Instagram oleh Fajar Kliwon

Posted: 6 April 2018 by Fajar Kliwon

Catatan Redaksi:
Tuhan cukup adil. Menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki tapi sekaligus manusia (baik laki-laki dan perempuan) dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Untuk itulah seharusnya tak ada yang lebih tinggi di antara keduanya. Puisi-puisi yang hadir ini menyuguhkan perempuan tidak saja sebagai objek tetapi menjadi subjek yang bebas, memiliki kuasa, meskipun tetap ditafsirkan dalam cara pandang laki-laki. Penulisnya nampak pula mencoba menyuguhkan ironi, tentang kepercayaan mengenai kuasa lelaki yang sebenarnya tak sepenuhnya bersifat absolut. Laki-laki ternyata juga bisa lemah tak berdaya tanpa kehadiran sosok perempuan.

 

Kemungkinan Lain Jika Kau Tak Mencintaiku

Bila lelaki tak relakan rusuknya
Untuk menciptakan perempuan
Selirih angin yang buat daun menari
Kicau burung pagi hari

Dan langit jernih berpelangi
Yang enggambarkan hati kita kini
Pasti tidak ada
Adam terus kesepian, dan kita

Takkan merasa hidup
Takkan merasa mati
Bahkan tidak merasakan
Apa yang debu itu rasakan

Oleh karena itu aku selalu mencintaimu perempuan
Sebab apa-apa yang nampak adalah sebabmu ada
Seolah-olah alam raya ini diciptakan tuhan
Dari dadamu yang tak habis-habis kubaca

Sebab kau tahu bila lelaki tak ada
Atau lelaki hanya menciptamu saja
Tanpa memujamu dengan memetik khuldi
Yang merasa bahagia mungkin sepasang simpanse

Yang bercinta di surga
Kita tak pernah merasakan apa-apa
Perempuan, aku memujamu
Sebab kata pada gunung dan isinya

Bermakna dirimu

2018

 

Epitaf Pada Waktu

Telah kulalui segalanya atau
Barangkali sebagian saja di dunia ini
Kulihat diriku pada hari-hari silam
Nyalakan lilin bukan untuk diriku malam ini

Selalu di tanggal kelahiran
Beberapa daun tanggal dari rantingnya
Teringat kata-kataku pada nisan waktu
Belum ada sama sekali yang nyaring, abadi

Belum ada debu dari rambutku
Membuat musim kembali
Tumpahkan warna hijau pada bumi
Bahkan belum ada tetes keringatku diburu dahaga lalat

Di tanggal kelahiran ini
Aku menepak-nepak tanah kuburan
Seperti Adam sesal memuja
Wanita yang dicipta dari rusuknya

Kala jatuh ke bumi. Akupun sesal atas segala
Yang tinggal nama dalam kenang
Tuhan, benarkah diriku ini ada?
Diriku janganlah buat dunia ini

Hanya ruang tunggu
Menunggu mati

2018

 

Bicaralah

Bicaralah, bicaralah ibu!
Bicaralah, jangang gamang
Seperti jalanan yang tak tahu harus apa
Selain pasrah diinjak pejalan

Bicaralah! Sebab aku tak mau
Kau terserah ayah di rumah
Bicaralah! Sebab kita bukan patung Lincoln
Duduk santai dalam senyum paling madu

Kala nasib jadi megalomaniak
Meminta nyawa, membuat kesedihan
Sempurna—urakan, kumal, bermata mawar
Terpaksa kau cintai, bila tidak

Terpaksa kau hadapi hasrat anjingnya
Akhirnya, mesti kalah
Bicaralah bu! Dendam jangan diredam
Kita bukan semut girang

Melihat madu di tengah badai
Yang dicipta untuk manusia

2018

 

Ladang Kapas

In the Land of Clusters – Mal Waldron

Angin berlari kencang
Dan kita yang berdiri di ini ladang
Menatap kapas matang berjatuhan
Macam manusia jatuh dari vagina
Lembut.

Aku dan hampir kamu
Melihat jiwa kita
Yang datang dan pergi
Banyak dan sakit
Pulang tanpa jejak
Mesti dibaca berulangkali
Abadi.

2017-2018

 

Instagram

Wanita cantik muslihat maut
Suatu hari ia follow kamu
Kamu follback

Ia kirim direct message
Kamu baper, lalu kirim puisi cinta:
Jika aku tak sempat mencintaimu
Sampai maut merengut
Kudoakan kau masuk sorga
Jika, kita bertemu di sorga
Akan kupetikkan sebutir khuldi untukmu
Biar tuhan murka, melempar kita ke tempat asing
Menderita dan saling mencinta, punya anak dan cucu
Mencipta lagi perang, membangkitkan kebengisan
Itulah yang kelak kita nantikkan, sayang

Ia membalasmu dengan lope warna pink
Setiap kamu upload foto, ia likers pertama
Suatu saat, kamu bertemu dengannya di perempatan jalan
Bibir merah, rambut pirang, tubuh aduhai
Ia mendekat padamu, melangkah seksi sekali
Kamu selfie denganya, lalu di upload ke Instagram
Nge-tag ia

Besoknya, muncul comment di fotomu:
Semoga amal ibadahmu diterima, nak 🙁

2018

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: