Borneonesia oleh Hadi Winata

Posted: 8 December 2017 by Hadi Winata

Dalam puisi berjudul Borneonesia, Hadi Winata mengkonstruksi gambaran mengenai eksploitasi alam yang terjadi di Borneo. Namun, eksploitasi tersebut tidak hanya mengancam kehidupan manusia tetapi juga flora dan fauna yang ada di sana.

Puisi ini juga mengonstruksi gambaran Kalimantan di masa lalu, yang hijau, asri, damai, jauh dari segala eksploitasi. Dengan kata lain, puisi ini nampaknya ingin menyuarakan suara masyarakat yang ada di sana. Benarkah demikian?

 

BORNEONESIA

inikah kalimantan?
gedung-gedung tinggi dan kemegahan
kota metropolitan tumbuh di saban
kepala penduduk

tak ada nelayan, tak ada pencari ikan
para petani mengeruk menggali tanah hitam:
membelah perawan hutan tempat satwa
liar dan orang utan bertahan hidup

menanam apa pun yang bisa ditanam
menanam demi kanak-kanak
mengawetkan hidup

kau sibuk menggerutu perihal dongeng
bawang putih yang dikontemporerkan
“adakah kami ini anak tiri?”

saban bukit dan gunung
terus menua meninggalkan waktu
menyusuri detik yang berlalu dengan tenang
dengan damai tanpa pernah ada gangguan
dari orang-orang kota atau pun bulldozer

kapuas melahirkan anak-anak sungai
menjalar membelah kepulauan
adakah arus kan menyampaikan mimpi
setiap penduduk pada tepi hidup yang realis?

tanyakan pada burung-burung yang terbang
melintasi batas-batas wilayah
batas-batas kelogikaan
atau pada angin yang menyimpang
siurkan banyak kabar
menumbuhkan marah pada wajah
wajah tak peduli ihwal

2017

 

 

LANSKAP

di kota sepi ini
bukit-bukit sesak di kanan-kiri
para pohon tumbuh menjulang
hingga hijau merebak di saban pandang

dari puncak bukit, burung-burung terbang
melintasi belantara hutan
ihwal akan tanya yang terhimpun di dalam benak:

apa hendak menjadi tarzan
hingga tinggal di dalam sana
adakah warung telah dibuka
rumah sekolah dan sakit
sudah siap melayani murid
dan pasien-pasien yang ketakutan
akan masa dan suatu apa

2017

 

 

BUAH TANGAN

betapa lincah diri mereka
yang riang bersama peluh
tanpa sesal di dalam pikiran

lelaki gamang yang termangu
menunggu awan selesaikan beban
di depan toko ingin jadi burung
lamat-lamat melontarkan tanya
menyoal cita-cita
entah yang keberapa

pria dewasa atau mungkin remaja
bersama rombongan dan hujan
yang menentramkan
meninggalkannya dengan tawa

dan peluh hitam tubuh mereka
dijadikan buah tangan

2017

 

 

GADIS KECIL DI DAHAN POHON

soal cerita angin yang berembus
sejak dulu dari arah yang tak ia tahu
tentang kota di seberang sana
tentang kanak-kanak sebayanya

gadis kecil itu
pada tubuh hujan
di dalam malam yang menghimpun doa
atau dosa warga kampung
dan para tetua dulu?
mencuri benih pohon

ditanamnya di muka
beranda seperti mamak
di sore hari
dalam kelam malam
dan jarum hujan

dari mulut pintu
gadis kecil itu memandang rendah
“kapuas induk, pada beninhku yang sebutir,
sampaikan anak-anakmu,”

dari dahan pohon
yang paling kokoh
jauh ia memandang

2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *