Tubuh dan Roh dalam Puisi-Puisi Joko Pinurbo

Posted: 28 April 2018 by Anis Mashlihatin

Konstruksi Tubuh Joko Pinurbo: Ruang Pascakolonial di Balik Celana dan Di Bawah Kibaran Sarung
Dwi Rahariyoso
Araska
November 2017
292
Rp58.500

Buku ini disusun oleh seorang Master of Art dan buku ini telah diujikan di hadapan profesor-profesor sastra UGM dan mendapat nilai yang memuaskan. Hampir belum ada buku yang mengkaji dan mengupas kedalaman puisi-puisi Joko Pinurbo (seorang penyair kontemporer yang telah menciptakan struktur dan konstruksi baru perpuisian Indonesia), sehingga buku ini akan menjadi pilihan utama para pecinta sastra dan puisi khususnya. Membaca buku ini, pembaca sekaligus belajar bagaimana menulis puisi.

 

Seperti yang dikemukakan Faruk dalam pengantar buku ini, Joko Pinurbo sekarang ini bisa dibilang sebagai penyair paling populer di Indonesia. Puisi-puisinya digandrungi oleh hampir semua kalangan. Penggalan puisi-puisinya saban hari seliweran di lini masa media sosial kita. Akan tetapi, kajian yang mendalam terhadap puisi-puisi Joko Pinurbo hampir belum pernah dilakukan. Buku yang merupakan karya hasil tesis Dwi Rahariyoso berjudul Konstruksi Tubuh Joko Pinurbo: Ruang Pascakolonial di Balik Celana dan Di Bawah Kibaran Sarung ini menempati ruang kosong tersebut.

Sejak awal Rahariyoso sudah memfokuskan pembahasan pada persoalan konstruksi tubuh. Berdasarkan penelusuran Rahariyoso, tubuh dalam puisi Indonesia belum muncul pada Angkatan Pujangga Baru, tetapi dimunculkan secara signifikan oleh Angkatan 45 yang diwakili oleh Chairil Anwar. Oleh Chairil—dengan mengambil contoh puisi “Doa” dan “Isa”—tubuh digunakan sebagai medium untuk menghadirkan roh. Lalu, muncul pertanyaan: bagaimana tubuh dihadirkan dalam puisi Indonesia Modern? Sebuah pertanyaan yang memantik kegelisahan Rahariyoso sebagai peneliti.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Rahariyoso menggunakan antologi puisi Celana dan Di Bawah Kibaran Sarung karya Joko Pinurbo. Rahariyoso memberikan alasan mengapa dia memilih objek kajian tersebut sebagai fokus penelitian. Menurutnya, tak banyak penyair Indonesia yang mengeksplorasi tubuh dalam penciptaan puisi-puisinya. Di antara yang tak banyak itu, Joko Pinurbo adalah penyair yang paling menonjol. Dua antologi awal karya Joko Pinurbo tersebut dianggap mampu mengakomodasi bagaimana tubuh dicitrakan.

Rahariyoso berasumsi bahwa selama ini tubuh dalam puisi-puisi Joko Pinurbo dicitrakan liar, dangkal, dan fana. Keliaran itu, menurut Rahariyoso, bukan tanpa tujuan. Tubuh yang dicitrakan liar tersebut merupakan medium untuk memunculkan roh. Meskipun asumsi tersebut masih boleh dipertanyakan dari mana datangnya, yang jelas, asumsi itulah yang mendasari Rahariyoso untuk menganalisis puisi-puisi Joko Pinurbo.

Selanjutnya, konsep ruang dalam pascakolonialisme yang dimotori oleh Sara Upstone digunakan untuk menjawab persoalan tersebut dengan alasan bahwa jejak-jejak kolonialisme tak pernah lepas dari persoalan tubuh. Konsep itu setidaknya dapat mengidentifikasi apakah tubuh dalam puisi-puisi Joko Pinurbo termasuk dalam tubuh metaforis (tubuh yang dibagi-bagi dan hierarkis) atau tubuh metonimis (tubuh yang berkesinambungan dan tidak lagi memungkinkan adanya keterbagian). Bagi saya pribadi, konsep yang paling menarik yang ditawarkan Upstone adalah tubuh chora (choric body), yaitu tubuh yang menolak pendefinisian yang absolut.  

Rahariyoso membuktikan asumsinya tersebut dengan analisis yang tekun dan mendalam pada satu per satu puisi—dua belas puisi dari antologi Celana dan tiga belas puisi dari Di Bawah Kibaran Sarung—yang dijadikan sampel. Hanya, sebelum melakukan analisis pada bab 4 dan 5, Rahariyoso agak terburu-buru menarik simpulan di bab 3, bahwa tubuh dalam puisi-puisi Joko Pinurbo masih inferior di hadapan roh yang superior, tubuh dihadirkan untuk kemudian dinihilkan/dihancurkan demi mengunggulkan roh/ide. Cara kerja ini berpotensi membuat pembaca yang tak tabah enggan melanjutkan bacaan.

Meskipun demikian, bagi pembaca yang tekun, analisis pada bab 4 dan 5 tersebut akan terasa kontradiktif. Sebab, di satu sisi, hasil analisis menunjukkan bahwa tubuh dalam puisi-puisi Joko Pinurbo termasuk dalam tubuh metaforis karena masih membagi-bagi tubuh secara dualistik. Di sisi lain, analisis tersebut merepresentasikan tubuh sebagai choric body yang menolak pembagian.

Dengan begitu, sepertinya pembacaan memang tak bisa berhenti hanya pada dua bab tersebut. Jika ingin mendapatkan titik terang, mau tidak mau pembaca harus melanjutkan bacaan karena analisis dialektika tubuh dan roh itu masih diperdalam lagi pada bab 6. Rahariyoso tampaknya memang sengaja menguji ketabahan pembaca sebab bab ini seolah mengulang analisis yang disajikan pada bab sebelumnya. Pembaca yang tidak cermat akan mudah tergelincir pada pemahaman yang keliru. Pada bab 6 ini Rahariyoso mengungkap (simpulan, yang sekali lagi, terburu-buru) bahwa keberadaan roh yang signifikan tidak sepenuhnya membebaskan kebaruan gaya berpuisi Joko Pinurbo dalam dunia perpusian Indonesia modern karena ia masih mengulang kembali gagasan roh yang sudah hadir secara umum.

Sebenarnya, pada titik itu kegelisahan Rahariyoso sudah terjawab. Namun, Rahariyoso masih meluaskan pembahasan konstruksi tubuh pada diskursus modernisme-posmodernisme pada bab 7. Rahariyoso mengaitkan antara konstruksi tubuh, pascakolonialisme, dan posmodernisme. Melalui diskursus modernisme-posmodernisme ini Rahariyoso berhasil menemukan paradoks dalam puisi-puisi Joko Pinurbo.

Menurut Rahariyoso, konstruksi tubuh yang dihadirkan lalu dinihilkan lagi untuk kembali kepada roh dapat dibaca sebagai suatu strategi pengungkapan estetik dengan gaya posmodernisme yang semu. Joko Pinurbo, dengan demikian, belum secara total mengonstruksi tubuh sebagai fenomena posmodernisme. Cara pengungkapannya memang posmodern (melalui tubuh), tetapi kembali terperangkap pada yang modern (roh/spirit). Dengan kata lain, dalam puisi-puisinya, Joko Pinurbo menggunakan yang posmodern untuk mencapai yang modern.

Mengingat bahwa buku ini berasal dari penelitian tesis yang cenderung menggunakan alat bedah teoretis yang rumit, selayaknya Rahariyoso memberikan penjelasan dengan bahasa dan analogi sederhana agar memudahkan pembaca untuk memahaminya karena penyertaan bagan-bagan saja tidaklah cukup.

Terlebih lagi, ketidaksistematisan penyusunan buku ini menyebabkan Rahariyoso banyak sekali mengulang pernyataan. Akibatnya, bab terakhir yang seharusnya berupa simpulan, hanya berisi ringkasan. Selain itu, buku ini bisa lebih elok andai saja cacat yang sifatnya teknis tak dilakukan begitu sering. Misalnya, kesalahan cetak sejak halaman daftar isi serta daftar pustaka yang tidak sesuai akan cukup mengganggu bagi pembaca yang cermat dan mau membaca sampai tuntas.

Lepas dari retak-retak itu, melalui analisisnya yang tekun buku ini seolah menantang peneliti-peneliti selanjutnya untuk melakukan kajian yang lebih kritis dan mendalam terhadap puisi-puisi Joko Pinurbo khususnya dan puisi-puisi Indonesia pada umumnya. Tentunya, dengan berbagai cara pandang yang tajam dan segar.

 

Pendapat Anda: