Senyum Karyamin: Buku Ramalan Ahmad Tohari

Posted: 20 December 2017 by IR Rabbani

Senyum Karyamin Book Cover Senyum Karyamin
Ahmad Tohari
Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Juni 1989 & Cetakan X, Maret 2015
x + 78 halaman
Rp 38.000,00

Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”.

Selain itu, gaya bahasa Tohari “lugas, jernih, tapi juga sederhana, di samping kuatnya gaya bahasa metafora dan ironi”.

 

“Sastra itu universal, rahmatan lil-‘alamin, dan siapa saja yang menuliskannya, berarti ia membaca zaman.” (Ahmad Tohari)

 

Kurang lebih empat dekade lalu, Ahmad Tohari menuliskan cerpen “Jasa-jasa buat Sanwirya” yang selanjutnya mendapatkan penghargaan Hadiah Sayembara Kincir Emas dari Radio Nederlands Wereldomroep 1975. Lalu menyusul berturut-turut cerpen “Si Minem Beranak Bayi” (1982), “Surabanglus” (1983), “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” (1983), “Ah, Jakarta” (1984), “Blokeng” (1985), “Syukuran Sutabawor” (1985), “Rumah yang Terang” (1985), “Kenthus” (1985), “Orang-orang Seberang Kali” (1986), “Wangon Jatilawang” (1986), “Senyum Karyamin” (1987), dan “Pengemis dan Shalawat Badar” (1989). Cerpen-cerpen tersebut lalu dihimpun dan diterbitkan pertama kali pada bulan Juni 1989 ke dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin.

Memerhatikan kembali titimangsa dituliskan ataupun dimuatnya cerpen-cerpen tersebut, saya mengerutkan kening sambil bersenandika sepintas, “Bagaimana mungkin cerpen yang dituliskan lebih kurang empat dekade lalu, masih segar untuk dibaca hari ini?” Muncullah keinginan menyelisiknya, mengupasnya, meski cuma selayang pandang.

Mengupas Senyum Karyamin artinya menemukan alasan tiga belas cerpen di dalamnya dihadirkan oleh pengarang. Kecuali cerpen “Jasa-jasa buat Sanwirya” (1976), cerpen-cerpen lainnya dimuat berkisar pada tahun 80-an. Tetapi, baik 70-an maupun 80-an, artinya cerpen-cerpen tersebut tetaplah lahir di masa Orde Baru (1966-1998). Dalam kacamata Agus R. Sarjono, rentang tahun 70-an sampai dengan 80-an masuk ke dalam fase Orde Baru I dan II, ditandai dengan pemberedelan banyak media massa, termasuk pers mahasiswa yang tumpas untuk tidak pernah muncul kembali ke permukaan hingga sekarang, dan sastranya berada di tengah lingkungan masyarakat yang mengalami proses depolitisasi yang nyaris total1)Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang, hlm. 180..

Depolitisasi yang jelas-jelas bertujuan mematikan lawan politik pemerintah dengan cara apa pun secara tidak langsung disindir lewat cerpen “Ah, Jakarta”. Dari cover cerpen tersebut, terlihat sekadar menceritakan pemberantasan gali, tetapi jauh dari itu, pembacaan yang saya dapatkan adalah tentang pemberantasan lawan politik juga. Alasannya, karib tokoh “Aku” dalam cerpen tersebut “hanya baru akan” berangkat melaksanakan operasi perampokan rumah, belum terlaksana. Seandainya dilakukan pembacaan hermeneutik–sebagaimana dilakukan Jabrohim dalam buku Senyum Karyamin: Sebuah Tinjauan Stilistika–terhadap cerpen ini, bisa jadi hal yang masih berupa rencana saja jika telah tercium, merupakan simbol bahwa walaupun hanya ada sedikit gerakan berpolitik, tetap mesti dilumpuhkan, sebab andai dibiarkan dapat menjelma lawan politik bagi pemerintah yang tengah berkuasa.

Kebobrokan-kebobrokan pemerintah Orde Baru juga diwakili beberapa cerpen lain. Perhatikanlah “Jasa-jasa buat Sanwirya”, “Surabanglus”, dan “Senyum Karyamin” yang mewakili orang-orang desa dan orang-orang kecil yang disuarakan Ahmad Tohari: mereka mesti mempertaruhkan nyawa di atas nira, keluar-masuk hutan, dan turun-naik mengangkut batu kali untuk menyambung hidup, namun masih saja menjadi korban tagihan sumbangan untuk orang kelaparan di Afrika (Ethiopia tahun 80-an).

Masih soal kebobrokan demi kebobrokan Orde Baru, kita ingat juga bahwa era 80-an ditandai dengan mekarnya kota untuk memetropolitakan diri dan menjadi modern sehingga berbagai gedung tinggi, bioskop, supermarket, dan panti pijat marak bermunculan bagai kebakaran hutan di musim kemarau2)Ibid, hlm. 181.. Artinya, secara tidak langsung kawasan pedesaan menjadi makin tersampingkan. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Ahmad Tohari, yakni “Si Minem Beranak Bayi” dan “Rumah yang Terang” secara tidak langsung membicarakan hal tersebut. Disebabkan kurang mampu dan minimnya pengetahuan orang-orang desa tentang program Keluarga Berencana (KB) dan Listrik Masuk Desa (LMD) yang digencarkan di era 80-an, maka dampaknya adalah tidak diacuhkannya dan ada anggapan bahwa listrik yang menjadi sumber penghidup alat-alat elektronik lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat.

Cerpen “Blokeng” dan “Syukuran Sutabawor” mencerminkan perilaku masyarakat sebagai dampak bengisnya pemerintahan: masyarakat jadi menghalalkan segala cara, asalkan identitas sebagai pelaku tetap tersembunyi (aman), yang dicerminkan dengan tidak diketahuinya identitas pria “penyerbu” Blokeng. Di dalam cerpen “Syukuran Sutabawor”, dampak tersebut disampaikan melalui sudut pandang cerita dengan nihilnya penyebutan identitas sumber utama berita, hanya dikatakan sebagai “sumber terpercaya”.

Dampak yang ditimbulkan dari kebobrokan demi kebobrokan, termasuk disampingkannya pendidikan masyarakat pedesaan oleh pemerintah Orde Baru, apa lagi kalau bukan melahirkan generasi yang serupa “Orang-orang Seberang Kali” dan tokoh-tokoh dalam cerpen “Kenthus”? Malah lebih jauh, seperti konflik dalam “Pengemis dan Shalawat Badar”: melahirkan orang-orang yang kurang menghargai selawat, tanda rindu seseorang kepada panutan hidupnya, Muhammad saw., padahal sebagaimana pesan dalam cerpen “Wangon Jatilawang”, bahwa kita belumlah tentu lebih berharga daripada seorang Sulam, wong gemblung yang dalam cerita selalu ditemui tokoh “Aku”.

Dari seluruh tokoh yang diciptakan Ahmad Tohari lewat tiga belas cerpen yang terhimpun dalam Senyum Karyamin, Karyamin menjadi satu-satunya tokoh “pemenang”. Alasannya, seandainya kita komparasikan, Karyamin ialah satu-satunya tokoh yang mampu tersenyum sabar, nrimo, dan rila sebagaimana sikap hidup khas orang Jawa tradisional di atas nasib yang menimpa, baik dari Tuhan maupun konyolnya kebijakan pemerintah. Karyamin kebal menghadapi kekonyolan-kekonyolan hidup pada masa Orde Baru, dan justru memasang senyum, meski penuh ironi. Sepertinya, sikap semacam Karyamin (tersenyum, lalu tertawa keras hingga tubuh roboh) secara sengaja dipasangkan oleh Ahmad Tohari sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah Orde Baru, bahwa terlalu banyak kebobrokan dan kekonyolan yang dilabeli dengan kebijakan.

***

 

Tiga belas cerpen yang terhimpun dalam Senyum Karyamin dan berkisar tahun 1970-80-an memiliki kesan bahwa permasalahan-permasalahan yang diangkat di dalamnya merupakan permasalahan kekinian juga. Bagaimana bisa kesan demikian dapat muncul, sementara rentang jarak dituliskannya dengan hari ini lebih kurang empat dekade, bukan waktu yang singkat jika kita melihat pesatnya perkembangan dan perubahan sosio-kultur pada masyarakat?

Saya coba menerka-nerka yang dimaksudkan Ahmad Tohari sebagai “Sastra itu universal, rahmatan lil-‘alamin, dan siapa saja yang menuliskannya, berarti ia membaca zaman”. Barangkali, permasalahan-permasalahan yang diangkat oleh Ahmad Tohari di dalam antologi Senyum Karyamin, selain menyinggung permasalahan masyarakat di era 80-an, juga bisa diibaratkan sebagai ramalan tentang masa depan. Bisa kita lihat kondisi saat ini, kasus-kasus yang terkesan mirip atau hampir sama dengan permasalahan lawan politik (cerpen “Ah, Jakarta”) kita temukan pula pada kasus pemerintahan sebelum era presiden Joko Widodo: Susilo Bambang Yudhoyono “melenyapkan” Antasari Azhar dengan fitnah pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen untuk menutupi kasus-kasus korupsi yang marak. Penderitaan orang-orang kecil yang terus-menerus dibebani seperti diangakat di dalam “Jasa-jasa buat Sanwirya”, “Surabanglus”, dan “Senyum Karyamin” masih rawan ditemukan, katakanlah tragedi penggusuran masyarakat kecil di Jakarta yang belum sepenuhnya lenyap dari ingatan, sengketa lahan bandara yang pernah terjadi di Lombok dan kini sedang melanda Kulonprogo, juga banyak kasus lainnya. Akan tetapi, paling tidak masyarakat masih bisa memasang senyum getir sebagaimana laku Karyamin.

Permasalahan-permasalahan lain yang diangkat di dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin, mengenai pendidikan rakyat kecil misalnya, kita bisa melihat banyaknya masyarakat kecil di tempat-tempat terpencil yang masih belum mampu meneguk segarnya pendidikan. Boleh jadi di Pulau Jawa sudah atau tengah diselesaikan, tetapi bagaimana dengan kondisi masyarakat kecil di NTB, NTT, Papua, atau kawasan Indonesia timur lainnya? Bisa disaksikan sendiri. Permasalahan lebih universal seperti kekeringan akhlak yang diangkat dalam “Orang-orang Seberang Kali”, “Kenthus”, dan “Pengemis dan Shalawat Badar” tidak perlu dipertanyakan lagi rasanya, cukup kita keluar pintu rumah dan menengok kiri-kanan, tapi barangkali lebih bijaksana andai kita berdiri di depan cermin, memandang kedalaman diri. Ini artinya, dengan kehadiran antologi ini sejak puluhan tahun lalu, seharusnya kita bisa menyiapkan kuda-kuda untuk menghadapi permasalahan-permasalahan di dalamnya, yang serupa hari ini.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

References   [ + ]

1. Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang, hlm. 180.
2. Ibid, hlm. 181.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *