Dalam Kereta oleh Muhammad Lutfi

Posted: 15 December 2017 by Muhammad Lutfi

Catatan Redaksi:
Puisi dalam Kereta menceritakan pertemuan dua orang dalam sebuah perjalanan. Namun pertemuan yang indah itu hanya terjadi dalam ruang yang sempit dan sementara lalu dengan cepat berakhir. Intensitas di antara keduanya menyebabkan aku lirik melupakan segala sesuatu yang terjadi di luar mereka berdua. Segalanya menjadi tidak penting dan tidak indah sebab aku lirik sudah tercuri dan terjebak dalam keindahan yang tunggal. Selama sembilan jam dalam puisi ini, aku lirik terjebak dalam satu konstruksi dunia yakni kau dan keindahannya namun ketika kereta tiba sampai tujuan segalanya berakhir dan apa yang nyata seolah jadi ilusi belaka. Barangkali begitu juga gambaran kehidupan, segalanya berjalan cepat, tampak nyata, namun segalanya kemudian berakhir dengan perpisahan dan memunculkan tanya, akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

DALAM KERETA

Untuk Malisa

Dalam riuhnya perjalanan menuju ibukota
Wajahmu mencuriku di satu sudut
Yang tak sengaja kita temukan
Sebuah sinar yang terpancar itu
Bukanlah dari jendela
Yang ditembus mentari
Namun mata dengan segala dunianya

Kereta melaju tanpa kita tahu
Apa saja yang tertinggal di belakang
Seperti senja, yang bergegas pergi
Setelah sekejap mengagumkan

Akankah cerita kita dikenang sejarah?
Saat dunia menawarkan berbagai tragikomedinya
Dan puisi menceritakan cintanya

Aku jatuh cinta pada segalanya
Pada 9 jam perjalanan itu
Pada simpul senyum yang tak kausudahi
Hingga malam kulupakan gelapnya
Sampailah kita pada langkah terakhir
Di pintu keluar.
Bisikmu “kebaikan harus kamu lanjutkan”

 

 

SUJUD SEORANG PELACUR

Kaukah itu; pelacur yang sedang jatuh cinta?
Kulihat langkahmu menuju masjid
Dan jalanmu diiringi wirid
Entah malam keberapa
Waktu kau terkapar di kamar 212
Lalu kini bersujud pada-Nya

Aamiin-mu terdengar lembut namun tegas
Rukukmu berat seperti mengangkat beras
Namun aku tahu, di sela sujudmu yang lama
Sungai mengalir dari matamu
Mencari jalan suci pada-Nya

Sungai-sungai yang bercerita akan getirnya hidup
Menahan pedih perihmu
Ditimpa kelamin-kelamin lelaki
Yang kemudian membatu, menjelma
Nisan atas nama: kehormatan
Sementara tangismu bernyanyi:
Na na na
Ah ah ah

Engkau yang sudah memutuskan mencintai
Telah menyesal pada penyesalan
Karena waktu terulang ketika menangisi duka
Sehingga tubuhmu merapal doa
Dan cahaya muncul dalam kelaminmu
Terbang menjadi bintang di kelam malam

Kaumenangis karena taka ada bahasa yang mampu menjelaskan duka
Kaumenangis karena terlalu banyak air mata yang tertahan
Kaumenangis karena Tuhan yang mencipta jalan

 

 

DERITA PUISI

Bagaimana bisa, kaumenulis
Puisi tanpa mencintai?
Rasa apa yang ingin
Kautunjukkan dalam setiap kata?
Makna apa yang kauselipkan
Dari setiap derita?

Aku pun heran.

Karena kaumenulis puisi tanpa mencintai.
Kata-katamu berputar pada
Batu-batu hitam, keringnya kehidupan
Dan gelapnya malam

Aku rasa kaumulai
Belajar membenci
Satu demi Satu
Kebahagiaan dan kebersamaan
Yang pernah kausentuh
Dan kini hancur terlibas takdir.

Untunglah,
Kautetap hidup
Meski dalam kematian yang lain.
Jika tidak,
Dirimu tak ayal sungai kering
Yang mendambakan rembulan

 

 

TUHAN PUN MENANGIS

Jalan yang merah ini
Bukanlah dari buah arbei atau stroberi
Melainkan hidup manusia yang berceceran
Dan meninggalkan sejarah kepedihan

Bunyi senapan
Menjadi nada paling indah
: mengantar tidur
Hingga lupa bangun

Bagaimana mungkin bisa diadu
Jika kebenaran dilawankan dengan kebaikan
Nyawa-nyawa gentayangan
Mencari kemerdekaan

saat Tuhan meniup laut
terpongahlah kita pada ketinggian
darah yang tak sempat mongering
dibilas bersama puing-puing

di antara kapal-kapal terdampar
menyusup sayup nyanyian mereka
dalam nada paling khusyuk dan airmata

hingga kita tahu
tsunami yang menyergap
adalah tanda
bahwa Tuhan pun menangis.

Sabang, mengenang masa konflik.

 

 

LEBARAN

Pada hari yang begitu besar
Aku berserah pada jarak
Samudera yang membentang
Bahwa doa tak kan kehilangan sayapnya
Bahwa doa akan sampai pada pelukan paling erat

Di pucuk paling barat
Tempat kupijakkan kaki
Masih terdengar suara serakmu
Tentang cerita-cerita bahagia
Dan jajanan manis, yang tergesa habis
Kutahu dalam senyummu
Ada kebahagiaan yang tak pernah selesai pada kata
Yang tak pernah sampai pada luka

Ibu,
Hujan deras hari ini
Aku tahu bukan dukamu
Ialah doa langit pada tanah
Yang berjuta tahun bertemu
Tanpa bisa menyatu
Biarlah airmatanya terurai sampai lega, sampai habis masa
Sampai kita sama-sama tahu
Bahwa rindu yang kita ucapkan
Adalah jalan yang tak pernah selesai ditempuh

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *