Ziarah oleh Dhani Susilowati

Posted: 2 March 2018 by Dhani Susilowati

Catatan Redaksi:
Puisi berjudul Ziarah nampak memperlihatkan pertentangan antara hal-hal yang mengikat dengan yang membebaskan. Dalam puisi tersebut, aku lirik berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan yang selama ini membelenggunya. Namun setelah berani bertindak atas nama kebebasan tersebut, ia kemudian malah terjebak pada kebimbangan. Hal ini terjadi karena kebebasan berada di ranah personal sementara ikatan adalah bagian dari ranah publik. Pada akhirnya, kebebasan individual, yakni memilih apa yang diinginkan akan kembali terpenjara dalam ikatan yang berada di ranah publik. Inilah ironi yang ditampakkan dalam puisi tersebut

 

Ziarah

Aku gagal berziarah tempo hari. Sebab doktrin itu belum mati.
Aku gagal berziarah (lagi) kemarin. Sebab doktrin itu masih saja menuai benci.

Pada akhirnya aku benar-benar berziarah hari ini.
Serba hitam busana kupakai. Bacaan tahlil berdengung ramai.

Tapi siapa yang kuziarahi?
Sebab doktrin itu masih lekat pada mereka, para pengabdi.

 

Adalah Candu

Sebab
mencintaimu adalah rindu.
Penjara kau aku,
di jeruji tabu.

Sebab mencintaimu adalah
candu. Candu memadu aku, dalam
telisik degup di nadi yang biru, tenang
tapi menipu

 

 

Lelaki Makam

:Kau

Malam sebelum hilang
lelaki itu bilang,

“Aku akan menziarahi kenangan.”

“Bawa serta bunga segar, barangkali ia akan senang,”

bisik Nona sebelum diam.

Malam-malam usai pertemuan,
wanita itu bilang,

“ia telah nyaman menjadi lelaki makam.”

 

 

Monyet Berdasi

Lihat, monyet itu berdasi.
Sekarang sedang duduk di kursi.
Dia tidak suka pisang lagi. Malah
gemar makan roti, dan
jalan-jalan ke luar negeri

Lihat (lagi),
monyet itu berpidato kali ini.
Katanya demi kemajuan negeri.

“Ah masa si?”

Tutur pak kyai.

 

 

Gambar adalah lukisan berjudul Graveyard karya Karl Isakson (1878-1922)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: