Muslihat Emas Paman Yusi Avianto Pareanom

Posted: 14 October 2017 by Andreas Nova

Muslihat Musang Emas Book Cover Muslihat Musang Emas
Yusi Avianto Pareanom
Banana
September 2017
246
Rp 60.000

APA yang akan kaulakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan. Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa berkhianat.

Muslihat Musang Emas, yang memuat 21 cerita baru dari Yusi Avianto Pareanom, pengarang novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, mengajakmu menyelam ke dalam palung-palung tergelap jiwa manusia—tempat asal-muasal seseorang sanggup melakukan apa saja.

 

Kau tersenyum bahagia setelah menyelesaikan membaca kisah pencuri sapi dalam buku Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Kau tengok namanya sekali lagi. Yusi Avianto Pareanom. Penulis yang belum sepuh-sepuh amat namun rasanya kurang patut dibilang muda. Rasa penasaranmu muncul, lalu kau ketik namanya ke dalam kolom pencarian di perambah gawaimu. Muncul sebuah karya berupa kumpulan cerpen bertajuk Rumah Kopi Singa Tertawa. Buku itu diterbitkan tahun dua ribu sebelas. Kau tanyakan ketersediaan buku itu kepada temanmu, pelapak buku yang rendah hati yang berjualan melalui media sosial. Kosong, buku itu habis terjual.

Rasa penasaranmu kepada sang Paman—kau memanggilnya demikian karena entah mengapa ada kedekatan setiap membaca karyanya—membuatmu mencoba mencari buku itu di toko buku daring, sekalipun pelapaknya ada di luar kota. Kau mengucap syukur ketika ada satu stok yang tersisa. Meskipun si pelapak yang berada nun jauh di kota hujan berkata kondisi kertasnya sudah sedikit menguning pada sisi buku, namun segel plastik kendor yang membungkusnya masih utuh. Kau memutuskan untuk menebus buku itu berikut ongkos kirimnya. Bibirmu tersenyum bahagia lagi ketika tanganmu menerima buku itu, dan perlahan membuka pembungkus plastiknya. Rumah Kopi Singa Tertawa kau baca dengan tersenyum, kadang terbahak, kadang masygul. Senyum yang terbit tetiba sirna saat kau tiba di cerpen terakhir yang bercerita tentang Hukum Murphy. Lebih dari sepuluh halaman tidak ikut terjilid. Kau menepuk jidatmu dan meratapi nasibmu.

Dua hari berselang kau membuka media sosial melalui gawaimu. Kau memaki menyebut piaraan tetanggamu ketika kau dapati sang penerbit mencetak ulang Rumah Kopi Singa Tertawa—dengan sampul baru yang lebih minimalis—dan menerbitkan sebuah kumpulan cerpen baru bertajuk Muslihat Musang Emas. Asu! Sekali lagi kau memaki, kemudian tertawa atas kebetulan yang terjadi padamu. Lalu kau pesan kedua buku tersebut ke temanmu si pelapak buku. Seminggu kemudian kedua buku bersampul merah dan kuning tiba di tanganmu. Kau menunda menyelesaikan cerpen tentang Hukum Murphy yang belum tuntas kau baca, dan memutuskan untuk membaca buku Muslihat Musang Emas terlebih dahulu.

Cerita pendek pertama dalam buku itu segera menjadi salah satu cerpen favoritmu setelah berhasil membuatmu terbahak-bahak di tengah riuhnya hujan deras yang menerpa atap seng kantin kampus yang meluluskanmu beberapa tahun yang lalu. Kau kutip teks di sampul belakangnya.

“Orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya.”

Kalimat itu tepat sekali menggambarkan cerita yang judulnya menjadi tajuk buku ini. Dalam hatimu kau yakin sekali cerita tersebut mampu membuat pembacanya tertawa siapapun itu, terlebih masyarakat negara ini masih mayoritas homophobic.

Lalu kau teringat kembali kesialanmu mendapatkan Rumah Kopi Singa Tertawa ketika kau membaca kisah kesialan Ben di cerpen ketiga. Apakah ini memang muslihat Paman pada pembacanya? Kisah tersebut membuatmu sadar bahwa dalam hidup ada tiga kebetulan: (1) Kebetulan yang untung; (2) Yang buntung, dan; (3) Percampuran keduanya. Kebetulan yang dialami Ben adalah kebetulan yang pertama, sedangkan yang kau alami adalah kebetulan yang ketiga, percampuran kebetulan yang buntung dan diakhiri kebetulan yang untung.

Kau teringat dengan kota yang kau tinggali sejak kuliah hingga menikah saat membaca Gelang Sipaku Gelang bagian kedua—bagian pertama sangat lucu dan menarik, sedangkan bagian kedua lebih sentimentil bagimu. Di dalam cerpen itu diceritakan bagaimana lanskap sebuah kota bisa berubah dalam rentang empat dekade. Kau seolah menjadi Satryo Beni—tokoh utama dalam cerpen itu—saat kau membandingkan kota dalam cerita dan kota tempatmu tinggal. Mungkin tidak butuh waktu hingga empat dekade. Satu dekade saja cukup untuk membuat kota tempat tinggalmu berubah. Sawah menjadi rumah. Jalan tanah menjadi beraspal. Hotel bertambah, air tanah asat. Gunung Merapi yang biasa kau tatap dari selatan, kini tak tampak terhalang sampah-sampah visual berbentuk baliho raksasa.

Cerita-cerita berikutnya memikatmu dengan caranya masing-masing. Dengan tawa, dengan haru, dengan kegetiran di tiap-tiap kisahnya dalam satu kebulatan tema: nasib manusia. Seperti halnya kutipan sebelum daftar isi yang juga kau amini:

“TUHAN berencana, manusia menentukan.” (hlm.5)

Setelah kau selesaikan buku ini, perasaanmu campur aduk. Berbeda dengan Rumah Kopi Singa Tertawa yang membuatmu seperti mencicip kopi di beberapa rumah kopi yang letaknya saling berjauhan, buku ini seolah membawamu ke sederet pertokoan yang menjual cerita dengan segala muslihatnya di sebuah pusat perbelanjaan mewah, yang membuatmu nyaman bertekun melihat isinya—dan berbelanja, jika kau punya uang lebih, atau memaki jika ternyata uangmu kurang.

 

PS.

Buku Muslihat Musang Emas adalah kumpulan cerpen karya Yusi Avianto Pareanom. Ia lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah dan kini tinggal di Depok, Jawa Barat. Karya fiksinya adalah Rumah Kopi Singa Tertawa (2011, Banana), Grave Sin #14 (2015, Lontar, trilingual: Indonesia, Inggris, Jerman), Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (2016, Banana) dan Muslihat Musang Emas (2017, Banana).

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *