Kamu Sedang Membahas Buku Ini

Posted: 13 January 2018 by Riki Kurnia

Tentang Cerita Eksperimental

Buku ini hadir di tengah kampanye yang dihembuskan beberapa penulis atau pegiat literasi tentang cerita eksperimental. Sebagai sebuah buku cerita, saya cukup puas membaca dan mengakuinya sebagai eksperimen, sejauh cara bercerita yang di luar alur konvensional. Namun, benarkah buku ini sudah laik mendapat predikat cerita eksperimental?

Pada kata pengantar buku ini, pembaca seperti mendapat garansi dari raksasa sastrawan Anton Kurnia. Beliau menulis: “Salah satu daya tarik buku ini memang (terdapat pada) keberanian Eko dalam bermain-main dan mengeksplorasi berbagai eksperimentasi bentuk dan gagasan yang sebagian di antaranya bisa jadi (catat dua kata yang dicetak tebal) baru kali ini dicoba dalam sejarah sastra Indonesia…” (hlm. 5)

Tentu sang pemberi pengantar sebenarnya sudah tahu bahwa apa yang disebut eksperimen di sini sebenarnya tidak baru-baru amat. Maksudnya, jauh di belahan bumi lain, sudah ada penulis yang pernah mencobanya. Anton Kurnia bahkan memberi contoh beberapa nama penulis luar seperti Alejandro Zambra, Raymond Queneau, Gerges Perec dan Italo Calvino. Akan tetapi untuk konteks Indonesia, Beliau menggunakan frasa ‘bisa jadi’ demi menunjukkan kemungkinan-kemungkinan bahwa bisa jadi memang sudah pernah ada yang menulis dengan tema atau cara serupa, namun tak pernah diketahui oleh kita.

Padahal jika kita menjelajah lebih jauh, cara menulis dan tema garapan yang dapat disebut sebagai eksperimen sebenarnya akan kita temukan dengan mudah, misalnya ketika mengikuti tulisan penulis lain yang seangkatan atau bahkan lebih muda dari Eko Triono (selepas ini, izinkan saya menyapa beliau dengan Mas Eko, supaya terkesan akrab. Beliau adalah mentor saya saat pelatihan menulis di Balai Bahasa Yogyakarta).

Sebut saja misalnya, Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038 yang menerbitkan tulisan-tulisan dari penulis muda yang menggunakan cara bercerita dan tema yang dapat kita sebut eksperimen. Beberapa di antaranya malah sudah akrab di telinga kita: Sabda Armandio, Norman Erikson Pasaribu, Mikael Johani, Leopold A. Surya, hingga pemenang sayembara novel DKJ terakhir, Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie. Rata-rata cerita yang mereka hasilkan, sebagaimana yang sudah ditentukan, mengangkat tema eksperimental yang sayangnya tidak digarap sama sekali di buku yang katanya eksperimen ini.

Kemudian, jika kita menjelajah ke ranah lain, dalam anime misalnya, atau cerita-cerita yang terlanjur kita cap sebagai cerita populer-remaja dan karenanya disebut bukan sastra—dapat ditemukan di kemudian.com, wattpad, dan banyak website kepenulisan lainnya—ada banyak contoh cerita yang disampaikan dengan cara dan tema yang berbeda dengan pakem konvensional kita tentang cerita. Tentu pada kesempatan ini, agar tidak bertele-tele, saya tidak perlu menunjukkan contoh-contohnya. Silahkan jelajah sendiri.

Kembali membahas tentang cerita eksperimental, saya ingin mengutip pendapat Mas Eko sendiri dalam buku ini. Mas Eko menulis bahwa cerita eksperimental adalah “…cerita percobaan yang bersistem den berencana—untuk membuktikan kebenaran suatu teori dan sebagainya.” (hlm. 30) Dari sini dapat disimpulkan bahwa cerita eksperimental, meski merupakan percobaan, tentu juga bukan hanya coba-coba yang tidak jelas juntrungannya. Dalam cerita eksperimental, sebagaimana dijelaskan Mas Eko, sudah ada rencana dan karenanya memiliki sistem, terlebih juga memberi jaminan demi justifikasi atau bahkan falsifikasi suatu teori.

Saya yakin Mas Eko sangat paham dengan apa yang dimaksud dengan eksperimen, khususnya dalam cerita. Akan tetapi, sebagaimana definisi yang Beliau sampaikan di atas, saya belum menemukan suatu formula yang bersistem dari caranya bercerita, kendati sangat kentara seluruh cerita disusun atas rencana-rencana. Maksud saya, seluruh cerita dalam buku ini bukan menunjukkan suatu cara bertutur yang lain, yang berbeda, di luar pakem, dan karenanya laik disebut eksperimental. Tetapi hanya ingin menunjukkan bahwa, betapa kita, setiap hari senantiasa ada dalam cerita dan kita tak dapat melepaskan diri darinya.

Jika ide tersebut yang ingin beliau sampaikan, cerita-cerita yang beliau sampaikan dalam buku ini berarti hanya sekadar memberi contoh-contoh cerita apa saja yang menjerat kita setiap harinya. Jika pernah membaca Sapiens-nya Yuval Noah Harari yang mengatakan bahwa kita berada dalam realitas fiktif, nah, Mas Eko dalam buku ini menunjukkan beberapa contoh dari realitas fiktif tersebut. Maka saya hendak menyampaikan satu pertanyaan ihwal cerita eksperimental berkaitan dengan buku ini; berdasarkan definisi yang Mas Eko paparkan sendiri, apa landasan teori yang menjadi pijakan beliau, sehingga buku ini laik disebut cerita eksperimental?

Saya sebenarnya ngeh dengan apa yang dimaksud mas Eko tentang cerita. Duh, betapa cerita berserakan. Bahkan ketika kita diam sama sekali, cerita bersliweran di dalam kepala. Bahkan suatu benda, apalagi kata, ketika berdiri sendiri pun tengah membawa seperangkat ceritanya sendiri-sendiri. Tentang ini, terbesit di kepala saya tentang teori konsep yang dimaksud Mas Eko. Apakah cerita yang dimaksud oleh mas Eko di sini adalah konsep?

Kita dapat ambil contoh misalnya dalam cerita berjudul Cerita dalam Satu Kata yang hanya berisi satu kata: “cerita.” (hlm. 15) Menurut saya, cerita ini asu tenan, tapi memang benar, ada cerita dalam kata “cerita” atau kata apa pun. Mungkin akan lebih dapat dipahami suatu kata sebagai cerita tatkala menggunakan kata kerja atau kata sifat, tapi sebenarnya memang kata apa pun membawa ceritanya sendiri-sendiri. Dari sini kemudian, sempat terpikir oleh saya untuk membuat resensi dalam satu kata: Resensi.

Tapi kita sedang membahas buku ini, maka saya perlu melanjutkan tulisan ini. Selain kedua pertanyaan di atas, agar berimbang, sebagai pembaca saya punya ukuran sendiri terhadap suatu tulisan. Jika saya mentok merasa tidak mendapat apa-apa ketika membaca, maka pertanyaan lain akan muncul, misalnya apakah suatu bacaan cukup dapat dinikmati atau tidak. Maka pada kesempatan ini, saya akan menguraikan kesan saya atas karya mas Eko ini.

 

Kamu Sedang Menikmati Buku Ini

Dari kedua puluh tujuh cerita yang ada dalam buku ini, saya merasa menikmati cerita justru dalam sajiannya yang masih menggunakan cara konvensional, meski dari segi tema dan gagasan benar-benar di luar kebiasaan. Misalnya cerita yang menggunakan tokoh bernama “Cerita,” “Cerita Pendek,” “Cerita Panjang,” dan tokoh unik lainnya. Selain itu, cerita dengan teknik pembuatan resep dan teknik pilihan ganda dalam soal ujian harian cukup berhasil. Meski untuk yang kedua menurut saya terlalu pendek, sebab soal ujian biasanya berpuluh butir, bukan hanya tiga soal saja.

Kemudian, sebagai pembaca yang juga sedang belajar menulis, saya merasa mendapat semacam tata cara menulis dan bagaimana lika-liku perjalanannya sebagai penulis meski secara terselubung. Saya merasa Mas Eko tengah menyajikan panduan menulis sebagaimana yang saya dapat saat pelatihan di Balai Bahasa kemarin, tetapi dalam bentuk cerita. Tentu ini lebih mengasyikkan. Misal dalam cerita berjudul Cerita Pendek dan Cerita Panjang (hlm. 32) yang menceritakan ihwal perbedaan cerita pendek dan cerita panjang serta problem apa yang melingkupi keduanya. Nyaris semua problem yang dimiliki oleh kedua tokoh merupakan masalah yang memang masih menjadi perdebatan di dalam lingkungan kepenulisan. Namun, sebenarnya ada beberapa bagian dalam cerita ini yang menurut saya Mas Eko banget, maksud saya, bagaimana Mas Eko demikian kentara membela cerita cendek sebagai cerita yang tertindas.

Cerita lain yang dapat saya nikmati mungkin dapat saya uraikan sebagai berikut: Cerita Remaja (hlm. 48) yang bercerita sekaligus berisi satir tentang kelakuan anak remaja; Cerita Sesuai Selera Pasar (hlm. 53); yang berusaha menjelaskan tentang bagaimana proses memproduksi cerita untuk kemudian dilempar ke pasar; Cerita dalam Riwayat Ceritanya (hlm. 84) yang menggunakan teknik perawian hadist dalam bercerita; kemudian Cerita-cerita Sebenarnya Hanya ditulis Berdasarkan Cerita yang Lainnya dan Seputar Cerita yang Lainnya (hlm. 112) yang berbentuk resensi dan saya sempat terpikir untuk membuat ulasan buku ini dengan mengetik ulang cerita ini kemudian mengganti judul buku dalam cerita ini dengan judul buku ini dan mengganti nama penulisnya dengan Eko Triono. Tapi kita sedang membahas buku ini, maka saya pun urung.

Terakhir, cerita yang dijadikan judul buku ini menjadi cerita terpanjang dan cukup menggambarkan dengan jelas bagaimana kuasa penulis dalam membangun ceritanya. Cerita ini mengingatkan saya pada cerpen Indra Tranggono, di mana tokoh utamanya adalah seorang penulis yang dihadapkan pada persidangan tikus. Dalam cerita tersebut, para tikus menuntut si penulis agar mengembalikan martabat tikus karena kerap dijadikan simbol koruptor, padahal koruptor jauh lebih rakus tinimbang tikus.

Sebagai bukti sahih bahwa saya memang menikmati suatu tulisan, sebagai pemburu caption, tentu dalam usaha menikmati cerita, saya tidak melewatkan usaha saya dalam mengoleksi quotes. Maka dalam kesempatan ini saya kutipkan paragraf favorit saya dari 220 halaman buku yang tertera. Mas Eko bersabda:

Dan yang sulit kamu kuasai adalah cinta. Kamu bisa pura-pura cinta atau memaksakan diri mencintai, tetapi cintamu yang sebenarnya hanya jatuh sesuai kehendaknya sendiri. Dia bisa jatuh pada orang yang paling menyakitkanmu, pada orang yang berpaling darimu, atau pada sesuatu yang tidak pernah kamu duga. (Hal. 198)

 

Kamu Tidak Sedang Menikmati Buku Ini

Sejujurnya, saya kurang menikmati beberapa cerita dalam buku ini. Dalam beberapa cerita, saya merasa meski Mas Eko berniat menunjukkan sebuah cerita, tapi saya tidak dapat menikmati cerita-cerita tersebut. Bahkan, saya ingin merobek beberapa halaman cerita yang tidak saya nikmati berikut ini:

Cerita dalam Satu Kata (hlm. 15) yang hanya memiliki isi satu kata: “cerita”,  membuat saya menganga, “what the hell!?” I say. Ujung-ujungnya, cerita ini memang tetap membuat saya ketawa. Tapi bukan karena menikmatinya, melainkan lebih ke sebuah perasaan di mana saya merasa sia-sia. Semua orang juga paham, kutukan dari Tuhan bahwa Adam dulu diajari nama-nama. Nah, nama inilah yang menjadi pertanyaan saya di atas, apakah cerita dalam satu kata yang dimaksud adalah sebuah kata atau sebuah nama atau sebuah konsep? Jika iya, maka cerita itu terberi dan karenanya tak usah repot-repot membuat cerita dalam satu kata: cerita.

Cerita Tanda Tangan (hlm. 103) juga mengambil bentuknya seperti cerita dalam satu kata. Membaca cerita ini pun membuat saya ingin mengumpat, sebenarnya.

Kemudian cerita dalam halaman 102 juga sama sekali tidak dapat dinikmati karena hanya berisi judul dan judulnya pun demikian panjang. Juga cerita dengan teknik terbalik seperti cermin yang sialnya saya baca sampai selesai dan menemukan kekecewaan kedua tatkala tahu bahwa cerita yang disampaikan demikian klise. Terakhir, cerita berjudul Tetapi— (hlm. 119) yang menjadi semacam ejekan dari Mas Eko kepada kita, pembaca, bahwa betapa kita selalu menuntut lebih atas rasa penasaran kita. Maka benar, apa yang diulang-ulang disampaikan Mas Eko dalam buku ini:

“Kamu sedang membaca tulisan ini. Dan, kamu akan mengikuti apa saja yang diminta tulisan ini dari pikiranmu.”

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *