Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang oleh Chaerus Sabry

Posted: 2 February 2018 by Chaerus Sabry

Catatan Redaksi:
Puisi Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang mencoba menceritakan soal kemalangan hidup. Menariknya, masalalu dalam puisi ini digambarkan sebagai sesuatu yang bernyawa, entitas yang juga memiliki daya hidup. Ada baris-baris yang mengingatkan saya pada kutipan puisi Tak Sepadan karya Chairil berikut:
“Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros.”
Meskipun dalam puisi ini, ada kesan paradoks mengenai siapa yang sesungguhnya berada dalam kemalangan tersebut, apakah aku atau masalalu. Tapi kesan itu segera cair ketika muncul baris-baris yang menyatakan antara yang kini dan yang akan datang adalah dua hal yang berbeda. Nyatanya, aku liriklah yang dari awal sampai akhir akan tetap menderita. Pertanyaannya adalah, mengapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena yang bergerak ternyata diam, sementara yang diam ternyata bergegas. Barangkali inilah yang dinamakan ilusi, yang hadir dalam dunia yang fana ini. Bisa dikatakan, puisi ini adalah puisi yang menyoal kegelisahan hidup manusia yang berhadap-hadapan dengan kehidupan, takdir, kematian dan esok.

 

Dan Di Kamar Ini Kami Telanjang

aku dan masalalu
berbaring berdampingan
berdua. tak bercakap suatu apa

kami tidak pernah benarbenar bersua.
aku bertaun berjalan di sepanjang jenjang jalan kepulangan
sementara masalalu bertahan menunggu, bagai pesakitan bersetia di suaka
kami tidak pernah saling menyangsi, tentang kemalangan masingmasing

dia tampak lebih tua,
waktu berlalu terlalu lekas baginya
sementara aku serupa dulu,
selalu serupa batu

jika kelak kami mati,

masalalu akan malih jelma bulan
yang dipuja sepasang kekasih kasmaran
atau seorang penyair majir di tengah malam musim pengujan

dan aku datang ke lain dunia
jadi seorang tukang pos kesepian
yang tak bakalan jemu mengirim surat untuknya
lantaran rasa rindu yang membatu, kelak retas digerus waktu

aku dan masalalu
berbaring berdampingan
di luar, rinai hujan seperti sunyi kubur
dan kami telanjang, maut menunggu di balik pintu

Indekos, 2016

 

 

Alegori Kafe Sepi

_k

Kafe sepi itu adalah kecemasan
Di manakah kita dalam kesunyian ini?
Jendela, bangku, atau buku-buku berdebu
Udara buruk dan cuaca tak menentu
Mengabarkan rasa rindu yang melulu biru.
Sementara hari beranjak pagi, dingin meninggi
Di gigil batang pohonan, percakapan kita embun
Yang embuh jadi puisi. Kasih, butuh lebih dari setubuh
Untuk menyimpan bimbang dan menimbang alasan
Agar bisa tetap utuh.
Patung-patung mengajarkan kita arti menunggu
Diam adalah jalan pulang
Simpang paling ujung dari tualang
Sebelum pada akhirnya kita tersia
Terlupa, besok dan seterus akan sama saja.
Tersadar, janji paling pasti yang belum sempat tersepakati,
Adalah beradu punggung, menutup pintu,
lalu ingatan menjelma berlaksa gagang yang menolak dipegang.
Waktu cuma memutar tengkuknya
Kita tahu, kenangan hanyalah ruang berbincang
Jeda berjela-jela, lalang lalu yang tak selalu luang.
Kafe ini, seperti mengingatkan kesetiaan yang terlupa
; Cinta tak lebih dari sebuah kecupan hangat di pipi
Sudah itu, puisi mengisi hari-hari

Cafe Semesta, 2017

 

 

Mencium Cekam Kenang di Dirimu

aku mencium bau gaharu
dan ingatan yang biru dari tubuhmu
sebiru biri, termangu ditaburi serbuk salju
sebaru diri, tertegun dibantun lengkung langit belacu

orang-orang memasuki lurung batu
lurung yang mengumpar waktu
ke dalam kedalaman matamu
dan mata-mata tamu menyaru lubang pintu
mengantar angin berselang ingin, menghampar angan
ke selembar kenangan
:kenangan yang fana
dan suka berubah warna

berwarna apakah masa lalu?

sebiru bajumu yang memeluk lekuk rindu
atau seungu tubuhku yang piatu

harum tubuhmu, menitis lewat tetes sunyaruri,
lalu sepi dalam diriku mencekam seperti malam di kampung lebaran
ketika jalan kelewat bingar dan
ingatan riuh terdengar
seperti pawai kenalpot kampanye partai
aku gontai, digoyang sepi dalam ramai

kita berjalan dalam kenangan berjalan
kenangan membatu dalam waktu membatu
kau-aku melaju seling silang
kau mengetuk pintu baru, aku mengutuk hari lalu
:kesalehan dan kesalahan di tangan tahun berlalu
kuharap bau rindu menyeruap dari dekap baju baru

Kindang, 2016

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *