Yerusalem oleh Thoriq Aufar

Posted: 29 December 2017 by Thoriq Aufar

yerusalem

Catatan Redaksi:
Dalam bayangan perang, Yerusalem menjelma ladang penuh pertumpahan darah nir kasih sayang diantara pemeluk agama. Yerusalem yang menjadi simbol perdamaian tiga agama samawi justru luntur akibat perselisihan yang tak kunjung habisnya. Puisi ini nampaknya mengonstruksi realitas yang demikian. Pertentangan antara yang ideal dan yang real begitu kentara, antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Puisi ini juga menggambarkan bagaimana fanatisme orang-orang beragama justru seringkali mengalahkan hakekat kehidupan yakni menebar cinta kasih sesama makhluk ciptaan Tuhan.

 

YERUSALEM

Lewat wajah-wajahMu
Yang dipuja dan dinista
Yang disakralkan dan diabaikan
Telah Engkau tawarkan pada kami;
Ribuan piala dengan anggur surga, potongan roti, kismis,
Sop, serta daging bakar di atas meja perjamuan kami
Sementara pistol dan pedang tergeletak di meja yang lain

Tapi di Yerusalem, atas namaMu yang kekal
Kami pilih peledak sebagai persembahan
Kami pasang ranjau di tanah suci yang dijanjikan

Dan di pasar-pasar Yerusalem,
Kudengar puisi-puisiMu dinyanyikan bagai mantra kematian
Yang dikeramatkan para pemain catur
Puisi yang mustinya kami tafsirkan jadi cinta
Puisi yang mustinya menjelma nyala api di musim dingin
Atau menjelma air di musim kemarau

O, Rumah Seribu Pintu bagi para leluhur
Kami telah dikutuk menjadi martir buta dengan warna jubah masing-masing
Berbondong-bondong membakar kota
Saling menawarkan cawan kosong di bekas reruntuhan
Yang siap diisi dengan darah dan air mata
Sementara pemburu minyak dan kekuasaan
Mengisi barak-barak kami dengan peledak yang lain

O, Kekasih
MencintaiMu jauh lebih mudah
Daripada menggelar tikar kami bersama,
Saling gurau layaknya bocah di taman kanak-kanak
Dengan riang dan takjub

Kekasih
Beri kami cinta yang lain

Oktober 2017

 

 

KEMARAU DI TUBUHKU

Di tubuhku,
kemarau panjang ini telah mengeringkan sungai-sungai darah,
meretakkan bebatuan dalam jasadku,
juga meruntuhkan bukit-bukit dalam sukmaku.

Tubuhku adalah bumi kecil
dengan pepohonan ranggas
sebab angin timur dan barat saling berontak.

Dan di langit, matahari menebarkan kutuk hingga tanah jadi gersang,
hamparan padi jadi rumpang, serta buah-buahan telah memucat.

Di tubuhku,
kudengar lagu kematian dinyanyikan hewan-hewan hutan
Suara ganjil yang bergema tiada akhir.
Tak ada lagi bebunyian riang
Tak ada lagi tarian di ladang
Tak ada lagi ritual di gubuk-gubuk bambu
Rantang dan kendi telah kosong sebelum subuh
Sebelum ayam pejantan memberi harap
dan mengabarkan bahwa hari bakal panjang

Di tubuhku,
kemarau panjang ini telah menjauhkanku dari bisik leluhur,
membakar kitab-kitab warisan kuno,
dan menjadikan diri sebagai yatim-piatu di hari yang akan datang.

Juni 2016

 

 

REMANG KULITMU, DRUPADI

Lewat anak panah yang tak kenal akan cinta,
takdirmu ditulis
dalam ayat-ayat kitab
yang dibaca para pemabuk
dengan doa
“Tuhan memberkatimu.”

O, Drupadi,
wanita yang lahir dari nyala api
dan dikekalkan lewat ritus para dewa.
Siapa tak ingin kecup remang kulitmu?

Di lehermu yang telanjang
tergambar burung-burung terbang mengitari kayangan,
dua angsa saling memagut mesra,
dan ikan-ikan berenang di sekujur tubuhmu.

Drupadi,
kusebut nama sunyimu
pada tiap gugur daun.
Sedang para pengembara terus berdatangan
dengan kuda nasib
serta busur di tangannya.

Di altar,
bumi menyimpan derap,
pepohonan resah bergetar,
daun-daun masih saja berderai
selambat nafasmu.

Drupadi,
kutebus cintamu dengan puisi yang kutembakkan ke arah bulan.
Lalu jatuh
mengambang di kali
perlahan hanyut
dan hilang di tengah lautan.

“Karna, Manisku.
Aku tak ingin masuk dalam kutukmu,”
demikian kau ucap sumpah
pada jiwa yang patah.
Sebelum kau gelar remang kulitmu
pada lima penjelajah liar
yang berperang di atas tubuhmu.

November 2015

 

Gambar adalah lukisan Morning in Jerusalem: The Mosque of Omar the shaded side (1912)
Karya Walter Spencer-Stanhope Tyrwhitt

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *