Depan Ranjang Ayah Saya oleh Vitra Fhill Ardy

Posted: 1 June 2018 by Vitra Fhill Ardy

Catatan Redaksi:
Saya pernah melihat bulan purnama pada dini hari dan itu menjadi salah satu pemandangan paling indah yang pernah saya lihat semasa hidup. Tapi puisi berjudul Gigil yang juga menghadirkan bulan yang sama dengan apa yang saya lihat ternyata hadir dalam suasana yang sungguh berbeda. Dari sini saya melihat bahwa bulan temaram yang indah justru menjadi gambaran yang menambah keseramaan suasana kematian. Pertanyaannya, kematian apa yang terjadi dalam puisi sederhana itu? Apakah kematian berarti juga keterpisahan. Mungkinkah kematian itu adalah keterpisahan dua sejoli yang bergandengan tangan dalam puisi itu? Jika benar, puisi ini adalah puisi “romantik-tragik” yang ditulis dengan cara yang cukup menarik, dengan penggambaran suasana yang bagi saya cukup indah.
Setelah membaca puisi ini, saya bertanya apakah bulan yang pernah saya lihat berbeda dengan bulan dalam puisi ini. Entah.

 

Depan Ranjang Ayah Saya

ia lupa mengucapkan namanya
sebab rasa sakit terlalu
banyak menyerap kata-kata

kedua kakinya bergetar dan
dengkul bergemeletuk

ingatannya mulai seperti ayah yang
merantau tetapi lupa pulang

udara dingin
udara dingin

ia ingin dipeluk sekali lagi

2018

 

Gigil

ia biarkan tubuhnya menggigil
oleh luapan angin

halte bus sekolah pukul 3 pagi.

ia sengaja pundaknya
jadi sandaran perempuan itu

kedua tangan saling menggenggam
amarah basah dari kelopak mata.

bulan temaram, langit pucat pasi
kematian lebih dari puisi patah hati.

2018

 

Berangkat

isi lemari itu berantakan seperti jam dinding
tua yang berdebu

baju-baju terserak, tas kosong minta diisi

lengang jalan bukanlah tanda kesunyian
untukmu
kita mesti ingat detik itu lagi

kau, ringkih bulan
dan aku angin dingin yang senantiasa
berpaling

jangan pergi, katamu
padahal kau bilang dadamu lapang
dan siap menerima segala kangenku

Jakarta, 2018

 

Pindah Rumah

semuanya masih milikmu, sayang.

masa tua dan bertambahnya usia, balsem
gosok dan kalender,

udara panas, gorden jendela, uban, hafalan
doa-doa

malam dan sedih dan senangmu.

kau bilang bakal repot tapi adakah yang
sederhana?

di hadapan puing-puing, semuanya masih
tetap milikmu.

meski jejak kaki akan selalu tertinggal di
sana.

2018

 

Buat Elis

ketika aku tahu apa itu cinta
aku mengenalmu
mengenal getar dan debar
detak jantung itu
pada hujan pertama
yang membasahi raga kita

maka saat kau seka kening
dan rambut tipismu
yang panjang,

aku jadi ingat

aku jadi ingat senyum
yang kau selipkan untukku
di pertemuan sebentar dengan
teman-teman kita ketika dulu

namun apa arti masa dulu, lis
jika sekarang aku tak tahu
di mana engkau punya suara?

Jakarta, 2017

Pendapat Anda: