Usaha Mengeluarkan Nick Drake dari Belenggu Mitos

Posted: 27 January 2018 by Anis Mashlihatin

Nick Drake Sebuah Biografi Book Cover Nick Drake Sebuah Biografi
Patrick Humphries
Biografi
Yayasan Jungkir Balik Pustaka Indonesia
Pertama, 2017
426 halaman + xxviii
Rp100.000,00
Nick Drake: The Biography
Muhammad Al Mukhlishiddin

Pada tahun 1974 Nick Drake mati muda dalam keadaan terpuruk. Depresinya akut dan karir musiknya suram. Five Leaves Left, Bryter Layter, dan Pink Moon, tiga album yang dirilis semasa hidupnya tidak laku. Namanya asing di belantika musik Inggris. Sosok dan lagunya tenggelam dalam hingar-bingar rock 'n' roll tahun 60-an. Tapi bertahun-tahun kemudian dia menjadi sosok legendaris. Peter Buck (REM), Robert Smith (The Cure), dan Donovan hanyalah tiga dari sekian banyak orang yang menggandrungi musik-musiknya. Lewat buku ini Patrick Humphries menelusuri lika-liku hidup dan mitos yang menyelubungi pahawan romantik malang itu.

 

Kendati benar-benar asing di telinga saya, nama ini begitu enak didengar dan diucapkan: Nick Drake. Tapi bukan perkara nama yang enak didengar dan diucapkan itulah yang membuat saya berkeras meluangkan waktu berhari-hari untuk membaca buku Nick Drake Sebuah Biografi ini. Lantas, ada apa dengan Nick Drake? Apa yang bisa dihikmahkan dari seorang penyanyi-penggubah lagu yang mati terpuruk di usia yang masih sangat muda ini?

Nicholas Rodney Drake adalah penyanyi Inggris tahun 60-an akhir sampai 70-an awal. Semasa hidupnya, ia hanya merilis tiga album: Five Leaves Left, Bryter Lyter, dan Pink Moon. Album-album itu, meski tak perlu diragukan kehebatannya, tidak laku. Jangankan di Indonesia, di belantika musik Inggris pun namanya asing. Ia juga sosok penyanyi-penggubah lagu yang terlalu pemalu dan ogah-ogahan tampil di atas panggung. Sosok dan lagunya tenggelam dalam hingar-bingar rock n roll tahun 60-an. Kematiannya pun tak mengundang kehebohan.

Nah, bukankah semua itu adalah pondasi yang terlalu lemah untuk membangun mitos?  

Tapi toh di sanalah ia, berdiri di panggung mitos selama puluhan tahun. Kemalangannya dibingkai dengan romantika yang berlebihan. Ia bagai dewa yang tak tersentuh. Lalu, apa yang membuatnya dimitoskan dan sampai sekarang masih digandrungi oleh generasi Oasis dan Nirvana? Apakah karena kematiannya? Tapi rasa-rasanya bukan karena kematiannya yang terlalu dini yang menyebabkan Nick Drake begitu digandrungi. Dunia toh tak kekurangan penyanyi yang mati muda dan menjadi mitos, mulai Johny Ace hingga Kurt Cobain. Bedanya, jika sebelum meninggal mereka telah menjadi bintang, tidak demikian dengan Nick. Nick Drake baru tenar, lagu-lagunya baru digandrungi oleh banyak orang, setelah dirinya meninggal.

Oleh para penggemarnya, Nick Drake dikenang sebagai penyanyi-penggubah lagu sangat berbakat tapi menutup diri, pemurung-pemikir, dan depresi sepanjang hidup. Seolah-olah hanya itu yang layak dikenang dari Nick Drake selama dua puluh enam tahun (1948—1974) hidupnya. Alasan itulah yang menggerakkan Patrick Humphries menulis biografi Nick Drake ini. Berbeda dari buku-buku biografi yang seringnya jatuh pada memitoskan sang tokoh, Humphries menulis biografi Nick Drake ini dengan niatan mulia: mengentaskan sang bintang dari belenggu mitos. Humphries sendiri adalah penulis biografi yang mumpuni. Sebelum menulis biografi Nick Drake, dia telah menulis biografi Bob Dylan, Richard Thompson, Tom Waits, dan Bruce Springsten.  

Humphries mengawali buku ini dengan mozaik-mozaik yang menautkan dirinya dengan Nick Drake. Mulai dari pamannya (seorang dokter yang membantu kelahiran Nick di Myanmar) hingga kisah kapal Titanic. Humphries lalu menganalogikan kehidupan Nick Drake layaknya kapal Titanic, kapal yang begitu ingin mempertontonkan keunggulan dirinya pada dunia luas, tapi tenggelam sebelum mencapai tujuan. Namun, tragedi itulah yang justru membuat Titanic menjadi semakin “besar”. Sebuah kisah yang sangat mirip dengan kehidupan Nick Drake di belantika musik dunia.

Humphries menyusun buku ini dalam tiga bagian besar: sebelum (5 bab), selama (9 bab), dan setelah (7 bab). Sebelum memaparkan kehidupan Nick semasa bersekolah dan kuliah. Dengan riset yang mendalam dan detail, Humphries menunjukkan bahwa selama dua puluh enam tahun kehidupan Nick Drake, dua puluh tiga tahun dijalaninya dengan gembira. Teman-teman Nick yang diwawancarai, tak tak ada yang menyimpan ingatan Nick sebagai sosok yang murung dan menutup diri. Sebaliknya, ia dikenang sebagai pribadi yang ceria, menyenangkan, dan jago dalam olahraga. Apa yang dipaparkan oleh kawan-kawan Nick semasa sekolah di Marlborough dan kuliah di Cambridge itu membuyarkan citra lazim tentang Nick sebagai pribadi yang menarik diri dan nyaris mengidap gangguan jiwa.

Bagian selama memaparkan hari-hari ketika Nick Drake mulai terjun di dunia musik. Sebagai musisi, permainan gitarnya melebihi kemampuan manusia, sulit ditiru dan ditandingi. Lirik-liriknya pun memiliki kekuatan. Selain karena doyan membaca, menurut Joy Boyd yang memproduseri album Nick Drake, lagu-lagu Nick menjadi unggul karena Nick tidak mengamati orang lain. Dia mengamati dirinya sendiri. Nick mengobservasi dengan detail kesulitan hidupnya sendiri, yang penuh humor dan ironi. Itulah mengapa lagu-lagunya tak lekang oleh zaman.

Namun, bakat luar biasa itu tak diimbangi dengan kesediaannya untuk tampil di atas panggung. Gambaran ini benar-benar panjang. Humphries memerlukan beberapa bab hanya untuk menggambarkan bahwa Nick benar-benar enggan tampil di atas panggung. Tak jelas apa alasan di balik tindakan Nick tersebut. Pada bagian ini, Humphries juga menggali lebih dalam perubahan sikap Nick, dari bocah periang menjadi pribadi yang mulai menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Bagi saya, gambaran yang paling mewakili tentang itu adalah dia tipe lelaki yang membuat para perempuan ingin mengurusinya (hlm. 89). Satu kalimat itu sudah cukup memberikan efek visual di kepala saya tentang bagaimana sosok Nick Drake.

Selanjutnya, di bagian setelah, Humphries mengumpulkan sejumlah asumsi atas penyebab keterpurukan Nick yang berakhir dengan kematian. Sebagian besar orang menganggap bahwa keterpurukan Nick disebabkan oleh penjualan albumnya yang sekarat. Namun, Humphries tidak mengambil posisi sebagai eksekutor yang menentukan penyebab keterpurukan Nick Drake. Humphries memberikan pendapat-pendapat pribadi, tetapi tidak menghakimi. Humphries membiarkan pembaca menentukan dan memberikan penilaian sendiri dengan bantuan seabrek data dari wawancara yang dilakukannya.

Jika tujuan Humphries menyusun biografi ini adalah mengentaskan Nick Drake dari belenggu mitos, usaha itu dapat dikatakan berhasil. Keunggulan Humphries dalam menyusun biografi Nick Drake ini terletak pada kegigihannya menelusuri dan mengumpulkan data. Wawancara tidak hanya dilakukan pada orang-orang terdekat Nick, tetapi juga pada orang-orang yang hanya berinteraksi selintas dengannya. Keunggulan lainnya adalah Humphries mampu melihat konteks sosial, budaya, bahkan politik selama Nick Drake berkecimpung di belantika musik Inggris. Biografi ini menjadi lebih sempurna jika Humphries juga merambah lirik-lirik lagu Nick Drake. Akan tetapi itu tak dilakukannya lantaran ia tak mendapatkan persetujuan kakak Nick Drake.

Penelusuran-penelusuran Humphries terhadap data-data dan wawancaranya yang sungguh-sungguh memberikan gambaran yang menyeluruh tentang sosok Nick Drake, bahwa Nick tak hanya si pemurung dan depresi seperti yang selama ini dicitrakan, tetapi pribadi yang kompleks. Humphries mampu menampilkan Nick sebagai pribadi yang lebih manusiawi. Meskipun, memang, ada wilayah-wilayah yang tetap menjadi spekulasi. Misalnya, “bayang-bayang kelam” yang menyelubungi Nick selama tiga tahun terakhir hidupnya tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Seolah hanya sang bintang yang mengetahui apa yang berkelindan dalam pikirannya.

Di satu sisi, data yang melimpah itu memang memberikan gambaran yang mumpuni. Di sisi lain, data itu terkesan diulang-ulang sehingga cenderung menimbulkan efek kebosanan pada buku yang cukup tebal ini. Untungnya, Humphries memecahnya dalam bab-bab. Pembagian bab itu, bagi saya, dapat digunakan untuk mengambil jeda sembari memberi penanda di halaman terakhir kita membacanya. Lalu menutup buku sejenak. Memasang headset di telinga. Membiarkan suara Nick Drake melingkupi indra pendengaran. Mengkhidmati petikan gitarnya. Menghayati lirik-liriknya. Sambil membayang-bayangkan sosoknya yang canggung di atas panggung.[]

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *