Basudewa oleh Innezdhe Ayang Marhaeni

Posted: 8 September 2017 by Innezdhe Ayang Marhaeni

Edelweis

 

Kepada puisiku malam ini, adinda

Yundamu akan mengecilkan suara radio

Meredupkan damar

Dan mengucilkan dunia beserta permainannya

 

Kepada jiwa yang belum temu cangkang ini, adinda

Malam ini yundamu akan berikan sepenuh hati lautannya yang biasa

Untuk membantu layar mimpimu melaju agar subuh cepat kembali

Karena pagi datang lagi jika engkau yang mendalangi

 

Kepada turunnya tetes pertama air mandi pagiku, adinda, karena tak sanggup yundamu kurung embun,

Engkau menjelma lili-lili kecil yang kutemui di pelataran

Yang dari ujung putiknya senyummu merekah disengat lebah

 

Adinda, bagian ini adalah cinta dari yundamu yang tak perlu kaumengerti

Bagian ini adalah yundamu yang tak perlu kaudekati

Tetapi di bagian ini, hanya bagian inilah, wangimu kupenuhi

 

 

Pulau Jawa dan Masa Depannya

 

Kelak esok hari, seperti wajah lelaki yang matang di usia dini

Di pulau ini akan ada cambang-cambang halus yang darinya menegak kala direguk angin

Penduduknya akan jadi ikan koki yang dicemplungkan di air setelah terungkung plastik bening

Di sekujur badan kita, luka bakar memerah menderas akibat dilepaskan

 

Di sudut mata pulau-pulau kecil dari Nusa Barong hingga Kepulauan Seribu, ada genang-genang titik-titik air seperti yang biasa menghapus bedak di wajah wanita

Sementara di tempat-tempat lain, ujung bumi merekah seperti kanak-kanak yang menarik karet ke dua arah saat bermain lompat tali

Dan kita mati rasa, laiknya jemari yang baru dini hari belajar memetik gitar pakai kaki

Di penghujung esok hari, Pulau Jawa adalah engsel-engsel pintu yang terlalu sering dimasuki anak kunci, terlalu sering gemboknya diganti

Lantai kotor bekas plester yang dicabut karena tak punya uang untuk beli lagi

Lalu manusia-manusia menyeberang tali di antara longsoran salju yang berderak berubah ke sana ke mari

Di lain hari, pulau ini akan terjual dengan tonggak dipaku papan merah bertuliskan “BUKA ESOK HARI”

 

 

Basudewa

 

Kalau aku boleh meminta

Pada siapa sebenarnya, berpinta boleh bersarang

Yudhistira beku, nyalinya segamang padi

Menguning, mengabur dicucuk burung kenari

Menghadiahkan berdepa kilat yang di ujungnya ada pukau

 

Kau bijaksana, menguar selaksa air mata

Kau tertambat istimewa, menjadi ada karena berada

 

Dengan galur-galur bulu halus di buku-buku tanganmu, menggenggam panah

Mencumbu busur

Yang di alasnya aku berderak

Teriak

 

Serangan yang dibendung, cinta yang dilamun

Aku bisa saja kembali tapi engkau abadi sebagai babad yang tercela

 

 

Begalan-Pati

 

Suatu waktu Bhisma mengeluarkan busur dan anak panahnya. Tidak ada racun di ujungnya.

Mata kita akan terperangkap pada senjata sebenarnya. Di mana sumpah prasetya dan ksatria yang akan mati pralaya menjadi alasan mengapa kita menyaksikannya.

Bhisma berjanji menjaga busur dan anak panahnya pada lawan yang mumpuni.

Putra Dewata bergunjing.

Siapa gerangan bajingan tak tahu diri yang mampu melawan pengayom jagat?

Yang apabila ia tiada, Kurusetra tetap menjadi belantara.

 

Lalu kisah ini dikuburkan dengan telak

Ceritera akan mayapada yang nyaris porak poranda dihentikan dengan setengah harga

Hanya karena

Bhisma terpagut nafsu

Memburu membabi buta, dan mencengkeramnya menjadi yang penuh kuasa

Lalu dilepaskannya panah itu pada kiasan yang membuat kisah ini haram dilantunkan

 

Marahkah Dewi Amba karena mati sia-sia?

Mengapa bukan ia yang menjadi ksatria?

Mengapa nasibnya sebagai jelata yang jelita terhenti pada pusaka seorang pria, yang dihunus tanpa tahu nasib dan membuang diri pada yang tidak terkata

 

Menunggu Bhisma di tepi lapang

Pada begalan-pati, diharapkan Salwa meraih pedang

Amba meregang

 

Penonton kecewa.

 

 

Kambing yang Berdiri di Rel Kereta

 

Pergi kemanakah orang-orang yang telah mati?

Menjadi mendungkah sehingga pemakaman orang-orang baik basah oleh tanah?

Atau menjadi derak-derak penghubung gerbong yang dari ambangnya kita mandi tangis dan melukai mata hati?

Ada anak memanggul karung kecampang dengan tengadah menyalakan lampu

Yang jatuh dari tasnya adalah sisa keburukan yang berombongan si mati mengikutinya

Di tepi jendela aku mendengar nyanyi seorang ibu muda

Menenangkan bayi yang tak genap tangannya

 

 

Catatan Redaksi:

Dengan nada yang sinis dan getir, puisi Innez menggambarkan dunia yang entah mengapa tiba-tiba bisa telanjang dan menampakkan kelemahannya sendiri. Segala yang awalnya terlihat sempurna ternyata pada akhirnya tidak demikian adanya.

Membaca puisi-puisi Innez rasanya seperti diajak menonton sebuah pertunjukkan drama, dimana sang lakon yang sakti mandraguna pada akhirnya pun menjadi tak berguna. Segalanya bakalan lapuk ditelan masa.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *