Clochette [Guy de Maupassant]

Posted: 8 May 2018 by Fauzan Hanif

Benar-benar aneh, kenangan-kenangan masa lalu ini terus menghantuiku tanpa pernah bisa kusingkirkan mereka!

Bayangan itu sudah menetap lama, saking lamanya hingga aku tak tahu lagi bagaimana ia bisa terus-menerus hidup dan menempel dalam jiwaku. Dari sana kulihat berbagai macam kejahatan, yang menyentuh maupun yang paling kejam, yang membuatku terkaget-kaget hingga tak bisa kulewati bahkan satu hari pun tanpa meninggalkan sosok Ibu Clochette. Kembali ia tergambar di depan bola mataku, walaupun aku telah mengenalnya dengan baik dari dulu, dahulu sekali, kira-kira saat aku baru berusia sepuluh atau duabelas tahun.

Ia merupakan seorang penjahit tua yang selalu datang ke rumah tiap pekan, setiap hari Selasa, untuk menambal pakaian milik orangtuaku. Ayah dan ibuku tinggal di satu dari beberapa rumah tinggal di pinggiran desa, yang dinamai “kastil”, dan bentuknya benar-benar seperti kastil antik dengan atapnya yang tinggi dan runcing. Ada sekitar empat sampai lima peternakan yang melingkari kastil kami.

Sedangkan kotanya, sebuah kota yang sangat luas bahkan tampak dari ratusan meter nun jauh di sana, mengelilingi sebuah gereja dengan tembok bata merah yang semakin menghitam seiring dengan berubahnya cuaca.

Nah, setiap hari Selasa, Ibu Clochette tiba antara pukul setengah tujuh hingga pukul tujuh pagi, kemudian ia segera naik ke ruang jahitnya untuk mulai bekerja.

Ia berperawakan tinggi dan kurus, berjanggut, atau lebih tepatnya berambut, karena ia memiliki rambut di hampir seluruh bagian wajahnya. Janggut yang bisa kubilang; mengejutkan, di luar dugaan hadir di sana, dibumbui oleh sejumput rambut yang menakjubkan, oleh dedaunan keriting yang tampaknya ditabur di sana sedemikian rupa oleh suatu kegilaan. Mungkin sebelas-duabelas dengan tampang sangar seorang polisi yang ditutupi rok. Bulu-bulu itu melingkupi seluruh bagian hidungnya, muncul di atas kulit dagunya, di kedua pipinya; bahkan alis matanya pun memiliki tebal dan panjang yang luar biasa tak terbayang. Berwarna abu, tebal, dan kusut; mungkin kamu bisa membayangkannya seperti sepasang kumis yang menempel di sana secara kebetulan.

Gerakan minumnya saja tidak seperti orang pincang biasa, lebih-lebih seperti sebuah kapal yang sedang menurunkan jangkarnya. Saat ia berdiri di atas kakinya, menopang tubuhnya yang besar nan kurus bertulang dan sedikit oleng, ia nampak seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan sebuah gelombang dahsyat, kemudian secara tiba-tiba, ia tenggelam ke bawah, seraya menghilang ke dalam lubang yang sangat dalam, lalu terbenam ke dalam tanah. Cara berjalannya membangkitkan ide mengenai bergeraknya sebuah badai, karena ia menyeimbangkan tubuhnya dan di saat yang bersamaan; kepalanya yang ditutupi topi bonnet berwarna putih, yang pitanya melayang-layang di atas punggungnya, semuanya terlihat bagaikan dirinya sedang melintasi horizon, dari utara menuju selatan dan dari selatan menuju utara, tergantung kemana ia ingin bergerak.

Aku sendiri sangat menyukai Ibu Clochette. Segera setelah aku bangun, aku langsung naik ke dalam ruangannya di mana kutemukan dirinya sedang menjahit, dengan sebuah kantung penghangat berada di bawah kakinya. Sesaat setelah kutiba di sana, ia justru memaksaku untuk membawa kantung penghangat itu dan menyuruhku untuk duduk di atasnya, agar aku tidak terkena demam akibat dinginnya ruangan luas ini, yang berada di bawah naungan atap rumahku.

“Ini bisa menjauhkanmu dari sakit tenggorokan,” katanya.

Lalu ia mulai menceritakan kepadaku berbagai kisah, semuanya sembari ia menisik pakaian dengan jari-jemarinya yang panjang serta tajam, menyerupai cakar dan terlihat hidup. Kacamata yang lebih seperti kaca pembesar membungkus kedua bola matanya, karena waktu telah melemahkan penglihatannya. Tampaklah bagiku bahwa sangatlah besar matanya itu, serta memiliki kedalaman yang aneh.

Ia memiliki, sepanjang yang bisa kuingat mengenai dirinya bahkan terhadap hal-hal yang tidak ia ucapkan, yang membuat emosiku sebagai seorang anak teraduk-aduk; adalah kemurahan hati seorang perempuan yang malang. Ia terlihat tinggi besar, tetapi begitu sederhana. Ia menceritakan segala peristiwa tentang kota ini; cerita mengenai seekor sapi yang melarikan diri dari kandangnya kemudian ditemukan, pada suatu pagi, di depan kincir angin Prosper, dan sedang menonton putaran sayap-sayap kayu itu. Atau kisah mengenai sebutir telur ayam yang ditemukan di dalam puncak menara gereja tanpa pernah bisa dimengerti kejadian buruk macam apa yang membuat si ayam memutuskan untuk mengerami telurnya di atas sana. Ada lagi cerita mengenai anjing milik Jean-Jean Pilas, yang berhasil mengambil kembali celana milik tuannya di sepuluh tempat berbeda di kota ini. Celana itu dicuri oleh orang asing ketika sedang dijemur di halaman depan karena basah terkena hujan. Petualangan-petualangan naif dan kedengarannya aneh itu diceritakan oleh Ibu Clochette dengan penuh penghayatan, dengan segenap perasaannya hingga rasanya tak mudah dilupakan begitu saja, melalui tuturan selayaknya puisi yang elok serta misterius; dan bahkan dongeng-dongeng menakjubkan yang diciptakan oleh para penyair, yang ibuku ceritakan kepadaku setiap malam, bisa kubilang tidak memiliki rasa, sensasi, serta kekuatan yang sama dengan tuturan seorang penjahit tua.

Pada suatu waktu, di hari Selasa seperti biasanya ketika aku menghabiskan seluruh pagiku mendengarkan cerita-cerita Ibu Clochette, di pagi itu pula aku ingin kembali ke ruangannya setelah memungut beberapa kacang kemiri bersama pembantuku di hutan Hallets, di belakang peternakan Noirpré. Aku ingat betul semua kejadian itu sejelas hari kemarin.

Ketika kubuka pintu ruangan itu, aku melihat ibu penjahit tua telah terbaring di tanah, di sebelah kursinya, dengan wajah menghadap ke bawah, kedua tangan terlentang dan masih memegangi jarum di tangan satu dan salah satu kemejaku di tangan lain. Salah satu kakinya, dengan stocking berwarna biru, kaki yang paling besar di antara yang satunya, menyosor bagian bawah kursi; dan kacamatanya yang berkilauan berada sejajar dengan bagian bawah tembok, cukup jauh dari tubuhnya.

Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, selain berteriak kencang. Tubuhku bergetar; dan kusadari beberapa menit kemudian bahwa Ibu Clochette telah mati.

Aku tak bisa mengungkapkannya, perasaan sakit yang begitu dalam, pedih, tercabik, yang meremukkan hati seorang anak kecil. Aku turun dari ruangan itu dengan langkah tertatih, menuju ruang tamu di bawah, dan aku bersembunyi di pojok gelap di sana, di bawah sebuah kursi besar antik di mana aku meringkuk dan lalu menangis. Aku tahu aku berdiam di sana cukup lama, karena malam akhirnya datang.

Tiba-tiba beberapa orang masuk membawa lentera, tapi aku tetap tidak bergerak, dan aku mendengar suara ayah dan ibuku sedang mengobrol dengan seorang dokter. Aku mengenali suara mereka.

Dokter segera mencari tahu penyebabnya dan kemudian menjelaskan tiap detil insiden tersebut. Aku tidak paham sama sekali apa yang dikatakannya. Lalu ia duduk dan menerima segelas wine yang ditemani biskuit setelah melakukan semua itu.

Ia tak henti-hentinya bertutur; dan apa yang ia ucapkan ternyata bersemayam dalam diriku dan tetap terukir pada jiwaku hingga mungkin kematianku nanti! Aku bahkan percaya bahwa aku bisa menorehkan kembali dengan sangat jelas setiap kata-kata yang ia ucapkan waktu itu.

“Ah!” katanya, “perempuan yang malang! Dia ini pelanggan pertamaku. Dia menciderai kakinya di hari aku tiba di kota ini, hingga aku pun tak sempat mencuci kedua tanganku karena aku langsung bergegas turun. Saat itu, ada yang datang ke rumahku untuk mencari bantuan, dengan raut wajah panik dan bingung, karena ternyata masalahnya teramat serius.”

“Umurnya masih tujuhbelas tahun kala itu, dan dia sangat cantik! Kubilang betul ini, sangat dan benar-benar cantik! Kamu percaya tidak?”

“Tentang dirinya, aku tak pernah menceritakannya kepada siapapun, dan orang-orang selain aku dan orang-orang yang sudah tidak tinggal lagi di kota pun tidak pernah mengetahuinya. Sekarang, karena dia telah wafat, aku bisa sedikit membuka kartu.”

“Dahulu kala tinggal di kota ini, seorang asisten pengajar yang memiliki tampang rupawan serta postur yang ideal sebagai seorang bintara. Tak seorang wanita di kota ini yang tak mengejar-ngejar dirinya. Akan tetapi, ia seorang yang tinggi hati, serta diiringi ketakutan terbesarnya saat itu, atasannya, Pak Grabu, yang padahal tidak setiap hari berkunjung ke ruangan di atas.”

“Pak Grabu telah mempekerjakan si cantik Hortense, sebagai penjahit, yang nantinya akan wafat di rumahmu ini, dan kemudian dia membaptis seorang Clochette setelah kecelakaan itu. Si asisten pengajar menaruh perhatian khusus pada gadis cantik ini, yang tak diragukan lagi tersanjung karena dipilih oleh seorang penguasa yang tak dapat diganggu-gugat. Si wanita juga memendam rasa cinta kepadanya, lalu mendapatkan pertemuan pertamanya di loteng sekolah, di akhir wanita penjahit menyelesaikan pekerjaannya, di malam hari.

“Wanita penjahit itu, Hortense, nampaknya akan kembali ke kamarnya, tetapi di kala ia menuruni tangga untuk keluar dari rumah Grabu, ia kembali naik, kemudian pergi bersembunyi di tumpukan jerami, menunggu datangnya sang kekasih. Mereka segera bertemu di atas sana, dan si pria mulai melancarkan rayuan-rayuan mematikannya ketika pintu loteng terbuka kembali dan muncullah sang kepala sekolah yang langsung melontarkan pertanyaan:”

‘Apa yang kamu lakukan di sana, Sigisbert?’

“Asisten ini panik karena merasa akan segera ditangkap basah, lalu dengan bodohnya dia menjawab:”

‘Saya sedang beristirahat sejenak dengan sepatu bot saya, Pak Grabu.’

“Loteng itu sangat besar, luas, dan benar-benar gelap; dan Sigisbert mendorong ke arah bawah si wanita muda yang tergoncang emosinya, sambil mengatakan berulang-ulang: ‘Pergi ke sana, bersembunyilah. Aku akan meninggalkan tempatku. Selamatkan dirimu, sembunyilah!’

“Kepala sekolah mendengar bisikan-bisikan itu, kemudian membalasnya: ‘Kamu tidak sendirian di sini ya?’

‘Saya sendirian, Pak Grabu!’

‘Tidak, karena kudengar kau berbicara.’

‘Saya bersumpah saya sendirian di sini, Pak Grabu.’

‘Itulah yang ingin kucari tahu,’ balas orangtua itu, sembari menutup pintu keras-keras, lalu dia turun untuk mencari sebatang lilin.”

“Si pemuda itu, seorang pengecut seperti yang sering kita temukan, kehilangan akal sehatnya, tiba-tiba terpantik amarahnya dan berkata terus-terusan: ‘Sembunyilah, hingga kau tak bisa ditemukan. Kau akan membuatku berada dalam masalah besar sepanjang hidupku. Kau akan menghancurkan karirku! Sembunyilah kau!’

“Terdengarlah kembali suara kunci terputar di dalam lubangnya.”

“Hortense berlari ke jendela loteng di ujung sebelah sana, membukanya secara sembrono, lalu dengan suara rendah dan menentukan:

‘Kau akan pergi memungut tubuhku saat dia pergi,’ katanya.”

“Dan ia lompat dari situ.”

“Pak Grabu tidak menemukan siapapun dan turun lagi, hanya untuk menemukan dirinya terkejut tak karuan.”

“Seperempat jam kemudian, Sigisbert mendatangi rumahku dan menceritakan kejadiannya. Wanita muda itu masih terbaring di kaki dinding, tak kuasa berdiri lagi, setelah jatuh dari tingkat dua bangunan itu. Aku bersama Sigisbert pergi mencarinya. Saat itu hujan deras mengguyur tubuh kami, dan aku membawa duka cita itu ke rumahku, karena sebelumnya kulihat kaki kanannya telah hancur dan tersebar ke tiga arah, yang tulang-tulangnya bahkan menghancurkan kursi-kursi di sana. Wanita itu tidak menggerutu, dan hanya mengucapkan, dengan penuh kepasrahan. ‘Aku telah dihukum, benar-benar dihukum!’

“Aku memberikan pertolongan dan kepada orangtuanya, aku hanya bercerita bahwa sebuah mobil telah menabraknya di depan pintu rumahku.”

“Mereka percaya kisah itu, dan polisi mencari pelaku insiden itu selama sebulan yang penuh dengan keputusasaan.”

“Begitulah! Dan aku bercerita mengenai wanita ini layaknya ia seorang pahlawan yang berasal dari suatu ras tertentu, yang menyelesaikan dengan indah tiap-tiap aksinya.”

“Pemuda itu satu-satunya cinta yang ia miliki. Bahkan ia pun masih perawan ketika menemui ajalnya. Ia memang seorang pejuang, seorang berjiwa besar, seorang yang berdedikasi tinggi! Dan jika aku tidak menyukai bahkan sehelai rambutnya pun maka aku tidak akan menceritakan kisah ini, yang memang tak ingin kuceritakan selama ia masih hidup, dan kau tahu mengapa.”

Dokter itu kemudian terdiam. Ibu masih menangis. Ayah menuturkan beberapa kata yang tak kutangkap jelas; kemudian mereka semua pergi.

Aku tetap meringkuk dia atas kursiku, teisak-isak, ketika aku mendengar bunyi aneh yang begitu pelan dan seperti gesekan di antara tangga.

Mereka membawa tubuh Clochette.

 

Catatan referensi
Cerpen ini merupakan salah satu dari 14 cerpen Guy de Maupassant dalam kumpulan karyanya yang diberi titel Le Horla. Penerjemah mendapatkan dokumen tersebut dari La Bibliothèque électronique du Québec, collection À tous les vents Volume 429.

Pendapat Anda: