Buta dan Tuli [Lara Vapnyar]

Posted: 8 August 2017 by Andreas Nova

Lelaki buta dan tuli ini, kekasih teman ibuku, sedang dalam perjalanan untuk menghabiskan malam. Namanya Sasha.

Nama teman ibuku Olga. Aku dikenalkan pada saat aku masih bayi, jadi aku juga menganggapnya sebagai teman. Dia cantik. Lebih cantik dari ibuku. Dia memiliki tubuh yang bagus dengan rambut hitam pekat sepinggang. Aku dan ibuku juga memiliki rambut hitam, tapi rambut kami berantakan, tipis dan tidak mengesankan, sementara rambut Olga mengundang orang-orang untuk menatapnya. Olga tinggal di sebuah kota di tepi Laut Hitam, tapi dia sering mengunjungi Moskow dan dia selalu membawa hadiah untukku. Pemberiannya yang paling kusukai adalah kalung yang terbuat dari kulit kerang. Aku suka memakainya lalu berdansa, sementara Olga bertepuk tangan dan bernyanyi. “Olga malang, dia sangat baik dengan anak-anak,” komentar ibuku. Aku memang anak kecil, tapi aku sangat dekat dengan ibuku, sangat dekat, sehingga aku tidak dapat mendengar nada sombong dalam suaranya. “Ia dan ibumu saat itu sangat menginginkan anak,” jelas nenek kepadaku, “tapi hanya ibumu yang bisa punya anak.”

Ibuku dan Olga bertemu saat menjalani perawatan kesuburan eksperimental di salah satu klinik di Moskow. Rawat inap, dua pekan lamanya, dijalankan oleh wanita berkumis bersepatu militer. Pasien harus tidur di ruangan yang sama dan menjalani prosedur bersama. Ada lima di antaranya. Semua wanita berusia tigapuluhan, semuanya (untuk alasan yang gila) bergelar Doktor. Ibuku Doktor di bidang Matematika, sedangkan Olga Doktor di bidang Filsafat. Subjek Olga adalah persepsi, subjek ibuku adalah bilangan negatif. Tempat tidur mereka berhadapan, jadi mereka tidak punya pilihan selain berteman. Mereka berbagi makanan, buku, cerita, lelucon. Ibuku memberitahuku bahwa Olga tidak begitu lucu, tapi dia selalu menertawakan lelucon ibuku. Setelah beberapa hari, mereka mulai berbagi air kencing. Wanita berkumis menuntut supaya semua pasien memberikan sampel urine setiap tiga jam. Mereka diminta untuk buang air kecil sebelum tidur, pukul 11.00 malam, lalu mengatur jam alarm mereka pukul 2 pagi dan 5 pagi. Ibuku mengambil shift pukul 2 pagi. Dia akan bangun dan buang air kecil untuk dirinya sendiri dan untuk Olga. Sementara Olga melakukan hal yang sama untuknya pada pukul 5 pagi. Dengan begitu, mereka berdua bisa tidur nyenyak setengah malam. Tak satu pun dari mereka peduli bahwa ini bisa menghancurkan keabsahan penelitian wanita berkumis. “Olga dan aku adalah saudara seperkencingan!” Ibuku suka mengatakannya. Aku cemburu padanya. Aku berharap untuk memiliki saudara seperkencingan sendiri suatu hari.

Menjelang akhir program, ibuku dan Olga saling mengaku bahwa pernikahan mereka tidak bahagia. Olga menjelaskan bahwa suaminya tergila-gila padanya, tapi dia tidak pernah merasa lebih dari sekadar sayang dan menghormatinya. Dia ingin tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang “dengan segenap hati,” seperti yang ada dalam buku. Dia yakin dia akan mencintai anaknya seperti itu. Ibuku mengatakan pada Olga bahwa dia mencintai ayahku dengan segenap hati, tapi tidak yakin apakah Ayah juga mencintainya. Dia merasa bosan dengan pernikahan mereka. Dia berharap memiliki seorang anak untuk mempererat pernikahannya.

Akhirnya mereka sama-sama tidak mendapatkan hasil. Pengobatan Olga gagal. Sedang ibuku berhasil memiliki anak, tapi ayahku meninggalkannya. Waktu itu aku berumur lima tahun. Pada saat aku berusia tujuh tahun, Ayah menikah lagi dan memiliki anak. Bayinya sering sakit. Setiap kali ayahku merencanakan pergi bersamaku, seperti pergi ke teater anak-anak atau kebun binatang, bayinya sakit dan dia harus membatalkannya. Untungnya setiap kali dia membatalkan, dia menjanjikan sesuatu yang lain untuk menggantinya, sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sebelumnya. Aku berpikir betapa beruntungnya aku karena ketika tidak bisa pergi ke konser, misalnya, aku dijanjikan untuk menonton teater! Dan saat menonton teater itu dibatalkan aku dijanjikan sirkus. Lalu sirkus juga dibatalkan, dan aku dijanjikan sesuatu yang sangat spesial: bermain ski di luar kota. Kami akan naik kereta ke pedesaan dan menghabiskan sepanjang hari bersama-sama. Kami bermain ski melewati hutan dengan ransel yang penuh dengan makanan, dan kami mungkin akan melihat beberapa binatang musim dingin. Aku sangat beruntung karena adik bayiku sakit saat aku dijanjikan konser dan sirkus dan teater! Dan kami akan segera pergi. Ayah bilang akhir pekan depan. “Akhir pekan depan” ternyata menjadi kerangka waktu yang sulit dipahami. Akhir pekan setelah berikutnya secara teknis “akhir pekan depan,” juga, dan akhir pekan setelah itu, dan akhir pekan setelah itu. “Kau membuatnya sedih!” Aku mendengar Ibu berteriak di telepon. Bagaimanapun, dia salah. aku sendiri tidak masalah dengan menunggu. Aku tahu bahwa akhir pekan depan adalah “akhir pekan depannya lagi.” Aku tidak meragukan Ayah bahkan ketika musim dingin hampir berakhir. “Semua orang tahu salju bulan Maret adalah yang terbaik,” kata ayahku, dan aku mengulanginya tanpa henti. “Ayahku dan aku akan bermain ski di luar kota secepatnya. Kami hanya menunggu salju terbaik”. Sementara itu, salju di Moskow mencair cepat. “Masih banyak salju di negeri ini,” kata ayahku. Di pertengahan bulan Maret, seekor anjing tetangga sakit, meninggal. Aku bertanya kepada ibuku, “Mengapa adik bayiku tidak meninggal juga? Itu akan membuat semua hal lebih mudah.” Dia memarahiku, tapi aku mendengarnya menceritakan percakapan itu kepada nenekku dan tertawa.

Aku dan ayahku akhirnya melakukan perjalanan ski itu. Saat itu tanggal 31 Maret, waktu yang sempurna untuk bermain ski. Semua pemain ski tahu itu. “Lihat, ada salju!” Kata ayahku saat turun dari kereta. Aku bisa mendengar bahwa dia sama-sama terkejut dan lega. Kami memasang ski kami dan masuk ke hutan. Kami tidak bisa lama bermain ski, karena salju—meski cerah cemerlang—terlalu lengket. Setelah beberapa menit, lapisan salju setebal kurang lebih dua inci itu melekat lengket pada ski kami, jadi kami tidak bisa meluncur; Kami harus berjalan di salju seolah-olah kami memakai sepatu platform. Kami juga tidak melihat binatang apa pun. Tapi hari itu masih merupakan hari yang indah. Ayah menunjukkan kepadaku bagaimana membuat api unggun di salju, dan kami membuat teh dengan menggunakan salju, bukan air. Kami minum teh, meringkuk di dekat api dan tertawa seperti orang gila setiap kali salah satu dari kami kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke salju. Dalam perjalanan pulang, ayahku mengatakan bahwa kami akan melakukannya lagi setiap tahun pada tanggal 31 Maret, tanggal munculnya salju terbaik. Dia juga mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh memakai ranselku di kereta, karena aku dapat secara tidak sengaja memukul orang lain dengan ski. Yang perlu kulakukan adalah melepas ransel sebelum naik kereta dan membawanya di depan, atau menyeretnya dengan salah satu tali jika terlalu berat. Sampai saat ini aku masih melakukannya. Aku selalu membawa ranselku sebelum naik kereta, bahkan jika itu adalah ransel kecil. Aku tidak ingat pelajaran hidup lainnya dari ayahku.

Ketika sampai di rumah malam itu, aku mengatakan kepada Ibu bahwa aku lebih mencintai Ayah daripada Ibu. Itu benar, tapi aku tidak tahu setan apa yang membujukku mengatakan itu. Mungkin aku menyalahkan Ibu karena tidak mampu membuat Ayah tinggal bersama kami lagi. Mungkin aku merasa bahwa dia menyalahkanku untuk hal yang sama. Bagaimanapun, jika dia menyesali perawatan kesuburannya malam itu, pasti aku memahami perasaannya.

Olga kebetulan berada di Moskow pada tanggal 31 Maret tahun depan. Dia berharap bisa menghabiskan waktu bersama kami dan memberitahu ibuku tentang Sasha. Malah dia terjebak dalam situasi yang kacau. Aku duduk di lantai, terjepit di antara lemari besar dan tempat tidur ibuku, menangis dan menolak untuk keluar. Ibu, nenek, dan kakekku bergantian mencoba untuk membujukku, menggunakan taktik yang berbeda mulai dari sogokan sampai ancaman, juga menyakinkanku bahwa Ayah sangat mencintaiku.

Olga tidak melakukan pendekatan seperti keluargaku. Dia mengamati situasinya, lalu berjalan ke kamar tidur seolah tidak ada apa-apa, seolah-olah aku tidak gemetar di pojokan, bermuka merah dan beringus. Dia mengatakan bahwa dia dan aku akan membuat es krim jeruk. Dia memegang seikat tas berisi jeruk di satu tangan dan sekotak es krim Moskow terbaik di tangan yang lain. Tawaran yang tidak bisa ditolak. Aku tidak memiliki kekuatan atau keinginan untuk mendebatnya. Ditambah lagi, aku tidak pernah membuat atau makan es krim jeruk dan tidak mungkin mengatakan tidak untuk itu. Aku merangkak keluar dari tempat persembunyianku, dan kemudian Olga berkata, “Pergi dan cuci muka, Sayang. Kami tidak ingin ada ingus menetes di es krim. “

Seperti inilah cara membuat es krim jeruk: bagi dua jeruk, dengan hati-hati pisahkan semua daging jeruk dari kulitnya. Kemudian campur es krim dengan daging jeruk yang telah dibersihkan, sendoklah campuran tersebut ke dalam bagian jeruk kosong, taburi sedikit parutan coklat di atasnya, dan masukkan semuanya ke dalam freezer. Freezer kecil kami tidak memiliki cukup tempat, jadi sementara kami harus menyingkirkan daging ayam utuh dan satu kotak lemak babi. Olga mengatakan butuh paling sedikit satu jam agar es krim bisa membeku dengan baik, dan cara terbaik bagiku untuk membunuh waktu adalah dengan membaca buku. Kakekku sedang tidur siang di sofa, nenekku sedang memasak makan malam, sementara Olga dan ibuku masuk ke kamar tidur untuk berbicara. Aku mengambil sebuah buku dan duduk di karpet ruang tamu untuk membaca, tapi setelah sepuluh menit aku mengetuk pintu kamar tidur, menanyakan apakah sudah lewat satu jam. “Belum!” Teriak ibuku. “Pergilah!” Aku mengulangi hal itu sampai empat kali sebelum akhirnya berhasil. Kulihat Olga menangis dan ibuku tampak terguncang, tapi aku tidak peduli. Aku terlalu bersemangat dengan es krim jeruk.

Hasilnya tidak mengecewakan, es krim jeruk dengan warna gemerlap di cangkir bundar sangat dingin sehingga membuat jariku sakit. Aku mencoba membuatnya lagi berkali-kali saat dewasa, tapi setiap kali jadi, hasilnya hambar dan berair dan terlihat buruk. Aku pikir waktu itu adalah sebuah keajaiban. Aku memproklamirkannya sebagai makanan terbaik yang pernah kurasakan dan memeluk Olga semampuku. Aku memang menginginkan seorang ibu seperti Olga, cantik, dan beraroma jeruk, tidak seperti ibuku yang sering marah dan rambutnya mulai rontok. Tapi saat aku berusia delapan tahun galaknya telah berkurang, jadi aku memutuskan untuk berkata seperti itu kepada ibu.

“Aku harus memberitahu sesuatu,” kata ibuku kepada kakek dan nenekku begitu Olga pergi. “Dan sebaiknya kamu duduk saja.” Kakek dan nenekku meletakkan piringnya, dan aku berjongkok di lantai, mencoba membangun sebuah kastil dengan cangkir es krim jeruk yang sudah kosong.

“Olga punya kekasih,” kata ibuku. Hal tersebut menarik perhatian kami.

Nenek terkesiap dan kakekku terdiam dengan gelas anggur di masing-masing tangan.

“Namanya Sasha.”

Nenekku menunjukku untuk mengingatkan ibuku akan kehadiranku, tapi ibuku hanya mengangkat bahu. Dia tidak masalah, aku dapat membaca apa pun yang aku mau atau menonton film dewasa dengannya atau mendengarkan gosip. Meski aku tidak tahu apa-apa tentang seks, aku mengerti apa yang harus dipahami tentang pasangan kekasih. Orang jatuh cinta pada orang lain saat sudah menikah. Ketika itu terjadi, mereka ingin mencium orang lain, bukan pasangan mereka, tapi mereka harus berbohong tentangnya sehingga pasangan mereka tidak akan terluka perasaannya. Sebagian besar film yang kami tonton dan sebagian besar buku di rak buku kami memiliki alur cerita ini, jadi aku berasumsi bahwa situasinya cukup umum. Itu jelas menjengkelkan, karena orang-orang yang terlibat sering menangis atau menjerit atau bahkan terlibat baku hantam, tapi tidak ada yang aneh. Sebenarnya, sekarang aku mengumpulkan cukup petunjuk untuk menduga bahwa inilah yang terjadi pada Ayah sebelum dia meninggalkan aku dan Ibu.

Dan sekarang hal itu terjadi pada Olga. Aku bertanya-tanya apakah dia dan pria itu sudah berciuman.

“O.K.,” kata ibuku. “Masalahnya bukan itu saja. Kekasih Olga buta dan tuli.”

Sekarang nenekku memang harus duduk.

“Bagaimana bisa buta dan tuli?” tanya kakek.

“Mudah,” kata ibuku. “Tidak bisa mendengar, dan tidak bisa melihat.”

Inilah saat aku mulai tertawa. Aku tertawa dan tertawa dan tertawa, sampai ibuku harus menamparku.

Ada lebih banyak pertanyaan.

Kakekku ingin tahu apakah Sasha sehat secara mental. “Ya, lebih dari segalanya – dia bergelar Doktor dalam bidang filsafat,” kata ibuku.

Nenekku ingin tahu kapan dan di mana Olga bertemu dengannya. Sebulan sebelumnya. Pada sebuah konferensi di St. Petersburg tentang Filsafat persepsi. Sasha menjadi pembicara utama.

“Pembicara? Kok bisa?” tanya kakek.

“Dia menggunakan bahasa isyarat!” kata ibuku.

“Bahasa isyarat bagaimana?”

Ibuku tampak seperti ingin menampar kakekku dengan cara yang sama seperti ia menamparku, tapi dia menjawabnya. “Ia memegang tangan seseorang dan menyentuhnya dengan cara tertentu. Gerakan yang berbeda berarti huruf yang berbeda. “

Kakekku menggelengkan kepalanya. “Kasihan suaminya,” katanya, “diselingkuhi istri sendiri saja sudah cukup sial, apalagi selingkuh dengan orang buta dan tuli!”

“Kita tidak bisa memilih siapa yang kita cintai,” bisik nenekku.

“Barangkali cuma sementara,” kata ibuku. “Aku bilang beri waktu sebulan.”

Tapi, tentu saja, itu tidak berakhir dalam sebulan. Atau dalam enam bulan. Atau sebelas bulan lagi.

Kami tidak melihat Olga sepanjang waktu itu. Dia tidak sering datang ke Moskow, dan saat dia menghabiskan waktu luangnya bersama Sasha. Tapi sekarang dia menelepon ibuku, dan mereka sudah lama berbicara di telepon untuk waktu yang lama. Kakek dan nenekku dan aku akan terus menunggu ibuku selesai sehingga dia bisa menceritakan pembicaraan mereka. Ibuku selalu memulai dengan mengatakan, “Rupanya, ini masih berlangsung.”

Kapan pun dia bisa, Olga akan memohon atasannya untuk mengirimnya dalam perjalanan bisnis ke Moskow. Dia tidak mungkin melakukan ini tanpa sogokan. Suatu saat dia memberinya tiket teater, satu botol cognac mahal, dan kemudian meminta agar memberinya tempat di daftar tunggu untuk membeli sebuah ruang makan impor. Dia tidak peduli dengan meja dan kursi? Dia hanya peduli pada Sasha. Apa dia juga tidak peduli dengan suaminya? Tentu saja dia peduli! Dia merasakan kasih sayang dan rasa hormat padanya! Sangat menyakitkan untuk membohongi suaminya. Ada kalanya dia kembali dari Moskow menggunakan kereta malam, dan suaminya akan berada di sana, menunggunya di stasiun dengan seikat bunga kecil. Hal ini membuatnya merasa sangat mengerikan!

“‘Orang itu meremukkan saya dengan kemurahan hati,'” kata ibuku kepada kami sambil tersenyum mengejek. Dia mengutip The Grasshopper-nya Chekhov, saat itu aku tidak tahu.

Tidak, suami Olga sama sekali tidak curiga. Olga tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Istrinya tergila-gila pada pria lain dan dia tidak melihat tanda-tandanya? Terkadang hal ini membuatnya marah. Karena bukankah itu berarti dia tidak benar-benar mengenal atau memahaminya? Jika dia benar-benar mencintainya, dia akan menyadari ada yang tidak beres! Kadang Olga sangat marah padanya sehingga dia merasa menyakitinya secara fisik, seperti menampar wajahnya dengan rangkaian bunga yang menyedihkan itu.

Suatu ketika, ibuku mengatakan bahwa dia punya teori, sebuah teori tentang mengapa Olga memilih orang yang buta dan tuli. Itu bukan cinta. Sama sekali bukan. Olga selalu menginginkan anak kecil, jadi dia pergi dan menemukan pria yang sepenuhnya bergantung padanya. Seperti anak kecil, kan? Ibuku terdengar jahat saat dia mengatakan ini, dan aku bisa melihat bahwa kakek dan nenekku tidak percaya pada teorinya.

Selama tahun itu, aku sering merenungkan bagaimana rasanya mencintai orang buta dan tuli, atau, setidaknya bagaimana rasanya menjadi buta dan tuli. Aku menutup mataku, meletakkan tanganku di telingaku, dan mencoba berjalan. Ternyata lebih mudah daripada yang kubayangkan, tapi mau tidak mau aku terantuk rak buku atau sudut meja makan. Aku menangis kesakitan dan membuka mataku dan duniaku akan aman dan normal lagi. Tapi Sasha tidak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa hanya membuka matanya dan telinganya lalu bisa melihat dan mendengar, tidak ada yang peduli betapa takutnya dia dalam dunianya yang gelap dan sunyi. Aku pikir orang buta dan tuli harus sangat berani.

“Aku tidak tahan lagi,” kata Olga pada ibuku suatu hari di awal bulan Maret. Yang benar-benar membuatnya kalut adalah betapa sulitnya berkomunikasi dengan Sasha saat mereka berpisah. Sasha tidak bisa menelepon Olga, karena ada suaminya, tapi Olga sering meneleponnya. Biasanya, mereka dibantu oleh Andrei, teman sekamar Sasha yang alkoholik, seorang buta namun tidak sepenuhnya tuli, yang akan membantu dengan bahasa isyarat untuk Sasha dan kemudian menerjemahkannya di telepon ke Olga. Tapi ia hanya bisa menyampaikan informasi tertentu, bukan perasaannya! Dia mesum, kasar, dan sering mabuk! Dia mengolok-olok Olga saat dia memintanya untuk menerjemahkan betapa dia merindukan dan mencintai Sasha, dan dia tidak pernah mengatakan bahwa Sasha juga merindukannya. Olga tidak yakin apakah Andrei memilih untuk tidak menyampaikan bagian itu, atau bisa jadi Sasha tidak mengatakan bahwa dia mencintainya karena kehadiran Andrei membuatnya malu. Di akhir panggilan telepon, Olga akan meminta Andrei untuk meneruskan telepon ke Sasha agar dia bisa mendengarkan hembusan napasnya. Kadang Olga akan bernyanyi untuknya. Sasha mengatakan bahwa, meski dia tidak bisa mendengarnya, dia bisa merasakan getarannya. Olga tahu banyak lagu balada mengharukan, dan dia akan menyanyikannya sekeras yang dia bisa. Hal ini sering lebih berguna dari terjemahan Andrei yang bodoh. Namun hanya saat koneksi telepon sedang baik. Ada kalanya panggilan terputus di pertengahan lagu. Olga akan kembali mendapati diri sendirian, ratusan mil dari Sasha, duduk di bangku kayu di aula apartemennya yang suram dengan telepon kabel yang berminyak mendenging seperti bunyi sirine, membuatnya semakin kalut.

“Ini akan berakhir,” kata ibuku setelah memberi tahu kami tentang hal itu. Tapi hal tersebut belum berakhir.

Beberapa pekan kemudian, Olga menelepon ibuku lagi, kali ini dari Moskow, dan memberitahukan bahwa dia telah berhenti dari pekerjaannya dan meninggalkan suaminya dan datang ke sini untuk tinggal bersama Sasha.

“Kalian akan menemuinya dua pekan lagi,” kata ibuku, suaranya bernada tinggi dan gemetar. “Olga mengajaknya makan malam di sini.”

“Orang buta dan tuli! Orang buta dan tuli! Orang buta dan tuli akan datang untuk makan malam!” Aku mulai menjerit.

Secara kebetulan, Ayah menelepon untuk mengatakan bahwa dia ingin mengajakku bermain ski pada tanggal 7 April, hari ketika Olga dan Sasha datang berkunjung. Aku berkata tidak. Siapa yang ingin bermain ski? Seorang buta dan tuli akan datang untuk makan malam!

Aku  tidak bisa dan dengan senang hati mengatakan “tidak.” Untuk itu saja, aku akan berterima kasih kepada Olga selamanya.

Pada hari kunjungan mereka, seluruh apartemen kami dipenuhi suara gedebuk. Itu suara ibuku yang memukul filet daging sapi dengan pemukul daging. Untuk Sasha dan Olga kami memutuskan menyajikan hidangan paling mewah yang kami tahu: salad olivier dan daging ala Prancis. Dagingnya perlu ditumbuk berkali-kali untuk dimasak ala Prancis. Aku sangat ingin menumbuk daging juga, tapi tugasku adalah memotong kentang dan telur rebus untuk salad.

Nenekku memoles alat makan dari perak dan gelas cognac sampai berkilau.

“Apakah tidak apa-apa menggunakan gelas yang bagus?” Dia ingin tahu. Tapi ibuku hanya mengerang dan menumbuk daging lagi.

“Apakah dia bisa menggunakan toilet dengan bersih?” itu adalah pertanyaan nenek selanjutnya.

“Sudah deh!” Ibuku memohon padanya. Tapi kakek menganggap ini adalah masalah yang serius. Dia mengatakan bahwa setelah dia menggunakan toilet, nenekku sering bertanya kepadanya apakah dia buta. Dan orang itu benar-benar buta!

Tapi masalah toilet sama sekali tidak mengganggu kakekku. “Bagaimana kita berbicara dengannya?” tanyanya.

“Olga tahu bahasa isyarat,” kata ibuku. “Jadi kupikir dia akan menerjemahkan apa yang kita katakan kepada Sasha dengan bahasa isyarat, dan menerjemahkan balik jawabannya kepada kita.”

Kakekku rasanya tidak puas dengan jawaban itu. Ia selalu ingin membuat kesan baik kepada orang yang baru dikenalnya. Dia tidak tahu secara mendalam mengenai politik atau budaya, tapi dia suka mengungkapkan pendapatnya tentang hal itu dengan suara yang berat dan dengan menggerakan alis kanan yang tajam menuntut perhatian dan rasa hormat. Kakekku benar-benar khawatir bahwa, tanpa tambahan gerakan alis dan suaranya, dia tidak akan bisa membuat Sasha terkesan dengan isi opininya. Dia akhirnya duduk santai sembari membaca beberapa edisi terbaru Pravda, dengan harapan bisa membangun opini dengan baik.

Lalu giliranku untuk mengajukan pertanyaan, dan aku menggunakan wajah bocah untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak mereka. “Apakah dia menakutkan?”

“Tidak! Tentu saja tidak!” Nenek berkata tanpa basa-basi.

Dan ibuku berkata, “Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri!”

Aku merasa malu. Kuputuskan, meski Sasha sangat menyeramkan, aku pura-pura tidak takut, demi Olga.

Pernahkah kamu membenci penantian yang seolah tak berujung antara waktu tamumu seharusnya tiba dan saat mereka benar-benar membunyikan bel pintu rumahmu? Para perempuan di keluargaku terkenal karena selalu tepat waktu, jadi semua persiapan telah dilakukan. Daging ala Prancis sudah siap di dalam oven yang hangat. Salad telah dicampur dan dihias dengan irisan wortel rebus. Potongannya disusun dengan hati-hati dan sesuai warna. Semua sudah mandi, berhias dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Yang harus kami lakukan hanyalah menunggu.

Sekarang ini, aku memiliki media sosial untuk mengisi saat-saat seperti itu. Aku bisa berkali-kali me-refresh media sosialku lagi dan lagi, membunuh menit demi menit. Tapi saat itu, apa yang harus kulakukan? Aku terus berputar-putar di antara jendela dapur, tempat aku bisa melihat sekilas lokasi Olga dan Sasha akan turun dari bus, dan pintu depan apartemen, tempat yang jika kamu menempelkan telinga ke bingkai jendela, kamu bisa mendengar suara lift apartemen bergerak naik. Inilah yang selalu kulakukan saat Ayah seharusnya datang dan menjemputku. “Hentikan! Kau terlihat menyedihkan,” kata ibuku, tapi ia sendiri yang menyedihkan. Mencoba baju yang berbeda sebelum ayahku datang, menyisir rambutnya dengan cara ini dan itu, memoles dan memoles kembali riasannya, dan kemudian berlari untuk bersembunyi di kamar tidur begitu dia mendengarku berteriak, “Ayah datang!”

Aku kehilangan momen pertama untuk menyambut Sasha dan Olga. Bel pintu berbunyi ketika aku, duduk di toilet, dengan celana dalam tersangkut di lutut. “Tidak!” Teriakku. “Jangan buka sampai aku keluar!” Beberapa hal lebih memalukan bagiku daripada terjebak di toilet ketika tamu kami datang. Terutama oleh tamu seistimewa mereka. Tapi, tentu saja, ibuku tetap membuka pintu. Siapa yang akan mendengarkan seorang anak yang meminta hal tak penting dari toilet?

Aku di belakang nenek dan keluar dari kamar mandi yang tersembunyi di baliknya. Saat kami sampai di pintu masuk, Sasha dan Olga telah melepaskan mantel mereka dan dengan penuh semangat menyeka kaki mereka di atas keset. Sasha lebih pendek dan lebih besar dari Olga, dengan wajah persegi yang empuk. Matanya setengah tertutup; Sepertinya dia menyipitkan mata. Olga memegang tangan kirinya. Semua orang bergantian bersalaman dengan tangan kanannya, dan dia menyebut nama semua orang dengan tegang dan menyebalkan. Aku melangkah maju. Olga mencondongkan tubuh untuk menciumku dan mengatakan bahwa dia telah memberi tahu Sasha bahwa aku adalah anak kecil favoritnya dari seluruh anak kecil di dunia dan sangat ingin bertemu denganku. Aku melihat bahwa dia tidak hanya memegang tangan Sasha, tapi bermain dengan jarinya. Kemudian aku sadar bahwa itu adalah bahasa isyarat. Olga telah berbicara dengan Sasha sepanjang waktu.

Sasha menjulurkan tangan kanannya ke depanku, dan aku menjabat tangannya. Dia menutup telapak tangannya di atas jariku dan tersenyum pada sesuatu di belakang punggungku. Aku berbalik, tapi tidak ada apa-apa di sana, kecuali kulkas kami yang mendengung dengan tumpukan kotak kosong di atasnya. Olga meraih tangan kirinya dan meletakkannya di atas kepalaku, dan dia menunduk dan hampir menatap mataku. Ada ungkapan yang digunakan orang saat seseorang menghalangi pandangan mereka: “Hei, kamu tidak terbuat dari kaca!” Tapi Sasha melihat melaluiku dan melampauiku seolah-olah aku benar-benar terbuat dari kaca. Aku takut dan ingin bersembunyi, tapi aku melihat Olga menatapku, jadi aku tersenyum dan meremas tangan Sasha. Dia menyebutkan namaku dan menggunakan bahasa isyarat untuk Olga. Dia menerjemahkan bahwa Sasha benar-benar senang bertemu denganku. Aku tahu ia jujur, karena dia berseri-seri saat mengatakannya. Atau mungkin dia sudah berseri-seri sejak awal.

“Kamu terlihat berseri-seri, Olga!” kata kakekku dengan suara menggelegar. Nenek setuju dengannya. Dan ibuku meminta semua orang mengikutinya ke meja.

Salad Olivier ternyata bukan makanan ideal untuk orang buta. Semua potongan kubus dari sayuran dan daging, terpental dari garpu, berserakan di piring. Sasha harus mengejar  potongan kubus itu di sekelilingnya, mengetuk garpu di permukaan piring seperti menggunakan tongkat ke trotoar. Kapan pun dia berhasil memburu sebuah kubus, dia akan menyesap cognac-nya, seolah-olah merayakannya. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya, meskipun aku tahu ini tidak sopan. “Kamu harus tahu diri!” kataku pada diriku sendiri.

Awalnya, Olga membiarkan Sasha fokus pada makanannya sementara dia terus berbicara.

Tidak, Sasha tidak terlahir tuli dan buta. Dia kehilangan penglihatan dan pendengarannya pada usia empat tahun, setelah pertempuran panjang dengan penyakit meningitis. Orangtuanya menolak untuk memperlakukannya sebagai orang difabel. Mereka mengajarinya untuk mandiri. Kemudian mereka mengirimnya ke sekolah khusus untuk anak-anak tuna rungu dan tuna netra. Sekolah itu adalah sekolah yang bagus, dan terbukti, Sasha menjadi siswa yang brilian. Dia adalah satu dari hanya empat lulusan yang diundang untuk belajar di Universitas Negeri Moskow. Olga mengatakan ini dengan ungkapan bangga, sama persis dengan yang diungkapkan ibuku saat dia memberi tahu orang tentang prestasiku. Keempat siswa tersebut melanjutkan pendidikan doktor di bidang Filsafat, namun prestasi Sasha sangat luar biasa, karena dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar buta dan tuli dalam kelompok tersebut. Teman sekamar Sasha, Andrei, misalnya, bisa mendengar dengan baik dengan bantuan alat bantu dengar. Bayangkan, betapa mudahnya belajar baginya! Tidak adil membandingkan kariernya dengan Sasha.

“Tentu saja, ini tidak adil,” kata kakekku dengan alis kanannya yang mengesankan. “Sebenarnya, saya baru saja membaca di Pravda. . . “

Tapi saat itulah Sasha, yang tidak tahu bahwa kakekku sedang berbicara, memotongnya. Dia membuat serangkaian gerakan cepat dengan jari-jarinya, dan Olga mengatakan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih atas makanannya. Semuanya lezat, tapi terutama dagingnya. Dia ingin tahu resep rahasia masakan itu.

“Resep rahasianya itu sangat banyak,” kata ibuku.

Olga menerjemahkan ini untuk Sasha dan bahkan meninju tangannya beberapa kali. Saat itulah dia tertawa untuk pertama kalinya. Tawanya terdengar seperti deru erangan, tapi kami sangat senang karena dia menghargai makanan dan humor ibuku. (Tidak semua orang melakukannya.)

Menjelang akhir makan, Sasha sudah mulai berbicara lebih banyak. Jika alkohol melonggarkan lidahmu, mungkin juga bisa mengendurkan jarimu. Dia menggerakan jari-jarinya ke telapak tangan Olga dengan kecepatan luar biasa, dan Olga menerjemahkan untuk kami. Dia berbicara tentang bau dan betapa pentingnya hal itu baginya, betapa dia tahu bahwa kami adalah orang baik hanya dengan aroma apartemen kami yang hangat dan nyaman. “Ini bau dagingnya,” bisik ibuku, tapi kulihat dia senang. Dia berbicara tentang hutan yang dulu digunakan ibunya saat dia masih kecil. Ibunya akan menuntunnya ke pohon atau semak-semak dan memintanya menyentuhnya, dan dia mengajari Sasha cara memetik buah beri. Dia tahu bagaimana menemukan stroberi liar hanya dengan tangannya. Olga sebelumnya belum pernah mencoba memetik stroberi liar. Juli lalu, ketika Olga mengunjunginya di Moskow, Sasha membawanya ke hutan dan mengajarkan kepadanya cara menemukannya.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang lain, dan aku ingin Olga menerjemahkannya, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak dapat, bahwa terlalu banyak dan sebagian besar bersifat pribadi. Ada air mata di matanya. Tiba-tiba dia meraih tangan Sasha dan menciumnya.

Pada saat itu, semua merasakan adanya sesuatu di dalam ruangan. Yah, aku tidak bisa memastikan tentang perasaan kakek-nenekku, tapi aku merasakannya, dan aku tahu bahwa Ibu juga merasakannya. Seolah ada sesuatu yang besar dan besar tumbuh dari meja makan kami, mengulurkan tangan naik-turun, seperti sebuah katedral yang tinggi menembus langit.

Tidak seperti hal lain dalam hidupku sampai saat itu.

Aku berharap bisa mengatakan bahwa aku tahu apa itu, tapi ternyata tidak. Apa yang aku rasakan benar-benar menakjubkan dan tidak terdefinisikan.

“Cinta itu memang buta,” kata nenekku setelah mereka pergi.

“Buta dan tuli,” sindir kakekku.

Tapi ibuku tidak mengatakan apa-apa. Dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu di belakangnya. Aku mengejarnya. Dia tidak menyalakan lampu, jadi aku tidak dapat melihatnya, tapi aku bisa mendengar bahwa Ibu sedang menangis. Aku berjalan ke tempat tidurnya dan mengulurkan tanganku sambil berharap bisa menemukan dan menyentuh bibirnya. Apa yang aku temukan adalah wajahnya, basah dan licin karena air mata.

“Sini,” bisiknya. Aku naik ke tempat tidur dan memeluknya dari belakang sekuat yang aku bisa. Aku menangis di bahunya, yang terasa hangat dan gemetar. Aku mencoba meremasnya bahkan lebih kencang untuk menghentikan tubuhnya yang gemetar, untuk menghiburnya.

Aku mengasihani dia. Tapi aku mencintainya lebih dari aku mengasihani dia. Aku sangat mencintainya sampai sulit bernapas. Dan satu hal lagi: pada saat itu, aku merasa dekat dengan ibuku dengan cara yang sama sekali baru. Bukan sebagai anak tapi sebagai sesama perempuan, yang setara.

Sasha dan Olga menikah akhir tahun itu, setelah perceraian Olga terjadi. Sejauh yang aku tahu, mereka hidup bahagia selamanya sampai kematian memisahkan mereka. Olga yang meninggal terlebih dahulu. Umurnya baru empatpuluh dua. Kanker. Biasanya kanker yang menyebabkan perempuan meninggal di usia muda. Sasha menikah kembali setahun kemudian. Anehnya, istri keduanya juga menceraikan suaminya untuk bersama Sasha.

Tapi ibuku, ibuku tidak pernah menikah lagi.

 

 

Naskah asli ada di http://www.newyorker.com/magazine/2017/04/24/deaf-and-blind

Lara Vapnyar adalah seorang penulis Rusia-Amerika kelahiran 1976 yang saat ini tinggal di Amerika Serikat.

Vapnyar telah menerbitkan tiga novel dan dua koleksi cerita pendek. Karyanya juga pernah muncul di The New Yorker, Majalah Harper, Open City (majalah), dan Zoetrope: All Story.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *