Obituari Jiwa oleh Nugroho Adi

Posted: 20 October 2017 by Nugroho Adi

OBITUARI JIWA

Gusti, aku khawatir

lelahku menggigil di kulkas

artis-artis yang mendadak

jualan kue khas.

 

Gusti, aku cengang  

jalan dan jembatan membekam luka

tapi di langit sana justru

gedung dan pagar terus dipugar.

 

Gusti, aku lemas

sawahku gelagapan debu

pabrik itu menubruk kemanusiaan

dan piring makan ibu.

 

Gusti, aku sangsi

doaku murung di dalam sarung

para juru khotbah

yang lupa cara merenung.

 

Tapi Gusti, aku percaya

Kau adalah maha cinta

menaungi segala nasib

yang berumah pada derita.

 

Blora, 2017

 

 

TAYUB

Melenggang nada sutra

tembang-tembang memuntah

ranum bah bibir pesinden

melumur ke usia ayah.

Sementara semesta gagap

melihat pinggul-pinggul yang gemulai

menanggung dendam para panjak

kepada kendang-kendang dunia

yang tak habis menabuh prasangka.

Minggu kedua, Juli 2017

 

JL. RAYA DIPONEGORO-60213

Waktu menjadi tunarungu

suara yang jauh dari kata-kata

menguap disibak nganga rahasia

berliter keinginan ramai-ramai

menuruni jalan raya

menyembur wangi ter aspal tua.

 

Waktu semakin tunarungu

kebisingan membubul rapat

di langit cerak burung-burung

menyeret awan-awan hitam

tempat amarah berkumpul

umpatan yang menggantung

pecah ditusuknya. Mataku pedih

dan ingatan-ingatan berjatuhan.

 

Dengan penuh diam-diam

kauhisap tajam

kepingannya dalam-dalam.

kerelaanmu merambat serat

seikat masa kecil luruh

ke mesin-mesin tak bersekat.

 

Orang-orang adalah tunarungu

patung-patung lemah

yang hanya lebih takut

kalau-kalau lampu memerah.

 

Orang-orang semakin tunarungu

hutan merimba di atas kepala

terus menumbuhkan binatang-binatang senama

meski hati tak merawat dendam yang sama.

 

Surabaya, Maret 2017

 

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi ini mencoba memperlihatkan persoalan carut marut dunia yang tidak hanya ada di kota tapi juga merambah ke desa. Dunia modern yang bergerak serba cepat dan bising membuat orang-orang pun mencari hiburan, tapi justru kehilangan diri karena mabuk dalam kepalsuan. Kenyataan ini membuat aku lirik justru terjebak dalam kesunyian. Agama, sebagai salah satu tempat untuk menemukan kembali kemanusiaan/jiwa pun dirasanya tak lagi menjadi jalan. Dalam segala keputusasaan itulah, Tuhan pun dijadikannya tempat untuk menemukan kembali secerca harapan.

Dibandingkan dua puisi yang menggambarkan suasana kota, puisi Tayub yang membawa ciri khas kedaerahaan (mungkin juga desa) lebih menyuguhkan penggambaran lanskap suasana luar yang kentara. Hal ini karena terdapat berbagai citraan, seperti citraan penglihatan dan pendengaran yang sama-sama bermain dalam menanggapi peristiwa yang ada di hadapan. Pemandangan yang dilihat pun mungkin adalah pemandangan yang temporal, berbeda dengan apa yang ada di kota, yang nampak terlalu monoton sehingga menyuguhkan sesuatu yang lebih segar, kaya, sekaligus dalam.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *