Cinta pada Sebuah Ladang oleh Neng Lilis Suryani

Posted: 23 June 2017 by Neng Lilis Suryani

ladang

Cinta pada Sebuah Ladang (1)

Setelah jejak

Hati kita patuh pada alam

Menunduk pada getar romansa huma

Ladang-ladang penduduk dimainkan angin

Kupu-kupu dan kepak burung

 

Di sebuah bukit

Aku, kau, pada pejam yang gaib itu

Menghayati tetumbuhan dengan

Mata ke arah ngarai

Lalu kau berkata tentang atap

Yang dibikin dari jerami,

Bintang yang berumah di tanah,

Dan cemara pada tunduk yang jauh

Menafsirkan hati kita

Dengan citra langit dan wajah bumi

 

Setelah itu kau tak berkata apa-apa

Hanya cinta

 

 

 

 

Cinta pada Sebuah Ladang (2)

Lalu kita baca lagi badai dan bukit dalam sebuah sajak

Menuliskan riwayat banjir yang mengairi sebagian permukaan bumi

Meluap pada sejarah yang terus menerus ditata dengan hati sebara matahari

Lalu kita pergi lagi

Setelah cerita tentang orang-orang yang lewat setiap pagi

Di jajaran ilalang, pada sepi yang merangkai tubuhnya

“Di sini, pada riwayat kebun-kebun

tersimpan cerita mengenai orang-orang yang diperkosa

dan pencuri-pencuri yang ditelikung kemiskinan.

Lihatlah batang-batang kayu yang ditebang

menyimpan birokrasi dan kebencian.

 

 

 

 

Berdirilah

Berdirilah di altar benua,

 

Dan hiasilah dirimu dengan bunga nilam dan adenia

Akan kupersembahkan bagimu tujuh sayat pelangi

Dan kuntum-kuntum rindu

 

Berdirilah di altar laut,

 

Dan hiasilah dirimu dengan warna kerang dan ganggang

Akan kupersembahkan bagimu sembilan puluh sembilan

mutiara yang diperam gelombang

 

Berdirilah di altar waktu,

 

Dan hiasilah dirimu dengan nyanyian serangga dan burung-burung

Akan kupersembahkan bagimu paragraf-paragraf doa yang paling sunyi

 

Berdirilah di alatar musism,

 

Dan hiasilah dirimu dengan barisan hujan, pepohonan, dan matahari

Akan kupersembahkan bagimu gugusan cinta dari kesunyianku yang terdalam

 

 

Madah Cinta

Setelah pohon-pohon mencari hujan

Dalam kemarau dan kering debu

Kau sebut sesuatu dengan mulut tersumpal

Aku mencari warna rambutmu

Dalam mimpi

Menggaib cinta

Dalam waktu yang dilahirkan

Tahun-tahun abad lampau

Aku mencari hatimu

Pada hujan

Ritmis air dalam tubuh yang sepi

Dalam hati yang kosong

Setelah bumi mencari iramanya sendiri

Aku melihat matamu yang sepi

Tapi mainkanlah

Mungkin aku di situ

Bersama orang-orang yang patuh

Dengan kegelisahannya

Menemukan gelombang-gelombang suara itu

Mari

Teruslah kita memendam bara

Pada kesetiaan paling akhir

 

 

 

Meminang Matahari

Meminang matahari
Debur laut merayakan air dan pesta ikan-ikan

 

Meminang matahari
Hutan-hutan membaca bunga dan merapal sejuata serangga

 

Meminang matahari
Rembulan dan bintang menziarahi cahaya

 

Meminang matahari
Segala musim bersujud di bawah waktu
Menghitung segala impian dan rindu

 

“Telah kutanam segala pengorbanan untukmu
dengan tubuh terbakar dan darah merah
sejuta luka di bawah pohon dunia”

 

Meminang matahari
Segala jejak adalah resah tak sudah-sudah

 

Meminang matahari
Mataku menjadi ribuan kunang-kunang yang tersesat
Aku jadi buta
“Cium, ciumlah di bawah jantngku yang terbakar!”

 

 

 

 

De

De mencari rindu
Malam ini ia pergi ke jauh malam
Lalu pada bayang-bayang kota
Dengan seluruh letih tubuh
Ia tersungkur di tepi jalan

De mencari rumah
Setelah hujan tak juga reda di tepi subuh
Ia menjorok ke sudut pasar
Bersama kucing ia tidur memanggil bidadari

Lalu sebelum subuh
De menemukan dirinya ditindih dingin
Dibangunkan jam sibuk sebelum mimpi usai

De pada pagi kembali menggelandang kota
Mencari ibunya
Mencari rumahnya
Usianya 13 tahun
Tetapi di tubuhnya mengendap rahim waktu
Berabad-abad kemiskinan manusia

 

Catatan Redaksi:
Membaca puisi-puisi ini saya merasa diajak jalan-jalan lalu sesekali dipinjami mata sang penyair untuk melihat dunia di sekeliling. Dengan kacamata itu, dunia yang awalnya saya lihat begitu tenang, tiba-tiba bergejolak. Perempuan kecil yang manis pun menangis, seorang gadis yang sudah dewasa jatuh cinta tapi terluka, bukit yang damai juga menyimpan dendam. Dalam titik inilah saya menemukan dunia yang selalu beradu di antara dua kutub, ketegangan-ketegangan yang seolah tak berhenti. Melalui mata itu pula saya menemukan jiwa penyairnya.

 

*Lukisan karya Claude Monet: Tulip Field in Holland (1886)

Lebih lanjut tentang karya-karya Claude Monet

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *