Di Bangku Bus Malam oleh Remon Sulaiman

Posted: 3 November 2017 by Remon Sulaiman

DI BANGKU BUS MALAM

 

Sebuah tanda pesan membuat gemetar dada

telepon genggamnya

Sejenak dering memecah di udara Juli yang kering

 

Tidakkah kau akan pulang malam ini, tualang

Kemana lagi kau akan pergi ?

 

Ke Jambi

Ke Muara Batanghari

Kukejar engkau

Duhai, rindu yang pergi

 

Muarabungo, 2017

 

 

SEBUAH BUS MALAM YANG TERPAKSA BERANGKAT PAGI

Sebuah bus malam yang terpaksa berangkat pagi

bergegas mengantarkan pulang orang-orang dari Huluan seusai menjemput mimpi yang terhanyut ke muara Batanghari

Namun di tikungan terakhir sebelum simpang menuju kotamu yang bergerak ragu, aku melihat seseorang menurunkan harapan yang kutitip pada kopernya yang penuh berisi dan rapat terkunci

Cepatlah pulang

Sebuah ucapan dingin, asing,  dan pura-pura, meluncur enggan dari sudut bibirnya sebelum menuruni tangga

Mungkin sebagai pengganti tangis kesedihan

Atau mungkin sebagai lambaian perpisahan

Aku terdiam menatapnya dari balik jendela

Di luar matahari terik

Sementara di dalam bus ini

Pendingin udara serupa mengantarkan tuba ke rongga dada

Muarobungo, 2017

 

 

BATANGHARI

 

Tulislah sebuah puisi tentang luka di dada sungai yang terus digali

Engkau berseru ketika melihat sebuah perahu menyongsong arus dari hulu

 

Namun di dadaku hari kian tenggelam, kekasih

Nun, jauh di hulu

Kukenangkan matamu

Sebagai sungai jernih itu

Dengan kesedihan di dalam hati yang tak henti mereka gali

Dan kelak tunggulah

Keruh airmata lukanya akan tumpah

Ke ladang-ladang

Ke badan jalan

Ke rusuk rumah

Lalu menenggelamkan mimpi anak-anak

Bersama suara sajak-sajakku yang kian serak

 

Lupakan puisi, kekasih

Sebab di dadaku,

Seperti halnya sejarah

hari tenggelam sudah

Dan tentang luka di dada sungai ini,

Takkan pernah kutulis lagi

 

Muaro Bungo, 2017

 

Catatan Redaksi:

Puisi Remon Sulaiman membahas persoalan rantau, saat seseorang menjadi asing dan berjarak dengan kampung halaman. Pulang menjadi saat yang berat karena ia harus meninggalkan banyak hal yang dalam sekian waktu telah menjadi begitu akrab. Dalam hal ini, pulang bagi orang yang pernah merantau pada akhirnya hanya serupa singgah, sebab segala sesuatu telah berubah dan menjadi berbeda, sementara di tempat yang ditinggal senantiasa ada yang dicari. Pada akhirnya, bagi seorang kembara, perjalanan musti diteruskan kembali untuk menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar pulang.

 

Foto karya Nick Turpin

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *