Aku Sayang Ibu oleh Gemi Mohawk

Posted: 17 March 2017 by Gemi Mohawk

Juragan

gan, juragan
kembalikan kami punya lahan
kami butuh pekerjaan

gan, juragan
berikan kami kelayakan pangan
swasembada pangan tinggal
kenangan

gan, juragan
kapan kami mendapatkan rasa aman
preman sekarang memakai surban

 

 

Aku Sayang Ibu

sejak aku lahir
tak terlepas utang
habis upah cicil rentenir
“bu, jangan sampai jual kutang!”

 

 

 

Bantuan Langsung Tunai

pemerintah
tak mampu cipta
lapangan kerja

 

 

 

Bakal Calon Kepala daerah

mendadak soleh dan solehah

 

 

 

Kata Bapak Sepulang Kerja Kepada Emak

garpu, sendok
piring, gelas, mangkok
hari ini kita libur

 

 

 

Kisah Tanah

tanah kata
suatu ketika

tanah menceritakan
berita-beritanya
l
a
l
u
tanah meneriakkan
derita-deritanya

suatu titah
kata tanah

 

 

 

Selera Negeri

film hantu-hantu
pasti laku

lagu sendu-sendu
itu laku

novel tabu-tabu
juga laku

sinetron babu-babu
paling laku

inikah selera negeriku?
atau
inikah potret negeriku?

jangan gagahi kemelayuanku
dengan kebudayaanmu

 

 

 

Catatan Redaksi:

Melalui puisi-puisinya, Gemi Mohawk —penulis terpilih Ubud Writers and Readers Festival 2016— menyoal masalah-masalah kehidupan dari sisi yang paling nyinyir. Persoalan kemiskinan, krisis pangan, krisis budaya, maupun intrik politik yang selalu menempatkan rakyat kecil sebagai korban tergambar jelas dalam puisi-puisinya. Dengan sudut pandang seorang penyair, puisi-puisi ini telah mengambil sikap menentang segala bentuk penindasan sekaligus mencoba menyuarakan suara-suara dari bawah.

Puisi-puisinya bisa dikatakan pendek-pendek tapi menusuk tajam bagai sebuah belati. Puisi-puisinya seolah menghindari kata-kata yang indah, metafora-metafora yang lazim digunakan dalam penulisan puisi pada umumnya. Kendati demikian, letupan-letupan emosi yang diungkapkannya seringkali menjadi parodi, sebuah ejekan, atau permainan niris yang mencoba membongkar drama kehidupan yang bersentuhan langsung dengan kita.

Hal yang paling menonjol dalam puisi Gemi Mohawk adalah relasi antara judul dan isi puisi. Judul sering diwujudkan sebagai gambaran dari realitas yang dia kritisi, sementara isi puisi muncul sebagai sebuah pernyataan sikap. Puisi-puisi Gemi Mohawk hadir sebagai sesuatu yang berbeda, sesuatu yang khas yang mungkin tidak meniru sekaligus tidak ditiru oleh penyair yang lain. Puisi Gemi Mohawk pada akhirnya semakin memperkaya perbendaharaan puisi di Indonesia.

 

 

* Foto karya Amalya Suchy Mustikapurnamasari

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: http://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

1 Comment

  • Andri puor 17 January 2018 at 12:06

    Puisi aku sayang ibu merupakan puisi singkat yang memberikan 1000 makna bagi pembaca , suatu peristiwa yang mungkin saja dialami penyair kemudian melarutkannya dalam sastra, pesan dari puisi pun tersampaikan dimana

    sejak aku lahir
    tak terlepas utanghabis upah cicil rentenir“bu, jangan sampai jual kutang!”
    Mengandung arti bagi saya ketika dia lahir sudah dikit utang oleh orang orang rentenir.

    Sarannya agar pembaca bisa tahu kalau rentenir sebenarnya pekerjaan dengan menguras keringat orang secara tidak wajar, bisa dibilang kapitalisme zaman now

    Terimakasih penyair . keren banget

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *