Tulisan Awal Juni oleh Polanco Surya Achri

Posted: 22 September 2017 by Polanco Surya Achri

TULISAN AWAL JUNI

Azan berkumadang!

: mengapa harus kulewati rumahnya

untuk menuju rumah-Mu?

 

Tuhan, kini sandalku rusak!

 

(2016)

 

 

NEON

Seekor kumbang terbalik di pelataran masjid, tiga pasang kakinya bergerak-gerak hendak meraih sesuatu. Cahaya! Mungkin sang kumbang tengah merindu, bagai si pungguk merindukan bulan.

Suatu daya mengerakkanku: membalikkan badannya

ia menyentuh jariku dan kami merasa bercahaya!

Mei, 2017

 

 

DUHAI, CAHAYA DI ATAS CAHAYA

Pada bayangan diri, aku masih tergoda

padahal aku begitu ingin seperti laron yang sirna

terbakar dalam penyatuan

Apa karena begitu terangnya cahaya

sampai-sampai aku terpesona pada bayangan—diri?

 

(1438)

 

 

DI MASJID

Kita dulu kerap berlomba, berteriak “amin” paling keras dan kencang saat menghadap-Nya. Dan kita amat suka saat dimarahi orang-orang itu, lalu senyum-senyum sendiri saat mengingat-ingat wajah-Nya yang ikut bahagia mendengar suara kita. Namun, kini kupikir kita sama naifnya dengan mereka—bahkan mungkin lebih. Kita berlaga khusyuk: mengalami perjumpaan, padahal kita bener-benar memaling.

 

(1438)

 

 

MALAM-MALAM GANJIL! AKU MENCARI KEGENAPAN BATIN

Jika aku bersandar pada tiang rumah-Mu

entah mengapa aku selalu terpejam:

membayangkan apa itu keabadian

 

(1438)

 

*gambar tiang Masjid Vakil di Shiraz, Iran

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi Polanco adalah puisi religius. Religiusitas dalam puisi ini adalah persoalan pencarian dan penemuan (jalan) cahaya. Apakah kita harus senantiasa menatap matahari untuk bisa melihat cahayanya? Tentu saja tidak karena mata kita malah akan rusak karenanya. Tapi kita masih bisa melihat cahaya itu dari benda-benda yang terkena sinarnya. Benda-benda itulah yang kemudian akan memantulkan cahaya sampai ke mata kita. Kisah kumbang yang terbalik dalam salah satu puisi Polanco adalah bentuk metafora tersebut. Aku lirik akan dapat menemukan cahaya illahiah dari pantulan cahaya yang mengenai si kumbang yang saat itu memerlukan cahaya (pertolongan) Tuhan. Tapi boleh jadi juga, dari kacamata si kumbang, aku liriklah yang sebenarnya menjadi pemantul cahaya illahiah.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *