Cermin Yang Tak Memantulkan Bayangan Siapa-Siapa oleh Dima Hana Mahsunah

Posted: 31 March 2017 by Dima Hana Mahsunah

Cermin Yang Tak Memantulkan Bayangan Siapa-Siapa

Suatu hari aku bercermin dan tak menemukan bayangan diriku di dalamnya
cermin itu telah menjelma menjadi sebuah pintu kayu
yang saat kubuka menampakkan sebuah padang layu
pohon-pohonnya penuh duri dan sungainya tak mengalirkan apapun lagi
orang bilang padang ini tempat bunuh diri

Esok hari aku bercermin dan masih tak kutemukan pantulan diriku
pintu kayu itu masih ada; membuka jalan menuju tempat yang sama
aku memutuskan untuk menanam air mataku di sana
mereka tidak akan dapat mengisi sungai yang kering
mereka hanya mampu membasahi tempatku duduk terasing

Hari selanjutnya aku bercermin, sudah tak kuharapkan pantulan diriku di dalamnya
seperti kebiasaan aku berjalan melalui pintu
aku telah hafal aroma gersang, mengerti letak pohon berduri
padang itu tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya
hanya dari tempatku kemarin duduk bernestapa
pucuk tunas kecil berwarna hijau telah berkecambah:
tunas yang bersemi melampaui luka

 

 

 

Bagaimana Kita

Bagaimana  bisa bertahan hidup bersimbah lara
berdiri dengan kaki telanjang yang telah basah oleh luka
tanpa perih tanpa rintih

Bagaimana dapat tersenyum dalam siang yang terang
sementara hati penuh lubang- sunggingkan kebahagiaan
menari tanpa ingatan tentang hujan

Bagaimana sanggup menahan ombak
yang senantiasa ingin meledak dari pintu mata
hingga dunia mendengar bahwa
diri telah luruh tiada: menjelma hampa

Bagaimana orang-orang sanggup menyembunyikan beban yang mereka derita?
Bagaimana dapat terus tertawa seraya menimbun pelik dalam jiwa?
Bagaimana engkau mampu membungkus rapat dukalara yang tiada habisnya?

mungkin kita bisa berpura-pura
memainkan sandiwara yang semakin tak kentara
sementara entah berapa bagian dari diri kita
entah berapa keping jiwa
berapa hela dari nafas
telah menemukan rumah barunya

 

 

 

Pulang

Diriku hanya sabana terbuang
tak ada tempat untuk tumbuh bahkan ilalang
tak ada rumah untuk sang pujangga pulang

Aku tidak pernah ingat kampung halaman
hanya tahu sang pujangga yang mengembara
memakai pakaian yang terbuat dari senja
ia tidak pernah tahu apa yang diharapkannya

Diriku seumpama pendakian terjal
tiada abu yang mungkin dihindari
tiada awan yang memerangi matahari
sekuntum edelweis tak akan senilai dengan upaya
sedang gubuk kayu tak menarik hati sang pengembara

Pengembara berpakaian senja berserah payah
ia merajut sayap dari edelweis yang merekah
kemudian terbang
berharap tak pernah pulang

 

 

Catatan Redaksi:

Cermin adalah liyan, tapi sekaligus memberikan citra mengenai diri, meskipun tidak sepenuhnya menampilkan keadaan yang sebenarnya. Tapi bagaimana jika cermin itu tak lagi memantulkan apa apa? Apakah dengan tidak adanya bayangan dalam cermin maka diripun otomatis akan hilang?

Dalam puisi ini ketidak hadiran citra diri dalam liyan ternyata bukan karena diri yang hilang melainkan yang liyan itu memang telah mati, menjadi ladang yang gersang hingga tak ada kehidupan lagi di dalamnya apalagi memfungsikan diri untuk yang lain. Ia menjadi sebuah pintu kayu.

Berhenti di sini saya teringat film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe (2005), sebuah dunia yang sudah lama beku dan menunggu datangnya ratu adil yang akan mengembalikan kehidupan indah seperti semula. Tetapi diri yang telah kehilangan citra diri sebagai akibat kematian liyan itu menimbulkan kesedihan tangis dan air mata. Dalam ruang yang mati itu pada akhirnya tangisan duka melahirkan air mata justru menjadi nyawa bagi tumbuhnya tunas muda yang melambangkan kehidupan kembali.

Puisi ini dapat merepresentasikan dunia sosial, hubungan antar manusia, antara diri dengan yang lain, sebuah hubungan yang saling menghidupi satu sama lain. Ketika satu menjadi tak berdaya maka akan mempengaruhi eksistensi yang lain. Untuk mengembalikan semuanya seperti semula perlu sebuah pergorbanan yang lahir dari pemahaman dan kesedihan ternyata tanpa disadari akan menciptakan atau menghidupkan liyan yang sudah mati atau tidak berdaya.

Sayangnya, puisi ini tidak memberikan lagi jawaban apakah diri yang masuk itu akan bisa keluar dari pintu kayu. kemudian pintu kayu akan berubah jadi cermin. Apakah cermin itu akan memantulkan bayangan yang kemudian citra diri akan muncul kembali. Ketidakselesaian itu yang membuat puisi ini menjadi menarik. Tapi tumbuhnya tunas yang disemikan oleh airmata benar-benar sesuatu yang tragis tapi sekaligus romantis.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *