Di Pucuk Malam oleh Muharwi Mukal

Posted: 26 May 2017 by Muharwi Mukal

malam

MENJEMPUTMU

Dan aku adalah diriku

dengan keadaan

yang tak pernah genah.

Sebuah sajak pun merangkak

di antara tubuhku yang sonder pijak.

Menjemputmu, hari depan

adalah perjudian kelabu

bagi mata dadu sonder tentu.

Dan hari ini

masih berisi babak yang sama

babak-babak lalu yang masih saja kurawat.

Ambivalensi yang belum tamat.

2017

 

 

DI PUCUK MALAM

Di pucuk malam, sunyi membenam

jam pun memberat, dan kau tahu

ada yang enggan jadi karat

seperti cinta, yang mengendap

melolosi hari-hari sangsi.

 

Padamu, ingin kubagi cerita

ihwal yang lalu dan yang datang

di muka. Terasa hari bangkit

berbuih pada orbit. Sepi pun melaju

menemu bulan yang ungu. Menemu kau.

Menemu diam yang mangu.

 

2017

 

 

BAGAI KABUT TURUN DI MUKA

Dan kau berpindah kota

meninggalkan ingatan-ingatan

pada tempat lama kita:

Percakapan tentang puisi

juga narasi para kelasi

yang didatangkan dari laut Hindi.

Angin pun memburu dari Yogya

namun kau lebih terampil melambung

dan lebih tahan mengapung

dari kawanan para burung.

Dan tak ada lagi yang dapat kutemukan

selain fiksi-fiksi sediakala

yang pernah kita punguti dari Eropa.

Segalanya seakan telah tuntas

padahal tak kita ciptakan tapal batas

atau maklumat lain sebagai penyintas.

2017

 

 

JOGLO BAGI SIWAR

Susunan belikat belulangmu

dan rerusuk serta persendianmu

adalah pohon jati tua

yang menahan kesedihan

dari getah zaman laju

dan kenangan demi kenangan

dari zaman yang telah beku.

 

Kedua tanganmu yang pasak, di antara

ruas ruang dan sekat kamar hangat, terlacak

seribu satu hikayat yang masih kau rawat.

Tetap kuat. Tetap kuat!

 

Di sana

pernah tinggal

anak-anakmu

yang bebal.

 

Dan pada punggung tubuhmu

masih ada sisa-sisa

dari jejak yang enggan kadaluwarsa:

undakan batu dibaluri lumut tua

dan galur-galur tanah

yang jadi pendiangan

dedaunan kalah.

 

Di sana

pernah tumbuh

anak-anakmu

yang jagung

dan singkong

yang menggembung.

 

Dan sepeda ontel model lama

pernah terparkir pada terasmu.

Sebuah teras yang membisu

menatap cakrawala remang:

 

Bagi yang pergi

dan yang pulang.

2017

 

Catatan Redaksi:

Puisi-puisi Muharwi Mukal nampak disusun dengan penuh kehati-hatian, berisi suara jiwa aku lirik sekaligus menunjukan kontemplasi yang cukup dalam atas situasi-situasi yang dihadapi. Beberapa puisi juga menyuguhkan lanskap-lanskap yang memperkuat imajinasi tentang kehidupan yang begitu dinamis yang tentu saja menggerakkan jiwa si aku lirik sendiri.

Tiga puisi Muharwi Mukal ini terasa menggambarkan suara jiwa aku lirik menghadapi situasi-situasi temporal: masa depan, masa kini, dan masa lalu. Masa depan dipandang sebagai sesuatu yang masih merupakan sebuah rahasia, yang harus dihadapi dan dijemput dengan segala keberanian. Karena masa depan dianggap sebagai misteri maka untuk menghadapinya, aku lirik mencoba melihat ke masa kini. Ketika melihat masa kini nampak bahwa aku lirik mencoba melihat kekurangan-kekurangan, melihat hambatan dan tantangan yang di dalamnya dibutuhkan kekuatan dan perjuangan. Sementara yang lalu hadir sebagai sebuah kekuatan untuk menguatkan yang kini tersebut. Dari hal tersebut nampak bahwa aku lirik mencoba menghadap situasi kehidupan dengan hati-hati dan tidak gegabah. Mencoba mempelajari dan mendalami kehidupan serta memperoleh banyak pelajaran baik apa yang dijalaninya maupun dari luar dirinya

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *