Angin Memeluk Daun oleh Ricardhus Benny Pradipta

Posted: 1 December 2017 by Ricardhus Benny Pradipta

ANGIN MEMELUK DAUN

Di antara prahara dan kabut
Aku adalah haru
Ketika pada pagi ada pohon tumbuh di musim kemarau
Embun bersenandung merasa hujan
Angin memeluk daun
Supaya tak lelah harapmu

 

 

PELUK ITU

Di pelukan itu
Kembali Kauceritakan kepadaku
Tentang rahasia lautan-Mu
Siapa yang berenang di sana
Dan meninggalkan lelahnya, juga dosanya yang tenggelam dalam-dalam
Lantas Kaututup mataku, sehingga aku tak bisa melihat dosa mereka
Peluk itu
Kembali keringatku yang dingin mengucur
Dalam melihat rahasia pengampunan-Mu

 

KELAHIRAN

Sekeping kaca tiba-tiba terhambar pecah
tanda segores nasib tak terelak
Sepasang kaki mulai menginjaknya
dengan napas pertama yang mengenakan pilihan;
menghias
atau
merusak!

 

 

SANG PETAPA

~ Kepada Romo Yohanes Indrakusuma, CSE

Ia bermukim pada doa heningnya
bertutup abu gunung berapi
ditebari mayat dan tulang yang tak terhitung
dari mereka yang melakukan perjalanan
ke lubuk hati bumi
Memohon kesempurnaan
dalam ampunan kutuk pada leluhur dan keturunan
Menghantar jiwa abadi dalam tekad hati
Pada kata-kata lembut,
menampung kerinduan Sang Pencipta
di tengah belantara padang gersang
dan kota beribu macam warna
Menawarkan hati tulus
pada peluang jalan menuju keselamatan-Nya.

 

 

SEORANG WANITA TUA

Di sepanjang jalan Yogyakarta
Aku mengelilingi jalan-jalan berdebu
dengan langkah – langkah berat menapaki debu yang halus
Terlihat beberapa orang melangkah sendirian
Hembusan angin yang kuat buat ranting-ranting pohon kering terjatuh di jalan-jalan
Daun-daunnya berjatuhan di atas kepala
Hembus angin menerpa dan debu ada di mana-mana
Aku yang berjalan sendiri di trotoar
Dalam sepi
Tiba-tiba hadir seorang wanita tua berbaju kebaya lusuh kusam
Mengulurkan tangan seperti mengemis
Bibirnya kering sama seperti tanah yang berdebu.
Wanita tua itu tak tampak bahagia
Akan tetapi ia menghalangi jalanku
sambil menarik-narik bajuku lalu mengikutiku
Aku tetap berjalan.

Sekarang aku tak berjalan sendiri
Hembusan angin kembali menerpa
dan debu pun berterbangan di mana-mana
Seorang wanita tua berbaju kebaya lusuh kusam mengikuti ku
Rambutnya putih lesuh sama seperti kapuk
Pada kubangan lumpur
Seorang tua itu tak tampak bahagia
Ia ternyata seorang bisu
Seorang tua menjulurkan tangannya
dalam ringkih tanpa suara
Namun aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan
Ia melepaskan tangannya dari bajuku
Duduk di trotoar dan terdiam
Aku menghentikan langkah kakiku
Ketika ia duduk di tepi trotoar
Terpanggil arah kepala menengok ke arahnya
Perhatianku tak terlepas darinya

Aku kembali padanya, dengan duduk jongkok di sebelahnya

Aku harus berbuat apa
Tiada bisa aku memberinya apa-apa
Aku pun memang tak punya apa-apa
Aku hanya mahasiswa yang masih di tanggal tua
Aku bertanya-tanya
Cara apa sebaiknya digunakan untuk memberi?
Aku duduk bersama seorang tua itu dan memperhatikan apa yang diperhatikannya
“Ada lelaki mencium wanitanya. Ada ibu yang sedang memarahi anaknya yang merengek minta jajan. Ada sekumpulan siswa dan siswi yang membolos sekolah sebab pacaran. Ada polisi yang mendapat komisi di jalanan.”
Namun kami terdiam pada sepi-sepi di tepi trotoar

Angin bangkit dan debu berada di mana-mana

Beberapa orang berjalan dan kami terdiam duduk sepi di tepi trotoar.

 

Catatan Redaksi:
Dengan tema religiusitas, puisi-puisi ini menggambarkan kehidupan manusia di dunia. Kehidupan dunia hanyalah satu dari sekian banyak fase kehidupan yang harus dilalui manusia sebelum sampai/kembali ke asalnya. Dunia menawarkan dua pilihan, yakni jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Ia yang mau berjalan di jalan yang lurus maka akan selamat sementara ia yang memilih jalan kesesatan akan celaka. Tapi dalam perjalanan itu kadang manusia bisa lelah, terlena atau bahkan tersesat. Tapi Tuhan yang penuh kasih akan memberikan penerangan dan petunjuk agar manusia kembali ke jalan yang benar, begitupun mereka yang berdosa akan dapat diampuni.

Sifat tematik tersebut nampaknya membuat puisi-puisi ini nampak begitu polos dalam menghadirkan gambaran dunia termasuk juga jawaban batin bagaimana cara menyikapi kehidupan itu.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *