Setiap Kamis, Ia Mencukur Kumis oleh Dwi Rahariyoso

Posted: 6 October 2017 by Dwi Rahariyoso

Sol Sepatu

Ia menjahit kakiku yang aus oleh gang-gang sempit kota

di mana ribuan saudaraku tergerus dalam labirin nasibnya

tiap hari bersama cahaya-cahaya yang menyerbuki mimpi

dan menelan sisa nafas yang terhempas

 

Ia menjahit kakiku dan menyulamnya bersama jejak-jejak

ingatan, jarak dari perjalanan yang mengental di kepala

sebuah kampung halaman yang dialiri sungai

betapa naif hidup yang dihabiskan sendiri

 

Ia menjahit kaki dan kepalaku seperti menjaga hidup

dari revolusi yang hangus oleh kenyataan

dan tidak pernah ada kemenangan bagi perantau

kecuali pulang pada kenangan yang nostalgik

 

2017

 

 

Di Hadapan Buku

di hadapan buku, dunia menjadi televisi yang bersandiwara

tentang lakon tanpa nama

kau menonton dirimu sedang memuntahkan hewan-hewan

purba dalam suatu drama satu babak

lalu, segala yang teringat tentang kedai kopi, sarapan nasi bungkus,

dan juga biaya listrik mulai meleleh memenuhi sudut mata

ironi yang gersang tengah dibacakan oleh seseorang di masa lalu

yang dilarang seorang pegawai kelurahan

manusia-manusia adalah negara yang terbelah di hadapan buku

sebelum mereka benar-benar selesai merindu

di hadapan buku, sebuah pabrik bahasa tengah bekerja

cerobongnya yang menganga siap menghisap segala upaya

untuk menciptakan tafsiran-tafsiran hampa

2017

 

Setiap Kamis, Ia Mencukur Kumis

setiap Kamis ia mencukur kumis dan melakukan perjalanan

seperti pasasir

ia mencukur kumis dalam sebuah perjalanan musafir

ke arah debu-debu yang menghuni gurun

sebuah perjalanan musafir dikabarkan untuknya sebagaimana

tahun-tahun yang senyap dalam almanak masehi

debu-debu yang menghuni gurun seperti tidak berpintu

dan tidak berpenjuru

angin menutup tubuhnya dengan badai sepanjang masehi

yang kering oleh kopi dan roti

ia mencukur kumis tujuh hari sekali dalam kesunyian

dan tuhan merangkulnya lewat bisikan-bisikan

yang menghuni gurun

ketika ia mencukur kumis kesekian kalinya,

tubuhnya lebur bercampur debu-debu  

dan terbang ke segala penjuru

 

2107   

 

Seorang Suami yang Berbicara kepada Istrinya  

Aku memerankan suamimu. Kau menjadi istriku. Di kamar sempit

inilah segalanya bermula. Kita adalah sepasang lakon yang saling menyakiti

demi dunia yang sepi dan pahit. Aku yang kejam dan kau yang cerewet, di

hadapan dunia yang sumpek dan pekat.

Kita tidak lagi membicarakan cinta seperti masa silam. Cinta adalah variasi

tentang gula, teh, dan kopi. Di kamar ini, dunia menyusut tiba-tiba.

Sarang laba-laba dan catatan-catatan hutang belanja yang terus-menggerus

hati dan telinga. Demikian juga lenguh dan gairah farji yang semakin menua.

Aku seperti lembu yang hampa dan kau bajak yang merindukan aroma tanah.

Kelak, kita akan bahagia seperti tokoh-tokoh telenovela. Sebab dunia tanpa idola

adalah niscaya. Demikian halnya masa tua yang tembaga, di hadapan anak cucu.

Masa kini adalah rindu yang mahal tentu saja. Kita telah menukarnya dengan omelan

dan bermacam kejengkelan tak terperikan. Kau yang keras kepala dan aku yang ingin

menang sendiri. Kelak, kebahagiaan itu akan dimaknai sebagai kenekatan.

Sepeda butut itu adalah mesin perang kita. Menghadapi zaman yang tajam,

hari-hari terasa panjang, berpeluh, dan mendebarkan.

Seorang kuli batu tak lebih butut dari sepedanya, demikian denganmu

yang pembantu. Jauh kampung halaman tidak tergantikan sebab hidup

tak pernah dimenangkan.

2017     

 

Kejadian Ganjil Seorang Buruh

sebagai buruh yang bekerja, namamu tidak ada di daftar gaji. buruh

meminjam kursi untuk duduk di atas rasa letih yang dihasilkan

jam-jam lembur kantor yang berisik.

kedua kakimu terkulai seperti sungai yang keruh dan dipenuhi

endapan sampah dari pagi hingga petang.

atasanmu adalah mandor yang malas tapi baik. ia memberimu

pekerjaan dan upah sukarela.

 

di kontrakan yang sempit, bohlam sepuluh watt menyala temaram

dan dipan yang keras meringkik disertai nyeri rematik.

gas tiga kilogram kembang kempis

memanaskan sisa sayur kemarin. rasa lapar

dan dinginnya hujan bercampur seperti teka-teki

yang tidak pernah kau mengerti.

 

2017

 

 

*gambar lukisan The Traveler Painting oleh Anthony Vandertuin

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi Dwi Rahariyoso menggambarkan realitas kehidupan yang ironis dan tragis, dimana kehidupan masa kini yang sedang dijalani sepenuhnya tak lagi sama dengan apa yang dijalani pada masa lalu. Sementara itu, bayangan mengenai kebahagiaan di masa depan hanya hadir sebagai sesuatu yang samar. Namun di sela-sela kepayahan hidup tersebut, harapan akan kebahagiaan di masa depan tetap saja ada sebab hanya harapan sajalah kiranya sisa tenaga yang bisa menggerakkan segalanya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *