Berhala: Sebuah “Model” Surealis-Religius Danarto

Posted: 5 August 2017 by Nanda Aziz Rahmawan

Berhala Book Cover Berhala
Danarto
Kumpulan Cerpen
DIVA Press
226 hlm
60.000

Semua cerpen dalam buku ini menyiratkan jalan pemikiran Danarto, bahwa realitas yang tak tampak, jalin-menjalin menjadi satu. Seperti dunia dan akhirat.

Berhala mendapatkan penghargaan dari Pusat Bahasa pada tahun 1990 dan Pustaka Firdaus mendapat penghargaan sebagai penerbit Buku Utama jenis fiksi 1987.

Saat ini, Berhala sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jepang.

***

“Apakah orang ini sudah siap dicabut nyawanya?” nada bertanya Izrail yang entah ditujukan kepada siapa.
“Belum. Orang ini belum siap untuk dicabut nyawanya,” jawab rambut di atas kening saya. Ruang dan waktu seketika diliputi kehampaan dan saya bergulir persis batang pisang dari tebing ke sungai. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar.
“Orang ini sama sekali belum siap untuk dicabut nyawanya,” seru kaki saya. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar.
Saya merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan merasa ditindas. Bagaimana mungkin rambut di atas kening dan kedua kaki saya telah bertindak tanpa seizin saya, menjawab pertanyaan Malaikat Izrail. Ini kelancangan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin mulut saya justru terkunci menghadapi saat yang paling genting ini. —“Dinding Anak”

***

Danarto dan cerpen-cerpennya adalah kasus yang istimewa. Mungkin tidak ada penulis cerpen di negeri ini yang sejak semula sudah dengan sangat sadar menciptakan “dunia alternatif” dalam cerita-ceritanya.(Umar Kayam)

 

Danarto, barangkali adalah satu dari sedikit cerpenis Indonesia yang sedari awal mampu melakukan ‘sihir’ demi menciptakan dunia atau ‘model’ baru dalam mengungkapkan pemahamannya tentang dunia. Dalam cerpen Berhala yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 itu, ia seolah tahu betul bahwa dunia selalu mempunyai kemungkinan-kemungkinan tidak terbatas, sebab ada Tuhan yang Maha Tak Terduga juga manusia sebagai salah satu makhluk-Nya yang tak terduga pula. Perkara tersebut, agaknya menyadarkan kita yang kerap dikerubuti tameng-tameng konvensi dan pakem yang ada sebelumnya sehingga membuat pemahaman kita seolah dikerangkeng dan menutup segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Danarto kemudian menghadirkan model-model yang erat dan kental dengan aura surealis-religius. Dengan tema-tema yang sebenarnnya cukup sederhana, Danarto mengalirkan ‘sungai’ ceritanya menuju arus ‘samudra’ penafsiran yang luas dan kompleks. Hal itu membuat ‘model’ yang ia tawarkan itu tampak berwarna ‘pekat’, sebab segala kemungkinan ia alirkan ke dalam satu wadah saja.

Kisah-kisah yang dibawakan Danarto cukup unik, meskipun yang ia hadirkan sebenarnya tentang kisah-kisah keseharian, tentang keluarga, lingkungan sosial dan lingkungan kerja, Danarto selalu menyiasatinya dengan aura surealis sekaligus sinisme, juga kritik terhadap pejabat pemerintah, tentang korupsi, tentang praktik pembunuhan yang terorganisasi, bahkan hingga pembakaran lahan warga yang dilakukan oleh para pemilik modal untuk memenuhi hasrat dan tujuannya melebarkan sayap-sayap bisnisnya. Sebuah hal yang agaknya sangat berani dan cukup cerdas dalam ‘menyembunyikan’ soal-soal itu, mengingat cerpen ini lahir di era orde baru yang notabene cukup sensitif apabila tema-tema tersebut disinggung di era itu.

Ada satu hal lagi yang cukup unik dan memancing pertanyaan di benak saya ketika selesai membaca kumpulan cerpen ini: mengapa tidak ada cerpen berjudul Berhala, meskipun buku ini berjudul itu? Lazimnya, buku kumpulan cerpen diberi judul salah satu cerpen di dalamnya, tetapi, hemat saya dalam kasus ini, Berhala yang dimaksud dalam judul buku ini murujuk pada tema yang diangkat dalam setiap cerpennya. Meskipun tidak ada aura ‘ceramah’ dan ‘khutbah’, tema yang disampaikan sangat relevan dengan peristiwa-peristiwa di era modernitas –meski setting yang ditampilkan adalah era orde baru, baik secara isi pun kejanggalan masih relevan dengan era sekarang-, yang kerap memberhalakan segala sesuatu yan sifatnya keduniawian, seperti berlebihan mencintai sesuatu: harta, jabatan, orang tua bahkan anak. Itulah yang mungkin saja dalam maksud Danarto adalah berhala-berhala baru atau berhala-berhala modern.

Tetapi, tentu dengan kompleksitas semacam itu, meski dengan gaya bahasa yang sederhana, mengalir dan tidak terlalu ‘nyastra’, buku ini perlu untuk dibaca lebih dari sekali untuk mencari benang merah dan titik tolak dalam tiap cerpen. Bahkan bila perlu adalah membaca referensi lain atau cerita lain untuk membiasakan mengenal bacaan atau cerita yang cukup berat dan serius untuk benar-benar memahami maksud yang disampaikan Danarto. Namun begitu, tidak mengurangi maksud saya untuk merekomendasikan pembaca membaca buku ini, bahkan buku ini adalah salah satu buku yang wajib dibaca apabila ingin lebih mengenal Sastra Indonesia.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *