Tak Ada Buku di Pasar Minggu oleh Aghosh Kembara

Posted: 11 May 2018 by Aghosh Kembara

Catatan Redaksi:
Pasar minggu sepengalaman saya adalah sebuah pasar dadakan. Pasar ini adalah pasar yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mencari hiburan setelah beberapa hari sebelumnya telah sibuk beraktivitas (kerja/kuliah). Yang datang dari segala kalangan mulai dari orangtua, anak muda, dan anak-anak yang semuanya tumpah di satu tempat. Ada yang belanja, olahraga, atau sekadar cucimata. Berbeda dengan pasar umum (pasar yang buka setiap hari), orang datang ke pasar minggu tujuan utamanya adalah mencari kesenangan, bukan mencari barang kebutuhan sehari-hari. Justru, pasar minggu adalah pasar untuk melepas kesepian dan kepenatan sehingga nampak orang-orang menikmati kesenangan. Namun aku lirik dalam puisi Aghosh Kumbara justru hadir ke sana dengan perasaan sinis sekaligus teralienasi. Kesenangan bagi aku lirik adalah kesunyian, buku-buku dengan ilmu pengetahuan. Dari sini nampak bahwa yang ideal dalam pikiran penyairnya adalah kesunyian. Hiburan yang baik bagi penyair adalah bergelut dengan ilmu, bukan kesenangan badani seperti belanja pakaian atau makan.
Ketiadaan buku di pasar senang-senang dalam puisi ini menunjukkan bahwa dalam pandangan penyairnya, buku bukanlah bagian dari kesenangan orang-orang kebanyakan. Atau setidaknya dalam perspektif pedagangnya, buku masih dianggap bukan barang yang menguntungkan untuk dijual. Lalu jika buku dijual di pasar minggu, akankah orang-orang akan bergerombol mendatangi pelapak, lalu membeli buku, kemudian membacanya? Tapi bagaimana jika pasar minggu berubah menjadi pasar pameran buku? Apakah akan seramai pasar makanan? Puisi ini secara implisit nampak mencoba menggugat budaya konsumsi kita.
Yang ada saat ini, kesenangan kita adalah sesuatu yang sekali telan atau sesuatu yang bisa dipamerkan.
Puisi ini juga menunjukkan realitas bahwa buku masih dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting, bukan bagian dari kesenangan umum, bukan bagian dari konsumsi masal. Ia kalah bersaing dengan cilok, es goreng, atau es kepal Milo.

 

tak ada buku di pasar minggu

tak ada buku di pasar minggu

orang-orang hilir mudik
berjalan saling menghindar
mencari ruang lengang
meliarkan pandangan
dan daya penciuman
memburu benda-benda digantung
dan wangi-wangi yang dikirim
kepulan asap-asap
dari kompor-kompor menyala

tak ada buku di pasar minggu

bahasa-bahasa menghambur
dari mulut-mulut para pemangsa
bertebaran mengisi telinga
berebut saling berdesakan
tetapi beberapa mulut sibuk
mengunyah makanan
tetapi beberapa tubuh sibuk
memamerkan pakaian

tak ada buku di pasar minggu

aku berjalan mencari tenda
tempat buku-buku ditidurkan
dari ujung sampai ke ujung
tetapi tak juga menemukan
mungkin buku-buku sudah bosan dijajakan
atau mungkin mereka tahu
kota ini sudah tak butuh lagi ilmu

tak ada buku di pasar minggu

aku pulang tanpa buku

Asoka, 2018

 

 

bocah di bawah hujan

ia menari di bawah hujan
sedih berlepasan dari tubuhnya
tawa berhamburan dari mulutnya
lupa soal ayah
lupa soal ibu
atau tetek bengek
soal pelajaran sekolah

dengan gerakan lincah
kedua tangannya merentang
kedua kakinya membujur ke belakang
ia bersiap-siap menjadi ikan
lalu tanpa perhitungan
ia tenggelamkan diri ke dalam
genang air
sampai ke dasar

bocah di bawah hujan
bocah miskin kurang perhatian
hanya butuh hiburan
selalu berharap hujan
tak reda selamanya

Asoka, 2018

 

 

bocah di jembatan

ia duduk dengan dagu bertumpu
di lutut dan sepasang matanya sayu
jatuh ke sungai menjadi perahu
mengejar ikan-ikan

ada dua kisah sebelum ia di sana:

pertama, ayahnya menggonggong
dan menyumpahinya mati sebelum
ajal menjemputnya sebab ia dituding
anak tak berguna dan sukanya memberi
repot setiap hari dengan perkara
uang jajan dan keinginan-keinginan lainnya

kedua, ibunya kehilangan otak dan
mendampratnya dengan kata-kata keji
dan meludahi mukanya berkali-kali
karena mukanya itu bentuknya lain
dan kata ibunya mirip alien
sama sekali tak sedap ditatap mata

di jembatan itu, ia ingin melompat
hidup di dasar sungai
bersama ikan-ikan
dan melupakan hidup
yang bangsat

Asoka, 2018

 

 

Pendapat Anda: