Orang-orang Bloomington yang Kesepian

Posted: 19 August 2017 by Muhammad Nur Alam Tejo

Orang-Orang Bloomington Book Cover Orang-Orang Bloomington
Budi Darma
Kumpulan Cerita Pendek
Noura Books Publishing
316 hlm

 

“Gerimis mempercepat kelam”— Chairil Anwar

Saya baru pertama kali membaca tulisan Budi Darma dan langsung jatuh cinta dengan caranya bercerita. Kesan pertama yang saya dapat ketika membaca Orang-orang Bloomington adalah seperti ‘orang yang sedang kebelet pipis’. Begitu lancar dan mengalir, menghabiskan lembar demi lembar lalu tak terasa sudah sampai di akhir halaman buku. Budi Darma memang bukan sastrawan sembarangan. Dalam diskusi aliran-aliran dalam sastra Indonesia, Orang-orang Bloomington karya Budi Darma biasanya disebutkan sebagai satu dari karya-karya absurd tahun yang mulai banyak bermunculan mulai dekade 1970-an (disejajarkan dengan karya absurd sastrawan lain macam Iwan Simatupang dan Putu Wijaya). Tak heran melalui Orang-orang Bloomington, Budi Darma berhasil menyabet penghargaan S. E. A. Write Award tahun 1984 dari Pemerintah Thailand. Buku yang merupakan kumpulan cerpen tersebut berisi dari tujuh cerpen yang masing-masing memiliki kekuatan yang unik, baik dari segi penokohan maupun konflik-konflik yang diangkat.

Rasanya sulit untuk mendeskripsikan kembali tentang ketujuh cerita pendek tersebut. Cerita yang ditulis sekitar tahun 1976-1979 seolah tak lekang dimakan waktu, masih relevan untuk dibaca hingga kini. Budi Darma membuat karakter tokoh dalam cerpennya menjadi hidup dan terus diingat pembaca (setidaknya itu yang saya alami). Melalui ‘Laki-Laki Tua Tanpa Nama’, ‘Joshua Karabish’, ‘Keluarga M’, ‘Orez’, ‘Yorrick’, ‘Ny. Elberhart’, dan ‘Charles Lebourne’ Budi Darma seakan mengajak pembaca untuk bermain-main dan menebak akhir cerita yang hampir tak tertebak.

Orang-orang Bloomington mengulas tentang perdebatan batin tokoh utama dalam kehidupan sehari-hari yang amat mudah pembaca temui di tengah-tengah masyarakat. Seakan setiap tulisan disusun berdasarkan cerita yang memang nyata terjadi, begitu pulalah Budi Darma berhasil membuat pembaca teraduk emosinya ketika membaca setiap baris demi baris. Saya suka sekali dengan pandangan Budi Darma dalam menuliskan sisi gelap manusia. Ia memberikan warna lain bagi perkembangan sastra Indonesia dengan menawarkan pikiran liar manusia. Ada sifat dengki, pemarah, kecewa, sadis dan sederet sifat negatif lainnya yang memang membuat kita minimal geleng-geleng kepala atau sekadar berhenti untuk meminum air putih.

Jika diperhatikan secara teliti ada garis linier yang menghubungkan tiap-tiap cerpen dalam buku tersebut. Budi Darma sepertinya sengaja membiarkan tokoh “Aku” dalam tiap cerpen menjadi seseorang yang selalu penasaran akan banyak hal. Dan yang paling menyebalkan adalah tokoh “Aku” sepertinya selalu dipenuhi dengan rasa dendam. Setiap tokoh Aku” merupakan simbol dari kesengsaraan, kata Budi Darma dalam sebuah wawancara. Terkadang, saya sendiri merasa setiap tokoh “Aku” dalam buku ini merupakan korban dari kejahatan lingkungannya. Uniknya, sering kali pula keadaan menjadi terbalik, tokoh saya menjadi pelaku tindak kejahatan (meski tidak disengaja, seperti ada sesuatu yang memaksa), semisalnya saja dalam cerpen Yorrick.

Dalam cerpen pertama yang berjudul “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”, misalnya. Di awali dengan tokoh “Aku” yang merupakan penduduk baru di Fess. Fess digambarkan sebagai sebuah kota yang sunyi dan di sana ada sebuah gang sepi yang hanya berpenduduk tiga wanita tua yang hidup sendiri. Dan pada suatu hari ada orang tua yang baru menempati loteng Ny. Casper. Lelaki tua ini memang sedikit aneh, dia punya kebiasaan mengacung-acungkan pistol miliknya di depan jendela lotengnya. Si “Aku” yang penasaran dengan sosok laki-laki tua ini pun secara agresif mencari informasi tentangnya. Mulai dari bertanya-tanya kepada Ny. Casper sang tuan rumah, hingga bertanya ke pemilik sebuah toko kecil di Fess. Tokoh “Aku” selalu diliputi rasa penasaran.

Lalu, dalam cerpen “Keluarga M” Tokoh “Aku” memiliki rasa dendam kepada dua orang bocah kecil. Si tokoh “Aku” diceritakan merasa terganggu dengan tingkah laku dua bocah yang tinggal satu apartemen dengannya. Kedua bocah ini dikira telah “merusak” mobil si tokoh “Aku”—membuatnya baret dengan paku. Si “Aku” ini bukan hanya mengharapkan kedua bocah ini celaka, tapi juga bertindak untuk mencelakakan keduanya. Padahal, dalam situasi normal, saya pribadi sebagai pembaca akan berkomentar bahwa masalah yang dihadapi tokoh aku adalah hal yang sepele, tak perlulah bertindak sampai sesadis itu. Tapi, Budi Darma dalam hal ini memang jenius dalam menciptakan tokoh-tokoh menyebalkan: orang-orang biasa yang minta digampar. Saya kira, inilah alasan mengapa Budi Darma telah memberikan warna lain dalam sastra Indonesia. Ya… Karena kemampuannya menciptakan sifat emosional yang membikin para pembacanya gemas bukan main sekaligus menanti-nanti akhir dari kisah tersebut.

Sampai tahap ini dulu kesoktahuan saya perihal buku Orang-orang Bloomington karya Budi Darma. dan setelah membaca buku ini saya merasa nelangsa dan mengamini bahwa memang dunia sastra adalah dunia jungkir balik. Kita masuk ke dalam dunia tanpa moral, tanpa logika orang kebanyakan, dan sialnya kita hanyut dalam emosi yang diciptakan penulis. Kemudian saya jadi teringat dengan perkataan Charles Lebourne dalam buku tersebut, “memang kadang-kadang saya merasa tidak ada gunanya menentang arus umum, karena toh saya bukan apa-apa.”

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *