Karet Gelang oleh Nurholis

Posted: 25 May 2018 by Nurholis

Catatan Redaksi:
Salah satu yang membuat puisi-puisi ini menarik karena hadirnya subjek antropomorfisme yakni benda-benda hidup layaknya manusia yang sebenarnya merupakan benda sederhana yang hadir di tengah-tengah kita tetapi kadang kita tidak terlalu memperhatikannya. Dengan menghidupkan benda-benda tersebut selayaknya manusia yang punya perasaan, maka secara tidak langsung kita dibawa lebih jauh oleh puisi-puisi ini untuk menyadari keberadaan benda-benda tersebut yang memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan manusia. Puisi ini tentu saja menjadi refleksi pada kita untuk juga melihat hal-hal kecil dan tak melulu hal-hal besar semata.

 

Tong Sampah

tuan yang dermawan
kenalkan ini aku, si merah
ini istriku, si kuning
dan ini anakku, si hijau

jika tuan memiliki makanan sisa,
sayuran sisa, buah-buahan sisa
berikan kepada kami saja
anakku, si hijau, ia pasti lumat tak sisa

jika tuan memiliki bungkus makanan ringan,
botol plastik bekas, rongsokan mainan
berikan kepada kami saja, tuan
istriku, si kuning, ia pasti langsung telan

tapi, tuan
jangan beri mereka baterai bekas,
ceceran oli atau ban bekas
lambung mereka tidak tahan
biar aku sendiri yang akan lahap dan habiskan

aku mohon padamu, tuan
beri kami makan
kami lapar dan kedinginan
setiap hari di pelataran
menanti belas kasihan
angin dan debu tak membuat kami kenyang, tuan

Barong Tongkok, 7 Januari 2018

 

Karet Gelang

gerombolan karet gelang datang berdemo
yang kini giliran di depan lapak jualan gado-gado

hei gado-gado
mengapa engkau campakkan kami
apa salah kami
sedari dulu kami selalu melingkar di tubuhmu
mengawalmu sampai pada tuanmu

kini engkau lebih pilih staples
yang hanya menjepit rambutmu
bagaimana jika ia jatuh ke dalam tubuhmu
kemudian meracuni tenggorokan tuanmu
bisa-bisa engkau tak lagi dipercaya

ah, lagipula hanya kami yang bisa beritahu tuanmu:
mana pedas, mana manis, mana pedas manis

setengah jam berorasi
gerombolan karet gelang itu pun membubarkan diri
mereka tahu gado-gado bersikap sama seperti nasi goreng,
lalapan, pecel lele
dan semua jenis nasi bungkus

tuhan, ampuni kami

doa singkat sebelum mereka nyemplung ke sungai minyak tanah

Barong Tongkok, 7 Januari 2018

 

Sandal Jepit

biar rupamu sederhana, sandal jepit
engkau yang mengantarku ke masjid

biar rupamu tak menutupi aibku:
jempol-jempol hitam dan bau
engkau bersahabat dekat dengan kantongku
menyisakan koin dan kertas lusuh walau sedikit
membukakanku pintu-pintu langit

Barong Tongkok, 7 Januari 2018

 

LPG 3 KG

orang-orang menjulukiku si melon
mungkin karena warna hijauku yang menggoda
menjalar kemana-mana sampai ke pelosok negeri

aku minimalis, modis,
manis
dan ekonomis
benar saja aku menggoda

saking menggodanya, orang berduit pun tergoda
dan membeliku banyak-banyak
walaupun terpampang jelas di tubuhku
“hanya untuk masyarakat miskin”

sebenarnya hargaku mahal selangit
tak terjangkau oleh wong ndeso yang doyan kecapi
pemerintah yang baik hati menyuntikku dengan cairan subsidi
biar wong ndeso juga dapat menikmati melon yang manis legit

tapi belakangan ini aku sedikit risau
kabarnya akan ada stroberi non subsidi
menggantikanku dan teman-teman
ah, aku jadi galau: bagaimana nasib wong ndeso tanpaku
aku tak sanggup membayangkan wajah mereka kembali masam dan mengkerut
belum lagi harus kembali makan kecapi
ah, semoga tidak
semoga ini prasangka burukku saja

Barong Tongkok, 8 Januari 2018

 

Jamban Portabel

tak ada yang lebih kubutuhkan
selainmu, jamban portabel

engkau tahu
dari subuh – tanpa ngopi dulu – aku susuri jalanan,
gang-gang, tong-tong sampah, kali-kali kumuh
dengan tongkat bermata gancu yang tak lebih tajam dari nasibku
andai ada engkau, jamban portabel
akan kubopong ke manapun aku berkelana
walau badanmu lebih berat dari botol-botol plastik bawaanku,tak apa

tak ada yang lebih kubutuhkan
selainmu, jamban portabel

engkau tahu
aku tak perlu rumah, ada kolong jalan layang beralas aspal dan beton
berpendingin angin
aku tak perlu musik dan rokok, ada knalpot aneka bunyi dan asap

tak kalah dengan hotel full music dan AC
rumahku full bising dan polusi
kuharap engkau sudi bertamu, lebih-lebih tinggal bersamaku
aku akan tidur memeluk tubuh wangimu

Barong Tongkok, 7 Januari 2018

 

Pendapat Anda: