Sepucuk Surat Untuk Puisi oleh Abdee Wahab

Posted: 22 June 2018 by Abdee Wahab

Catatan Redaksi:
Puisi adalah dunia kebahasaan yang diutus penyair untuk menyampaikan gagasan, perasaan yang selama ini tinggal dalam diri penyairnya. Setelah diciptakan, ia pun dibebaskan untuk mengembara. Sayangnya, justru melalui puisi-puisi ini, saya menemukan suara penyairnya yang seringkali merasa bahwa puisi ciptaannya tidak pernah bisa mewakili suara dari penciptanya sendiri. Nampak bahwa masih belum ada kepuasan penyair terhadap puisi-puisi karyanya sendiri. Dengan demikian, apakah benar bahwa puisi telah menjadi sebuah dunia yang sama sekali lepas, bebas dan membentuk dirinya sendiri sehingga ia tidak lagi memiliki ikatan apa-apa dengan penyairnya? Benarkah penyair sudah mati? Apakah melalui puisi-puisi ini, penyairnya mencoba melakukan intervensi? Saya seolah menemukan bahwa penyairnya masih belum merelakan puisinya lepas menjadi diri sendiri. Duh… Bagaimana bisa?

 

Sepucuk Surat Untuk Puisi

Kuharap hari ini kau baik-baik saja.

Kau pernah begitu marah
ketika kusebut kau sebagai tuan rumah yang tak ramah.
Bagimu, satu pintu yang terbuka
adalah jalan untuk masuk bagi suka dan duka.

Kau mengizinkanku masuk,
ketika kau sedang sibuk
menyulam masa kelam,
hingga membuatmu lupa menjawab salam.

Kau selalu menganggapku pembawa berita
yang penuh derita dengan segudang dusta.
Aku tahu, kau menghindari perang yang
dapat terjadi akibat kata-kata terlarang.

Namun untuk sekali ini,
ingin ku ajak kau membuka hati
agar kau tahu bagaimana cara mengubah berita
yang penuh derita menjadi sebuah cerita cinta.

Makassar, 2017

 

 

Tips Menjadi Pelukis Puisi

1. Sebelum Melukis

Sebelum melukis, bersihkanlah hati
agar kau tak merasakan kegelisahan hati
lalu melukislah dengan sepenuh hati
dengan penuh hati-hati
agar sepenuhnya kau mendapatkan kesenangan hati

2. Saat melukis

Jangan pernah keras hati,
Sebaiknya hindari pertengkaran hati,
agar tak ada penyesalan hati.
lukisan kita datangnya dari hati,
Untuk dinikmati semua hati,

3. Setelah Melukis

Jangan pernah patah hati
ketika hasil tak sesuai isi hati,
sebab hebatnya hati
jika dapat bersabar hati.
Terus berusaha, maka kau akan mendapatkan kesempurnaan hati

Makassar, 2017

 

 

Puisi Yang Menceritakan Kesedihan Seorang Penyair

Aku sudah memilih menjadi telinga bagimu
sebelum kau hadir menjadi mata untukku
Kebahagian adalah merpati yang selalu tahu cara untuk kembali
Hibur penyair buta kepada kekasihnya yang tuli.

Sudahilah sedihmu,
Kekasihku.
Aku ingin puisi ini bercerita
tentang kebahagian kita

Nasib buruk, penyair itu hanya punya kata-kata
untuk menjauhkan kesedihan dari kekasihnya
Dipilihnya setiap kata dengan teliti
Untuk dihadiahkan kepada kekasihnya sebuah puisi

Meskipun ia tahu dan selalu tahu, kata-katanya
tak akan berarti apa-apa bagi kekasihnya.
Sekali lagi, puisi-puisinya menjelma bunyi yang paling sunyi
Dan ia gagal menanggalkan kesedihan yang tinggal dalam dirinya sendiri

Makassar, 2017

 

 

Menyunting Puisi

Aku tidak ingin mengucap meski hanya sepatah kata,
Agar dadaku dapat mendekat dan mendekap dadamu menjadi kita

Aku hanya ingin mengecupmu tanpa kata-kata.
Bukankah itu cukup untuk menyatakan dan menyatukan kita?

Lalu apa indahnya puisi yang hanya sebatas kata?
Bukankah itu yang membuat luka semakin menganga?

Aku ingin mencintaimu tanpa kata-kata.
Sebab aku benci kepada pemerintah yang hanya bisa berkata-kata

aku akan mengajakmu menghapus tuntas semua kata
yang ada di kota, hingga tersisa hanya ada kita.

Lalu akan kusisakan di bibirmu sepatah kata,
sampai kau memintaku untuk menghapusnya pula.

Makassar, 2017

 

 

Menikmati Puisi

Kau memintaku untuk berbahagia

Apakah kau pernah bertanya,
kenapa kita harus berbahagia?
Atau, apakah mereka tahu apa itu kebahagiaan?

Kau bersedih,
sebab selama ini tak pernah tahu apa itu kebahagiaan.
Lalu apa itu kesedihan, kau tahu, kan?

Tiba-tiba kau diam, berdiri mengambil sebuah buku
yang berisi puisi-puisi yang selalu kau bacakan kepadaku.
Dengan buku itu, kau menampar, lalu meninggalkanku.

kau pergi meninggalkan aku, tetapi puisi-puisi itu tetap tinggal di sini.
-Di antara kau yang jauh di sana dan aku yang masih menantimu kembali.
Dan akhirnya, aku tahu cara yang baik untuk menikmati puisi.

Makassar, 2018

 

 

Pendapat Anda: