Absurdnya Kehidupan Chairil Anwar

Posted: 2 September 2017 by Karim Ilham

Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan Book Cover Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan
Arief Budiman
Wacana Bangsa
2007 (Pertama diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1976)
128

Chairil Anwar - Sebuah Pertemuan, adalah skripsi sarjana [Arief Budiman] tatkala ia menyelesaikan pelajarannya pada Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, yang mencoba mendekati Chairil Anwar secara filosofis. Bagian pertama merupakan konsep filsafat eksistensialisme dan lain-lain; bagian kedua merupakan pertemuan dengan sajak-sajak Chairil Anwar. Buku ini merupakan usaha yang pertama-tama dalam mendekati Chairil Anwar secara demikian dan yang paling sistematis, pendekatan dan tafsiran dengan argumentasi-argumentasi yang dapat difahami.

 

Sebuah pertemuan tidak melulu melibatkan fisik. Begitulah yang dialami Arief Budiman dengan Chairil Anwar. Terhadap sajak-sajak gubahan Chairil, Arief melakukan pertemuan itu. Ia memelajari sajak-sajak itu dengan penuh penghayatan sebagai seorang yang memiliki pengalaman kebudayaan. Hasilnya ialah sebuah buku yang status sebelumnya adalah skripsi.

Bab pertama menjelaskan proses menulis puisi Chairil yang diawali dan diakhiri oleh perenungannya terhadap kematian. Pada usia 20-an, ia sudah dihadapkan dengan kematian neneknya. Saat itu lahir sebuah karya berjudul Nisan. Pada tahap awal ini, ia sudah sampai menyimpulkan dua hal: manusia yang tidak berdaya terhadap maut, dan maut yang mendatangi siapapun tanpa kenal kompromi. Setelah melewati perenungannya, muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis dalam dirinya tentang tujuan dihidupkannya manusia.

Di tengah gemuruh pertanyaan itu Chairil bertemu dengan Pangeran Diponegoro. Ia terpukau dengan semangatnya untuk memperjuangkan kehidupan: mengerahkan hidupnya demi sebuah kemerdekaan. Ketika itu, ia mencipta puisi Diponegoro yang membawa pesan semangat. Namun, di bulan yang sama, ia tahu kematian Diponegoro dalam sebuah penjara di Makasar merupakan kematian dengan tanpa kemerdekaan. Ia mengartikan bahwa kematian Diponegoro bukanlah kegagalan, tetapi bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan.

Chairil pada akhirnya harus memilih jalan hidup sebagai Ahasveros, pengembara yang terlukis dalam puisi Tak Sepadan. Ia hadapi kesepian dan kesedihan yang mengingkari masa kecilnya yang selalu gembira. Demi mengobati kesunyiannya ia melakukan pelarian menuju perempuan-perempuan nakal yang tergambar pada sajak Pelarian. Sebagai mahasiswa psikologi, Arief mengerti bahwa pada keadaan yang dialami Chairil mekanisme-mekanisme itu otomatis berjalan.

Sampai pada rasa bosan atas pelarian itu, ia terbayang akan kematian sebagai sesuatu yang damai. Arief menggunakan gagasan Albert Camus tentang kematian sebagai “peleburan dalam tiada”. Tidak ada jalan lain bila ia ingin mati selain dengan bunuh diri. Tetapi ia hanya sampai pada tahap membayangkan saja, seperti halnya Camus yang menyatakan bahwa kematian bukan merupakan jawaban terbaik. Perbedaan keduanya hanya Chairil tidak menjelaskan perenungannya secara sistematis seperti Camus.

Di buku ini bertebaran gagasan dari filosof dunia yang menandai keluasan pengetahuan Arief walau latar belakang pendidikannya adalah psikologi. Ia memakai gagasan Nietzsche “jadilah kuat bersama penderitaan” sebagai gambaran akan Chairil ketika ia mencoba bangkit dari bayang-bayang bunuh diri. Bait-bait paling terkenal Chairil dalam sajak Semangat :Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang-menerjang/Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih dan perih” diakhiri dengan semangat hidup yang membara dalam : “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” menandai sekali kebangkitan itu.

Lagi, ia merasa kesepian kembali setelah menulis sajak Semangat. Sajaknya kemudian yang berjudul Hukum memang agak berbeda dengan terdahulunya, Tak Sepadan. Isi sajak itu bagi Arief menjadi tanda kehidupan Chairil yang sudah diidealisirnya. Sampai di sini, menurut Arief, babak pertama dalam hidup Chairil telah berakhir. Kemudian, muncul sajak Taman yang membuat Arief yakin bahwa Chairil mengalami kehidupan yang tenang.

Pada bab selanjutnya Arief menjelaskan perbedaan terkait soal kematian yang direnungi Chairil pada usia 20-an awal, yakni tahun 1942 dan pada usia 27 pada 1949, tahun ketika ia meninggal. Sesaat menjelang kematiannya, Chairil menampakkan tanda bahwa sebentar kemudian ia akan tiada. Misalnya, menurut pengakuan Jassin, sahabat yang pernah mendukungnya dalam sebuah polemik sastra, Chairil menjadi senang dipotret.

Ada sajak-sajak yang ditulis sebelum Chairil meninggal untuk mengenang peristiwa-pertiwa mengesankan, misalnya kisah cintanya dengan Mirat pada 1943, terlukis dalam sajak Mirat Muda, Chairil Muda-Di Pegunungan 1943. Ada sebuah bait membahas tentang kematian. Berbeda dengan kematian yang direnungi pada usia 20-an, ia seperti tak terbebani.

Chairil mencapai pada pemahaman tentang absurdnya kehidupan. Pemahaman itu Chairil sampaikan dalam sajak Buat Nyonya N. Arief mensejajarkan bait terakhir dalam sajak ini dengan bait dalam salah satu sajak : “Sekali berarti, sudah itu mati.” Arief menafsirkan bahwa kematian terbaik ialah kematian ketika sedang berada di puncak. Namun lanjutan bait dalam sajak Buat Nyonya N. menurut Arief menjadi tepisan Chairil bahwa apa yang dianggap besar atau puncak segala sesuatu itu tidak berarti karena setelah itu akan kembali. Inilah absurditas yang dipahami Chairil. Bagian ini berakhir dengan pandangannya bahwa, “ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum akhirnya kita menyerah,” yakni rahasia hidup.

Berikutnya Arief membahas tentang dua sajak yang menurut Jassin telah selesai ditulis, namun belum dipublikasi. Namun Arief mengalami kesulitan menentukan itu. Di sini dijelaskan bahwa Chairil kala menulis sajak tidak harus selesai dalam waktu yang singkat. Namun, bilamana sajak sudah masuk redaktur, maka ia berani tanggung jawab, meski setelahnya kadang ia mengubahnya. Yang dibahas kemudian ialah sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang meninggal. Ia menerjemahkan puisi T.S. Elliot dan W.B. Yeats, juga menulis esai Membuat Sajak, Melihat Lukisan.

Bab ke-3 Arief membahas sajak-sajak Chairil yang mempersoalkan agama. Oleh Arief, awal mula kita disodori pandangan filosof Paul Tilliich yang mengatakan bahwa religi memiliki pengertian lebih luas dari agama. Yang tergambar dalam sajak Di Mesjid adalah Chairil yang berkeinginan tak terikat agama meski sulit dijalani. Sajak selanjutnya berjudul Isa yang menghadirkan rasa iba Chairil terhadap pengorbanan Isa di kayu salib. Meski demikian ia tetap bertahan pada pendiriannya. Dan barulah esok harinya Chairil menulis sajak Doa sebagai tanda pengakuannya terhadap kuasa tuhan.

Terkait pencarian jawaban persoalan hidup yang dialami Chairil, Arief menyatakan bahwa perosalan itu bukan dialami Chairil semata. Ia mengajak pembaca berefleksi dengan bertamasya menuju gagasan-gagasan para filosof pada bab 4 sampai bab 6. Tokoh-tokoh yang dipungut gagasanya ialah Sartre terkait Eksistensialime-nya, pandangan Nietzsche mengenai manusia sebagai “das nicht festgestellet Tier”, Heidegger, Kierkegard, Erich Fromm, juga Albert Camus. Nah, Arief lebih sering membahas filsafat Absurdita-nya Camus, sehingga ia menyimpulkan bahwa Chairil serasi dengan pandangan Camus tentang filsafatnya. Menurut Arief ini lah bukti keserasian itu : “Hidup hanya menunda kekalahan/tambah terasing dari cinta sekolah rendah/dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Buku ini waktu itu saya beli dari penjual buku keliling. Sayang sekali, buku sebagus ini sekarang susah ditemui di pasaran. Barangkali ini menjadi panduan bagi mahasiswa sastra dan mungkin ilmu sosio-humaniora lain saat menulis sebuah karya ilmiah, skripsi maupun jurnal dengan telaten serta pentingnya bekal wawasan intelektual yang luas. Dari buku ini kita bisa belajar membaca biografi seseorang tidak melulu dari detil-detil perjalanan hidup, proses kreatif, yang mungkin hanya menghadirkan kedangkalan-kedangkalan. Mungkin dengan mencoba menghayati karya demi karya akan membawa kita sampai pemahaman lebih mendalam. Menurut penulis sendiri dalam pengantarnya yang terpenting bukan benar-salah pengamatan kita, tetapi intens dan tidaknya penghayatan kita. Di akhir halaman dihadirkan sedikit ulasan tentang perjalanan hidup Chairil yang diceritakan oleh orang-orang terdekat Chairil.

Buku yang sebelumnya diterbitkan Pustaka Jaya ini dihadirkan dengan kemasan yang sangat baik. Dari awal sampai akhir saya membaca, tidak saya temui kecacatan. Arief menyampaikan gagasannya dengan tulisan yang mudah dimengerti, seperti yang disampaikan Ignas Kleden : “sampai sekarang pun saya berpendapat, Arief Budiman merupakan penulis yang paling jelas menyusun dan mengemukakan gagasan-gagasannya.” Dibumbui pula dengan testimoni-testimoni dari kalangan intelektual terpandang, mengisyaratkan bahwa buku ini sangat layak untuk diterbitkan kembali. Juga bisa diniatkan sebagai penghormatan terhadap penulisnya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *