Apa Ada yang Lebih Asu dari Rindu? oleh Asef Saeful Anwar

Posted: 6 November 2017 by Asef Saeful Anwar

Apa Ada yang Lebih Asu dari Rindu?

pertemuan kali itu kita malumalu

bertatapan dan gelagapan

mencari pegangan tapi tak bisa

saling menggenggam

 

katakata patah sebelum diucapkan

darah dan napas beradu terburu

tak ada yang ingin disimpan

tapi segalanya tersembunyikan

sampai perpisahan

 

apa ada yang lebih asu dari rindu

yang makin menggonggong

selepas bertemu?

 

pada dinding kubisikkan perasaaan

berharap pintu menyampaikan

 

tak ada angin

selain yang mengantarkan suaramu

tak ada cahaya

selain yang menampakkan bayanganmu

 

malam tak dapat menyembunyikan wajahmu

siang tak dapat mengeringkan ingatanku

 

apa ada yang lebih asu dari rindu

yang makin menggonggong

selepas bertemu?

 

2017

 

 

Menjelang Kerinduan

/I/

dan kita mulai

memasukkan hari ke dalam jemari

sebelum kepulanganmu

menjenguk pohon liu

yang melahirkanmu pada musim semi

di bulan kedua

 

“bagaimanakah kita dapat

menghentikan jarum jam

agar tak lagi menyulam?”

 

dan kita sepakat

mendinginkan diri dalam janji

sebelum tahunmu berganti

dengan warna naga yang saga

memekarkan bungabunga bidara

di bulan kesembilan

 

“mengapa waktu terus berjalan

bukankah kita telah lama mengurungnya

hanya dalam duabelas angka?”

 

 

/II/

pada dinding

waktu terpaku seperti luka

matamu senantiasa bangun tidur

melipat mimpi demikian rapi

teratur dan tanpa jeda

 

“adakah tubuh meninggalkan ruh

setiap habis subuh?”

 

aku membukabuka buku

mencari doa yang kau simpan

sebelum makan malam

 

“adakah warna langit kelak berubah

sejak nanti kita berpisah?”

 

2016

 

 

Aku Ingin Mengenalmu

aku ingin mengenalmu dari dekat

melihat bagaimana kau menggerai rambut

bercermin sembari mulai berkatakata

tentang poni yang sedikit merambati mata

serta mengeluhkan pipi yang makin menggelembung

 

aku ingin mengenalmu lebih dalam

membaca setiap mimpimu

dari dalam mata semenjak kau terjaga

mengejanya sebagai petunjuk

langkahlangkah kecil membahagiakanmu

 

aku ingin mengenalmu lebih dekat

mendengar tiap detak jantungmu

mengikutinya hingga pergelangan

dan bertukar udara yang kau hirup-hembuskan

 

aku ingin mengenalmu dengan baik

menyentuh setiap yang kau lihat

menjaga setiap yang kau sentuh

mewujudkan setiap harapan

sebelum kau ucapkan.

 

2014

 

 

Anak-anak Batu

betapapun

anak-anak kecil yang menggeletakkan sepeda

di halaman wajahmu itu mungkin lahir dari batu

yang pecah oleh tetesan air mata seorang ibu

hingga bila langit terbelah tujuh pun

mereka akan tetap bermain di rambutmu

berkejaran dari helai ke helai

bergelayutan dari bahu kanan ke bahu kirimu

dan kau hanya bisa menyungging pipi gempalmu

serupa gumpalan awan yang kian melambungkan angan

tentang Tuhan, firman, dan segala kejadian.

 

sekali waktu, Tina, kita mungkin bisa memejamkan mata

merebahkan diri di atas rerumputan depan rumahmu itu

mendengarkan kesiur angin menerbangkan daun kering

sebelum anakanak kecil tetangga datang memainkan rambutmu

 

tentu kita akan melakukannya di sore hari

saat segala pekerjaan serta hiruk pikuknya selesai

ketika wajahmu ditimpa cahaya senja jingga

dan gelunganmu telah diurai siap untuk dibelai.

 

2013

 

Yang Tak Sampai ke Langit Tak akan Turun ke Bumi

sepasang naga di tembok itu

memang tak perlu diberi mata

sebab geraknya akan merubuhkan

segala yang berdiri di pundaknya

 

biarkan dua phoenix terbang berkejaran

mencari jalan ke surga tanpa singgah

pada dahan pinus depan rumahmu

sebab musim dingin pasti gugur

dari langit matamu yang kian sempit.

 

Xie, demi hio di tanganmu segera bara

aku masih memantik api di bawah janji

baur dengan aroma kamboja yang mekar

di atas daun telinga kananmu

sembah namaskara barisbaris sutra

pujapuji sebelum meminta masa depan:

pernikahan dan anakanak yang lahir dari rindu.

 

2015

 

Catatan Redaksi:
Puisi yang berjudul Apa Ada yang lebih Asu dari Rindu? Menggambarkan suara jiwa seorang yang sedang merindukan kekasihnya. Asu dalam konteks ini dipahami bukan sebagai seekor hewan sebenarnya (anjing) melainkan sebuah umpatan referensial (konotasi) yang sering digunakan khususnya oleh orang Jawa untuk menyatakan ekspresi yang spontan, mencengangkan dan tidak bisa ditahan. Rindu dalam puisi ini pun menjelma laksana asu tersebut. Asu yang meledak-ledak, menggonggong dan seringkali tak bisa lagi dikendalikan. Metafora ini tentu saja cukup menarik untuk menggambarkan bagaimana gejolak rindu yang hadir tersebut.

Cinta, perpisahan, dan kerinduan nampaknya menjadi tema besar dalam puisi-puisi Asef Saeful Anwar. Perasaan-perasaan tersebut lahir dari sebuah pertemuan yang memberikan kesan mendalam khusunya bagi aku lirik. Tapi seringkali pula sebuah kisah cinta yang mendalam harus diakhiri dengan sebuah perpisahan. Satu-sama lain tak lagi saling mengetahui keadaan. Dalam ketidaktahuan inilah perasaan bertanya-tanya muncul. Keresahan-keresahan hadir layaknya pertanyaan yang setiap saat membutuhkan jawaban. Bahkan kegelisahan itu pun semakin menggila saat tak bisa dikendalikan. Dalam puisi dengan tema lain pun, nampak bahwa aku lirik juga sedang mengalami jatuh cinta yang “berapi-api.” Dalam puisi Aku Ingin Mengenalmu nampak bahwa aku lirik benar-benar terjerat dalam cinta dan sangat ingin mengetahui semua hal tentang orang yang sedang dikasihinya. Hingga detak jantung sampai mimpi kekasihpun ingin diketahui. Tapi begitulah puisi, kadang memerlukan ungkapan hiperbolis untuk menunjukkan kedalaman rasa. Mungkinkah sang penyairnya kini memang sedang “menderita” jatuh cinta?

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *