Self-Portrait with Thorn Necklace and Hummingbird oleh Alfian Dippahatang

Posted: 20 April 2018 by Alfian Dippahatang

Catatan Redaksi:
Seperti diungkap penulisnya, puisi-puisi ini terinspirasi dari lukisan-lukisan Frida Kahlo, pelukis legendaris asal Meksiko yang terkenal dengan karya self-portrait, yang diduga terinspirasi dari kisah hidupnya. Puisi-puisi ini nampak mencoba membahasakan lukisan-lukisan tersebut ke dalam bentuk kebahasaan tulis berupa puisi. Dengan demikian, membaca puisi-puisi ini seperti membaca lukisan Frida Kahlo sekaligus membaca kisah hidup Kahlo yang terepresentasi dalam bentuk narasi tulisan. Sebagai sebuah representasi, tentu ia tidak sama, akan ada kemungkinan masuknya teks lain di situ. Akan tetapi, andaikata keterangan mengenai lukisan Kahlo disembunyikan oleh penulisnya (seperti judul yang berbeda dengan judul lukisan Kahlo) atau kita tidak pernah membaca/melihat lukisan Frida Kahlo, maka tafsiran terhadap puisi-puisi tersebut kemungkinan akan menjadi lain dan kekuatan puisi pun akan menjadi berbeda. Kehadiran puisi-puisi ini memberikan dua penawaran itu, apakah pembacaan kita dipengaruhi oleh teks lain yang sudah disajikan itu, ataukah tanpa menghadirkan teks lain itu, sehingga memungkinkan menemukan hadirnya teks yang lain lagi.

 

Self-Portrait with Thorn Necklace and Hummingbird

Di leherku terlilit engkau yang ingin tahu
bagaimana kesetiaan itu dapat dijaga,
tetapi tidak ingin disebutkan
sebagai penjara hanya kepada satu nyawa nama.

Daun-daun mengikut di belakangku,
berguguran ketika air mataku jatuh
melihat tanah-tanah yang didoakan
para petani seumpama burung yang pincang.

Langit bersih ibarat pengetahuan jiwaku
yang penuh angan-angan pencapaian
melihat diri sendiri menjauh dari keterasingan
dan belenggu keramaian yang susah berkesudahan.

Bibirku adalah bahasa anak kecil yang ingin
engkau tawari dengan gula-gula.
Bungkam melihat pohon-pohon raksasa
ditebang gergaji mesin yang perkasa.

Makassar, 2016

 

The Two Fridas

Engkau tetap bersikeras pergi sekali pun engkau pahami,
jantungku susah payah kupertahankan agar tak berkarat.
Sungguh tak kubiarkan diriku melarat.
Begitu lekat perasaanku, begitu lekas engkau melepasnya.

Kepada cinta, timbang pandangmu tak lagi sama
ketika di pergelangan tanganku bercucuran darah
yang pernah begitu antusias engkau isap hingga lesap.

Diriku kubelah, kiranya jejakmu tak begitu kuat
melumat dan membuatku menegang lengang.
Sekali terjerat, selamanya tak ingin kurasakan sesat.

Andai engkau menyempatkan waktu sesaat
memahami jantungku, mungkin debaran yang paling
berdetak itulah yang setia sejak mula engkau dengar.

Di tangan kiriku, kugenggam kenangan yang paling
kenangan. Melarangmu bukan lagi pilihan
tetapi pertanda langit kelam yang di tangan kananku
kugenggam gunting, ingin sekali membunuh awan.

Makassar, 2016

 

Me and My Doll

Jika tak ada bayi boneka yang kurawat dari kecil, mungkin sudah kuseret
diriku jauh ke antah-berantah. Ketegaran yang bertahan telah melalui
banyak bayangan jalan yang pergi meninggalkan keteraturan.

Engkau pikir mencari pengganti sama dengan memindahkan benda-benda.
Pertimbangan engkau anggap sesuatu yang gampang patah di hadapan
gergaji mesin atau buku-buku yang dibakar dari pemikiran pakar.

Ranjang yang pernah membuatmu sebegitu bahagia menatapku seumpama
sinar bulan. Sirna sudah disebatang rokok tanpa api harapan
bukan karena takut larut, melainkan asapnya tak ingin jadi rupa dan dupa.

Engkau lupa bukan luput saat pertama kali saling rindu.
Jantung tiba-tiba berpacu seperti suasana berada di pacuan kuda
yang tapak kakimu masih berjejak sana-sini di lantai kamar.

Makassar, 2016

 

The Wounded Deer

Anak panah yang tertancap di tubuhku
punya angan-angan mematikan hidupku.
Kiranya masa jauh sudah dekat kucapai.
Yang menempuhnya mesti menyelesaikan
urusan jantung yang tak ingin lagi terkuras.

Masa kanak jadi pohon yang tak pernah
menginginkan dirinya cepat tumbang.
Suara sumbang telah membuatku rapuh
yang percuma berlari mati-matian.
Engkau lapang mengurus dirimu menjauh.

Air laut kucecap telah menghilangkan
aroma bibirmu yang pernah begitu hangat
menangkap banyak keinginan bersamamu.
Itu dulu. Luruh dihantam musim yang tahu
menempatkan dendam dapat menyengat.

Makassar, 2016

 

The Broken Column

Mata rantai yang bertahun-tahun menjagaku.
Putus setelah engkau kokoh menyatakan pergi.

Derai airmataku bukan lagi teka-teki
yang susah ditebak, tak akan meleset jika ditembak,
sebab terlanjur dicintai peluru.

Di tubuhku tertancap luka.
Liku yang tak lagi engkau pikir
susah mengulangnya kembali dihimpun janji.

Percaya memang mewakili diri sendiri
sebelum semuanya sirna. Sinar matamu kepadaku padam.

Makassar, 2016

Catatan Penyair:
Lima puisi ini terinspirasi dari lukisan Frida Kahlo mengenai potret dirinya.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

 

Pendapat Anda: