivasimu?” Aku tidak percaya.

“Iya. Sebesar itu artinya Hanshin Tiger untukku,” jawab Kitaru. “Sekarang, aku bicara hanya dengan dialek Kansai—di sekolah, di rumah, bahkan dalam mimpi saat sedang mengigau. Dialekku hampir sempurna, kan?”

Banget. Aku bahkan yakin kau dari Kansai,” ujarku.

“Kalau aku belajar untuk ujian masuk sekeras aku belajar dialek Kansai, aku nggak akan jadi pecundang seperti sekarang.”

Dia benar. Bahkan caranya menyalahkan diri sendiri mirip orang Kansai.

“Jadi, kau dari mana?” tanya Kitaru.

“Kansai. Dekat Kobe,” jawabku.

“Dekat Kobe? Dimana?”

“Ashiya,” ujarku.

“Wah, keren. Kenapa nggak bilang dari awal?”

Aku menjelaskan. Ketika orang bertanya darimana asalku dan kujawab Ashiya, mereka selalu berasumsi kalau keluargaku kaya. Tapi di Ashiya ada segala lapisan, dari kalangan atas sampai bawah. Keluargaku, contohnya, tidak terlalu berada. Ayahku bekerja di perusahaan farmasi dan Ibuku seorang pustawakan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla warna krem. Jadi, ketika orang bertanya darimana asalku, aku selalu menjawab “dekat Kobe”, jadi mereka tidak punya ekspektasi tinggi tentangku.

“Bung, kedengarannya kita sama,” ujar Kitaru. “Alamatku di Denenchofu—daerah yang lumayan elit—tapi rumahku ada di tempat paling kumuh di kota. Rumahnya kumuh juga. Kau harus main kapan-kapan. Reaksimu pasti, Hah? Ini Denenchofu? Nggak mungkin? Tapi khawatir tentang hal seperti itu nggak penting, kan? Itu cuma alamat. Aku lebih suka sebaliknya, terang-terangan saja bilang aku dari Den-en-cho-fu, gimana? Ha?”

Aku terkesan dan setelah itu kemi berteman.

Sampai aku lulus dari SMA, aku cuma bisa bicara dengan dialek Kansai. Tapi aku cuma butuh sebulan di Tokyo untuk fasih bicara dengan dialek Tokyo. Aku sendiri heran bisa beradaptasi secepat itu. Mungkin karena kepribadianku mirip bunglon. Atau mungkin juga kemampuan berbahasaku lebih baik daripada kebanyakan orang. Bagaimana pun juga, tidak ada yang percaya aku berasal dari Kansai.

Alasan lain kenapa aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah karena aku ingin berubah.

Saat pindah dari Kansai ke Tokyo untuk kuliah, aku menghabiskan seluruh perjalanan dalam Shinkansen—kereta peluru—untuk mereview delapan belas tahun hidupku dan hampir semua yang terjadi sangat memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak mau lagi mengingatnya—sangat menyedihkan. Semakin aku memikirkan kehidupanku dulu, semakin aku membenci diriku sendiri. Bukan berarti aku tidak punya kenangan baik, tentu aku punya. Segenggam pengalaman indah. Tapi kalau kau menambahkan kenangan pedih ke dalamnya, yang memalukan justru lebih banyak dari yang menyenangkan. Saat kupikirkan lagi bagaimana caraku menjali hidup selama ini, rasanya semuanya sia-sia dan tidak berguna. Sampah kelas-menengah yang tidak imajinatif, dan aku ingin mengumpulkan semuanya lalu kujejalkan ke dalam laci di suatu tempat.  Atau dibakar, aku ingin lihat semuanya berubah menjadi asap (walau asap macam apa yang terbentuk dari sampah kenangan semacam itu, aku tidak tahu). Jadi, aku ingin menyingkirkan semuanya dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai personal yang baru. Membuang dialek Kansai adalah metode praktis (juga simbolis) untuk melakukannya. Karena, dalam analisis final, bahasa yang kita gunakan mendefinisikan siapa kita sebagai manusia. Paling tidak begitulah menurutku saat delapan belas tahun.

“Malu? Apa yang begitu memalukan?” Kitaru bertanya padaku.

“Semuanya.”

“Kau nggak akur dengan keluargamu?”

“Aku punya,” ujarku. “Tapi tetap saja memalukan. Bergaul dengan mereka saja bikin malu.”

“Kau aneh, tahu nggak?” ujar Kitaru. “Apa yang memalukan dari keluargamu? Aku asik saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa menjelaskan. Apa jeleknya punya mobil Corolla warna krem? Aku tidak bisa menjawab. Orang tuaku tidak suka menghabiskan uang untuk penampilan, itu saja.

“Orang tuaku selalu rewel karena aku nggak belajar. Aku nggak suka, tapi mau ‘gimana? Itu tugas mereka. Biarkan saja, tau?

“Kau ini santai, ya?” ujarku.

“Kau punya pacar?” tanya Kitaru.

“Sekarang, nggak.”

“Sebelumnya punya?”

“Belum lama.”

“Kalian putus?”

“Iya,” jawabku.

“Kenapa kalian putus?”

“Ceritanya panjang. Aku nggak mau cerita.”

“Dia mengizinkanmu menidurinya?”

Aku menggeleng, “Nggak juga.”

“Itu alasan kalian putus?”

Aku berpikir sejenak. “Sebagian.”

“Tapi kau boleh menyentuhnya sampai mana?”

“Cuma sampai langkah ketiga.”

“Sampai mana sebenarnya?”

“Aku nggak mau cerita.”

“Ini salah satu hal memalukan yang kau sebut tadi?”

“Ya,” jawabku.

“Bung, hidupmu rumit banget,” ujar Kitaru.

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya, ia sedang mandi di rumahnya, di Denenchofu (yang, sebenarnya, bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh, tapi rumah biasa di lingkungan biasa, agak tua, tapi lebih besar daripada rumahku di Ashiya, sangat tidak mencolok—dan kebetulan, mobil yang diparkir di garasi adalah Golf warna biru tua, keluaran terbaru). Kapanpun Kitaru pulang, ia bergegas menanggalkan semuanya dan masuk kamar mandi. Dan begitu dia masuk bak mandi, ia akan berendam lama sekali. Jadi aku menarik bangku bundar ke dalam ruang ganti di depan kamar mandi dan duduk di sana, dibatasi pintu geser yang terbuka kurang lebih satu inchi, kami berbicara.

“Lirik itu gak masuk akal,” kataku padanya. “Kedengarannya seperti kau mengolok-olok lagu ‘Yesterday’.”

“Jangan sok pintar. Aku bukannya mengolok-olok. Bahkan kalaupun aku memang mengejek lagunya, kau harus ingat kalau John suka permainan kata yang nggak masuk akal, kan?”

“Tapi lirik dan musik Yesterday ditulis oleh Paul.”

“Kau yakin?”

“Pasti,” ujarku mantap. “Paul menulis dan merekam lagu itu sendiri di studio dengan gitar. Setelahnya baru ditambah string quartet, tapi member The Beatles yang lain tidak ikut campur sama sekali. Mereka bilang lagu itu terlalu payah untuk mereka.”

“Oh ya? Aku nggak tahu informasi istimewa semacam itu.”

“Itu bukan informasi instimewa, itu pengetahuan umum,” ujarku.

“Siapa peduli? Itu cuma detil kecil,” ujar Kitaru dengan tenang dari balik uap air panas. “Aku bernyanyi di kamar mandiku, di rumahku. Nggak direkam atau apapun. Aku nggak melanggar hak cipta atau mengganggu siapa pun. Kau nggak punya hak untuk protes.”

Dan dia mulai menyanyikan bagian refrain, suaranya lantang dan jelas. Kitaru menyanyikan nada tinggi dengan pas. Aku bisa mendengar ia mencepukkan air sebagai iringan. Mungkin aku harusnya ikut bernyanyi untuk memberi semangat, tapi aku tidak bisa memaksa diriku ikut bernyanyi. Duduk di ruang ganti, menemaninya ngobrol berbatas pintu geser selagi ia berendam di bak mandi selama berjam-jam tidak terlalu menyenangkan.

“Tapi, bagaimana kau bisa berendam di bak mandi berjam-jam?” tanyaku, “Apa kulitmu nggak bengkak?”

“Saat aku berendam lama di bak mandi, aku dapat banyak inspirasi,” ujar Kitaru.

“Maksudmu seperti lirik nggak jelas itu?”

“Yah, salah satunya,” ujar Kitaru.

“Daripada menghabiskan banyak waktu berpikir di bak mandi, bukannya sebaiknya kau belajar untuk ujian masuk kuliah?” tanyaku.

“Aaah, kau memang perusak suasana. Ibuku juga bilang begitu. Kau terlalu muda untuk jadi, kayak, orang bijaksana atau semacamnya?”

“Tapi, kau sudah kursus selama dua tahun. Apa kau nggak bosan?”

“Sudah pasti. Tentu aku ingin masuk kuliah secepat mungkin.”

“Lalu, kenapa nggak belajar lebih keras?”

“Yah—Em,” ujarnya, perlahan. “Kalau aku bisa belajar lebih keras, tentu sudah kulakukan.”

“Kuliah nggak begitu menyenangkan,” ujarku. “Begitu masuk, aku langsung kecewa. Tapi nggak kuliah malah lebih buruk lagi.”

“Benar juga,” ujar Kitaru. “Aku nggak bisa membantah soal itu.”

“Jadi, kenapa kau nggak belajar?”

“Kekurangan motivasi,” jawabnya.

“Motivasi?” ujarku. “Bukannya bisa kencan dengan pacarmu jadi motivasi yang bagus?”

Ada seorang gadis yang sudah dikenal Kitaru sejak mereka sekolah dasar. Bisa dibilang, teman masa kecil. Mereka satu angkatan. Tapi tidak seperti Kitaru, gadis itu langsung masuk ke Universitas Shopia setelah lulus SMA. Dia kuliah jurusan sastra Prancis dan bergabung di klub tennis. Kitaru pernah menunjukkan fotonya dan dia cantik sekali. Figurnya cantik, wajahnya ceria. Tapi keduanya tidak lagi sering bertemu. Mereka memutuskan lebih baik tidak berkencan sampai Kitaru lulus ujian masuk kuliah, jadi dia bisa fokus belajar. Kitaru lah yang menyarankan hal itu.

“Baiklah,” kata si gadis, “kalau itu maumu.” Mereka sering mengobrol di telepon tapi bertemu hanya seminggu sekali, dan pertemuan itu lebih mirip wawancara ketimbang kencan. Mereka minum teh, ngobrol tentang kegiatan sehari-hari. Bergandengan tangan dan betukar ciuman kecil, dan kencannya hanya sampai di situ.

Kitaru bukan cowok yang bisa kau sebut ganteng, tapi tampangnya lumayan. Dia kurus, rambut dan pakaiannya sederhana tapi keren. Selama dia tidak berbicara, kau akan berpikir Kitaru adalah pemuda sensitif, tipikal pemuda kota. Mungkin kekurangan Kitaru hanya wajahnya yang sedikit lebih tirus dan mulus, memberi kesan kurang tegas. Tapi, segera setelah ia buka mulut, semua efek positif dan ekspektasi tinggi itu akan runtuh seperti kastil pasir di bawah kaki seekor Labrador retriever yang riang. Dialek Kansai yang ia ucapkan dengan dengan nada tinggi dan sedikit menusuk telinga lebih sering membuat orang kaget dan cemas. Ketidakcocokan itu bahkan bagiku, awalnya, agak tidak bisa diterima.

“Hey, Tanimura, apa kau tidak kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Tentu, tidak bisa kusangkal,” ujarku.

“ ‘Gimana kalau kau kencan dengan cewekku?”

Aku tidak mengerti. “Apa maksudmu—kencan dengan dia?”

“Dia gadis baik. Cantik, tulus, pintar kayak paket komplit. Kalau kau kencan dengannya, kau nggak akan menyesal. Aku jamin.”

“Aku juga yakin,” ujarku. “Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu? Nggak masuk akal.”

“Karena kau cowok baik,” ujar Kitaru. “Kalau bukan mana mungkin aku mengusulkan hal ini. Erika dan aku sudah bersama seumur hidup kami. Kami seperti, sudah otomatis jadi pasangan, dan semua orang di sekeliling kami mendukung. Teman, orang tua, bahkan guru kami. Pasangan kecil yang sangat lengket, selalu bersama.”

Kitaru menggenggam kedua tangannya, mengilustrasikan.

“Kalau kami berdua langsung masuk kuliah, hidup kami akan aman dan nyaman, tapi aku gagal di ujian masuk dan beginilah jadinya. Aku tidak tahu kenapa pastinya, tapi keadaan jadi semakin buruk saja. Aku tidak menyalahkan siapa pun—semuanya salahku.”

Aku mendengarkan Kitaru dalam diam.

“Jadi, aku ingin kami agak memisahkan diri,” ujar Kitaru. Ia melepaskan kedua tangannya yang tergenggam.

“Kenapa?” tanyaku.

Kitaru memandangi telapak tangannya beberapa saat lalu bicara. “Maksudku adalah, ada sebagian dari diriku seperti, khawatir, kau tahu? Maksudnya, aku masuk les khusus—yang menjemukan, belajar untuk ujian masuk—yang juga menjemukan, sedang Erika punya kesempatan besar di universitas. Main tenis, melakukan apapun yang ia suka. Punya teman baru, dan sejauh yang kutahu, mungkin juga kencan dengan cowok kenalan barunya. Kau tahu maksudku?”

“Ya, kurang lebih,” ujarku.

“Tapi, bagian diriku yang lain, seperti—lega? Kalau kami tetap seperti sebelumnya, tanpa masalah apapun, pasangan serasi yang hubungannya berjalan mulus. Lulus kuliah dan  menikah, punya dua anak yang sekolah di SD Denenchofu, jalan-jalan di tepi sungai Tama setiap hari Minggu, bla.. bla.. bla.. Aku tidak bilang hidup seperti itu tidak baik, hanya saja, aku selalu bertanya-tanya apakah hidup bisa semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik kalau kami berpisah sebentar, dan setelahnya jika memang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain maka kami bisa kembali bersama.”

“Jadi, menurutmu hidup yang lancar dan nyaman itu masalah. Begitu?”

“Ya, kurang lebih begitu.”

“Tapi, kenapa aku harus jalan dengan pacarmu?” tanyaku.

“Menurutku, jika dia harus jalan dengan orang lain, lebih baik denganmu. Karena aku mengenalmu. Dan kau bisa cerita padaku tentang, yah, perkembangan dan lainnya.”

Itu tidak masuk akal, walaupun harus kuakui aku tertarik dengan tawaran bertemu Erika. Aku juga ingin tahu kenapa gadis cantik sepertinya mau pacaran dengan orang aneh macam Kitaru. Aku memang agak malu pada orang baru, tapi aku tetap ingin tahu.

“Sejauh mana kau pacaran dengannya?” tanyaku.

“Maksudmu, sex?” ujar Kitaru.

“Iya, sudah pernah?”

Kitaru menggeleng. “Aku nggak bisa. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, jadi agak memalukan saat memulai. Kau tahu? Menanggalkan baju, menciumnya, menyentuh dan semacamnya. Kalau cewek lain mungkin tidak masalah, tapi dengan Erika. Membayangkan saja rasanya sudah salah. Paham?”

Aku tidak paham.

“Aku nggak bisa jelaskan,” ujar Kitaru. “Kayak, kalau kau masturbasi, kau membayangkan seseorang kan? Cewek?”

“Ya,” ujarku.

“Tapi aku nggak bisa membayangkan Erika. Rasanya aku melakukan hal yang salah. Jadi saat aku melakukannya, aku membayangkan gadis lain. Seseorang yang tidak begitu aku sukai. Bagaimana menurutmu?”

Aku berpikir lagi, tapi tidak bisa menemukan konklusi apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain di luar jangkauanku. Lagipula, ada hal-hal yang tidak bisa kumengerti.

“Pokoknya, kita ketemuan saja dulu. Kita bertiga,” ujar Kitaru. “Setelahnya, kau bisa pikirkan lagi.”

Kami bertiga—aku, Kitaru dan pacarnya, Erika Kuritani—bertemu di sebuah kedai kopi dekat stasiun Denenchofu pada hari Minggu. Dia hampir setinggi Kitaru, kulitnya yang agak kecoklatan dibungkus blus putih yang disetrika rapi dan rok mini warna biru tua. Contoh sempurna mahasiswi dari perguruan tinggi terkemuka. Erika secantik fotonya, tapi yang membuatku tertarik pada gadis itu bukan kecantikannya, melainkan gelora semangat yang memancar darinya. Dia kebalikan dari Kitaru.

“Aku sangat senang Aki-kun akhirnya punya teman,” ujar Erika. Nama depan Kitaru adalah Akiyoshi. Erika adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan berlebihan. Aku punya banyak teman,” ujar Kitaru.

Nggak ada, kamu nggak punya teman, orang sepertimu nggak bisa punya teman. Kamu lahir di Tokyo, tapi bicaramu seperi orang Kansai dan kamu selalu bicara hal-hal menyebalkan seperti Hanshin Tiger atau film shogi. Mana mungkin orang aneh kayak kamu bisa bergaul dengan orang normal.”

“Yah, kalau kamu mau membahas itu, orang ini juga aneh,” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tapi bicaranya seperti orang Tokyo.”

“Itu sudah lumrah,” ujar Erika. “Setidaknya lebih umum daipada kebalikannya.”

“Tunggu dulu—ini diskriminasi kultur,” ujar Kitaru. “Semua budaya itu setara. Dialek Tokyo tidak lebih baik daripada Kansai.”

“Mungkin setara,” kata Erika. “Tapi sejak Restorasi Meiji, dialek Tokyo sudah jadi standar berbahasa di Jepang. Maksudku, memang ada yang menerjemahkan ‘Franny and Zooey’ ke dalam dialek Kansai?”

“Kalau memang ada, aku pasti beli,” ujar Kitaru.

Aku mungkin juga akan beli, pikirku dalam hati.

Dengan bijaksana, daripada masuk lebih dalam ke diskusi tersebut, Erika Kuritani mengganti topik.

“Ada cewek di klub tennisku yang juga orang Ashiya,” ujarnya, menoleh padaku. “Eiko Sakurai. Apa kamu mengenalnya?”

“Ya, aku kenal,” ucapku. Eiko Sakurai, gadis tinggi dan kurus, orang tuanya menjalankan bisnis golf. Gadis congkak berdada rata dengan bentuk hidung aneh dan kepribadian yang tidak begitu baik. Satu-satunya hal yang ia kuasai hanya tenis.

“Dia pemuda baik, dan sedang tidak punya pacar,” ucap Kitaru pada Erika. “Tampangnya lumayan, sikapnya baik, dan dia tahu banyak hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kau lihat, tidak punya penyakit mengerikan. Menurutku, ia pemuda yang menjanjikan.”

“Baiklah,” ujar Erika. “Ada beberapa member baru di klub kami, gadis-gadis cantik, dengan senang hati akan kuperkenalkan padamu.”

“Tidak, bukan itu maksudku,” ujar Kitaru. “Bisakah kau kencan dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Daripada aku, kau bisa kencan dengannya. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu, kau tidak perlu khawatir?” tanya Erika.

“Maksudku, seperti, aku mengenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik kalau kau kencan dengannya daripada pemuda lain yang tidak pernah kutemui sebelumnya.”

Erika menatap Kitaru seperti ia tidak bisa mempercayainya matanya sendiri. Akhinya, ia bicara. “Jadi, tidak masalah jika aku kencan dengan orang lain asal orang itu Tanimura-kun ini? Kau sunguh-sungguh mengusulkan kami jalan, kencan? Begitu?”

“Ayolah, bukan ide buruk, kan? Atau kamu sedang kencan dengan orang lain?”

“Tentu saja tidak,” jawab Erika lirih.

“Jadi, kenapa tidak kencan saja dengannya? Ini bisa jadi semacam pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya? Apa maksudnya?” ia bertanya pada Kitaru.

“Seperti, kau tahu, mencari sudut pandang lain mungkin bukan ide buruk untuk kita…”

“Menurutmu, itu yang namanya pertukaran budaya?”

“Yah, maksudku itu…”

“Baiklah,” ucap Erika Kuritani mantap. Jika kebetulan aku sedang memegang pensil, mungkin aku sudah mematahkannya jadi dua. “Jika kau pikir sebaiknya kita lakukan, Aki-kun, oke. Ayo bertukar budaya.”

 

bersambung ke halaman berikutnya

Pendapat Anda:

Pages: 1 2

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *